Di sinilah kita mengunggah dunia yang ada dalam alam fiktif ke dalam bentuk karya tulis. Biarlah fiktif asalkan syar'i.
Selasa, 30 Mei 2017
NASIHAT : PUKUL BERAPAKAH WAKTU TERBAIK UNTUK MAKAN SAHUR ?
Dari Anas r.a., ia berkata : _"Rasulullah SAW bersabda: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahannya."_ (HR. Muttafaq 'alaih)
Sahur dalam aktivitas ibadah puasa berarti perbuatan menyantap makanan di waktu sahur. Selain untuk menguatkan tubuh saat kita tidak makan dan minum seharian, sahur juga membawa keberkahan. Dalam pengertian ulama, berkah berarti bertambahnya kebaikan, manfaat ataupun pahala di dalamnya.
Pertanyaannya adalah kapan waktu terbaik kita untuk makan sahur ? Apakah pada saat bangun tidur sebangun-bangunnya kapanpun kita langsung makan ? Tidak harus begitu, kalau kita bangun pukul 02.00 apakah kita akan langsung makan juga ? Tentu tidak demikian. Kalau kita menemukan ada petunjuk dari Alloh SWT ataupun Nabi SAW tentang sesuatu, maka tidak perlu kita mencari-cari petunjuk lain dari siapa-siapa lagi, kecuali kalau petunjuk itu membutuhkan tafsir yang lebih mendalam. Maka kita membutuhkan pendapat ulama untuk memahami petunjuk tersebut.
Mari kita tengok dulu Hadits Nabi SAW terkait dengan pertanyaan itu. Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata : _"Rasulullah SAW itu mempunyai dua orang muadzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasululloh SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada waktu masih malam, maka makan dan minumlah kalian (untuk bersahur) hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.’_ (HR. Muttafaq 'alaih). Dalam Syaroh Kitab Riyadush Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al Bugho, dijelaskan pada bab *“Keutamaan Sahur dan Mengakhirkannya Selama Tidak Khawatir Terbitnya Fajar”* bahwa dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur selama tidak khawatir terbitnya fajar shadiq. Ini pula yang kemudian menjadikan dalil disunnahkannya ada dua kali adzan dan dua orang muadzin, baik dalam bulan Romadhon maupun di bulan lain. Adzan yang pertama itulah yang mengisyaratkan waktu yang baik untuk mulainya makan sahur hingga adzan yang kedua untuk sholat subuh berkumandang. Harusnya praktek dua kali adzan ini ada di sekitar kita. Tentunya lebih baik adzan dari pada menghidupkan sirine ataupun bersahutan “Sahur sahur” antara masjid yang satu dengan lainnya. Namun, kalau sunnah ini kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita, mungkin akan menjadi sebuah kejadian yang luar biasa karena orang pada umumnya akan beranggapan si muadzin salah melihat jam. Padahal adzan pertama adalah sunnah yang dianjurkan. Nah, kalau kita jadi pengurus masjid nih, sampaikan pada ummat dan pengurus yang lain bahwa adzan subuh itu sunnahnya dua kali. Kalau bisa sih, jangan di mekkah saja yang adzan-nya dua kali. Bagi orang yang sudah pergi ke Mekkah, tentunya sudah tahu berapa lama jarak antara kedua adzan tersebut. Atau siapa yang punya TV Channel Mekkah coba dicari siaran yang memperdengarkan adzan dua kali tersebut dan silahkan hitung waktunya.
Indikator yang lain terkait dengan pertanyaan kapan waktu terbaik kita untuk makan sahur, mari kita tengok hadits lain yang masih dalam Bab Keutamaan Sahur, yaitu hadits dari Zaid bin Tsabit r.a., ia berkata : _"Kami sahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami berdiri untuk melakukan shalat (yakni shalat Subuh).” Ada seseorang bertanya (kepada Nabi SAW) : ‘Berapa jarak waktu antara keduanya itu (sahur dan sholat) ?’ Beliau menjawab : “Seukuran bacaan lima puluh ayat"._ (HR. Muttafaq 'alaih).
Dari keterangan hadits itulah kemudian Dr. Mustafa Din Al Bugho menjelaskan bahwa jarak antara akhir sahur dan permulaan adzan untuk sholat subuh itu seukuran bacaan lima puluh ayat yang sedang, tidak panjang dan tidak pendek, tidak cepat dan tidak lambat. Nah, untuk menerjemahkan berapa lama waktunya, berapa menitkah atau berapa jamkah, tentunya akan banyak pendapat yang berbeda- beda. Mengingat Nabi tidak mengisyaratkan surat apakah yang dibaca dari 50 ayat tersebut. Kalau kita mendengar bacaan sedang Al-Quran Syeikh Mishary Alafasi pada Surat Al Mulk yang berujmlah 30 ayat, waktu yang kita butuhkan untuk mendengarkannya adalah sekitar 7,sekian menit. Itupun panjang ayatnya bervariasi, ada yang sedang dan ada yang pendek. Kalau kita mendengar syeikh yang lain lagi tentunya akan bermacam-macam pula panjang durasi wakutnya. Maka untuk mengambil rata-rata waktu terbaik makan sahur adalah sepanjang 7,sekian menit x 2, yaitu rata-rata 15 menit sebelum masuk waktu subuh atau bisa juga sekitar 20 menit kalau ayatnya rata-rata semuanya sedang.
Tentunya waktu terbaik tersebut tidaklah saklek atau kaku, mengingat tidak ada ketentuan surat apa yang dibaca dari 50 ayat tersebut. Ada tipe orang yang makannya cepat, ada juga tipe orang yang makannya lambat. Artinya pandai-pandailah kita melihat waktu terbaik saat akan makan sahur. Jangan terlalu panjang dan jangan terlalu dekat jarak antara makan sahur dengan adzan subuh. Sesuaikan saja dengan rata-rata waktu yang kita pahami dari petunjuk Nabi SAW. Semoga dengan meneladani cara makan sahur yang diajarkan oleh Nabi SAW ini kita selalu dilimpahi keberkahan dan kekuatan dalam menalankan ibadah puasa. Amin.
_Wallohua’lam_
~>NuansaHati ☺
Jumat, 19 Mei 2017
NASIHAT :SIAP-SIAP DENGAN KEDATANGAN BULAN ROMADHON, PENTING GA SIH ?
Kira-kira apakah masih ada orang-orang yang membuat mainan dentuman dari bambu kemudian diisi dengan minyak tanah dan dinyalakan menggunakan api seperti layaknya meriam? Orang di kampung saya sering menyebutnya dengan long-long-an. Pemandangan seperti itu masih sering saya lihat sekitar 15-20 tahun yang lalu pada saat bulan Romadhon, terutama di kampung-kampung. Anak-anak jaman itu menyambutnya dengan gembira sambil bermain menggunakan long-long-an ataupun dengan petasan-petasan kecil secara bergantian menyalakannya. Meskipun sebenarnya mereka ga tau apa maksud puasa yang mereka jalani dengan gembira saat itu dan bahayanya mainan tersebut, yang penting mereka gembira. Tapi itu ‘kan jaman dulu, jangan sampai seumuran sekarang, yang sudah melewati masa-masa itu sekitar 20 tahunan, masih juga tidak mengerti apa pentingnya puasa di bulan Romadhon itu.
Sebagaimana layaknya tamu yang datang ke rumah kita, Bulan Romadhon pun yang kurang lebih tinggal seminggu lagi datang patut kita sambut kedatangannya dengan sambutan yang terbaik. Kenapa ? Karena bulan inilah bulan yang memiliki keutamaan terbaik dibanding bulan lainnya. Bulan inilah di waktu siang dan malamnya Alloh berikan kesempatan ampunan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Bulan inilah Alloh bukakan pintu surga seluas-luasnya dan menutup rapat neraka serapat-rapatnya. Sebagaimana kabar dari Rosululloh SAW bahwa, “jika malam pertama malam bulan Romadon tiba, maka para syetan dan pemuka jin dibelenggu, pintu-pintu neraka dikunci, tidak akan dibuka satu pintu darinya, dan dibukalah semua pintu surga, tidak satupun ditutup darinya.” (HR. Ibnu Majah)
Sungguh rugi seseorang jika bertemu Bulan Romadhon dengan tidak memiliki persiapan yang baik, layaknya seseorang yang rugi karena tidak punya persiapan yang baik saat tamu penting datang ke rumahnya. Sudah semestinya seseorang sudah menyiapkan fisik yang sehat dan kuat dengan melatih fisiknya terlebih dahulu untuk puasa sunnah sebelum bertemu dengan Bulan Romadhon yang di dalamnya terdapat kewajiban puasa, tentunya tidak makan dan minum seharian. Bahkan memberi tubuh dengan asupan dan gizi yang cukup pun juga penting. Soalnya, kalau fisik bermasalah saat sedang berpuasa karena tidak adanya persiapan yang baik, tentu masalah itu akan berdampak mengurangi kualitas ibadah kita. Sedangkan Nabi SAW pernah bersabda bahwa, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. Ibnu Majjah). Sangat rugi, bukan? Seharusnya kita bisa beramal lebih banyak seperti orang-orang sholih pada umumnya namun kita tidak bisa menyaingi mereka lantaran karena ada masalah dengan fisik kita.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bulan Romadhon juga bulan sedekah karena Nabi SAW orang yang paling pemurah, terutama di bulan Romadhon. Saking pemurahnya di bulan ini, hingga oleh Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa “Sungguh bila Rosululloh SAW bertemu dengan Jibril, maka beliau lebih pemurah lagi dibanding angin kencang” (HR. Muttafaq’alaih). Sehingga Imam Asy Syafi’i pun berkata bahwa, “Aku menganjurkan orang yang berpuasa untuk meningkatkan sifat pemurahnya di Bulan Romadhon, demi meneladani Rosululloh SAW. Juga, karena pada bulan ini orang-orang memerlukan maslahat, dan karena banyak orang sibuk beribadah sehingga mengurangi waktu untuk bekerja”. Maka dari itu tidak heran jika di bulan ini banyak orang yang mendadak jadi dermawan dan berlomba-lomba menjadi orang yang paling banyak sedekahnya. Tentu kita tidak ingin hanya meletakkan tangan di bawah saja, kan? Sungguh rugi kalau kita tidak memanfaatkan harta kita untuk disisihkan atau dipersiapkan sejak dini untuk persiapan sedekah terbaik kita di Bulan Romadhon. Meskipun harta atau uang yang disedekahkan tidak banyak, Nabi SAW bersabda, “Jagalah dirimu dari api neraka meski hanya dengan sepotong kurma” (HR. Bukhori no. 1417 dalam kitab Fathul Baari). Meskipun hanya sebutir kurma atau segelas air atau hanya gorengan saja, hal itu tentu “maa fii musykillah” (tidak menjadi soal), karena penilaian Alloh bukan pada seberapa banyak jumlah hartanya yang disedekahkan, melainkan seberapa besar perbandingan sedekahnya dengan harta yang dimilikinya. Sesuai pula dengan Sabda Nabi SAW “hendaklah kamu mengeluarkan harta sesuai kesanggupanmu” (HR Bukhori no. 1434 dalam Fathul Baari). Sungguh rugi, bukan? Jika kita kedatangan bulan itu ternyata keadaan iman kita sedang tidak lapang sehingga menjadi sempit untuk bersedekah dan beramal sholih lainnya.
Termasuk juga nih berinteraksi dengan Al-Quran karena di bulan inilah Al-Quran diturunkan. “Syahru Romadhoonalladzii unzilaafiihil Qur’aan...(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran...” (QS. 2: 185). Berinteraksi dengan Al Qur’an berarti kita mempelajari kaidah bacaannya dengan baik dan benar atau kaidah itu sering disebut dengan ilmu tajwid. Kemudian membacanya, menghafalkannya, mengkajinya, bahkan mengajarkan dan mengamalkannya. Jadi ternyata tugas kita bukan hanya memperbanyak membaca saja untuk sekedar meng-khatam-kannya. Maka dari itu perlulah kita memulai interaksi itu dari sekarang dimulai dari mempelajarinya kembali cara membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwidnya. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya dan hanya kitalah yang menentukan kapan waktu memulainya. Ya memang ga salah sih, bulan Romadhon banyak-banyakan membaca atau meng-khatam-kan Al Quran saja, tapi rasanya interaksi itu ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang terlupakan.
Jangan sampai terlupakan pula kebersihan tempat dan lingkungan kita. Kenapa? Karena kata Nabi “Alloh itu Maha Indah dan mencintai keindahan” (HR Muslim). Bukankah kebersihan adalah bagian penting dari keindahan? Jadi, seseorang terlihat siap dengan hati lapang akan menjalankan segala macam bentuk ibadah di Bulan romadhon karena memang kesungguhannya dalam menjaga iman, dalam hal ini menampakkan keindahan diri dan lingkungan sebaik-baiknya di hadapan Alloh SWT. Lebih-lebih penjagaan iman itu dilakukan untuk menyambut Bulan Romadhon. Untuk anak kost-an, ya buru-buru lah beresin kost-annya biar hati lebih adem karena melihat pemandangan kost-an yang indah, Alloh pun suka. Kalau lihat rumah ada sarang laba-laba ya segera dibersihkan, halaman yang tumbuh banyak rumput ya segera dipangkas rumputnya. Kalau rumah itu sehat, ibadah pun jadi nyaman.
Terakhir, jangan sampai kita miskin pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa (fiqih puasa). Banyak keistimewaan bulan Romadhon yang tentunya belum kita ketahui, atau sebenarnya sudah kita ketahui namun terlupakan. Bukalah kembali buku-buku fiqih puasa atau bertanya dan datangilah orang sholih yang bisa membimbing. Ketidaktahuan kita pada fiqih puasa pun bisa berakibat fatal. Bahkan resikonya kalau ada amalan kita yang salah bisa menyebabkan amal ibadah puasa kita tertolak. Lebih celaka lagi, kita tidak mendapatkan ampunan dari Alloh SWT dari sekian hari selama satu bulan lamanya waktu yang disediakan oleh Alloh untuk setiap hamba-Nya siang dan malam memohon ampun, memohon pahala, ridho dan surga-Nya. Kita tengok dulu hadits Nabi SAW dari Abu Huroiroh ini,”Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan yang tidak benar (keji) dan perbuatan itu, maka Alloh tidak butuh dengan upayanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhori). Dalam syaroh Riyadush Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al Bugho dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan ancaman gugurnya pahala puasa bagi orang yang berpuasa namun tidak meninggalkan perkataan bohong. Kebayangkan? Kita salah sikap dan kata saja, Alloh tidak peduli dengan puasa kita, tidak peduli dengan lapar dan haus kita, apalagi melakukan kesalahan yang lebih besar dari itu. Na’dzubillaahimindzaalik (Kami berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian), semoga Alloh izinkan kita menikmati ibadah di Bulan Romadhon di tahun 1438 H ini dan semoga menjadi kelak menadi ibadah terbaik sepanjang umur kita. Amin.
Wallohua’lam
~>NuansaHati☺
Sebagaimana layaknya tamu yang datang ke rumah kita, Bulan Romadhon pun yang kurang lebih tinggal seminggu lagi datang patut kita sambut kedatangannya dengan sambutan yang terbaik. Kenapa ? Karena bulan inilah bulan yang memiliki keutamaan terbaik dibanding bulan lainnya. Bulan inilah di waktu siang dan malamnya Alloh berikan kesempatan ampunan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Bulan inilah Alloh bukakan pintu surga seluas-luasnya dan menutup rapat neraka serapat-rapatnya. Sebagaimana kabar dari Rosululloh SAW bahwa, “jika malam pertama malam bulan Romadon tiba, maka para syetan dan pemuka jin dibelenggu, pintu-pintu neraka dikunci, tidak akan dibuka satu pintu darinya, dan dibukalah semua pintu surga, tidak satupun ditutup darinya.” (HR. Ibnu Majah)
Sungguh rugi seseorang jika bertemu Bulan Romadhon dengan tidak memiliki persiapan yang baik, layaknya seseorang yang rugi karena tidak punya persiapan yang baik saat tamu penting datang ke rumahnya. Sudah semestinya seseorang sudah menyiapkan fisik yang sehat dan kuat dengan melatih fisiknya terlebih dahulu untuk puasa sunnah sebelum bertemu dengan Bulan Romadhon yang di dalamnya terdapat kewajiban puasa, tentunya tidak makan dan minum seharian. Bahkan memberi tubuh dengan asupan dan gizi yang cukup pun juga penting. Soalnya, kalau fisik bermasalah saat sedang berpuasa karena tidak adanya persiapan yang baik, tentu masalah itu akan berdampak mengurangi kualitas ibadah kita. Sedangkan Nabi SAW pernah bersabda bahwa, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. Ibnu Majjah). Sangat rugi, bukan? Seharusnya kita bisa beramal lebih banyak seperti orang-orang sholih pada umumnya namun kita tidak bisa menyaingi mereka lantaran karena ada masalah dengan fisik kita.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bulan Romadhon juga bulan sedekah karena Nabi SAW orang yang paling pemurah, terutama di bulan Romadhon. Saking pemurahnya di bulan ini, hingga oleh Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa “Sungguh bila Rosululloh SAW bertemu dengan Jibril, maka beliau lebih pemurah lagi dibanding angin kencang” (HR. Muttafaq’alaih). Sehingga Imam Asy Syafi’i pun berkata bahwa, “Aku menganjurkan orang yang berpuasa untuk meningkatkan sifat pemurahnya di Bulan Romadhon, demi meneladani Rosululloh SAW. Juga, karena pada bulan ini orang-orang memerlukan maslahat, dan karena banyak orang sibuk beribadah sehingga mengurangi waktu untuk bekerja”. Maka dari itu tidak heran jika di bulan ini banyak orang yang mendadak jadi dermawan dan berlomba-lomba menjadi orang yang paling banyak sedekahnya. Tentu kita tidak ingin hanya meletakkan tangan di bawah saja, kan? Sungguh rugi kalau kita tidak memanfaatkan harta kita untuk disisihkan atau dipersiapkan sejak dini untuk persiapan sedekah terbaik kita di Bulan Romadhon. Meskipun harta atau uang yang disedekahkan tidak banyak, Nabi SAW bersabda, “Jagalah dirimu dari api neraka meski hanya dengan sepotong kurma” (HR. Bukhori no. 1417 dalam kitab Fathul Baari). Meskipun hanya sebutir kurma atau segelas air atau hanya gorengan saja, hal itu tentu “maa fii musykillah” (tidak menjadi soal), karena penilaian Alloh bukan pada seberapa banyak jumlah hartanya yang disedekahkan, melainkan seberapa besar perbandingan sedekahnya dengan harta yang dimilikinya. Sesuai pula dengan Sabda Nabi SAW “hendaklah kamu mengeluarkan harta sesuai kesanggupanmu” (HR Bukhori no. 1434 dalam Fathul Baari). Sungguh rugi, bukan? Jika kita kedatangan bulan itu ternyata keadaan iman kita sedang tidak lapang sehingga menjadi sempit untuk bersedekah dan beramal sholih lainnya.
