Senin, 22 Agustus 2016

NASIHAT : APA YANG MEMBUATMU MEMILIKI KEKAYAAN ?


          Dari Abu Huroiroh, Rosululloh SAW bersabda: _*"Sedekah* itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang *memberi maaf* kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang *tawadhu'* (merendahkan diri) karena Alloh, melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya."_ *(HR.Muslim)*

           Kita tidak akan menemukan contoh ke_tawadhu_ an yang sempurna kecuali dari ke_tawadhu_an Nabi SAW. Tentu kita sering mendengar kata _"tawadhu"_.Ya, merendahkan diri karena ﷲ, lawan dari sifat _takabur_ atau meninggikan diri (sombong). Tawadhu, kecenderungan mengalah atau tidak berbangga diri adalah sebuah sifat terpuji yang wajib dimiliki seorang mukmin dihadapan Alloh, Rosul-Nya, ulama, dan individu-individu manusia lainnya yang diniatkan untuk mencari Ridho Alloh semata. _(Mutiara Hadits dalam Kitab Syaroh Riyadus Sholihin Bab 71 oleh Dr. Mustafa Dib al-Bugho)_.

        Tawadhu adalah kekayaan, karna sifat itu mampu menanggalkan harta sebanyak apapun demi derajat yang tinggi di hadapan Alloh SWT. Tawadhu-nya seseorang yang mengetahui sesuatu, ia tidak berbangga diri dan tidak dzolim terhadap orang yang tidak memahami sesuatu. Tawadhu-nya seorang dermawan, ia tidak mengharap orang lain mengetahui jumlah kekayaan yang dimilikinya. Tawadhu-nya seseorang yang sudah dewasa, ia tidak merasa rendah menyapa dan menghormati yang lebih muda atau anak-anak di sekitarnya. Tawadhu-nya seorang pemimpin, ia mampu mengakui kelemahan dan kesalahannya di hadapan para pengikutnya. Tawadhu-nya seorang suami, ia tidak segan-segan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dalam keluarganya. Tawadhu-nya seorang yang berilmu, ia segera menjawab perkara penting dari orang yang bertanya meminta petunjuk darinya. Tawadhu-nya seorang yang dipandang terhormat, ia tidak keberatan bekerja sebagai penggembala kambing di tengah lapang. Tawadhu-nya orang yang punya kendaraan bagus, ia rela berjalan kaki dan meminjamkannya pada orang lain yang sedang membutuhkan. Tentunya, masih banyak contoh ke-tawadhu-an yang bisa kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Semoga kita diberi taufiq dan hidaya-Nya untuk menjadi hamba-hamba Alloh yang _tawadhu_. *(Sumber inspirasi : Syaroh Hadits Kitab Riyadus Sholihin bab 71 oleh Dr. Mustafa Dib al-Bugho )*

👉NuansaHati😊

Jumat, 19 Agustus 2016

NASIHAT : SAKING GEMBIRANYA, ORANG ITU SALAH UCAP "ENGKAU HAMBAKU DAN AKU TUHAN-MU"


           Seringkali respon orang itu spontanitas ketika orang itu mendapatkan sebuah kabar yang menggembirakan. Ada yang saking gembiranya dia teriak histeris, ada yang lompat-lompat, ada yang salah ucap atau salah tingkah, ada yang memeluk teman di sebelahnya. Bahkan ada yang “memukul sayang” pada temannya, ada pula yang langsung sujud syukur, sampai-sampai sesuatu yang menyenangkan itu kadang kala membuat orang ga bisa tidur dan besoknya langsung *tasyakuran*. Saya yakin semua dari kita pun pernah mengalami hal yang menggembiraan hati karena terpenuhinya sebuah harapan. Boleh jadi kalau harapan yang terpenuhi itu berasal dari orang lain, ia akan membalas orang itu dengan pemberian yang lebih baik karena kegembiraan yang dirasakan. 

