Sepertinya dunia ini sudah tak asing lagi dengan teknologi berbentuk
alat komunikasi. Lebih-lebih di dalamnya terdapat bermacam-macam
kegunaan yang mendukung dengan bantuan semacam software yang bisa di
instal atau disebut aplikasi. Salah satu aplikasi pendukung alat
komunikasi yang sering orang sebut dengan “smartphone” ini adalah
aplikasi media sosial. Seperti facebook, twitter, path dan lain
sebagainya yang tentunya hampir tidak mungkin pengguna smartphone tidak
memiliki akun media sosial. Aplikasi-aplikasi media sosial tersebut
tentulah banyak kegunaan yang bisa di share (bagi) melalui pembaharuan
informasinya yang sering orang sebut dengan “Up Date Status”. Antara
lain untuk media silaturahmi ataupun perkenalan, ataupun promosi barang
dagangannya yang bisa dipromosikan secara gratis ke seluruh temannya
bahkan ke seluruh dunia. Bahkan saya yakin masih ada lagi kegunaan media
sosial yang tidak mungkin kita bahas di sini.
Saking banyaknya
fungsi media sosial yang bisa di Up Date, habis makan dia up date, habis
olah raga up date, mau tidur hingga bangun tidur up date, habis kerja
pun up date status, sampai-sampai entah sengaja atau tidak, seseorang
senang dengan Up Date Status ibadah yang mau dikerjakannya, sedang
dikerjakannya atau bahkan setelah mengerjakannya. Baik itu di up date
melalui foto atau tulisan. Mau puasa up date, setelah tarawih up date,
lagi baca Qur’an juga masih sempet up date “lagi baca Qur’an” dengan
bermacam-macam kondisi dan redaksional status. Nah, pertanyaan yang
sering muncul adalah “boleh ga sih up date status setelah ibadah?” Untuk
mengambil kesimpulan apakah boleh secara syariah atau tidak kita coba
kaji dari hadits Nabi SAW dari Umar bin Khotob ini, “Segala perbuatan
bergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang
telah menjadi niatnya…” (Muttafaq’alaih).
Para ulama sepakat
bahwa niat itu menjadi suatu keharusan dalam sebuah amal, agar
mendapatkan pahala ketika amal itu dikerjakannya. Lanjutnya, para ulama
juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi sahnya sebuah amal
(Mutiara-mutiara hadits no. 1 Bab. 1 Syaroh Riyadus Sholihin Oleh Dr.
Mustofa Dib Al bugho dkk) Tentunya, niat tempatnya ada di dalam hati dan
hanya Alloh yang tau isi hati manusia, “Katakanlah, jika kamu
sembunyikan di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Alloh pasti
mengetahuinya..”(QS. Ali Imron : 29).
Terkadang, seseorang
melakukan kebaikan namun niatnya buruk. Sebaliknya juga melakukan
sesuatu yang nampaknya buruk namun maksudnya baik. Seseorang yang
terlihat gagah berani membela agamanya dan terlihat syahid di medan
perang belum tentu dalam hatinya ia berperang karena Alloh. Bukankah
kelihatannya keberaniannya merupakan sebuah kebaikan? Tetapi kalau
ternyata ia berperang hanya ingin disebut pemberani, maka kata Nabi SAW
“Alloh memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke dalam neraka”. Begitu
juga dengan seorang kaya yang banyak sedekah namun ingin disebut
dermawan dan seorang yang pandai Al-Quran namun ingin disebut sebagai
Qori’. Na’udzubillaahimindzaalik (kita berlindung kepada Alloh dari hal
yang demikian). Jadi tak perlu foto atau up date status yang di share ke
medida sosial, hanya sekedar niat yang salah saja seseorang bukan hanya
amalnya menjadi sia-sia, tetapi juga bisa terjerumus ke tempat yang
terburuk.
Namun, kalau ternyata kondisinya berbeda seperti ini
misalnya, seorang yang profesinya adalah guru kemudian ia up date status
atau up date foto tentang ibadah yang sedang dilakukannya dengan niat
agar menjadi inspirasi murid-muridnya, meskipun sumber inspirasi yang
terbaik adalah Al-Quran dan Sunnah tetapi kalau dalam hatinya berniat
melakukan itu semua karena Alloh, maka tidak bisa juga kita melihat up
date status itu kemudian bilang kalau ibadahnya itu perbuatan yang riya’
(amalan yang ditampakkan bukan Karena Alloh). Kita ketahui dalam siroh
sahabat Nabi SAW bahwa sebelum adzan, Bilal r.a. punya amalan wudhu dan
sholat sukur wudhu yang terjaga, bahkan wudhu dan sholat itu dijaga pula
diluar adzan. Abu Bakar r.a. dengan 1/3 sedekahnya yang saat itu
hartanya sebanyak 40.000 dinar/600an milyar, bahkan ada riwayat lain
yang menyebutkan jumlah sedekahnya dengan separuh hartanya. Umar Bin
Khotob r.a. yang pemberani bahkan syetan pun takut kepadanya itupun
dikisahkan dalam siroh-siroh atau sejarah-sejarah kemuliaan akhlaq
sahabat Nabi SAW. Masih banyak pula kisah sahabat lainnya, namun apakah
hal demikian disebut riya’? Tentu tidak, karena mereka dikabarkan masuk
surga.
Dengan begitu pertanyaan kita pun terjawab. Seseorang
beramal ibadah itu bergantung pada posisi niatnya masing-masing. Posisi
itu yang tahu hanya Alloh SWT dan pelakunya sendiri. Seseorang yang
setelah puasa atau tarawih atau umroh dan lain sebagainya kemudian dia
up date status tentang ibadahnya belum tentu dia riya’. Malahan kalau
kita mengira dia riya’ kita sudah su’udzon (berburuk sangka) pada
pelakunya jika ternyata dalam hatinya ada rencana yang tidak kita
ketahui dan itu dilakukan ikhlas untuk Alloh. Sebaliknya juga, bagi
siapapun harus berhati-hati saat up date status atau foto, baik ibadah
ataupun bukan, karena syetan paling pintar menggoda, bahkan lebih pintar
dari manusia jenius manapun karena bisa menggoda orang yang niat amal
ibadahnya tadinya karena Alloh kemudian selang berapa lama kemudian
niatnya berubah menjadi bukan untuk Alloh SWT. Ini masalah serius karena
"ngeri", hubungannya dengan neraka. Maka, kehati-hatian dalam menjaga
niat ibadah agar tetap ikhlas karena Alloh itu sangat penting.
Setidaknya kita harus menjaganya di tiga waktu, saat sebelum melakukan,
saat sedang melakukan dan setelah melakukan yang tentunya ini waktunya
tidak terbatas sampai ajal menjemput.
Wallohua’lam
~>NuansaHati:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar