Jumat, 10 Juni 2016

NASIHAT : BENARKAH PASANG STATUS “IBADAH” BISA MENGHAPUS AMAL?

          Sepertinya dunia ini sudah tak asing lagi dengan teknologi berbentuk alat komunikasi. Lebih-lebih di dalamnya terdapat bermacam-macam kegunaan yang mendukung dengan bantuan semacam software yang bisa di instal atau disebut aplikasi. Salah satu aplikasi pendukung alat komunikasi yang sering orang sebut dengan “smartphone” ini adalah aplikasi media sosial. Seperti facebook, twitter, path dan lain sebagainya yang tentunya hampir tidak mungkin pengguna smartphone tidak memiliki akun media sosial. Aplikasi-aplikasi media sosial tersebut tentulah banyak kegunaan yang bisa di share (bagi) melalui pembaharuan informasinya yang sering orang sebut dengan “Up Date Status”. Antara lain untuk media silaturahmi ataupun perkenalan, ataupun promosi barang dagangannya yang bisa dipromosikan secara gratis ke seluruh temannya bahkan ke seluruh dunia. Bahkan saya yakin masih ada lagi kegunaan media sosial yang tidak mungkin kita bahas di sini. 

          Saking banyaknya fungsi media sosial yang bisa di Up Date, habis makan dia up date, habis olah raga up date, mau tidur hingga bangun tidur up date, habis kerja pun up date status, sampai-sampai entah sengaja atau tidak, seseorang senang dengan Up Date Status ibadah yang mau dikerjakannya, sedang dikerjakannya atau bahkan setelah mengerjakannya. Baik itu di up date melalui foto atau tulisan. Mau puasa up date, setelah tarawih up date, lagi baca Qur’an juga masih sempet up date “lagi baca Qur’an” dengan bermacam-macam kondisi dan redaksional status. Nah, pertanyaan yang sering muncul adalah “boleh ga sih up date status setelah ibadah?” Untuk mengambil kesimpulan apakah boleh secara syariah atau tidak kita coba kaji dari hadits Nabi SAW dari Umar bin Khotob ini, “Segala perbuatan bergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya…” (Muttafaq’alaih).
Para ulama sepakat bahwa niat itu menjadi suatu keharusan dalam sebuah amal, agar mendapatkan pahala ketika amal itu dikerjakannya. Lanjutnya, para ulama juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi sahnya sebuah amal (Mutiara-mutiara hadits no. 1 Bab. 1 Syaroh Riyadus Sholihin Oleh Dr. Mustofa Dib Al bugho dkk) Tentunya, niat tempatnya ada di dalam hati dan hanya Alloh yang tau isi hati manusia, “Katakanlah, jika kamu sembunyikan di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Alloh pasti mengetahuinya..”(QS. Ali Imron : 29).

            Terkadang, seseorang melakukan kebaikan namun niatnya buruk. Sebaliknya juga melakukan sesuatu yang nampaknya buruk namun maksudnya baik. Seseorang yang terlihat gagah berani membela agamanya dan terlihat syahid di medan perang belum tentu dalam hatinya ia berperang karena Alloh. Bukankah kelihatannya keberaniannya merupakan sebuah kebaikan? Tetapi kalau ternyata ia berperang hanya ingin disebut pemberani, maka kata Nabi SAW “Alloh memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke dalam neraka”. Begitu juga dengan seorang kaya yang banyak sedekah namun ingin disebut dermawan dan seorang yang pandai Al-Quran namun ingin disebut sebagai Qori’. Na’udzubillaahimindzaalik (kita berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian). Jadi tak perlu foto atau up date status yang di share ke medida sosial, hanya sekedar niat yang salah saja seseorang bukan hanya amalnya menjadi sia-sia, tetapi juga bisa terjerumus ke tempat yang terburuk.

          Namun, kalau ternyata kondisinya berbeda seperti ini misalnya, seorang yang profesinya adalah guru kemudian ia up date status atau up date foto tentang ibadah yang sedang dilakukannya dengan niat agar menjadi inspirasi murid-muridnya, meskipun sumber inspirasi yang terbaik adalah Al-Quran dan Sunnah tetapi kalau dalam hatinya berniat melakukan itu semua karena Alloh, maka tidak bisa juga kita melihat up date status itu kemudian bilang kalau ibadahnya itu perbuatan yang riya’ (amalan yang ditampakkan bukan Karena Alloh). Kita ketahui dalam siroh sahabat Nabi SAW bahwa sebelum adzan, Bilal r.a. punya amalan wudhu dan sholat sukur wudhu yang terjaga, bahkan wudhu dan sholat itu dijaga pula diluar adzan. Abu Bakar r.a. dengan 1/3 sedekahnya yang saat itu hartanya sebanyak 40.000 dinar/600an milyar, bahkan ada riwayat lain yang menyebutkan jumlah sedekahnya dengan separuh hartanya. Umar Bin Khotob r.a. yang pemberani bahkan syetan pun takut kepadanya itupun dikisahkan dalam siroh-siroh atau sejarah-sejarah kemuliaan akhlaq sahabat Nabi SAW. Masih banyak pula kisah sahabat lainnya, namun apakah hal demikian disebut riya’? Tentu tidak, karena mereka dikabarkan masuk surga.

          Dengan begitu pertanyaan kita pun terjawab. Seseorang beramal ibadah itu bergantung pada posisi niatnya masing-masing. Posisi itu yang tahu hanya Alloh SWT dan pelakunya sendiri. Seseorang yang setelah puasa atau tarawih atau umroh dan lain sebagainya kemudian dia up date status tentang ibadahnya belum tentu dia riya’. Malahan kalau kita mengira dia riya’ kita sudah su’udzon (berburuk sangka) pada pelakunya jika ternyata dalam hatinya ada rencana yang tidak kita ketahui dan itu dilakukan ikhlas untuk Alloh. Sebaliknya juga, bagi siapapun harus berhati-hati saat up date status atau foto, baik ibadah ataupun bukan, karena syetan paling pintar menggoda, bahkan lebih pintar dari manusia jenius manapun karena bisa menggoda orang yang niat amal ibadahnya tadinya karena Alloh kemudian selang berapa lama kemudian niatnya berubah menjadi bukan untuk Alloh SWT. Ini masalah serius karena "ngeri", hubungannya dengan neraka. Maka, kehati-hatian dalam menjaga niat ibadah agar tetap ikhlas karena Alloh itu sangat penting. Setidaknya kita harus menjaganya di tiga waktu, saat sebelum melakukan, saat sedang melakukan dan setelah melakukan yang tentunya ini waktunya tidak terbatas sampai ajal menjemput.
 

Wallohua’lam
~>NuansaHati:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar