Rabu, 14 Juni 2017

NASIHAT : KENAPA HARUS MENCARI “MALAM KEMULIAAN” (LAILATUL QODAR) ?

          Sebenarnya, puncak rutinitas tahunan yang ditunggu-tunggu oleh banyak ummat Muslim di Bulan Romadhon adalah _i’tikaf_, berdiam di masjid dalam rangka totalitas beribadah kepada Alloh, di sepuluh hari terakhirnya. Bukan malah totalitas dalam bekerja atau totalitas berbondong-bondong belanja dan berebut diskon belanja untuk persiapan lebaran. Fenomena ini rasanya setiap tahun terjadi selama kita berpuasa di bulan Romadhon. Padahal hal semacam ini bisalah disiasati jauh-jauh hari, bahkan sebelum Bulan Romadhon.

         Memang tidak bisa dipungkiri, kita yang hidup di zaman serba modern dan berkembang ini, banyak yang belum bisa melakukan ibadah secara totalitas di sepuluh hari terakhir Romadhon. Kenapa? Selain memang tidak banyak orang yang tau keutamaannya, juga contoh sederhananya saja bisa kita temukan di perkantoran yang waktu libur kerjanya bisa jadi malah hari ke-28 atau ke-29 Romadhon. Karena kantornya adalah bukanlah milik sendiri, sudah tentu jadwal kantor tidak bisa kita atur semau kita dan mau tidak mau kita tetap bekerja. Sehingga kita tidak bisa _i’tikaf_ full day sepuluh hari terakhir itu. Jadi untuk totalitas ibadah di sepuluh hari terakhir itu kemungkinannya sangat kecil. Kalaupun bisa sepuluh hari full hanya menggunakan waktu malamnya saja untuk ber-i’tikaf. Orang bilang sih _“ngalong”_ , seperti kalong, itupun dengan energi sisa yang rasanya berat untuk membuka mata. Saking beratnya mata yang sudutnya tinggal 10 derajat lagi, masjid seperti jadi tempat tujuan untuk tidur. Yah, dapetlah 2 atau 3 lembar membaca Al-Qur’an, dari pada kagak _i’tikaf_ sama sekali. Sayang sekali rasanya rutinitas berharga yang hanya setahun sekali dilewatkan begitu saja.

        Kenapa rutinitas tahunan, _i’tikaf_ di sepuluh hari terakhir ini sangat penting ? Karena ‘Aisyah r.a. pernah berkata bahwa _“Rosululloh SAW selalu ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Romadhon”_ (Muttafaq’alaih). Lebih hebat lagi, di antara sepuluh malam itu ada satu malam yang dikabarkan dalam Al-Quran bahwa beribadah di malam itu maka nilainya lebih baik dari ibadah 1000 bulan, yaitu Malam Kemuliaan atau disebut Lailatur Qodar. Itulah kenapa Nabi SAW bersungguh- sungguh beribadah pada malam-malam itu berdasarkan berita dari ‘Aisyah ra, bahwa ia berkata : _Rosululloh SAW ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir Bulan Romadhon, beliau mengencangkan kainnya (meninggalkan istrinya untuk dicampuri), menghidupkan malamnya (bersungguh-sungguh dan totalitas dalam beribadah kepada Alloh dengan sholat, dzikir, membaca Al-Quran dll) serta membangunkan keluarganya (mengajak seluruh keluarganya untuk sama-sama menghidupkan sepuluh malam terakhir)”_ (Muttafaq’alaih). Nabi saja yang surganya sudah dijaminkan untuk beliau masih sungguh-sungguh beribadah. Lalu bagaimana dengan kita yang surganya belum jelas?

       Kita akan singgung secara singkat bahasan tentang Lailatul Qodar yang akan banyak diburu oleh banyak ummat Muslim, baik muslimin ataupun muslimat, di seluruh dunia. Kalau ingin lebih jelas tentang keistimewaan itu bisa dibaca lebih lengkap dalam banyak kitab, salah satunya Kitab Tafsir Ibnu katsir Surat Al-Qodar. Namun di antara keistimewaannya adalah, ibadah pada satu malam itu bernilai lebih baik dari 1000 bulan, sekitar 83 tahun. Boleh jadi nilai ibadah kita bernilai 2000 atau 3000 bulan, _walloohua’lam_, yang jelas lebih baik dari 1000 bulan. Kemudian para malaikat yang jumlahnya tak terhingga beserta malaikat Jibril turun pada malam itu untuk menebar keberkahan dan membuka peluang sebesar-besarnya untuk membantu menyelesaikan berbagai macam persoalan setiap orang dengan kehendak Alloh SWT.  Mereka, para malaikat itu juga akan mengamini semua doa-doa kita. Malam itu, Alloh menjamin keselamatan setiap hamba yang beribadah pada malam itu hingga akhir malam atau terbit fajar.

       Karena itulah, mengingat pentingnya Lailatul Qodar, Nabi SAW berpesan dengan perintah, _“Carilah (dengan sungguh-sungguh) Lailatul Qodar pada mlaam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Romadhon.”_ (HR. Bukhori). Sebagian ulama menafsirkan bahwa Lailatul Qodar letaknya bisa berpindah-pindah setiap tahun di antara malam-malam ganjil itu berdasarkan banyak sumber hadits yang ada. Jadi, malam ke berapa terjadinya malam itu adalah dirahasiakan oleh Alloh. Bahkan kita juga tidak tau, jam berapa tepat terjadinya malam itu yang terjadi di antara waktu setelah isya’ hingga terbit fajar. Sudah seharusnya malam itu kita kejar sekuat tenaga, kita deteksi keberadaannya, dengan menghidupkan 10 malam terakhir, mengingat malam itu sangat dirahasiakan kapan terjadinya, agar jangan sampai malam itu berlalu begitu saja karena kita sedang terlelap. Siapa yang sanggup beribadah selama 83 tahun ? Umur kita saja rata-rata tidak sampai 83 tahun. Tapi dengan malam itu, ternyata ibadah yang lebih baik dari ibadah selama 83 tahun itu bisa kita ganti dengan beribadah pada Malam Kemuliaan itu. Siapa yang tidak mau semua hajatnya terkabul, urusannya semua diselesaikan oleh Alloh dan keselamatan hidupnya dijamin ? Pastilah mereka yang membiarkan malam itu berlalu begitu saja tanpa ada nilai ibadah, banyak lalai bahkan banyak bercanda yang tidak ada manfaatnya.

Wallohua’lam
~>NuansaHati😊
19 Romadhon 1438 H

Minggu, 11 Juni 2017

NASIHAT : MAHAR UNTUK MEMINANGNYA

    
        Sepanjang tahun lalu dan kini, apakah ayat-ayat yang kita pernah baca telah mampu bersemayam di dalam hati dan menyejukkannya ? Sehingga raga ini tidak akan bergerak kecuali karena wujud dari kesejukan itu. Sampai sejauh mana kira-kira kita sanggup berjalan bersama ayat-ayat-Nya? Mungkin pernah kita membulatkan sebuah keputusan, menjadi seorang *hafidz/hafidzoh*. Namun dengan kepolosan, penuh harap, keraguan dan kita penuh tanya, 
_“Apakah kita sanggup memulai kemudian menyelesaikannya? Bisakah kita luangkan diri dari kesibukan dunia untuk membuktikan keteguhan dan kesungguhan kita?_

       Sebenarnya sungguh kitalah yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga Alloh tutup jalan kita untuk beramal solih. Padahal amal-amal itu sendiri adalah bentuk keteguhan ikhtiar dalam menghafalkannya.

       Kita akan jujurkan diri ini menghafkannya karena Allah. Sebenarnya sungguh kita ingin jujur namun mungkin lidah ini terlalu kelu  mengucapkannya. Sebenarnya kita juga tau, sibuknya dunia tidak pernah habis, hari ini, esok, lusa dan lusanya lagi kita akan terus sibuk tiada henti. Padahal ternyata, dengan menyibukkan diri dengan AlQuran, Alloh yang akan tunjuki berbagai solusi, Alloh jadikan urusan dunia kita menjadi lapang dan Alloh ringankan pula hati kita ketika melihat urusan dunia.

        Saudaraku, kita tidak tau sudah berapa banyak ayat yang terus-terusan disalahkan oleh guru kita. Kita tidak tau berapa ayat yang bisa kita hafalkan. Kita tidak tau mana yang bisa kita pahami dari ajaran guru kita. Kita tidak tau mana yang sungguh-sungguh bisa kita amalkan. Kita tidak tau mana yang sanggup kita ajarkan. Namun, teruslah bersamai ketidaktauan itu dengan ikhtiar, karena Alloh lah yang mengkhendaki apakah seseorang itu sanggup sampai ke garis finish ataupun tidak, karena Alloh pula yang mengkhendaki kemuliaan itu layak untuk kita sandang atau tidak.

