PETUALANGAN MANUSIA BERBULU EMAS
(SERULING JINGGA)
lanjutan chapter 1
Kehilangan kakek
yang mengasuhnya bukanlah sesuatu yang mudah baginya karena hanya dialah
satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat itu, namun wajahnya tidak akan
pernah kita temukan wajah anak yang sedang berputus asa. Si bocah mengingat jelas
senyum kakeknya seusai kakeknya menangkap ikan dengan hanya menggunakan kedua
tangannya, menggunakan baju terusan berwarna kelabu compang-camping yang telah
basah dengan seekor ikan sebesar betis orang dewasa sudah dalam genggaman kedua
tangannya. Rambut sepunggung basah kakeknya yang putih berkilauan seusai
menyelam tertimpa matahari bak perak menghiasi senyuman kakeknya. Senyuman itu
sangat jelas teringat oleh si bocah karena tanpa tertutup kumis dan janggut
meskipun beberapa helai rambut menutupi dahinya. “Aku tidak akan pernah melupakan
semua ajaran kakek untuk bisa bertahan hidup pada pijakan kakiku sendiri.” Ucap
bocah itu menghayati.
Ia membuka kantong
dalam bajunya, memeriksa apakah masih ada kepeng
tersisa di dalamnya. Ternyata hanya pasir yang tersisa di dalamnya. Tapi ia
tidak akan pernah bersedih karena hal itu. Tidak heran ia bisa hidup seorang
diri, bocah yang berumur sekitar 15 tahun itu selalu mencari kayu bakar di hutan kemudian dijual ke pasar untuk mendapatkan
kepeng dan membeli keperluan sehari-harinya (kepeng : logam impor dari Tiongkok berbentuk bulat,
ditengahnya terdapat lubang persegi empat). Dengan mudah ia mengumpulkan kayu-kayu
bakar menggunakan seruling yang ia tiupkan sehingga anginnya membentuk tornado
kecil yang membuyarkan debu-debu di sekitarnya. Pesan penggugah hidup dan sebuah seruling jingga adalah peninggalan kakeknya yang paling berharga. Selain serulingnya ajaib, ternyata juga
bernada indah dan merdu saat si bocah meniupnya. Angin itu mampu menerbangkan kayu-kayu kering dan
menumpukkannya hingga menggunung. Si bocah pun tersenyum kegirangan karena
berhasil mengumpulkannya, dedaunan kering pun berjatuhan.
Suatu hari di
hutan, ia melihat dua orang, laki-laki dan perempuan yang mungkin sepasang
kekasih muda sedang berburu binatang di hutan tempat si bocah mencari kayu.
Sang gadis berparas cantik berdagu lancip dan sang pria bertubuh lebih sedikit
besar dan lengannya terlihat tangguh. Sang gadis sangat pandai mengunakan
panahnya, berambut hitam pekat panjang dengan ikatan ekor kuda dan kedua
pundaknya hingga lutut kakinya berbalut selendang berwarna kebiruan berajut
bunga. Ia berlari dan memanah dengan penuh percaya diri dan mengenai kijang bidikannya.
Sepertinya ia memang sangat terlatih dalam memanah.
Sang pria yang
berambut jabrik agak panjang berikat kepala merah itu ternyata bertenaga sangat
kuat, terlihat dari separuh tangannya yang berbalut kain merah dan menggenggam
kuat kapaknya. Wajahnya sangat mirip dengan gadis itu. Apakah mereka itu pasangan
kekasih? Si bocah hanya menduga-duga dalam hatinya. Si bocah mulai
membandingkan kedua wajah mereka yang
nampak mirip.
Pria yang
dilihatnya itu mampu menebas pohon hanya beberapa kali tebasan dengan kapaknya
dan menjulurkan pohon itu sehingga binatang buruan mereka tidak bisa kabur. Si
bocah melihatnya diam-diam di sebuah dahan pohon mangga besar karena hanya
ingin mengamati dan tidak ingin mengganggu aktifitas mereka. Sepertinya si
bocah sangat menikmati pemandangan dari pohon itu, sambil memetik sebuah mangga
yang sudah kekuningan kemudian ia kupas mangga itu dengan pisaunya dan memakannya
perlahan.
Si bocah hampir
melupakan kedua pemburu itu karena menikmati mangga yang dimakannya. Ia melihat
mereka kembali dengan terkesima, terlebih saat melihat gadis berambut ekor kuda
itu. Ia semakin perlahan mengunyah mangga di mulutnya. Rambutnya yang lebat dan hitam
pekat berurai saat berlarian mengejar buruannya yang masih bisa berlari terkena
anak panahnya. Warna busurnya yang jingga membuatnya
tersenyum dan menambah daya tarik wanita itu. Sepertinya si bocah memikirkan
sesuatu yang menyenangkan sambil melihat seruling yang digenggamnya. Sepertinya
si bocah merasa tidak lagi hidup sendiri lagi di hutan kayu itu.
Ghra…ghra…raungan
dan geraman dari macan yang kelaparan terdengar menakutkan dan mengejutkan
mereka. Sekumpulan macan buas yang kelaparan lainnya melompat di hadapan mereka
dan tampak tatapan kejam ingin memangsa mereka. Si bocah terkejut melihatnya
dan segera membuang biji mangga itu. Mereka berdua tampak kewalahan menghadapi macan-macan
itu karena hanya berbekal sebuah kapak dan busur panah sedangkan macan-macan
itu berjumlah tiga ekor. Anak-anak panah wanita itu hanya mengenai salah satu macan
itu tapi ia sudah kehabisan anak
panahnya karena macan-macan itu sungguh pandai mengelak melompat-lompat dengan
cepat. Macan yang terpanah itu tidak lengah karena anak panah hanya menancap di
ketiaknya. Macan itu bangkit kembali dengan tatapan yang lebih tajam dan meraum
menyengirkan taringnya lebar-lebar.
Macan-macan kelaparan
itu berjalan mondar-mandir menunggu pria berikat kepala merah kelelahan
mengayunkan kapaknya. Ayunan kapaknya membuatnya berkeringat deras.
“Sial…biasanya macan-macan ini tidak pernah kemari…” Ucapnya terengah sambil
berhenti mengayunkan kapaknya. “Awas kakang!” Seru wanita itu. Macan itu mencari
kesempatan bagus untuk menerkam saat pria itu berhenti mengayunkan kapaknya. Tersadar,
ia pun mengayunkan kembali kapaknya
dengan tergopoh. Kapaknya mengenai salah satu kepala macan hingga kapan itu
terlepas dari tangannya. Namun serangan itu hanya membuat si macan semakin
marah karena kepalanya terluka.
“Sepertinya
macan-macan ini terganggu oleh sesuatu kakang!” Seru gadis berambut panjang
itu. “Sepertinya begitu…” sahut pria berikat kepala merah sambil bersiap dengan
pukulannya karena salah satu macan akan menerkamnya. “Setidaknya aku tidak
melupakan ajaran kakek!” Serunya sambil memukul kepala macan sekerasnya dan
membuat salah satu macan tersungkur dan tergopoh sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. “O..oo…” lanjutnya terkejut karena dua teman macan lainnya mengeluarkan
hawa panas dengan tatapan tajam. Macan-macan itu mengeluarkan energi tenaga
dalam yang membuat mereka terpental dan tidak berkutik meskipun berusaha
melawan.
Sepertinya ia
sudah tidak sanggup lagi menggunakan tenaganya untuk melawan semua macan-macan
itu. “Mungkin saatnya aku harus turut campur.” Ucap Si bocah. Ia meniup serulingnya
perlahan memanggil angin kencang di sekitar macan-macan itu dan mengacaukan
pandangan mereka. “Ini kesempatan kita pergi dari sini, Santika!” Jelas pria berikat
kepala merah itu. Akhirnya mereka berdua pun berhasil kabur dari macan-macan
itu tanpa berfikir panjang angin apa yang menolong mereka itu. Mereka
meninggalkan hutan melaju kencang dengan menaiki seekor kuda tanpa membawa
binatang buruannya. Tampaknya mereka juga meninggalkan salah satu kudanya. “Baguslah…mereka
pergi begitu saja. Setidaknya aku akan makan daging kijang gratis malam ini.”
Ucap si bocah sambil menyelipkan kembali serulingnya dan melihat kijang buruan
yang ditinggalkan. Macan-macan itu terlihat pusing menggeleng-gelengkan
kepalanya dan meninggalkan tempat itu dengan terseok tanpa melihat kijang
terpanah yang tersedia siap santap itu.
Malam di hutan
yang tidak begitu rindang, Si bocah membakar kijang yang terpanah itu kemudian melahap
daging kijang bakar itu. Sesaat ia berhenti melahapnya dan mengamati anak panah
wanita itu yang sedang ia pegang. Sejenak ia mengingat wajah dan rambut pemilik
anak panah itu. “Sepertinya aku akan sendiri lagi di hutan ini.” Ucapnya. Tidak
lama ia mengamati anak panah itu, kemudian ia menancapkannya tepat di depan api
unggun. Segera ia berdiri berballik badan meninggalkan api unggun dan kijang
bakar yang terlihat masih bisa disantap
oleh beberapa orang lagi. “Setidaknya aku berbaik hati pada macan-macan yang
sudah berusaha keras mencari mangsa.” Jelasnya.
Rupanya si bocah tidur berpindah-pindah dari serambi rumah satu ke serambi rumah yang lain, menunggu pemilik rumah sudah tertidur. Hembusan angin
yang tiba-tiba menerpa wajahnya membuat si bocah terjejut. “Baiklah…sesekali
aku akan pulang ke rumah menengok peninggalan kakek untuk merawatnya. Untuk
saat ini sepertinya aku lebih menikmati hidupku yang serba apa adanya di desa Rawaloka.”
Jelas si bocah di sebuah serambi rumah
yang tak dikenalnya.
Ia menggeletakkan
tubuhnya dengan santainya berbantal kedua telapak tangannya. Ia mengira pemilik
rumah sunyi yang serambinya ia tiduri sudah terlelap, ternyata pemiliknya baru pulang dan kedatangannya
menyebarkan bau menyengat tercium dari kejauhan. Si bocah mengendus-endus bau
apa itu sebenarnya dalam kondisi mata yang sedikit mengintip dalam kegelapan. Seseorang
menendang si bocah sampai terlempar dari serambi rumah itu, “Pergi kau! Jangan
mengotori serambi rumahku! Kau tau aku? Aku adalah pemimpin produksi arak
terkaya di desa ini! Tidak pantas kau tidur dirumahku meskipun hanya di
serambi, Hm hm hm…” Jelasnya sambil menenggak minuman dalam kendi kecil yang
dipegangnya kuat-kuat. “yah…seandainya aku bisa tidur di sini…aku akan pergi.”
Sahut si bocah sambil menepuk-nepuk sekujur tubuhnya karena kotor tersungkur di
tanah.
“Kau pikir kau mau
apa di rumahku!” Seru pemabuk bertubuh klimis itu berbicara dengan nada
seok-seok dan tertawa terpingkal. Si bocah membalasnya dengan meniup Seruling
Jingganya sehingga pemabuk itu berputar-putar pada pusaran angin kecil dari seruling
jingga dan membuat pemabuk itu semakin mabuk dan pusing. “Dasar pemabuk, bengis
terhadap diri sendiri! Perusak generasi penerus bangsa dan kerajaan! Orang
sepertimu jelas tidak akan mampu berpijak pada kaki sendiri.” Jelas bocah itu.
Orang itu terseok kemudian ambruk tak sadar.
Tak masalah
baginya jika atapnya
adalah langit dan lantainya adalah bumi. Malam itu sengaja ia baringkan tubuhnya di
atas batu besar di bawah rembulan indah yang terlihat seperti sedang memimpin
para pasukan bintang yang berkilauan. “Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa
memejamkan mataku ya. Ah…padahal Aku ingin sekali istirahat dan tertidur di
malam yang dingin ini.” Ucapnya sambil memandangi bintang dan menggosok-gosok kedua
telapak tangannya. “Kakek, aku akan menentukan takdirku dan tidak akan pernah
berpijak pada kemungkaran. Bulan dan bintang menjadi saksi perkataanku malam
ini.” Ucapnya. Tidak ada mendung tidak ada hujan, si bocah terkejut ketakutan
tiba-tiba kilat petir berkilauan dengan suara yang memecahkan telinga bersamaan
dengan berakhirnya kata-kata si bocah. Dinginnya malam yang menusuk hati itu
sampai-sampai tidak terasa olehnya karena rasa takut itu.
Hari-harinya mencari kayu di hutan selalu memberikan hasil
yang memuaskan. Kayunya kering
menggunung dalam keranjang yang ia gantungkan di punggungnya. Di Hutan yang
sama setiap harinya. Ia letakkan
keranjangnya kemudian melompat ke sebuah dahan pohon mencari posisi yang nyaman
untuk bersandar. Ia memeriksa sekelilingnya siapa tahu gadis berambut ekor kuda
itu datang lagi ke tempat ini. Ia melepaskan kuda si gadis dan menepuk tubuhnya
sehingga kuda itu lari sekencangnya entah ia tahu arah tujuan atau tidak. “Sampaikan
salamku pada Santika kuda hitam!” Seru si bocah. “Mungkin mereka tidak akan berani
lagi datang kemari karena macan-macan itu.” Lanjutnya. Ia kembali meniup
serulingnya untuk menghilangkan kegerahannya di atas pepohonan yang rindang
dihujani bintik-bintik sinar matahari dari sela-sela daun. “Suatu saat aku
pasti bertemu dengan kedua orang tuaku di tempat ini. Aku yakin mereka masih
hidup tapi entah dimana keberadaan mereka sekarang.” Ucapnya dalam hati sambil
meniup serulingnya.
Sekalinya ia lapar saat di hutan sambil mengelus
perutnya yang keroncongan, ia menggunakan kayu bakar temuannya untuk melempar buah.
Berputar-putarlah kayu lemparannya seperti bumerang tepat sasaran pada tangkainya, sehingga buah yang ia dapat terjatuh dan dapat
ditangkapnya. Sambil mengunyah
buah mangga tangkapannya, ia mendatangi sebuah pasar yang ramai dengan para
penjual yang bergantian menawarkan barang dagangannya, dari benda-benda kecil
pernak-pernik perhiasan hingga guci-guci indah ukiran batik yang mengkilat. “Hei nak…tubuhmu tampak hangat dan kuat,
kau pasti kaum pundagra. Aku menawarkan sebuah ikat naga yang sangat langka
jika kau mau.” Jelas seorang pedagang tua dengan mata yang sangat sipit. “Maaf
kek, aku hanya ingin menjual kayu, bukan membeli barang berharga seperti itu.”
Sahut bocah itu sambil merapat ke tempat pedagang yang mau membeli kayunya.
“Hei…!” Seru si
bocah. Tiba-tiba saja begitu si bocah menurunkan kayu yang digendongnya,
seseorang berlari kencang dan menabrak si bocah sehingga kayu yang
dikumpulkannya membuyar. Si bocah dan seorang yang berlari itu pun terjatuh. “Pencuri!”
Seru seseorang dari kejauhan. Warga pun segera mendekati orang yang diteriaki
pencuri itu. Wajahnya tampak bengis dan berkumis karena sebuah kotak yang
berisi perhiasan miliknya juga terjatuh berhamburan, orang itu tampak sedang di
kejar-kejar oleh seorang paruh baya yang segera mendekatinya. Orang bengis itu
segera membereskan perhiasan curiannya. Namun membuang kembali perhiasannya dan
hanya membawa kotak perhiasannya saja. Ia pun berhasil kabur dengan cepatnya. Langkahnya
seperti sepuluh kali langkah manusia biasa.
Si bocah tidak
ragu mengambil sebuah batang kayu yang dikumpulkannya, membidikannya tepat di
kaki orang bengis itu. Syut! Terlemparlah batang kayu itu seperti ia
melemparkannya pada buah di hutan. Sekalipun orang bengis itu berlari cepat, ia
tak dapat menghindari lemparan si bocah meskipun beberapa kali ia berusaha
mengelak. Brak! Kepala orang itu terkena batang kayu yang terlempar si bocah
dan tersungkur. “Ups…! Ternyata bidikanku kurang tepat.” Jelas si bocah. Seorang paruh baya pun
mendekatinya di antara kerumunan orang berlalu-lalang dan melihat apa yang
terjadi pada orang berwajah bengis yang di teriaki pencuri itu. “, tuan Santa,
kita harus menyerahkan pencuri ini pada
tentara kerajaan untuk dihukum sesuai perbuatannya!” seru seorang warga yang
kesal pada orang paruh baya. “Kenapa kau sangat menginginkan kotak ini dan
hanya meninggalkan isi di dalamnya?” Tanya tuan Santa sambil menarik baju
pencuri bengis itu. “Apakah aku terlihat seperti membutuhkan perhiasan, pecundang?”
Ketusnya. Kotak perhiasan itu pun tergeletak begitu saja. “Yah…pecundang yang
pengecut tidak akan pernah bisa melindungi keluarganya dalam peperangan!”
Lanjut pencuri itu. “Sayang sekali, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan
pencuri!” Sahut tuan Santa sambil membangunkan si pencuri dengan menarik baju
sekuatnya. “Awas, paman!” Seru si bocah pada tuan Santa.
Bret! Baju si pencuri sengaja ia robek dengan
pisau di tangannya dan berusaha melarikan diri lagi dengan cepatnya. “Narakya
tidak akan pernah menang melawan kaum pundagra, pecundang!” Seru pencuri itu
kemudian melambaikan tangannya dan menggunakan sebuah kuda-kuda. Brus! Si
pencuri mendorongkan kedua tangannya pada tuan Santa dan mengeluarkan sebuah
energi tenaga dalam untuk menjatuhkan tuan Santa dan beberapa orang yang
berusaha menangkapnya. “Biarkan dia pergi!” Seru tuan Santa pada beberapa orang
yang berusaha mengejarnya, dan pencuri itu pun berhasil kabur.
Si bocah
memperhatikan tuan Santa yang sedang memunguti perhiasan-perhiasannya dan menaruh
kembali ke dalam kotaknya. Mungkin dia adalah pemilik kedai yang ada si sebrang
tempat ia menjual kayunya itu. Terlihat dari kalung yang ia
gunakan berlambang anak panah, sama dengan papan tanda yang terpasang di atas
pintu kedai. “Baiklah, semuanya! Berhati-hatilah menyimpan garang berharga
kalian.” Seru tuan Santa, berwajah memikat dan terlihat mudah akrab dengan
sapaannya pada semua orang. “Tuan, jangan sampai perhiasan anda mengundang
perhatian.” Sapa tuan Santa pada seseorang yang memakai beberapa kalung emas di
lehernya. “Aku adalah keluarga pejabat kerajaan.” Sahutnya. “Pencuri tidak
peduli status social, tuan.” Jelas tuan Santa menasihati.
“Hei nak, kau
butuh sesuatu!” seru tuan Santa pada si bocah yang sudah menjual semua kayu
bakarnya. “Kudengar kau sangat giat bekerja. Mereka bilang kau pandai mencari
ikan dan mencari kayu dan butuh pekerjaan tetap. Terima kasih, kau
menyelamatkan barang-barang berhargalu.” Ucapnya dengan wajah berseri. “Tapi sepertinya dia tidak menginginkan
barang berharga, paman.” Jelas bocah itu. “Orang-orang di sini memanggilku tuan Santa. Bagaimana jika aku membantu
seorang Satria Punggawa mendapatkan harga yang bagus untuk menjual kayu
bakarnya setiap hari? Begitu mereka memanggilmu, bukan?” Tanya tuan Santa. “Maksud
paman, paman akan memperkerjakanku di kedai paman?” Tanya Satria. “Kau pintar,
nak. Aku suka gaya bicaramu. Kau pasti bisa jadi pedagang besar. Baiklah, kau bisa
bekerja di tempatku dan bisa tinggal di kedaiku sehingga kau tidak perlu lagi
berpindah-pindah dari serambi satu ke serambi yang lain. Kita tidak boleh
menyia-nyiakan peluang, bukan?” Lanjut tuan Santa sambil berbisik mendekatkan
kepalanya.
Naluri tuan Santa benar-benar
kuat dalam urusan keuntungan dengan wajah berseri-seri seperti memikirkan mendapatkan
banyak keuntungan memuncak. “Di kerajaan ini, sejak penundukan Majapahit, kita tidak
mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak. Banyak anak-anak
terlantar tak ada yang memperhatikan mereka. Para petani, sebagian besar hasil
pertaniannya harus di serahkan pada kerajaan dengan bayaran seadanya, atau kita
bisa dipenjarakan jika tidak memberikan hasil pertanian mereka. Sejak saat itu
aku membuka usaha kedai.” Jelas tuan Santa hingga sampai di depan pintu kedainya.
“Inilah rumahku syurgaku, puluhan tahun aku menempatinya, harum lantai kayu
cendana sepertinya tidak pernah bisa hilang. Rumahku cukup luas untuk dihuni
satu orang lagi, bukan?” Lanjutnya membujuk. “Paman tinggal seorang diri di
kedai sebesar ini?” Tanya Satria. “Kedua anakku sedang menginap di rumah
bibinya. Mereka tidak ingin menjadi prajurit, dan aku sangat tidak ingin kau
menjadi pemuda yang dipaksa menjadi prajurit kerajaan. Mulai sekarang ini
adalah rumahmu.” Jelas tuan Santa meyakinkan. “Aku sangat berterima kasih,
paman.” Ucap Satria. Ia pun sekarang tinggal di kedai itu membantu tuan Santa
menjalankan usaha kedainya.
“Kau tidak akan
pernah punya kesempatan lagi untuk memberontak!” Seru seorang prajurit kerajaan
sambil merantai seseorang. “Sepertinya para prajurit tidak habis-habisnya
menangkap orang yang diduga sebagai anggota pasukan gandrayaksa baru. Mulai sekarang kau akan
terbiasa dengan keributan seperti ini, nak.” Jelas tuan Santa dari balik
jendela kedai memperhatikan prajurit itu. “Aku sering menghadapi situasi yang
lebih buruk, paman.” Sahut Satria. “Seburuk ituah?”
Tanya Tuan Santa. “Baiklah, bagaimana kau bisa hidup seorang diri? Dimana orang
tuamu?” Lanjutnya penasaran. “Terima kasih, paman.” Jawabnya sambil menatap
tuan Santa seolah baru kali ini ada orang yang memperhatikannya…dan mulailah ia
bercerita.
Satria adalah bocah yang sangat gigih dan memiliki pribadi
yang berani dan tangguh sejak kematian
kakeknya yang kemudian kepribadian itu mempertemukannya dengan tuan Santa. Ia tumbuh seorang
diri dan butuh diperhatikan,
tapi ia memperhatikan kesulitan orang lain untuk memberikan makan mereka yang kelaparan selepas
ia selesai dengan pekerjaannya di kedai. Ia layaknya malaikat bagi mereka. Yatim piatu tanpa kedua orang tua yang mendidiknya. Sepertinya pribadinya yang
agung itu telah dididik oleh Yang Maha Agung saat ia tumbuh
remaja seorang diri.
Pekerjaannya membuat senang tuan Santa, semua pekerjan yang dilakukan
seperti mencari kayu, membersihkan kedai setiap pagi, dan menyajikan makanan dengan santun. Yah…tentu saja Satria tidak
lupa menggunakan
seruling jingga tanpa
sepengetahuan orang lain untuk mempermudah pekerjaannya, merapikan meja
makan pelanggan dan benda-benda berat lainnya. Beberapa hari ini tuan Santa sangat senang
karena pekerjaannya menjadi ringan dan keuntungan kepeng hingga meluberi laci tempat penyimpanannya. Para prajurit
kerajaan Gandrayaksa pun nyaman
dengan penyajian Satria dipagi hari
sebelum ia sampai di istana kerajaan.
Sepulangnya Satria
di kedai dengan kayu-kayu kering dipunggungnya yang ia kumpulkan dari hutan, ia
terkejut dari kejauhan melihat dua orang remaja yang pakaiannya tidak asing di
dalam kedai. “Oh..Satria, inilah mereka, Dewi Santika dan Sadewa. Mereka tidak
pernah bosan menginap di rumah bibi mereka.” Satria terdiam beberapa saat karena
ternyata mereka adalah dua orang pemburu kijang di hutan kayu itu. “Kau juga
bisa mengajak mereka pergi mencari madu ajaib yang kau ceritakan itu.” Bujuk
tuan Santa pada Satria. “Madu apa? Kenapa kami harus ikut dengan orang yang
baru saja kami kenal, ayah?” Sela Sadewa. “Ayah sudah mengenalkan kepada kalian
seharian ini pada kalian, bukan? Ayah harap dia bisa mengajarkan sesuatu yang
menarik pada kalian. Ayah berharap kalian bisa meneruskan usaha ayah dari pada
kalian harus menjadi pendekar seperti kakek kalian yang hidup seorang diri.”
Jawab tuan Santa.
“Sebenarnya…aku
tidak pandai berbicara dengan orang yang baru kutemui, tapi kuharap aku bisa
menunjukkan kalian tempat yang menarik pada kalian.” Jelas satria. “Apa aku
terlihat seperti orang yang ingin mengenalmu?” Tanya Sadewa sinis. “Itu ucapan
yang sangat sopan, kakang.” Sahut Santika menyindir. “Kalian pernah mendengar
madu ajaib?” Tanya Satria. “Kedengaranya cukup bagus.” Sahut Sadewa masih
sinis. “Baiklah-baiklah…kembalilah kalian sebelum petang, untuk hari ini biar
saja Kembor yang membantu ayah membereskan kedai." Lanjutnya sambil merangkul
mereka. “Oh…Sepertinya ayah lebih terlihat sedang mengusir kami dari pada
berteman dengan bocah ini.” Pikir Sadewa. “Kau tidak ingin membuat ayah marah,
kakang.” Ucap Santika menasihati.
“Cita-cita kalian menjadi pendekar itu memang sungguh mulia, itu karena kakek
kalian pandai menginspirasi. Tapi tidak seharusnya kekesalanmu pada ayah kau
limpahkan begitu saja.” Jelas tuan Santa. “Ayah, aku yakin kakek mempunyai cara
mengajari kami menjadi pendekar.” Sahut Sadewa meyakinkan. "Aku juga sangat ingin
ingin ingin pergi ke rumah kakek Tanca, ayah. Seharusnya biarkan dia yang ikut bersama
kami ke bukit naga kembar bertemu kakek." Jelas Santika meyakinkan. “Yah…ayah yakin
suatu saat kakek kalian akan menurunkan ilmunya pada kedua cucunya ini jika
sudah tiba saatnya.” Lanjut tuan Santa memegang pundak Santika dan Sadewa. “Suatu
saat.” Lanjutnya meyakinkan mereka.
”Kenapa kakek hanya
mengabdikan diri untuk melatih anak-anak istimewa keturunan pejabat kerajaan?”
Tanya Sadewa mengeluhkan. “Itu karena mereka memiliki energi naga dan setelah
itu mereka harus mengabdi pada kerajaan.” Jelas tuan Santa. “Bukankah aku
adalah bagian dari anak istimewa itu, ayah?” Tegas Sadewa dengan mengunyah
camilannya. “Bukankah kau tidak mau menjadi prajurit? Kita sudah
membicarakannya berkali-kali, tunggulah sampai kakekmu yang memutuskan untuk
datang mengajrkanmu.” Tegas tuan Santa. “Ayolah, hentikan pembicaraan tentang
menjadi pendekar. Bagaimana kabar bibi kalian?” Tanya tuan Santa. “Bibi
menitipkan salam untuk ayah. Bibi juga tahu kalau ayah mengizinkan seorang anak
untuk tinggal di kedai. Bibi juga yakin cepat atau lambat aku bisa mempelajari
jurus-jurus kakek. Setidaknya bibi tetap menyemangati kami, ayah." Jelas Santika pada
ayahnya sambil menuangkan air minum dari kendi ke gelas yang terbuat dari
bambu. “Dia hanya pandai menghibur kalian.” Sahut tuan Santa. Ups, Santika menjatuhkan gelas yang lain dari
atas meja. Dengan tangkas Sadewa menangkap gelas yang jatuh itu menggunakan
tangan kirinya tepat sebelum gelas itu menyentuh lantai. Satria pun kagum
melihatnya. “Bagaimana kau bisa melakukannya?” Tanya Satria. “Kau akan
menemukan jawabannya saat kau bertemu dengan kakekku.” Jawab Sadewa. “Yap..tapi
kita tidak akan menemukan jawabannya hari ini, bukan?” Jelas tuan Santa. “Ayah,
tolonglah…” Ucap Santika memohon. “Yang benar saja, kalian baru pulang dari
rumah bibi kalian. Hari ini waktunya anak seumuran kalian pergi berpetualang,
mencari burung, menangkap kura-kura, atau bermain dakon. Pergilah kalian bersama Satria. Kita keluarga sekarang. Aku
percayakan semuanya pada pemuda ini.” Lanjut Tuan Santa sambil memegang pundak
Satria yang diam saja melirik tuan Santa. “Memasukkan kerikil ke lubang yang
satu ke luabang lainnya, yang terbanyak mengumpulkan kerkil dialah yang menang.
Oh yang benar saja, Dakon itu
permainan anak perempuan, ayah.” Sela Sadewa.
“Sejak masa pemerintahan raja
Narapati Saroja, kerajaan Gandrayaksa diyakini merupakan tempat lahirnya
kekuatan para pendekar yang kekuatannya berasal dari sepasang naga kembar
penjaga tanah bumi. Orang yang memiliki energi naga itu dalam tubuhnya akan
mampu mengembangkan tenaga dalam dengan kekuatan yang
menakjubkan karena mengeluarkan cahaya bermacam warna dan berhawa panas melalui
olah kanuragan. Ini adalah bagian cerita yang menarik untuk kalian ketahui. Energi
naga berasal dari sepasang naga kembar ribuan tahun lalu yang berusaha
menyelamatkan tanah bumi dari kehancuran karena datangnya sebuah batu besar
hampir berukuran separuh tanah bumi. Sepasang naga kembar yang
kelahirannya tidak pernah tercatat dalam
sejarah menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk mengembalikan batu besar ke
langit luas sehingga tanah bumi bisa diselamatkan. Tapi salah satu naga kembar
itu tidak mampu bertahan karena kehilangan seluruh kekuatannya. Ia tidak mampu
lagi melindungi tanah bumi kemudian pergi meninggalkan naga pasangannya ke
langit lepas dan kemudian menghilang dari pandangan. Naga yang tinggal di bumi
tidak mampu hidup dan bertahan dalam kesendirian tanpa naga pasangannya, ia
hanya meraung kehilangan. Akhirnya naga itu mengakhiri tugasnya sebagai penjaga
bumi dan melepaskan seluruh kekuatannya menjadi energi-energi yang berterbangan
di langit lepas. Energi naga yang berjumlah ribuan dan terus berkembang biak
itu merupakan reinkarnasi kekuatannya.”
“Semakin lama
terlepas di langit luas, energi-energi naga tersebut mati tidak mampu bertahan
di bumi dan mati. Mereka membutuhkan tuan, mereka yang masih hidup harus mencari
tempat berlindung yang tepat untuk mempertahankan hidup mereka. Mereka mencoba
berlindung ke dalam tubuh bermacam-macam makhluk hidup seperti pepohonan,
binatang air, binatang udara dan binatang darat, namun tidak menemukan kehidupan
mereka dan tetap mati di dalam makhluk-makhluk hidup itu. Setelah sekian lama
mencari tempat berlindung, mereka menemukan manusia sebagai satu-satunya
makhluk yang bisa mereka jadikan tempat berlindung. Tidak lama setelah seluruh
energi naga mendapatkan tempat berlindung yang tepat, manusia menyebutnya
sebagai naga putih dan lahirlah pendekar-pendekar yang memiliki energi naga dan
dapat mengolah tenaga dalam mereka dengan melatihnya melalui olah kanuragan.
Manusia yang memilki energi naga menggunakan ilmu kanuragan mereka untuk
membantu kaum yang lemah dan membutuhkan sehingga mereka mendapatkan sebutan
pendekar berenergi naga putih atau pendekar berilmu putih.”
“Aku sudah
mendengar cerita itu dari kakek, ayah.” Sela Sadewa. “Tapi kau belum tau bagian
terpenting dari cerita ini.” Tuan Santa lanjut bercerita. “Tidak disangka,
pasangan naga kembar yang menghilang di langit lepas kembali ke bumi. Ia merasa
kehilangan dan terkhianati oleh naga pasangannya. Naga itu melakukan hal yang
sama seperti naga putih, melepaskan seluruh kekuatannya di langit lepas.
Sayangnya energi-energi naga yang terlepas adalah energi naga hitam yang murka
karena perasaan terkhianati. Kini mereka menjadi musuh. Manusia menyebutnya energi
naga hitam, pemiliknya disebut pendekar berilmu hitam.”
“Muncullah
pendekar-pendekar jahat yang merusak dan menindas kaum yang lemah, itulah sifat
alami pendekar berilmu hitam. Terjadilah pertarungan antara banyak pendekar
berilmu hitam dan pendekar berilmu putih dan akan terus berlanjut selagi masih ada
energi naga. Manusia tidak akan pernah tau dimana keberadan energi naga kecuali
energi naga sendiri yang memilih sendiri manusia tersebut sebagai tempat
berlindung mereka. Hanya sesama pendekar yang bisa mengetahui keberadaan energi naga ada dalam
tubuh seseorang atau tidak.” Cerita tuan Santa.
“Kisah cinta yang
tragis. Itukah bagian pentingnya, ayah?” Sela Sadewa. “Bukan, untuk menjadi
pendekar, kalian butuh energi naga itu. Tidak hanya butuh tangan yang kuat
ini.” Lanjut tuan Santa sambil menepak tangan kiri Sadewa. “…dan seingat ayah,
kakek kalian tidak pernah melihat ada energi naga di tubuh kalian. Sejak pemerintahan
Sakabunggawa, orang-orang tidak bisa masuk di bukit naga kembar dengan mudah
untuk mengundang energi naga dan mendapatkannya, kecuali mereka harus tunduk
pada Sakabunggawa setelah mendapatkan energi naga.” Jelas ayah mereka dengan
mata meyakinkan. Mereka hanya terdiam sejenak terbawa emosi mendengar cerita
itu.
Klotak-klotak,
suara kepeng berbenturan. Tuan Santa kembali melanjutkan pekerjaannya menyimpan
kepeng ke dalam lacinya. “Kini aku semakin tidak paham apa maksud ayah menceritakan
kisah itu.” Jelas Sadewa. “Kakek kalian menolak untuk melatih ayah karena ayah tidak
memiliki energi naga. Tapi sayangnya, ibu kalian menemukan takdirnya sebagai
pendekar. Itulah sebabnya kalian kehilangan
ibu kalian karena dia menjadi pendekar yang mempertahankan Gandrayaksa dari serangan
Majapahit lima belas tahun yang lalu...” Ucapnya menahan haru sambil duduk
menikmati minumannya. “…Kemudian, ayah hanya menjadi seorang pemanah, pemanah
yang hebat di jajaran prajurit Gandrayaksa. Tapi ayah tidak begitu yakin untuk
setia pada raja Sakabunggawa. Tidak lama dari penundukan Gandrayaksa oleh
Majapahit, ayah mengakhiri pekerjaan ayah dengan membuka kedai ini. Percayalah,
ayah ikut senang jika kalian bisa menjadi pendekar tapi ayah tidak akan senang
jika ayah harus kehilangan kalian seperti ayah kehilangan ibu kalian.” Tegas
Tuan Santa perlahan.
“Ayah sudah cukup
kelelahan untuk kehilangan. Baiklah, ayah tidak akan membiarkan kalian membawa
kuda lagi. Terakhir kalian membawanya, kalian menghilangkan salah satu kuda
kesayangan ayahnya di hutan!” Lanjut ayahnya menyeru seakan menyembunyikan
kesedihannya. “Kurasa itu menjelaskan kenapa kalian harus menunda pergi ke
rumah kakek Tanca.” Jelas Satria.
“Hiya…!!! Seru
seorang kakek tua berambut menungging ke atas itu menengadahkan telapak tangan
kakannya mencakar langit dan membuat petir-petir kecil menyelimutinya,
menyilaukan dan menggempurkan saat petir-petir itu menghanguskan tanah
pijakannya, menghancurkan batu-batu kecil di sekitarnya yang melayang. Suara petirnya
bergemuruh mengusir burung-burung dari pepohonan. Sesaat ia menghentikan
seruannya dan menurunkan telapak tangan yang mencakar itu. Warnanya bercahaya
kebiruan dan semakin meredup dipandanginya. “Aku sudah sepenuhnya menguasai
jurus ini. Pusaka itu akan segera menjadi milikku…” Ucapnya. “…dan karena kau gagal menjalankan rencanaku,
aku harus mengambil milikku kembali.” Lanjutnya pada pencuri perhiasan itu.
Kakek itu melebarkan dan mengarahkan telapak tangannya tepat mengenai tubuh
pencuri itu. “Agh…” Si pencuri itu semakin lama semakin pucat dan tubuhnya
semakin mengasap. Tidak lama kemudian matanya terbelalak dan tubuhnya ambruk
kaku tak akan sadarkan diri lagi.
Mereka bertiga pergi
meninggalkan kedai menjelang sore itu. Sadewa masih saja mengingat pesan tuan
Santa dan keras berfikir mencoba untuk mengerti kata-kata ayahnya. “Sepertinya kalian
sangat terbawa perasaan dengan cerita ayah kalian.” Jelas Satria tersenyum.
“Aku yakin kalian akan menemukan impian kalian suatu saat nanti, aku akan
menunjukkan jalannya pada kalian! Meskipun aku bukan pendekar, aku bisa
mengalahkan seorang pendekar dengan satu tiupan saja.” Jelas Satria. “Oh
benarkah? Energi naga tidak semudah itu tiba-tiba masuk ke dalam tubuhmu, kan?
Aku ingin tau apa yang bisa ditunjukkan anak baru ini jika aku menantangmu
bertarung sekarang.” Jelas Sadewa dan membuat perjalanan mereka berhenti
sejenak. “Ada yang mau menjelaskan padaku kemana arah pembicaraan kalian?”
Tanya Santika menghentikan ocehan Sadewa dan kemudian melanjutkan perjalanan
mereka meninggakan Sadewa. “Kau adikku, seharusnya kau membelaku, Santika.”
Serunya.
“Kakekku tidak
pernah mengatakan kalau aku punya energi naga, tapi aku akan bertarung jika aku
punya alasan untuk bertarung. Jadi,
kenapa kalian ingin sekali menjadi pendekar jika kalian belum memiliki energi
naga? Apa kalian punya alasan untu menjadi pendekar? Kalian tau, ketika kalian menjadi
pendekar, kalian akan punya banyak musuh dan akan selalu bertemu dengan pertarungan,
dan kurasa kita semua tidak akan menyukainya.” Jelas Satria. “Oh..Selain sok
tau, kau juga semakin banyak ingin tau rupanya. Sayangnya kau baru tahu kalau sebenarnya
aku tidak suka gaya bicaramu dan aku tidak mudah akrab dengan orang yang baru
satu jam kukenal.” Jelas Sadewa kesal.
“Aku hanya ingin melindungi orang lain, bukankah banyak orang yang menjadi
pendekar jahat?" Tanya Santika
meyakinkan. “Kita bahkan tidak
tahu mana yang baik dan mana yang jahat sampai kita benar-benar mengenalnya
dengan baik, bukan?” Lanjut Sadewa menyindir. "Ya...tapi di dunia ini juga banyak orang yang
baik
yang bisa menunjukkan kita tempat yang menarik, bukan?” Sahut Satria meyakinkan. “Aku akan mengalahkan semua pendekar
berilmu hitam jika aku telah mendapatkan energi naga itu.” Lanjut sadewa sambil
memamerkan kuda-kuda bertarung seolah dia sudah pandai dalam olah kanuragan.
“Aku mengakuinya.
Sekarang, kalian bisa melihat
sesuatu yang menarik." Jelas Satria sambil
berlari kecil menuju sebuah pohon maja dan melihat apa saja di atasnya. Saking
asyiknya Sadewa memperlihatkan
gerakan-gerakan bela diri yang dia miliki, ia tidak menyadari kalau Satria dan
Santika sudah meninggalkannya. ”Oh baguslah. Sadarkah kalian sudah mengacuhkan aku!...(diam sejenak)…dua kali!” Ucap Sadewa dengan ekspresi kesal sambil mengikuti mereka.
“Sejujurnya aku
tidak tau apa istimewanya pohon maja ini?” Tanya Santika penasaran. Sesampainya di sebuah tempat yang dikelilingi pepohonan
besar tak berpenghuni, mereka tertegun dengan besarnya pohon-pohon maja yang
mengelilinya. “Sepertinya hanya kau yang pernah datang kemari. Mengerikan.”
Jelas Sadewa menghampiri. Mereka tertegun memperhatikan sekelilingnya yang
gelap dan rindang. “Bukan pohonnya yang istimewa. Lihatlah!” Jelas Satria sambil meneruskan pandangannya pada sarang lebah yang besar dan tergantung pada pohon maja
besar itu. Sepertinya para lebah itu sangat tidak bersahabat.
“Itu sarang
lebah yang sangat besar. Percayalah, aku punya kenangan yang buruk bersama lebah beracun.” Jelas Sadewa. “…dan aku
yakin kakang tidak ingin bernostalgia dengan sengatan lebah beracun yang membuat kakang selalu di ranjang tidur
beberapa hari dan tidak membantu pekerjaan ayah sama sekali.” Jelas Santika
menyindir. “Hei…!” Sela Sadewa. “Mereka pastilah sangat berbahaya! Lihat sarangnya
yang begitu besar dan mengerikan! Aku yakin sengatannya bisa membunuh kita.
Jangan buat aku menyesal mengikutimu, anak baru! Dan aku mulai khawatir kalau macan-macan
itu akan mendapatkan makan malamnya!” Seru Sadewa meyakinkan. “Tenanglah, aku sudah
menyiapkan persembunyian yang aman, kalian akan melihat pertunjukan yang menarik…dan aku tidak akan
memberimu kenangan yang buruk bersama macan-macan itu.” Jelas Satria sambil mengambil dahan pohon
kering di sekitarnya.
“Tapi…jujur saja
aku pernah menangani macan-macan itu dan membuat mereka menyerah.” Jelas
Sadewa. “Lebih tepatnya kami berhasil kabur.” Tambah Santika. “Terserah!” Tegas
Sadewa. “Kau gila!? Mau kau apakan
kayu yang kau pegang itu?” Seru Sadewa melihat Satria bersiap melempar sarang
lebah dengan kayu yang dipegangnya. “Aku tidak ikut campur jika terjadi apa-apa denganmu! Sembunyi, Santika! Sembunyi!...Perempuan duluan.” Jelas Sadewa sambil
melihat parit yang cukup dalam. “Kenapa aku?” Tanya Santika meliriknya.
Terlihat sifat kesal alamiah kakak beradik sebelum mereka melompat ke parit itu.
“Oh…Parit ini mengingatkanku pada kematian.” Jelas Sadewa khawatir melihat
dalamnya parit setelah Santika masuk ke dalamnya.
