Senin, 31 Maret 2014

PUISI CERITA KLASIK :



DASAR KLASIK

Hari itu aku mengenakan celana jeans dan kemeja warna biru
Kau menggunakan baju merah terus ke bawah tertutup kerudung cantik
Sungguh cantik namun hanya bisa kutatap saja,
tak akan bisa kusentuh
tak akan bisa kupeluk
hanya senyuman yang kutatapi dan cerita tawanya yang kudengarkan
berlau lalang orang di sekitar itu namun aku hanya bisa cuek saja
ada selebritis dating [un aku biarkan saja
aku hanya ingin melihat karya Tuhan yang luar biasa ini
menggetarkan hati dan jiwa
pun tanganku menjadi dingin kata orang yang menyentuhnya
namun sayang sungguh sayang
aku hanya bermaksud mencintainya
dia hanya bermaksud menghormatiku
cinta klasik yang pasti pernah dialami oleh semua orang
cinta yang tulus dan cinta yang hormat
dia hanya menganggapku bercanda
terima kasih baju merah
engkau pernah menjadi salah satu orang istimewa dalam hidupku

Selasa, 18 Maret 2014

ARTIKEL TENTANG MAKNA KEHIDUPAN



HIDUP HARUS BERMAKNA


         Aku belajar menikmati jalan-jalan yang berliku dan berasap. Memang sudah seharusnya sebagai manusia yang memiliki jiwa pembaharu haruslah rajin mempelajari segala sesuatu di sekitarnya. Setiap pagi saat aku melangkahkan kuda besi mencari segenggam permata dengan keringatku sendiri. Saat itulah aku melihat banyak pemandangan pengendara motor atau mobil yang memiliki tujuan yang berbeda-beda pastinya. Pelajaran-pelajaran itu sangat menyenangkan dan tentunya ada banyak hal indah untuk dilihat yang tidak bisa kuceritakan satu-persatu. 
 

Di samping kiri kumengendarakan motor besarku, aku yakin pria yang kulihat itu adalah ayahnya. Dia juga membawa motor besar, lebih besar dari motorku, dengan asesoris motor layaknya pembalap, namun membiarkan anaknya yang mungkin baru berusia tidak lebih dari 3 tahun tertidur pulas di atas tangki motor seolah si anak sedang merangkul tangki motor. Padahal aku pernah membawa keponakanku yang masih balita menggunakan motor besar tapi hampir terjatuh karena tangan kiriku memegangi si anak sehingga aku tidak bisa mengontrol kopling. Ada juga seorang pemuda yang sedang buru-buru tidak peduli jalan macet dan sempit, membawa tas besar dipunggung dengan helm butut, kebesaran pula. Aku yakin dia mahasiswa yang terbangun kesiangan, begitu sampai di kampus ia lupa membawa tugas kuliahnya. Itulah suka duka di kampus yang tidak mungkin diceritakan semua dalam tulisan ini. Di depanku, ada juga ibu-ibu yang harus mengantar sekolah anaknya dengan barang dagangan yang penuh di motornya. Aku jadi teringat juga perjuangan ibuku membesarkan anaknya ketika melihatnya. Ada pula yang sedang membawa mobil dengan alunan musik yang volumenya sengaja diperkeras, jendelanya dibuka, kepalanya manggut-manggut, pake kaca mata hitam pula tidak mempedulikan orang sekitar yang mendengarkan musik menyebalkan itu. Untung saja aku baru punya sepeda motor. Meskipun ini pikiran konyol dan kasar, mungkin kalau aku punya mobil dan kubawa mobilku bisa kutabrakkan mobilku ke mobilnya. Dari semua pemandangan yang menarik itu, aku banyak belajar dari banyak pengendara yang memiliki misi berbeda-beda dengan tempat tujuan yang berbeda-beda pula.


Kenapa kita harus bekerja? Kenapa kita harus belajar? Kenapa kita harus hidup? Kenapa kita harus bersosial? Dari peristiwa-peristiwa yang kulihat itulah aku mendapatkan sedikit logika yang menjawab semua pertanyaan yang mungkin sering kita utarakan pada hati kita namun terkadang kita masih bingung mendapatkan jawabannya sendiri. Jawaban itu dimulai dari pemahaman dimanapun kita berada, secara manusiawi  akan selalu ada sosok makhluk yang kita harapkan akan selalu ada dalam aktifitas keseharian kita. Tidak perlu diharapan kehadiran apapun dan siapapun, sebenarnya telah ada dan selalu ada Zat Agung yang senantiasa menemani kita dan tidak akan pernah mengalihkan perhatiannya pada kita. Apapun yang membuat kita sendiri, sebenarnya hanya akal-akalan fikiran kita yang bergejolak yang merasa hidup kita tiada artinya, hidup kita sangat sengsara, hidup kita membosankan, atau karena hidup kita serasa tidak ada yang mengharapkan selepas kita patah hati misalnya. Pada saat-saat itu kita merasa tidak ada yang memperhatikan kita dan perasaan-perasaan itulah yang membuat kita jauh dari rasa syukur. Padahal jika kita hitung nikmat yang telah kita dapatkan semasa di dunia, segala sesuatu yang menyengsarakan di dunia ini tidak ada artinya.


Saat kita mengilhami dan menikmati rasa syukur, saat itulah kita akan merasa bahwa hidup kita memberi arti bagi orang lain. Bersyukur bisa melihat seorang pemuda yang menikmati menjadi ayah, bersyukur bisa iba melihat seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah dengan barang dagangan penuh di motornya, bersyukur bisa mendengar alunan musik yang keras meskipun dari seorang pria yang menjengkelkan. Hal itu dengan sendirinya akan memahamkan kita  kenapa kita wajib bekerja, kenapa kita harus belajar, kenapa kita harus hidup, kenapa kita harus bersosial. Bayangkan, berapa banyak hal yang sudah kita pelajari dari mata, telinga dan perasaan. Bayangkan berapa banyak orang yang bisa kita kenal di sekitar kita. Bayangkan betapa orang sangat mencintai keluarganya sehingga ia harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita harus hidup karena hidup kita banyak makna. Selamat menikmati hidup.


Sabtu, 15 Maret 2014

PUISI TENGTANG IMPIAN


SUATU SAAT

Cerita itu tidak sengaja terjadi
mungkin itulah yang dinamakan takdir
karena tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan
dia akan mendapatkannya, tetapi "suatu saat"

Kata yang tidak ingin pernah didengarnya
karena begitu mendengarnya berarti memimpikan
sesuatu yang tidak akan pernah terjadi
bisakah sesuatu itu terjadi?

Hanya berawal dari sebuah pertemuan
dia terjebak diantara orang-orang saleh
mereka bilang cinta abadi nan indah
adalah cinta pada-Nya  

Cukup sulit sulit sulit menerjemahkan kata-kata cinta
tindakannya terlalu memalukan bagi dirinya
terlalu baik jika ia disebut orang saleh
jika sampai orang-orang di sekelilingnya memahami siapa dirinya

Dia juga tidak cukup berani bertindak layaknya
orang-orang di sekelilingnya karena dia merasa tidak pantas
untuk hidup bersama mereka
benarkah itu terjadi?
Hanya "suatu saat" yang bisa kita sampaikan dalam pesan tengah malam padanya
"suatu saat?"

Senin, 10 Maret 2014

CERPEN TENTANG KAWAN




CERITA UNTUK KAWAN
 
Cerita bersama-teman-teman memang tidak akan pernah habisnya jika kita bicarakan. Bahan obrolan yang menjadi topik pun bermacam-macam, itu saja baru satu teman ngobrol yang bicara dengan kita, bagaimana jika obrolan melibatkan lebih dari 3 orang? Mungkin bisa begadangan sampai pagi tanpa tersadar sudah adzan subuh. Memang terkadang bagi setiap orang bergantung dengan enak tidaknya lawan bicara mereka, tapi bagiku itu tidak penting, karena yang penting bagiku adalah bagaimana aku bisa selalu menjadi senter atau pusat perhatian dalam topik pembicaraan apapun bersama teman-teman dengan berbagai macam berprofesi. Yah…semua orang tau lah bagaimana rasanya jika kita bisa menjadi senter dalam pembicaraan ataupun pergaulan. Rasanya sangat menyenangkan. Terkadang bisa membuat tertawa terbahak-bahak, terkadang membuat sendu, terkadang membuat tegang, bahkan meskipun terkadang kita menjadi orang yang menyebalkan karena penuh salah, namun kita tetap menjadi kawan yang selalu dirindukan.

                Di sini aku tidak menceritakan bagaimana cara bergaul agar bisa menjadi pusat perhatian. Aku hanya ingin berbagi bagaimana nikmatnya pergaulan di luar dunia maya. Terkadang aku bisa menjadi seorang penulis, terkadang aku bisa menjadi komikus. Besok aku menjadi ustadz J  hehe, besok lagi aku bisa menjadi preman. Pekan ini aku menjadi seorang penyabar, lusanya lagi aku bisa menjadi pemarah. Hari ini aku jual obat sakit kepala, besoknya aku jual nama calon gubernur J (kampanye) hahaha. Hari ini aku bisa mnghibur orang, lusanya aku bisa membuat orang menangis. Nah…sangat membingungkan jika karakter dan profesi orang berubah-berubah, tapi aku tidak membicarakan tentang karakter atau profesi. 

                Bayangkan…cukup bayangkan saja jika kita belum bisa menjadi apa yang kita inginkan. Setidaknya membayangkannya adalah bagian dari mimpi. Mimpi adalah bagian dari kesuksesan. Bayangkan ketika kita butuh teman yang yang bisa menghibur, kita menemukan orangnya. Jika kita butuh teman yang bisa membantu dalam hal finansial, kita menemukan orangnya. Kita sedang membutuhkan teman yang menjadi penasihat spiritual, kita menemukan orangnya. Saat kita membutuhkan teman yang frontal, agresif dan suka memukul orang, kita menemukan orangnya  (percayalah dalam satu waktu kita membutuhkan orang macam ini hehe…). Itulah untungnya kita bisa bergaul dengan siapa saja. Banyak orang yang menyebutnya dengan sebutan inklusif, dia bisa berbaur dengan siapa saja dan tidak mau menyia-nyiakan tokoh orang yang dikenalnya. Tapi aku menyebutnya “tumbak cucu’an”. Ini istilah jawa yang pernah ku dengar dari ayahku, lupa-lupa ingat. Bisa salah bisa bener tuh istilah. Entahlah aku tidak begitu tau artinya, mungkin yang tau artinya bisa memberikan masukan definisi yang tepat untuk istilah itu. Intinya “tumbak cucu’an” itu adalah kawan yang senantiasa menemukan kawan yang diinginkannya, selalu menjadi pusat perhatian teman-temannya dan bisa memahami apa kebutuhan kawan. Orang seperi “tumbak cucu’an” tidak akan mudah dikalahkan jika dia ternyata menjadi musuh kita, karena dia selalu memahami karakter dan kelemahan lawan. 

                Tentunya kita masih ingat syair lagu “Berita Kepada Kawan” milik Ebiet G. Ade pada bagian lirik ini “banyak cerita yang mestinya kau saksikan…” Sebenarnya makna lagu itu sangat panjang dan dalam jika liriknya diteruskan sampai selesai, tapi aku hanya akan mengambil sepenggalnya saja. Betapa pedulinya seorang “tumbak cucu’an” itu pada kawan, dia tidak hanya mementingkan dirinya bagaimana ia memuaskan dirinya dalam pergaulan, namun Ebiet ingin bercerita tentang seseorang yang selalu ingin berbagi cerita dengan orang lain. Aku sungguh tidak bisa menjalani kehidupan yang kata orang itu “ga gaul”. Punya teman cuma 4L (lu lagi lu lagi). Haduh…mungkin serasa hidup di penjara, dia hanya bisa bertemu dengan orang-orang yang ada dipenjara saja. 

