Ada sebuah kisah nyata yang cukup melankolis, mirip seperti drama
korea, namun pesan di dalamnya bukan pesan percintaan biasa antara dua
sejoli, namun pesan cinta pada orang tua dan pesan cinta pada Al-Quran
yang menggetarkan hati. Sebut saja ada seorang anak SD namanya Umar, ia
disekolahkan di sekolah terbaik, bahkan standar internasional. Siapalah
diantara kita yang tidak mau menyekolahkan anak di sekolah yang bagus
dan terbaik? Ayah umar yang berumur 50 tahunan memang menyekolahkan
semua anak-anaknya di sekolah yang terbaik, dengan biaya yang tentu
fantastis tidak sedikit, bahkan salah seorang anaknya yang paling tua
nilainya cum laud. Ayah Umar termasuk pekerja keras, benar-benar pekerja
keras, sehingga waktunya untuk berkumpul dengan keluarga hampir tidak
ada.
Suatu hari, istrinya bilang “pa, hari sabtu ada fatrhers
day di sekolahnya Umar, awas ya kalau ga dating”. Ayahnya mendengar
kabar itu langsung lemes, sambil bergumam dia bilang “waduhh…paling
acaranya juga begitu. Anak saya sudah 4, yang tertua sudah kuliah, masa
masih harus hadir acara begitu?”. Tapi karna istrinya mengancam maka
sang ayah terpaksa harus datang melupakan gengsi dan kesibukannya
bekerja.
Waktu dia, ayah Umar, datang ke sekolah, ia tau isinya
fatrhers day itu seperti apa. Nanti anak-anak disuruh tampil satu per
satu, tampil ini dan tampil itu. Ada yang nyanyi, ada yang baca puisi,
ada yang pidato dan lain sebagainya menampilan kebolehan-kebolehan
mereka. Nanti setelah tampil ayahnya dipanggil satu per satu memeluk dan
mencium menunjukan kasih sayangnya pada anaknya yang terlihat seperti
pura-pura.
Para ayah yang yang umur 30an tahun sangat semangat
duduk di depan. Karna ayah Umar umurnya 50an, maka dia duduk di
belakang. Waktu acara dimulai oleh pembawa acara, persis sepeti apa yang
dibayangkan oleh sang ayah. Ada yang baca puisi, nyanyi pidato dan
lain-lain. Begitu tiba giliran Umar, Umar dipanggil oleh pembawa acara,
“ayo Umar bin fulan”. Ayahnya Umar di belakang sambil mengeluarkan Smart
Phone atau BB-nya pada saat itu kemudian bergumam, “paling juga dia mau
nyanyi doang”. Maka begitu tampil, kemudian Umar ditanya oleh pembawa
acara, “kamu mau menampilkan apa, nak?” Dijawab oleh umar, “boleh saya
panggil Ustadz Arif?” Jawab pembawa acara “oh, boleh silahkan”. Kemudian
pembawa acara mempersilahkan dan mengenalkan Ustadz Arif bahwa beliau
adalah guru ekstrakulikuler, guru baca Al-Quran. Maka kemudain Ustadz
Arif bertanya, “kamu mau tampilkan apa?” Jawab Umar, “Ustadz, boleh buka
surat 78 surat Annaba?” Dijawab lagi oleh Ustadz Arif , “oh boleh”.
Kemudian dibukalah surat An-Naba, “silahkan”, kata Ustadz Arif sambil
mau memberikan Al-Quran-nya. “Tidak Ustadz, Ustadz aja yang pegang, aku
akan membacanya”. Tanya ustadz arif kaget, “O, jadi kamu hafal?” Jawab
Umar, “ya hafal” Begitu dia mau membaca surat An-Naba, maka semua ayah
yang tadi bangga terhadap anak-anaknya lantas semua pqra ayah jadi
terkejut.
Ini sekolah internasional, bukan pesantren, bukan
majlis taklim. Anak ini membacakan dengan merdunya surat An-Naba dan
ternyata dia juga hafal. MasyaAlloh..,Pada saat Umar membacakannya,
mulai dari ayat pertama, "Ammma yatasaa Aluun" mata para ayah yang hadir
pada acara tersebut, lambat laun mulai meleleh mendengar lantunan surat
tersebut. Tadinya mereka, para ayah, bangga pada anak-anak mereka yang
menampilkan segala kemampuan duniawi mereka, saat itu tiba-tiba mereka
berkeinginan punya anak seperti Umar. Begitu umar sampai pada ayat
terakhir..Innaa Andzarnaakum Adzaabanqoriibaa, Yaumayandzurul Mar’u maa
Qoddamatyadaahu Wayaquulul kaafiruyaa laitaniii Kuntuturoobaa, Ayahnya
Umar belum dipanggil tiba-tiba berdiri kemudian dari belakang berlari
menghampiri anaknya, dia peluk anaknya, dia cium anaknya, maka kemudian
terjadilah drama yang cukup mengharukan dalam acara tersebut.
Ketahuilah saudara-saudaraku semuanya...Al-Quran itu membanggakan,
ke-sholih-an itu sangat membanggakan. Maka, usai mereka berpelukan dan
menangis, kemudian pembawa acara bertanya pada umar “Umar, apa yang
membuatmu ingin membacakan surat An-Naba di hadapan kami semua?” Jawab
Umar dengan polosnya “Ustadz Arif bilang “jangan malas mengaji, Umar.
Rajin-rajinlah membaca dan menghafalkannya karena Al-Quran akan membuat
bangga orang tuamu”. Jadi aku ingin membuat bahagia orang tuaku nanti,
aku akan membuat mereka bangga di akhirat nanti”.
Innawa'dalloohiHaq (Sesungguhnya janji Allooh itu benar). Alloh akan
menjamin kebahagiaan orang tua berupa pahala kebaikan, manfaat dari
kesholihan anaknya, ketika anaknya di dunia menjadi anak yang bertaqwa,
anak yang sholih, termasuk juga anak yang pandai membaca Al-Quran.
Sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Rasulullah
s.a.w. bersabda : "Apabila anak Adam - yakni manusia - meninggal dunia,
maka putuslah amalannya - yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi,
melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang
dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang sholih yang suka mendoakan
untuknya (orang tuanya) (HR. Muslim)
Membanggakan orang tua
atau membahagiakan orang tua, adalah kewajiban balas budi kepada orang
tua bagi seorang anak. Namun sering kali kebanggaan yang diberikan
sebagai balas budi itu berhenti di dunia saja. Umumnya orang tua akan
dipandang baik oleh masyarakat, dipandang baik oleh tetangganya,
dipandang baik oleh penduduk kampungnya, jika anaknya sukses, punya
pangkat dan jabatan yang terhormat. Tapi ternyata tidak sedikit yang
melupakan sisi yang dipandang oleh Alloh yang seharusnya menjadi rencana
jangka panjang kebahagiaan orang tua di dunia maupun di akhirat, yaitu
kesholihan seorang anak. Tidak salah sepenuhnya memang, membahagiakan
orang tua dengan prestasi kita, harta kita, jabatan kita atau pangkat
kita. Tapi itu masih kurang, kurang banget, karena kebanggaan atau
kebahagiaan orang tua seperti itu HANYA BERHENTI DI DUNIA saja. Tambahin
lah dengan amal sholih, bahagiakan orang tua, buat orang tua kita
bangga (bukan berarti ujub), dengan kesholihan yang efeknya berpengaruh
hingga akhirat, kehidupan yang abadi.
Kejarlah
dunia dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada Alloh. Kejar semua
prestasi, harta, pangkat dan jabatan itu asalkan semua itu membuat kita
makin cinta dengan Al-Quran, cinta sedekah, cinta sholat Tahajjud, cinta
Sholat dhuha, tapi kalau dengan mengejar dunia malah menjauhkan diri
kita dari Alloh, maka Alloh tidak butuh pekerjaan-pekerjaan kita. Siapa
yang memberi kita pekerjaan, siapa yang memberi kita bisnis, siapa yang
memberi kita penghasilan, siapa yang memberi kita jabatan, siapa yang
memudahkan kita mendapatkan pangkat kalau bukan Alloh? Tapi kalau dengan
semua nikmat-nikmat dan pekerjaan itu kemudian membuat kita makin jauh
dari Alloh, maka sekali lagi, Alloh tidak butuh semua
pekerjaan-pekerjaan itu. Betapa mudahnya bagi Alloh mengambil nikmat itu
sekejap mata. Wallohua'lam. Semoga Alloh mudahkan kita membuat orang
tua bahagia di dunia hingga di akhirat. Amin
~>NuansaHati :)
Di sinilah kita mengunggah dunia yang ada dalam alam fiktif ke dalam bentuk karya tulis. Biarlah fiktif asalkan syar'i.
Jumat, 16 September 2016
Kamis, 01 September 2016
NASIHAT : BENARKAH KEBAHAGIAAN ITU HANYA PERKARA SUDUT PANDANG ?
Pernahkah anda bertemu dengan orang yang merasa paling apes sedunia?
Merasa paling malang sedunia? Setidaknya orang itu melihat nasib dari
sudut pandangnya sendiri. Saya yakin ada di sekitar anda yang merasa
demikian. Atau malah mungkin anda sendiri yang merasa demikian? Ga perlu
dijawab, jangan merasa tersindir, karna artikel ini untuk “ummat” bukan
untuk seseorang semata. Jadi, cukup renungkan dan baca artikel ini
sampai selesai hingga benar-benar bisa mengambil pelajarannya.
InsyaAlloh…
Kembali ke permasahan “apes”. Saya katakan kondisi apes atau malang menurut mereka yang merasa malang adalah kondisi yang terjadi karena seseorang mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan dan membuat hati terasa sakit. Saking sakitnya, hingga membuatnya ingin memegang dada kirinya selama mungkin untuk menahannya lebih lama. “Emangnya ngaruh?” Anda tanyakan saja pada orang yang membuat istilah “sakitnya tuh di sini” hehe...Dengan kata lain, kondisi malang adalah kondisi ketiadaan kesenangan atau kebahagiaan dalam diri seseorang yang terjadi karena melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang salah. Maka, untuk menghilangkan rasa paling malang sedunia adalah dengan cara melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar, yaitu menciptakan "kebahagiaan" itu sendiri.
Gimana caranya? Bukankah Yang Maha Pencipta segala sesuatu itu Alloh Al-Waduud (Alloh Yang Maha Pencipta)? Itu benar, tapi kita sedang menggunakan istilah “menciptakan” untuk maksud yang lain, yaitu dimaksudkan untuk mendevinisikan bahwa datangnya kebahagiaan itu ada penyebabnya. Alloh-lah yang menciptakan “kebahagiaan” kemudian Alloh mengaruniakan kebahagiaan itu untuk hamba-Nya karena Alloh juga Al-Wahhaab (Maha Pemberi Karunia). Kebahagiaan adalah karunia dari Alloh dalam bentuk perasaan senang yang “tidak datang tiba-tiba”, yang kata orang Jawa mah “ora teko ujug-ujug”.
Untuk memahami proses sebab datangnya kebahagiaan itu sekaligus membangun suasana yang lebih ringan namun tetap islami, saya katakan setidaknya di antara sebab ketidakbahagiaan yang sering terjadi pada seseorang adalah karena seseorang underestimate (meremehkan) terhadap diri sendiri, ketiadaan motivator diri, tidak sabar dan tidak tawakkal pada Alloh SWT. “Kaifa yakuuna dzaalik ?” Kok bisa gitu sih?
Kita akan bahas mulai dari Underestimate. Suatu perkataan yang mencela atau menyudutkan diri sendiri seperti dengan kata “saya ga bisa”, “saya lemah”, “saya bodoh”, “saya jelek” dan lain semacamnya, itulah underestimate. Kata-kata itu jelas kata-kata yang dilarang dalam islam jika diniatkan untuk mencela, apa lagi mencela diri sendiri. Sedangkan "Alloh itu sesuai dengan prasangka atau keyakinan hamba-Nya". Ini Hadits Qudsi, Alloh langsung yang bilang (Lihat Syaroh Riyadush Sholihin Bab. 52 hadits pertama). Kalau kita memvonis diri kita dengan perkataan mencela diri disertai keyakinan, tentu Alloh tidak akan mendatangkan kebahagiaan itu karena kita sendiri, yang berkata tanpa pemahaman, sudah membuat “block” atau penghalang kebahagiaan itu untuk bisa datang. Kenapa? Karena Alloh sesuai dengan prasanga atau keyakinan hamba-Nya. Apalah jadinya jika seseorang dalam suatu upayanya, apapun itu, selalu bilang “saya penakut”, “saya pasti ga bisa” atau “saya lemah” ? Maaf, saya katakan orang seperti ini adalah orang yang kalah sebelum berperang. Bukan mendatangkan kebahagiaan namun mendatangan kemalangan diri sendiri karena banyak sekali potensi diri yang lupa disyukurinya.
Kemudian yang kedua adalah ketiadaan motivator. Saya tidak bilang kalau seseorang yang ingin menciptakan kebahagiaan harus ikut pelatihan ini dan itu untuk mencari pembicara handal sebagai motivator. Sederhananya begini, kalau seseorang melihat dengan kaca mata yang tawadhu, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain yang sudah jelas berpengalaman dalam suatu hal, lebih-lebih teman dekat, maka akan banyak sekali sumber motivasi (dorongan melakukan kebaikan) yang bisa didapatkan. Jadi tidak perlu pembicara atau pemikir handal. Namun yang fatal, kebanyakan orang yang tidak berhasil menciptaan kebahagiaan itu karena ia selalu menghindar dari nasihat. Cobalah untuk menumbuhkan tawadhu dalam diri dengan tidak anti sosial, tidak suka menyendiri mengerjakan hobi, tidak merasa minder karena melihat orang lain serasa lebih beruntung, tidak selalu mencari jawaban sebagai pembenaran yang mengakibatkan orang lain tidak peduli lagi dan tidak kebiasaan bertanya “kenapa ini semua terjadi pada diri saya?” Kalau “To the poin” saya jawab, maka saya katakan, “segala kebaikan dan keburuan yang terjadi pada diri seseorang itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri”. Terdengar keras menjawabnya namun itulah kenyataannya yang mau tidak mau harus kita hadapi. Biar tambah yakin, boleh di cek tafsir surat An-Nisa ayat 79, tafsirnya ya, bukan sekedar terjemahan yang singkat.
Artinya, kebahagiaan dan rasa kemalangan atau keapesan seseorang itu akibat perbuatannya sendiri. Namun kebanyaan orang tidak menyadarinya dan selalu mencari “kambing hitam” atau sesuatu yang layak untuk disalahkan atas kemalangan yang terjadi padanya. Nah, orang macam ini, biasanya kalau ada orang sedang menasihatinya, maunya nasihat itu langsung “berwujud sesuatu” sehingga bisa langsung menyelesaikan masalahnya alias instan tanpa ikhtiar, tanpa mengambil pelajaran yang terjadi. Saya katakan ini adalah pemahaman yang salah. Kalau orang tidak menyambut nasihat dengan baik karena menganggap hanya sekedar “kata”, dari mana seseorang akan mendapatkan motivasi untuk hidup bahagia? Tidakkah dia itu sadar bahwa sebenarnya orang terdekat yang mencoba menasihatinya adalah orang-orang yang menyayanginya? Orang seperti itu secara tidak langsung sudah menyakiti perasaan orang-orang terdekatnya. Bahkan juga secara tidak langsung sedang menutup pintu-pintu peluang kebaikan yang bisa datang kapan saja tanpa diketahui waktunya. Maaf, saya katakan orang yang tidak punya motivasi tujuan hidup adalah orang yang pandai mencari alasan namun tidak pandai mencari solusi. Ini bahaya, “naudzubillaahindzaalik”, kita berlindung pada Alloh dari hal yang demikian.
Kemudian yang ketiga adalah tidak sabar, “no patient”. Sabar bukan berarti ketiadaan tindakan diam menunggu sesuatu. Saya katakan, sabar adalah sebuah proses tindakan atau amal kebaikan yang harus terus berjalan karena menunggu datangnya pertolongan dari Alloh. Kalau pertolongan itu datangnya instan, maka itu bukan cara kerja pertolongan dari Alloh. Pasti akan ada sebab Alloh menolong hamba-Nya. Jadi mohon maaf, saya katakan orang yang tidak sabar seperti itu adalah orang yang mudah tenggelam di tengah laut, tidak mau berenang namun impiannya selalu di tepi pantai. Boleh jadi, pertolongan Alloh itu datang karena ke-tawadhu-annya sabar mendengarkan nasihat saudara, datang karena dia sabar sering bertemu dengan orang-orang yang lebih baik atau lebih sholih sehingga dia pun ikut “tertular” berkah dari ke-sholih-annya. Boleh jadi pertolongan Alloh itu datang karena kesabaran dalam men-dawam-kan (meng-ajeg-kan) atau merutinkan amal kebaikan (sholih). Boleh jadi juga pertolongan Alloh itu datang ketika semua dosa-dosanya sudah bersih oleh sebab sabarnya menghadapi kesulitan atau “jatuh bangunnya” berkali-kali dalam mengarungi samudera kehidupan? Who Knows? Man Ya’lam? Siapa yang tau? Namanya juga usaha, yang penting kita meyakini bahwa “Innaa Nashrolloohiqoriiib” sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. Biar tambah yakin deh, boleh di cek bahwa pertolongan Alloh di tafsir QS. Al-Baqoroh ayat 214.
Kemudian yang terakhir adalah tidak tawakkal kepada Alloh. Tawakkal berarti bersandar pada Alloh SWT dalam upaya mencapai keinginan atau bersandar pada Alloh dalam upaya menghindari keburukan (Bisa dikoreksi di mutiara hadits pertama dalam Kitab Syaroh Riyadush Sholihin bab 7 oleh Dr. Dib Al-Bugho dkk). Jadi, hasilnya itu terserah Alloh saja, tugas kita ber-ikhtiar sepaket dengan berdoa. Ikhtiar itu tidak selalu hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena boleh jadi Alloh Yang Maha Luas Ilmunya punya sesuatu yang lebih baik dari sekedar apa yang kita harapkan melalui ilmu kita yang sempit. Ibaratnya begini, namanya dagang ga selalu untungnya sesuai yang kita harapkan, bisa jadi kurang bisa juga lebih. Di sinilah kondisi dimana kita harus bertawakal pada Alloh SWT karena Alloh bisa berehendak lain dengan banyak sekali peristiwa yang bisa terjadi diluar jangkauan pemahaman ilmu manusia. Maaf, saya katakan orang yang tidak tawakkal seperti itu adalah orang yang mudah kecewa, mudah menangisi hal yang ga penting dan mudah patah hati. Alloh-lah yang punya Ilmu Maha Luas dan punya rencana yang lebih baik. Namun manusialah yang terkadang “sok pintar” menganggap apa yang direncanakan itu yang terbaik, menganggap hasil yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.
Wallohua’lam, Alloh yang lebih mengetahui, Alloh yang lebih luas pemahamannya dan Alloh yang mendatangkan kebenaran dari setiap apa yang kita sampaikan. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang memiliki kebahagiaan, bukan lantaran keinginan yang selalu terpenuhi, namun karena pandai melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar.
~>NuansaHati :)
Kembali ke permasahan “apes”. Saya katakan kondisi apes atau malang menurut mereka yang merasa malang adalah kondisi yang terjadi karena seseorang mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan dan membuat hati terasa sakit. Saking sakitnya, hingga membuatnya ingin memegang dada kirinya selama mungkin untuk menahannya lebih lama. “Emangnya ngaruh?” Anda tanyakan saja pada orang yang membuat istilah “sakitnya tuh di sini” hehe...Dengan kata lain, kondisi malang adalah kondisi ketiadaan kesenangan atau kebahagiaan dalam diri seseorang yang terjadi karena melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang salah. Maka, untuk menghilangkan rasa paling malang sedunia adalah dengan cara melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar, yaitu menciptakan "kebahagiaan" itu sendiri.
Gimana caranya? Bukankah Yang Maha Pencipta segala sesuatu itu Alloh Al-Waduud (Alloh Yang Maha Pencipta)? Itu benar, tapi kita sedang menggunakan istilah “menciptakan” untuk maksud yang lain, yaitu dimaksudkan untuk mendevinisikan bahwa datangnya kebahagiaan itu ada penyebabnya. Alloh-lah yang menciptakan “kebahagiaan” kemudian Alloh mengaruniakan kebahagiaan itu untuk hamba-Nya karena Alloh juga Al-Wahhaab (Maha Pemberi Karunia). Kebahagiaan adalah karunia dari Alloh dalam bentuk perasaan senang yang “tidak datang tiba-tiba”, yang kata orang Jawa mah “ora teko ujug-ujug”.