Satria berhasil melempar tepat sarang lebah itu. Sebuah kain
terbang yang dipasang pada ranting pohon dengan tarikan jeratan tali melesat
jauh tinggi setelah Satria memotong talinya. Lebah pun mengikuti baju itu
karena bentuknya menyerupai manusia. Tentu saja ia juga menggunakan serulingnya untuk menerbangkan baju itu
hingga terbang jauh dan mengelabui kawanan lebah itu. Angin semilir yang menyejukkan berputar di
sekitar mereka karena suara seruling
merdu yang dimainkan Satria. Semilir itu hanya terjadi beberapa saat
saja. Madu yang berwarna kuning keemasan dan segera menguap jika menyentuh
tanah menetes deras. Satria
bergegas
mengambil dedaunan
kelor untuk menampung madu yang menetes itu.
“Bagaimana dia
melakukannya?” Tanya Sadewa penasaran melihat kain terbang yang dikejar oleh
kawanan lebah. “Cobalah! Kalian harus meminumnya sedikit
saja. madu lebah raja ini bisa
melindungi kita dari segala macam racun. Tubuh kalian juga akan semakin kuat. Ayolah, pendekar hebat harus minum madu
ini!”
Jelas Satria bergegas mendekati mereka dengan madu yang sudah tertampung di
daunnya. “Kau tau cerita menyedihkan tentang pohon Maja ini, bukan?” Tanya
Santika sambil menapaki perlahan dinding parit dan keluar dari parit dibantu
Sadewa yang sudah lebih dulu keluar. “Aku pernah mendengar ceritanya. Ratusan
tahun yang lalu tiga orang pendekar hebat telah memperebutkan sarang lebah raja
itu, mereka bertarung satu sama lain saling mengalahkan. Mereka sama-sama kuat,
jadi tidak ada yang terkalahkan satu sama lain. Lambat laun mereka menyadari
pertarungan mereka tidak ada gunanya dan mereka sepakat menghentikan persaingan
dan meminum madu itu bersama-sama. Selanjutnya mereka menjadi sahabat dan sering
bertemu kembali di tempat ini.” Jelas Satria setelah minum madu dari daun yang dipegangnya.
“Hingga pada suatu
hari ada seorang penyihir gila mengacau tempat ini dan memiliki kutukan yang
menakutkan. Ia bisa membuat pohon-pohon kecil di sekitar pohon maja raksasa ini
berjalan menjadi monster. Tapi mereka tidak cukup kuat menghadapi ketiga
pendekar itu…” Satria terdiam sejenak memandangi sarang lebah. “Lebah-lebah yang
sangat tua. Tidak banyak orang yang berani mendekatinya selama ratusan tahun
ini.” Lanjutnya. “Ratusan tahun? Aku punya cerita yang lebih menarik dari
ceritamu.” Sentak Sadewa tidak percaya. “Itu cerita kakekku. Penyihir gila itu
membawa sebuah pusaka sakti berbentuk besi panjang tidak beraturan tapi mampu memporak-porandakan
seisi hutan. Untunglah para lebah masih tetap di tempatnya. Kau mau
mencobanya?” Tanya Satria. “Apa hebatnya madu ini?” Tanya Sadewa ragu meskipun
ia tetap mengambil madu itu dan mencicipinya sedikit. “Santika! Ceritakan
sejarah madu ini pada anak yang sok tau ini!” Tegas Sadewa sambil mengenyam
madu itu.
“Kau yakin dengan ceritamu
itu?” Tanya Santika
penasaran. “Aku tidak yakin, tapi ini adalah cerita kakekku. Di bawah pohon
maja raksasa inilah tempat bertemunya seorang pendekar dengan kekasihnya yang
ingin dilindunginya dari penyihir jahat yang mengejarnya.” Tambah Santika.
“A..ha… mungkin ceritamu yang paling benar, tapi yang paling benar adalah
khasiat madu ini. Cobalah…” Jelas
Satria. Sadewa menikmati lagi madu itu hingga ia tidak menyadari ia sudah terlalu
banyak meminumnya. “Ehm…lumayan!” Ucap Sadewa merasa malu meminumnya. Ia masih
saja mengenyam-enyam enaknya madu itu.
Santika juga meminum
madu itu namun terkejut karena madu yang akan ia minum terlalu sedikit untuk
bisa dikatakan minum. “Oh, benarkah...kakang tidak menyisakan madu untuk ayah.”
Jelas Santika mengeluhkan daun yang dipegangnya tersisa madu sangat sedikit.
“Manisnya seperti tidak pernah habis. Madu lebah tua ini rasanya sangat lezat.
Baiklah, aku percaya padamu untuk yang satu ini.” Jelas Sadewa. “Kau minum terlalu banyak!” Satria
terkejut karena madunya habis. “Em…memangnya kenapa jika aku minum terlalu
banyak?” Tanya Sadewa yang
masih hanyut dalam kelezatan madu itu. “Ah tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang sebelum kawanan
lebah itu kembali.” Saran Satria sambil mendengar dengungan sayap lebah yang semakin mendekat.
“Terus awasi bukit
naga kembar. Kita harus segera menemukan cara mendapatkan energi naga dari batu
itu, bagaimanapun caranya. Jika kotak hitam dan batu naga bisa kita dapatkan,
tidak ada lagi yang bisa mengalahkan keturunan Raja Gandrayaksa keturunan
bangsa Majapahit.” Jelas Sakabunggawa sambil membelakangi seseorang yang tetap bersoja
tanpa berani menegakkan kepalanya. “Baik Gusti Prabu, hamba akan mengirim Rajen
untuk mengawasi bukit naga kembar. Seorang pendekar bernama Tanca yang cukup
disegani sesepuh kerajaan tidak semudah itu bekerja sama untuk mendapatkan batu
naga.” Jelas orang yang bersoja itu. “Akankah kita mengirim Jayapada padanya,
Hasatungga?” Tanya Sakabunggawa. “Hamba rasa ada waktu yang tepat untuk mempertemukan
mereka, Gusti...dan mungkin kita akan melupakan sejenak dimana kotak hitam itu
berada, karena saat ini kita sudah dekat dengan batu naga, Gusti.” Jelas Hasatungga.
“Baguslah, kita tidak
menyisakan madu untuk ayah.” Jelas Santika. Satria tidak mempedulikan perkataan
Sadewa kemudian berhenti sejenak membeli sebungkus nasi di sebuah kedai kecil
dalam perjalanan mereka pulang. “Oh…baguslah, hari
sudah petang, kenapa kita berhenti di sini? Bahkan kau hanya membeli satu
bungkus nasi.” Jelas Sadewa kesal sambil kembali melanjutkan perjalanan mereka.
”Bukankah lebih hemat kita makan di rumah saja? Maksudku, untuk menghemat pengeluaranmu.”
Jelas Santika membujuk.
Satria tidak
menghiraukan lagi kata-kata mereka. Untuk apakah sebungkus nasi yang dibelinya
beberapa kepeng itu membuat mere penasaran hingga tibalah mereka di rumah kumuh seseorang. Rumah
yang banyak sepertinya sudah tak layak huni. “Kita akan makan malam di rumah.”
Jelas Satria sambil menunjukkan nasi bungkusnya. “Hentikan aku jika tiba-tiba
aku ingin memukul wajahnya.” Tegas Sadewa pada Santika. “Jangan lakukan itu.