Termasuk juga nih berinteraksi dengan Al-Quran karena di bulan inilah Al-Quran diturunkan. “Syahru Romadhoonalladzii unzilaafiihil Qur’aan...(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran...” (QS. 2: 185). Berinteraksi dengan Al Qur’an berarti kita mempelajari kaidah bacaannya dengan baik dan benar atau kaidah itu sering disebut dengan ilmu tajwid. Kemudian membacanya, menghafalkannya, mengkajinya, bahkan mengajarkan dan mengamalkannya. Jadi ternyata tugas kita bukan hanya memperbanyak membaca saja untuk sekedar meng-khatam-kannya. Maka dari itu perlulah kita memulai interaksi itu dari sekarang dimulai dari mempelajarinya kembali cara membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwidnya. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya dan hanya kitalah yang menentukan kapan waktu memulainya. Ya memang ga salah sih, bulan Romadhon banyak-banyakan membaca atau meng-khatam-kan Al Quran saja, tapi rasanya interaksi itu ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang terlupakan.
Jangan sampai terlupakan pula kebersihan tempat dan lingkungan kita. Kenapa? Karena kata Nabi “Alloh itu Maha Indah dan mencintai keindahan” (HR Muslim). Bukankah kebersihan adalah bagian penting dari keindahan? Jadi, seseorang terlihat siap dengan hati lapang akan menjalankan segala macam bentuk ibadah di Bulan romadhon karena memang kesungguhannya dalam menjaga iman, dalam hal ini menampakkan keindahan diri dan lingkungan sebaik-baiknya di hadapan Alloh SWT. Lebih-lebih penjagaan iman itu dilakukan untuk menyambut Bulan Romadhon. Untuk anak kost-an, ya buru-buru lah beresin kost-annya biar hati lebih adem karena melihat pemandangan kost-an yang indah, Alloh pun suka. Kalau lihat rumah ada sarang laba-laba ya segera dibersihkan, halaman yang tumbuh banyak rumput ya segera dipangkas rumputnya. Kalau rumah itu sehat, ibadah pun jadi nyaman.
Terakhir, jangan sampai kita miskin pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa (fiqih puasa). Banyak keistimewaan bulan Romadhon yang tentunya belum kita ketahui, atau sebenarnya sudah kita ketahui namun terlupakan. Bukalah kembali buku-buku fiqih puasa atau bertanya dan datangilah orang sholih yang bisa membimbing. Ketidaktahuan kita pada fiqih puasa pun bisa berakibat fatal. Bahkan resikonya kalau ada amalan kita yang salah bisa menyebabkan amal ibadah puasa kita tertolak. Lebih celaka lagi, kita tidak mendapatkan ampunan dari Alloh SWT dari sekian hari selama satu bulan lamanya waktu yang disediakan oleh Alloh untuk setiap hamba-Nya siang dan malam memohon ampun, memohon pahala, ridho dan surga-Nya. Kita tengok dulu hadits Nabi SAW dari Abu Huroiroh ini,”Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan yang tidak benar (keji) dan perbuatan itu, maka Alloh tidak butuh dengan upayanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhori). Dalam syaroh Riyadush Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al Bugho dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan ancaman gugurnya pahala puasa bagi orang yang berpuasa namun tidak meninggalkan perkataan bohong. Kebayangkan? Kita salah sikap dan kata saja, Alloh tidak peduli dengan puasa kita, tidak peduli dengan lapar dan haus kita, apalagi melakukan kesalahan yang lebih besar dari itu. Na’dzubillaahimindzaalik (Kami berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian), semoga Alloh izinkan kita menikmati ibadah di Bulan Romadhon di tahun 1438 H ini dan semoga menjadi kelak menadi ibadah terbaik sepanjang umur kita. Amin.
Wallohua’lam
~>NuansaHati☺
Langganan:
Postingan (Atom)