Untuk memahami proses sebab datangnya kebahagiaan itu sekaligus membangun suasana yang lebih ringan namun tetap islami, saya katakan setidaknya di antara sebab ketidakbahagiaan yang sering terjadi pada seseorang adalah karena seseorang underestimate (meremehkan) terhadap diri sendiri, ketiadaan motivator diri, tidak sabar dan tidak tawakkal pada Alloh SWT. “Kaifa yakuuna dzaalik ?” Kok bisa gitu sih?
Kita akan bahas mulai dari Underestimate. Suatu perkataan yang mencela atau menyudutkan diri sendiri seperti dengan kata “saya ga bisa”, “saya lemah”, “saya bodoh”, “saya jelek” dan lain semacamnya, itulah underestimate. Kata-kata itu jelas kata-kata yang dilarang dalam islam jika diniatkan untuk mencela, apa lagi mencela diri sendiri. Sedangkan "Alloh itu sesuai dengan prasangka atau keyakinan hamba-Nya". Ini Hadits Qudsi, Alloh langsung yang bilang (Lihat Syaroh Riyadush Sholihin Bab. 52 hadits pertama). Kalau kita memvonis diri kita dengan perkataan mencela diri disertai keyakinan, tentu Alloh tidak akan mendatangkan kebahagiaan itu karena kita sendiri, yang berkata tanpa pemahaman, sudah membuat “block” atau penghalang kebahagiaan itu untuk bisa datang. Kenapa? Karena Alloh sesuai dengan prasanga atau keyakinan hamba-Nya. Apalah jadinya jika seseorang dalam suatu upayanya, apapun itu, selalu bilang “saya penakut”, “saya pasti ga bisa” atau “saya lemah” ? Maaf, saya katakan orang seperti ini adalah orang yang kalah sebelum berperang. Bukan mendatangkan kebahagiaan namun mendatangan kemalangan diri sendiri karena banyak sekali potensi diri yang lupa disyukurinya.
Kemudian yang kedua adalah ketiadaan motivator. Saya tidak bilang kalau seseorang yang ingin menciptakan kebahagiaan harus ikut pelatihan ini dan itu untuk mencari pembicara handal sebagai motivator. Sederhananya begini, kalau seseorang melihat dengan kaca mata yang tawadhu, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain yang sudah jelas berpengalaman dalam suatu hal, lebih-lebih teman dekat, maka akan banyak sekali sumber motivasi (dorongan melakukan kebaikan) yang bisa didapatkan. Jadi tidak perlu pembicara atau pemikir handal. Namun yang fatal, kebanyakan orang yang tidak berhasil menciptaan kebahagiaan itu karena ia selalu menghindar dari nasihat. Cobalah untuk menumbuhkan tawadhu dalam diri dengan tidak anti sosial, tidak suka menyendiri mengerjakan hobi, tidak merasa minder karena melihat orang lain serasa lebih beruntung, tidak selalu mencari jawaban sebagai pembenaran yang mengakibatkan orang lain tidak peduli lagi dan tidak kebiasaan bertanya “kenapa ini semua terjadi pada diri saya?” Kalau “To the poin” saya jawab, maka saya katakan, “segala kebaikan dan keburuan yang terjadi pada diri seseorang itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri”. Terdengar keras menjawabnya namun itulah kenyataannya yang mau tidak mau harus kita hadapi. Biar tambah yakin, boleh di cek tafsir surat An-Nisa ayat 79, tafsirnya ya, bukan sekedar terjemahan yang singkat.
Artinya, kebahagiaan dan rasa kemalangan atau keapesan seseorang itu akibat perbuatannya sendiri. Namun kebanyaan orang tidak menyadarinya dan selalu mencari “kambing hitam” atau sesuatu yang layak untuk disalahkan atas kemalangan yang terjadi padanya. Nah, orang macam ini, biasanya kalau ada orang sedang menasihatinya, maunya nasihat itu langsung “berwujud sesuatu” sehingga bisa langsung menyelesaikan masalahnya alias instan tanpa ikhtiar, tanpa mengambil pelajaran yang terjadi. Saya katakan ini adalah pemahaman yang salah. Kalau orang tidak menyambut nasihat dengan baik karena menganggap hanya sekedar “kata”, dari mana seseorang akan mendapatkan motivasi untuk hidup bahagia? Tidakkah dia itu sadar bahwa sebenarnya orang terdekat yang mencoba menasihatinya adalah orang-orang yang menyayanginya? Orang seperti itu secara tidak langsung sudah menyakiti perasaan orang-orang terdekatnya. Bahkan juga secara tidak langsung sedang menutup pintu-pintu peluang kebaikan yang bisa datang kapan saja tanpa diketahui waktunya. Maaf, saya katakan orang yang tidak punya motivasi tujuan hidup adalah orang yang pandai mencari alasan namun tidak pandai mencari solusi. Ini bahaya, “naudzubillaahindzaalik”, kita berlindung pada Alloh dari hal yang demikian.