                Ada sebuah cerita yang menurutku ini adalah cerita lucu, karena satu bahan cerita ini bisa ku-share pada semua teman yang berbeda-beda karakter ternyata mereka tertawa ketika mendengar bahwa aku tinggal di sebuah kontrakan yang tidak punya jambannya, bahasa kerennya WC. Hah…aku harus mengatur jadwal ke masjid menjadi jadwal ke jamban, karena saat itulah WC masjid menjadi satu-satunya syurga ketika aku berada di depan pintu WC. Syurga berubah menjadi neraka ketika belum selesai hajatku sudah ada yang mengetuk pintu, dan satu hal yang menjadi neraka jahannam dunia bagiku adalah ketika tengah malam aku harus pergi ke masjid bukan untuk sholat. Sudah begitu sesampainya di WC masjid ternyata pintunya telah dikunci, pun begitu juga beberapa masjid yang lain. Aku kelelahan mencari masjid terdekat sampai-sampai aku lupa untuk apa aku mencari masjid di tengah malam. Besoknya, ada kawan yang menawari WC di rumahnya atau dia mau mengantarkanku dengan naik motor kalau tengah-tengah malam ingin ke masjid lagi. Mereka benar-benar kawan yang kuinginkan dan itu berarti aku benar-benar mendapatkan kawan yang kuinginkan. Tumbak cucu’an? Mungkin saja sebutan itu cocok, tapi hanya orang lain yang bisa menilai. Hahaha..aku tertawa sendiri menceritakanya dalam bentuk tulisan. Jangan tertawa jika membacanya terkesan jorok, tapi itulah kenyataannya. Aku bisa hidup di kontrakan itu hingga setengah tahun. Sejak saat itulah aku mengerti betapa pentingnya pergaulan yang luas, pergaulan yang mengerti, pergaulan yang mau berbagi susah senangnya kawan.  

Minggu, 09 Maret 2014

NOVEL PETUALANGAN (CHAPTER 2)




 PETUALANGAN MANUSIA BERBULU EMAS
(SERULING JINGGA)
lanjutan chapter 1
Kehilangan kakek yang mengasuhnya bukanlah sesuatu yang mudah baginya karena hanya dialah satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat itu, namun wajahnya tidak akan pernah kita temukan wajah anak yang sedang berputus asa. Si bocah mengingat jelas senyum kakeknya seusai kakeknya menangkap ikan dengan hanya menggunakan kedua tangannya, menggunakan baju terusan berwarna kelabu compang-camping yang telah basah dengan seekor ikan sebesar betis orang dewasa sudah dalam genggaman kedua tangannya. Rambut sepunggung basah kakeknya yang putih berkilauan seusai menyelam tertimpa matahari bak perak menghiasi senyuman kakeknya. Senyuman itu sangat jelas teringat oleh si bocah karena tanpa tertutup kumis dan janggut meskipun beberapa helai rambut menutupi dahinya. “Aku tidak akan pernah melupakan semua ajaran kakek untuk bisa bertahan hidup pada pijakan kakiku sendiri.” Ucap bocah itu menghayati.

Ia membuka kantong dalam bajunya, memeriksa apakah masih ada kepeng tersisa di dalamnya. Ternyata hanya pasir yang tersisa di dalamnya. Tapi ia tidak akan pernah bersedih karena hal itu. Tidak heran ia bisa hidup seorang diri, bocah yang berumur sekitar 15 tahun itu selalu mencari kayu bakar di hutan kemudian dijual ke pasar untuk mendapatkan kepeng dan membeli keperluan sehari-harinya (kepeng :  logam impor dari Tiongkok berbentuk bulat, ditengahnya terdapat lubang persegi empat). Dengan mudah ia mengumpulkan kayu-kayu bakar menggunakan seruling yang ia tiupkan sehingga anginnya membentuk tornado kecil yang membuyarkan debu-debu di sekitarnya. Pesan penggugah hidup dan sebuah seruling jingga adalah peninggalan kakeknya yang paling berharga. Selain serulingnya ajaib, ternyata juga bernada indah dan merdu saat si bocah meniupnya. Angin  itu mampu menerbangkan kayu-kayu kering dan menumpukkannya hingga menggunung. Si bocah pun tersenyum kegirangan karena berhasil mengumpulkannya, dedaunan kering pun berjatuhan. 

Suatu hari di hutan, ia melihat dua orang, laki-laki dan perempuan yang mungkin sepasang kekasih muda sedang berburu binatang di hutan tempat si bocah mencari kayu. Sang gadis berparas cantik berdagu lancip dan sang pria bertubuh lebih sedikit besar dan lengannya terlihat tangguh. Sang gadis sangat pandai mengunakan panahnya, berambut hitam pekat panjang dengan ikatan ekor kuda dan kedua pundaknya hingga lutut kakinya berbalut selendang berwarna kebiruan berajut bunga. Ia berlari dan memanah dengan penuh percaya diri dan mengenai kijang bidikannya. Sepertinya ia memang sangat terlatih dalam memanah. 

Sang pria yang berambut jabrik agak panjang berikat kepala merah itu ternyata bertenaga sangat kuat, terlihat dari separuh tangannya yang berbalut kain merah dan menggenggam kuat kapaknya. Wajahnya sangat mirip dengan gadis itu. Apakah mereka itu pasangan kekasih? Si bocah hanya menduga-duga dalam hatinya. Si bocah mulai membandingkan  kedua wajah mereka yang nampak mirip. 

Pria yang dilihatnya itu mampu menebas pohon hanya beberapa kali tebasan dengan kapaknya dan menjulurkan pohon itu sehingga binatang buruan mereka tidak bisa kabur. Si bocah melihatnya diam-diam di sebuah dahan pohon mangga besar karena hanya ingin mengamati dan tidak ingin mengganggu aktifitas mereka. Sepertinya si bocah sangat menikmati pemandangan dari pohon itu, sambil memetik sebuah mangga yang sudah kekuningan kemudian ia kupas mangga itu dengan pisaunya dan memakannya perlahan.

Si bocah hampir melupakan kedua pemburu itu karena menikmati mangga yang dimakannya. Ia melihat mereka kembali dengan terkesima, terlebih saat melihat gadis berambut ekor kuda itu. Ia semakin perlahan mengunyah mangga di mulutnya. Rambutnya yang lebat dan hitam pekat berurai saat berlarian mengejar buruannya yang masih bisa berlari terkena anak panahnya. Warna busurnya yang jingga membuatnya tersenyum dan menambah daya tarik wanita itu. Sepertinya si bocah memikirkan sesuatu yang menyenangkan sambil melihat seruling yang digenggamnya. Sepertinya si bocah merasa tidak lagi hidup sendiri lagi di hutan kayu itu.

Ghra…ghra…raungan dan geraman dari macan yang kelaparan terdengar menakutkan dan mengejutkan mereka. Sekumpulan macan buas yang kelaparan lainnya melompat di hadapan mereka dan tampak tatapan kejam ingin memangsa mereka. Si bocah terkejut melihatnya dan segera membuang biji mangga itu. Mereka berdua tampak kewalahan menghadapi macan-macan itu karena hanya berbekal sebuah kapak dan busur panah sedangkan macan-macan itu berjumlah tiga ekor. Anak-anak panah wanita itu hanya mengenai salah satu macan itu tapi ia sudah  kehabisan anak panahnya karena macan-macan itu sungguh pandai mengelak melompat-lompat dengan cepat. Macan yang terpanah itu tidak lengah karena anak panah hanya menancap di ketiaknya. Macan itu bangkit kembali dengan tatapan yang lebih tajam dan meraum menyengirkan taringnya lebar-lebar. 

Macan-macan kelaparan itu berjalan mondar-mandir menunggu pria berikat kepala merah kelelahan mengayunkan kapaknya. Ayunan kapaknya membuatnya berkeringat deras. “Sial…biasanya macan-macan ini tidak pernah kemari…” Ucapnya terengah sambil berhenti mengayunkan kapaknya. “Awas kakang!” Seru wanita itu. Macan itu mencari kesempatan bagus untuk menerkam saat pria itu berhenti mengayunkan kapaknya. Tersadar, ia pun mengayunkan kembali  kapaknya dengan tergopoh. Kapaknya mengenai salah satu kepala macan hingga kapan itu terlepas dari tangannya. Namun serangan itu hanya membuat si macan semakin marah karena kepalanya terluka. 

“Sepertinya macan-macan ini terganggu oleh sesuatu kakang!” Seru gadis berambut panjang itu. “Sepertinya begitu…” sahut pria berikat kepala merah sambil bersiap dengan pukulannya karena salah satu macan akan menerkamnya. “Setidaknya aku tidak melupakan ajaran kakek!” Serunya sambil memukul kepala macan sekerasnya dan membuat salah satu macan tersungkur dan tergopoh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “O..oo…” lanjutnya terkejut karena dua teman macan lainnya mengeluarkan hawa panas dengan tatapan tajam. Macan-macan itu mengeluarkan energi tenaga dalam yang membuat mereka terpental dan tidak berkutik meskipun berusaha melawan.  

Sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi menggunakan tenaganya untuk melawan semua macan-macan itu. “Mungkin saatnya aku harus turut campur.” Ucap Si bocah. Ia meniup serulingnya perlahan memanggil angin kencang di sekitar macan-macan itu dan mengacaukan pandangan mereka. “Ini kesempatan kita pergi dari sini, Santika!” Jelas pria berikat kepala merah itu. Akhirnya mereka berdua pun berhasil kabur dari macan-macan itu tanpa berfikir panjang angin apa yang menolong mereka itu. Mereka meninggalkan hutan melaju kencang dengan menaiki seekor kuda tanpa membawa binatang buruannya. Tampaknya mereka juga meninggalkan salah satu kudanya. “Baguslah…mereka pergi begitu saja. Setidaknya aku akan makan daging kijang gratis malam ini.” Ucap si bocah sambil menyelipkan kembali serulingnya dan melihat kijang buruan yang ditinggalkan. Macan-macan itu terlihat pusing menggeleng-gelengkan kepalanya dan meninggalkan tempat itu dengan terseok tanpa melihat kijang terpanah yang tersedia siap santap itu.

Malam di hutan yang tidak begitu rindang, Si bocah membakar kijang yang terpanah itu kemudian melahap daging kijang bakar itu. Sesaat ia berhenti melahapnya dan mengamati anak panah wanita itu yang sedang ia pegang. Sejenak ia mengingat wajah dan rambut pemilik anak panah itu. “Sepertinya aku akan sendiri lagi di hutan ini.” Ucapnya. Tidak lama ia mengamati anak panah itu, kemudian ia menancapkannya tepat di depan api unggun. Segera ia berdiri berballik badan meninggalkan api unggun dan kijang bakar yang  terlihat masih bisa disantap oleh beberapa orang lagi. “Setidaknya aku berbaik hati pada macan-macan yang sudah berusaha keras mencari mangsa.” Jelasnya.

Rupanya si bocah tidur berpindah-pindah dari serambi rumah satu ke serambi rumah yang lain,  menunggu pemilik rumah sudah tertidur. Hembusan angin yang tiba-tiba menerpa wajahnya membuat si bocah terjejut. “Baiklah…sesekali aku akan pulang ke rumah menengok peninggalan kakek untuk merawatnya. Untuk saat ini sepertinya aku lebih menikmati hidupku yang serba apa adanya di desa Rawaloka.” Jelas  si bocah di sebuah serambi rumah yang tak dikenalnya. 

Ia menggeletakkan tubuhnya dengan santainya berbantal kedua telapak tangannya. Ia mengira pemilik rumah sunyi yang serambinya ia tiduri sudah terlelap, ternyata  pemiliknya baru pulang dan kedatangannya menyebarkan bau menyengat tercium dari kejauhan. Si bocah mengendus-endus bau apa itu sebenarnya dalam kondisi mata yang sedikit mengintip dalam kegelapan. Seseorang menendang si bocah sampai terlempar dari serambi rumah itu, “Pergi kau! Jangan mengotori serambi rumahku! Kau tau aku? Aku adalah pemimpin produksi arak terkaya di desa ini! Tidak pantas kau tidur dirumahku meskipun hanya di serambi, Hm hm hm…” Jelasnya sambil menenggak minuman dalam kendi kecil yang dipegangnya kuat-kuat. “yah…seandainya aku bisa tidur di sini…aku akan pergi.” Sahut si bocah sambil menepuk-nepuk sekujur tubuhnya karena kotor tersungkur di tanah.

“Kau pikir kau mau apa di rumahku!” Seru pemabuk bertubuh klimis itu berbicara dengan nada seok-seok dan tertawa terpingkal. Si bocah membalasnya dengan meniup Seruling Jingganya sehingga pemabuk itu berputar-putar pada pusaran angin kecil dari seruling jingga dan membuat pemabuk itu semakin mabuk dan pusing. “Dasar pemabuk, bengis terhadap diri sendiri! Perusak generasi penerus bangsa dan kerajaan! Orang sepertimu jelas tidak akan mampu berpijak pada kaki sendiri.” Jelas bocah itu. Orang itu terseok kemudian ambruk tak sadar.