        Pastilah akan ada banyak hal yang patut kita _muhasabahi_ (koreksi). Banyak pula duri-duri kecil yang membuat langkah ikhtiar kita terhenti sejenak. Namun selama kita masih bersama, insyaAlloh langkah itu akan berjalan setapak demi setapak bahkan sanggup bersama-sama berlaju dengan kencang.

_“Fa idza ‘azzamta fa tawakkal 'alallah_ "maka apabila kamu sudah berazam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah pada Alloh." 
QS. 3 :159

        Berat, tentu saja, apalagi ketika kita sendiri menghafalkannya, apalagi jika menghafal mengandalkan _mood_ yang tak pasti. Namun tak ada yang mustahil bagi Allah, jika Allah sudah berkehendak memilih seseorang menjadi keluarga-Nya di bumi.

       Ayo bangkit, selagi mata belum lelap, selagi rambut masih hitam, selagi suara masih lantang, selagi langkah masih berjejak, selagi tangan masih sanggup membuka mushaf (lembaran quran). Ambil tindakan sekarang. Betapa banyak *MAHAR* yang sudah kita hadiahkan untuk meminang dunia, sekarang saatnya kita mengumpulkan *MAHAR* untuk meminang surganya Allah.

      Mari kita amin-kan dalam Romadhon yang mulia ini karena Allah meng'ijabahi doa orang yang berpuasa, 
*Alloohummarhamnaa bilQuraan* 

_"Ya Alloh, jadikan kami termasuk bagian dari keluarga-Mu di bumi ini lantaran ikhtiar-ikhtiar kami. Sayangi kami karena Al-Quran yang baru sedikit kami baca, sedikit kami hafal, sedikit kami kaji, sedikit kami ajarkan dan sedikit kami amalkan. Pertemukan kami dengan teman-teman yang bisa saling meneguhkan iman di hati kami. Pertemukan kami dengan guru yang selalu sabar membimbing kami meski kami lambat dalam belajar. Pertemukan kami dengan guru yang selalu sabar mengingatkan kami yang sering datang terlambat, guru yang mau memaafkan kami yang khilaf (tak datang) di waktu belajar. Kumpulkan kami semua yang belajar ini dalam istana surgamu yang indah, Ya Allooh. Berikan kami semua kekuatan dan hidayah-Mu dalam ikhtiar kami mengumpulkan *MAHAR* untuk meminang surga-Mu."_
Amiin Ya Arhamarroohimiin

17 Romadhon 1438 H
~>NuansaHati 😊

Jumat, 09 Juni 2017

NASIHAT : COBA PERIKSA DULU

          Apakah kita merasa bosan bersahabat dengan AlQuran yang bisa menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan akhirat ? 
Apakah kita tidak bahagia mengucapkan tiap huruf dari setiap ayat AlQuran yang bisa menyembuhkan luka ringan maupun berat di hati ? Coba periksa dulu ke dalam hati yg paling dalam, barangkali ada kerak dosa yg tebal mengerudungi hati. Lihatlah Ummu Aiman yang senantiasa bahagia karena AlQuran dan menangis ketika wahyu sudah tidak lagi turun lantaran perantara wahyu, Nabi SAW, telah wafat.

          Apakah kita merasa lebih mulia dari guru kita sehingga nasihatnya terasa hambar di telinga lantas nasihatnya pun tidak kita sambut dengan sikap mulia?
Apakah kita merasa sanggup menjadi perantara keberkahan ilmu sehingga nada bicara kita lebih tinggi dari guru kita?
Coba periksa dulu ke dalam hati yang paling dalam, barangkali Alloh sudah menutup jalan petunjuk di dalam hati, "Man yahdihillaahufalaa mudhillalah, waman yudhlilfalaa haadiyalah" (Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada siapapun yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah disesatkan oleh Alloh maka tidak ada siapapun yang bisa menunjukinya) 

         Apakah kita merasa sudah kaya ilmu sehingga kita menolak untuk menjalankan kewajiban mencari ilmu ? 
Apakah kita merasa perkataan kita paling benar dari pada orang yg lebih muda sehingga kita enggan untuk sekedar menyambut tutur bicaranya ? 
Coba periksa dulu ke dalam hati yg paling dalam, barangkali ada secuil kesombongan yang berbahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat. Takutlah rasanya sekiranya tidak ada tempat untuk kita di surga, "Laayad khulul jannata mankaana fii qolbihi mitsqooladzarrotin min kibrin-HR Muslim-" (tidak masuk surga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarroh-sesuatu yg paling kecil di dunia).
Walloohua'lam

~>NuansaHati 😊