          Ada sebuah kisah apik tentang gembiranya Alloh terhadap hamba-Nya yang melebihi gembiranya manusia pada umumnya seperti respon-respon kegembiraan spontanitas yang tersebut di atas. Kebayang ya, manusia saja kalau sedang gembira biasanya dia akan menebarkan pemberian dan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya meski tidak diminta. Apalagi ini Alloh yang gembira, yang Punya Segalanya di langit dan di bumi. 
Kisah apik ini dikutip dari kitab Riyadus Sholihin bab 2 yang tentunya akan sangat apik jika dibaca sampai selesai beserta kandungan hikmahnya. Kisah ini dari Abu Hamzah, yaitu Anas bin Malik Al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah SAW, katanya: Rasulullah SAW bersabda : *"Niscaya, Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya dibandingkan dengan gembiranya seseorang dari kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian kendaraannya itu kabur dari dirinya, sedangkan di situ ada makanan dan minumannya sehingga orang tadi lalu putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa untuk mendapatkan kembali kendaraannya tersebut. Tiba-tiba saat ia dalam keadaan demikian itu, kendaraannya itu nampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil tali ikatannya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu". Ia menjadi salah ucap karena amat gembiranya."* (HR. Muslim)

         Mari kita bayangkan, bagaimana kalau Alloh yang gembira pada hamba-Nya? Bahkan melebihi gembiranya orang yang menemukan kembali kendaraan dan seisinya. Boleh jadi Alloh pun akan memberikan respon spontanitas yang ga pernah kebayang oleh hamba-Nya berupa pemberian-Nya yang terbaik. Oleh sebab itulah, taubat itu sangatlah *berperang* penting dalam menentukan kebahagiaan seseorang karena  memang setiap kita, *manusia* biasa pastilah punya dosa. Jangan pernah kita ngaku ga punya dosa, bahaya. Namun, cukup kita dan Alloh saja yang tau dimana dosa kita, tak perlu ceritakan dosa diri pada orang lain karna malah akan menambah dosa semakin besar.

         Taubat, berarti kembali pada jalan Alloh dari segala kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, sekecil atau sebesar apapun dosa. Nabi saja bertaubat, mohon ampun pada Alloh, beristighfar tidak kurang dari 70 kali sehari. Dalam riwayat lain dikisahkan 100 kali sehari, nah apalagi kita yang jelas-jelas banyak salah dan tidak punya KJS, kartu jaminan surga, dari Nabi SAW. Jangan dikira kita ga perlu taubat, padahal banyak yang musti, harus, kudu kita taubati. Taubat dari malas beribadah, taubat dari su’udzon (prasangka buruk) pada Alloh dan makhluq-Nya, taubat dari sering ber-ghibah, mengumbar aib orang lain sehingga orang lain itu tidak suka jika mendengarnya, taubat dari ga pernah sedekah, taubat dari datang ke kantor terlambat, taubat dari ber-kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom) baik secara fisik maupun hati, taubat dari kesalahan (dosa) baik pada Alloh maupun pada manusia, dan lain sebagainya. Sekali lagi, cukup hanya kita dan Alloh saja yang tau dimana dosa kita. Maka, langkah awal kita untuk taubat adalah memahami bagaimana cara taubat itu sendiri. 
         
          Para ulama membagi syarat taubat itu setidaknya menjadi tiga, yaitu menghentikan perbuatan buruk (dosa), menyesalinya, kemudian bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Kalau kesalahan atau keburukan itu berhubungan dengan orang lain maka syarat ke empatnya adalah harus menyelesaikan urusannya dengan orang tersebut hingga orang lain tersebut benar-benar ridho atau memaafkan segala kesalahan orang yg bersalah. Kalau ada salah satu syarat saja tidak terpenuhi maka berdasarkan syarat-syarat tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa taubatnya tentu tidak diterima oleh Alloh SWT. 
Mudah-mudahan lah ya, kita diberi kesempatan yang luas untuk selalu bertaubat setiap hari setiap kesempatan, karena mendapat ampunan dari taubat itu sendiri adalah sebuah *kebahagiaan*.

Walloohua'lam
~>NuansaHati 😊