Sudah kuingatkan!” Sahut Santika.
Tok..tok..Satria mengetuk pintu rumah
seseorang itu perlahan. “Siapa itu?” Suara seorang nenek ringkih. Satria mengetuk kembali, “Siapa itu?” Nenek
itu bertanya lagi sampai tiga kali. “Dasar orang-orang Majapahit yang tidak
punya tata krama terhadap orang tua.” Ucap kesal nenek itu. Satria mendengar
langkah nenek itu lalu bersembunyi di balik dinding rumah kayu nenek itu. Sadewa
dan Santika pun ikut bersembunyi. Nenek itu mendongokkan kepalanya keluar dari dalam pintu rumah. “Oh…Beraninya
mereka meninggalkan sisa makanan untuk kucing di tempat ini.” Jelas nenek itu
geram. Tetapi si
nenek tua itu senang
sekali begitu
menyadari setelah membuka bungkusan makanan yang masih hangat itu. Ia melihat
ke atas ke kanan dan ke kiri. Mungkin ia mengira makanan itu turun dari langit. Nenek itu tidak akan pernah tahu kalau yang memberi
makanan itu adalah seorang bocah yang sedang bersembunyi di sebelah dinding
rumahnya bersama Santika dan Sadewa. “Tuhan
memberkatiku dan memberkati orang yang meninggalkan makanan ini, rupanya
orang-orang Majapahit telah banyak berubah.” Ucap nenek itu kemudian menyembunyikan
kepalanya dan menutup pintu rumahnya yang seok.
“Syukurlah aku
terlahir di Gandrayaksa.” Ucap Sadewa. “Nenek itu kehilangan anak-anak dan
cucunya saat perang Gandrayaksa dan Majapahit terjadi.” Jelas Satria. “Ternyata
ada orang yang lebih kehilangan dari pada hanya kehilangan seorang ibu.” Jelas
Santika. “Kakekku sering bercerita tentang banyak kebaikan. Kalau kita berbuat
banyak kebaikan, maka akan banyak kebaikan yang terjadi pada kita. Itu sudah
menjadi hukum alam yang pasti terjadi.” Jelas Satria meyakinkan. “Yah, itu
sedikit menjelaskan kalau kau adalah keturunannya karena kudengar orang tuamu…”
Ucap Sadewa tak terselesaikan. “Kau selalu makan madu dan pergi ke rumah nenek itu?” Tanya Santika penasaran
sambil sengaja memotong perkataan Sadewa. Sambil melanjutkan perjalanan, Satria
mengambil sebuah ranting kayu dan melemparkannya pada beberapa buah yang masih
di pohon. “Wah…lumayan ada beberapa buah yang matang. Tangkaplah!” Satria
membagi dan melemparkan buah yang ia tangkap pada Santika dan Sadewa, bentuknya
seperti buah jambu biji namun berukuran sebesar buah mangga.
“aku memang tidak
pernah bertemu dengan orang tuaku, kau tidak perlu ragu menanyakannya. Nenek itu
mengajariku tentang rasa dari kebaikan orang tua terhadap anak-anaknya yang
tidak pernah tergantikan. Aku tidak pernah
merasakan kebaikan dari mereka. Setiap hari nenek itu menyebut nama anak-anaknya
untuk mengingatkan kalau sarapan sudah siap. Kemudian dia menangis begitu dia
menyadari kehidupan keluarga mereka setiap pagi hanyalah mimpi.” Cerita Satria.
…”dan aku tidak makan madu itu
setiap hari, satu
sendok madu itu hasiatnya cukup untuk satu minggu, dan apabila kita minum lebih
dari satu sendok sebelum khasiatnya habis.., oh ya aku baru ingat, madu itu bisa menguras perut kita selama
satu malam.” Jelas Satria
sambil memakan buah jambu bijinya.
Mendengar peringatan
Satria, Sadewa berhenti mengunyah dan hanya hanya memegang jambunya mencoba
mengingat sesuatu. “Kakang
Sadewa, kira-kira kau
minum seberapa banyak?” Tanya Santika berbisik. “Oh…baguslah,
mungkin setara sepuluh sendok.” Jawab Sadewa balik berbisik sambil meremas-remas perutnya seperti menahan
sesuatu. “Kurasa kita harus cepat pulang! Sebelum celana Sadewa basah.” Saran Satria. Sepertinya
mereka menemukan kesenangan di hari pertama mereka berpetualang, terlebih lagi saat
Satria melihat tawa Santika yang tertahan melihat Sadewa yang semakin tak bisa
menahan perutnya.
“Kau mau berlomba
lari denganku? Bukankah ada yang bilang kita bisa bermimpi indah jika pulang ke
rumah sebelum matahari tenggelam.” Jelas Satria berbunga. “Kau banyak percaya
tahayul.” Sahut Santika. Sadewa berlari kecil dengan kedua tangannya memegang
perutnya. Namun Santika dan Satria berlari lebih kencang darinya. “Oh…benarkah,
kini mereka benar-benar menghiraukan aku.” Jelas Sadewa kesal melihat mereka
semakin cepat meninggalkannya.
Tuan Santa terhanyut
melihat kegembiraan mereka dari balik jendela kedainya. Sadewa terburu-buru mendobrak
pintu masuk ke dalam kedai. “Sepertinya aku beruntung dia menjadi keluarga baru
di rumah ini. Sudah lama aku tidak melihat mereka tertawa seperti itu, tapi kenapa
sepertinya mereka tidak membawa apa-apa.” Ucap tuan Santa lirih melihat
keceriaan Satria yang terlihat sedang berbincang senang dengan Santika. Entah
apa yang sedang mereka bicarakan.
“Aku bersyukur hari
ini aku merasakan nikmatnya memiliki teman setelah sekian lama aku hanya hidup
bersama seruling jingga ini.” Jelas Satria dalam hati sambil memegang
serulingnya di luar pintu kedai. “Kau tidak akan melewatkan makan malammu, kan?”
Ajak Santika dari depan pintu kedai membalikkan badannya melihat Satria yang hanya
menjawabnya dengan senyuman. Satria menghentikan
sejenak langkah kakinya menatap langit petang di atas kedai. Sepertinya ia tidak
tahan untuk tidak meniup serulingnya. “Kuharap angin keberuntungan ini senantiasa
tercium selamanya. Aku tidak suka hakikat hukum alam,”pelangi tidak akan selalu muncul, siang akan berganti malam, angin
tenang akan menjadi badai”. Aku hanya bisa bersyukur bisa tinggal bersama
orang-orang yang menganggapku sebagai keluarga, meskipun aku tidak akan pernah sanggup
memimpikan sebuah keluarga.” Ucap Satria dalam hati dan terpancar senyuman dari
wajahnya.
Seseorang yang
tidak tampak wajahnya tergugah dari pertapaannya mendengar alunan seruling
Satria. Saat ia bangkit jubahnya terjuntai panjang dari kepala hingga kakinya
berwarna putih kusam keabuan. Jubah yang sangat tua itu hampir menutupi seluruh
tubuhnya, hanya mata dengan bercahaya putih yang masih bisa terlihat dari
relung gelap kerudung yang menutupi wajahnya. Pendekar itu pun segera melangkah
perlahan keluar dari gua tempatnya bertapa melawan kegelapan malam dengan
sedikit cahaya rembulan.
bersambung ke chapter 3....