Kemudian yang ketiga adalah tidak sabar, “no patient”. Sabar bukan berarti ketiadaan tindakan diam menunggu sesuatu. Saya katakan, sabar adalah sebuah proses tindakan atau amal kebaikan yang harus terus berjalan karena menunggu datangnya pertolongan dari Alloh. Kalau pertolongan itu datangnya instan, maka itu bukan cara kerja pertolongan dari Alloh. Pasti akan ada sebab Alloh menolong hamba-Nya. Jadi mohon maaf, saya katakan orang yang tidak sabar seperti itu adalah orang yang mudah tenggelam di tengah laut, tidak mau berenang namun impiannya selalu di tepi pantai. Boleh jadi, pertolongan Alloh itu datang karena ke-tawadhu-annya sabar mendengarkan nasihat saudara, datang karena dia sabar sering bertemu dengan orang-orang yang lebih baik atau lebih sholih sehingga dia pun ikut “tertular” berkah dari ke-sholih-annya. Boleh jadi pertolongan Alloh itu datang karena kesabaran dalam men-dawam-kan (meng-ajeg-kan) atau merutinkan amal kebaikan (sholih). Boleh jadi juga pertolongan Alloh itu datang ketika semua dosa-dosanya sudah bersih oleh sebab sabarnya menghadapi kesulitan atau “jatuh bangunnya” berkali-kali dalam mengarungi samudera kehidupan? Who Knows? Man Ya’lam? Siapa yang tau? Namanya juga usaha, yang penting kita meyakini bahwa “Innaa Nashrolloohiqoriiib” sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. Biar tambah yakin deh, boleh di cek bahwa pertolongan Alloh di tafsir QS. Al-Baqoroh ayat 214.
Kemudian yang terakhir adalah tidak tawakkal kepada Alloh. Tawakkal berarti bersandar pada Alloh SWT dalam upaya mencapai keinginan atau bersandar pada Alloh dalam upaya menghindari keburukan (Bisa dikoreksi di mutiara hadits pertama dalam Kitab Syaroh Riyadush Sholihin bab 7 oleh Dr. Dib Al-Bugho dkk). Jadi, hasilnya itu terserah Alloh saja, tugas kita ber-ikhtiar sepaket dengan berdoa. Ikhtiar itu tidak selalu hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena boleh jadi Alloh Yang Maha Luas Ilmunya punya sesuatu yang lebih baik dari sekedar apa yang kita harapkan melalui ilmu kita yang sempit. Ibaratnya begini, namanya dagang ga selalu untungnya sesuai yang kita harapkan, bisa jadi kurang bisa juga lebih. Di sinilah kondisi dimana kita harus bertawakal pada Alloh SWT karena Alloh bisa berehendak lain dengan banyak sekali peristiwa yang bisa terjadi diluar jangkauan pemahaman ilmu manusia. Maaf, saya katakan orang yang tidak tawakkal seperti itu adalah orang yang mudah kecewa, mudah menangisi hal yang ga penting dan mudah patah hati. Alloh-lah yang punya Ilmu Maha Luas dan punya rencana yang lebih baik. Namun manusialah yang terkadang “sok pintar” menganggap apa yang direncanakan itu yang terbaik, menganggap hasil yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.
Wallohua’lam, Alloh yang lebih mengetahui, Alloh yang lebih luas pemahamannya dan Alloh yang mendatangkan kebenaran dari setiap apa yang kita sampaikan. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang memiliki kebahagiaan, bukan lantaran keinginan yang selalu terpenuhi, namun karena pandai melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar.
~>NuansaHati :)
Langganan:
Postingan (Atom)