Tak masalah baginya jika atapnya adalah langit dan lantainya adalah bumi. Malam itu sengaja ia baringkan tubuhnya di atas batu besar di bawah rembulan indah yang terlihat seperti sedang memimpin para pasukan bintang yang berkilauan. “Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa memejamkan mataku ya. Ah…padahal Aku ingin sekali istirahat dan tertidur di malam yang dingin ini.” Ucapnya sambil memandangi bintang dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. “Kakek, aku akan menentukan takdirku dan tidak akan pernah berpijak pada kemungkaran. Bulan dan bintang menjadi saksi perkataanku malam ini.” Ucapnya. Tidak ada mendung tidak ada hujan, si bocah terkejut ketakutan tiba-tiba kilat petir berkilauan dengan suara yang memecahkan telinga bersamaan dengan berakhirnya kata-kata si bocah. Dinginnya malam yang menusuk hati itu sampai-sampai tidak terasa olehnya karena rasa takut itu.

Hari-harinya mencari kayu di hutan selalu memberikan hasil yang memuaskan. Kayunya kering menggunung dalam keranjang yang ia gantungkan di punggungnya. Di Hutan yang sama setiap harinya.  Ia letakkan keranjangnya kemudian melompat ke sebuah dahan pohon mencari posisi yang nyaman untuk bersandar. Ia memeriksa sekelilingnya siapa tahu gadis berambut ekor kuda itu datang lagi ke tempat ini. Ia melepaskan kuda si gadis dan menepuk tubuhnya sehingga kuda itu lari sekencangnya entah ia tahu arah tujuan atau tidak. “Sampaikan salamku pada Santika kuda hitam!” Seru si bocah. “Mungkin mereka tidak akan berani lagi datang kemari karena macan-macan itu.” Lanjutnya. Ia kembali meniup serulingnya untuk menghilangkan kegerahannya di atas pepohonan yang rindang dihujani bintik-bintik sinar matahari dari sela-sela daun. “Suatu saat aku pasti bertemu dengan kedua orang tuaku di tempat ini. Aku yakin mereka masih hidup tapi entah dimana keberadaan mereka sekarang.” Ucapnya dalam hati sambil meniup serulingnya. 

Sekalinya ia lapar saat di hutan sambil mengelus perutnya yang keroncongan, ia menggunakan kayu bakar temuannya untuk melempar buah. Berputar-putarlah kayu lemparannya seperti  bumerang tepat sasaran pada tangkainya, sehingga buah yang ia dapat terjatuh dan dapat ditangkapnya. Sambil mengunyah buah mangga tangkapannya, ia mendatangi sebuah pasar yang ramai dengan para penjual yang bergantian menawarkan barang dagangannya, dari benda-benda kecil pernak-pernik perhiasan hingga guci-guci indah ukiran batik yang mengkilat. “Hei nak…tubuhmu tampak hangat dan kuat, kau pasti kaum pundagra. Aku menawarkan sebuah ikat naga yang sangat langka jika kau mau.” Jelas seorang pedagang tua dengan mata yang sangat sipit. “Maaf kek, aku hanya ingin menjual kayu, bukan membeli barang berharga seperti itu.” Sahut bocah itu sambil merapat ke tempat pedagang yang mau membeli kayunya. 

“Hei…!” Seru si bocah. Tiba-tiba saja begitu si bocah menurunkan kayu yang digendongnya, seseorang berlari kencang dan menabrak si bocah sehingga kayu yang dikumpulkannya membuyar. Si bocah dan seorang yang berlari itu pun terjatuh. “Pencuri!” Seru seseorang dari kejauhan. Warga pun segera mendekati orang yang diteriaki pencuri itu. Wajahnya tampak bengis dan berkumis karena sebuah kotak yang berisi perhiasan miliknya juga terjatuh berhamburan, orang itu tampak sedang di kejar-kejar oleh seorang paruh baya yang segera mendekatinya. Orang bengis itu segera membereskan perhiasan curiannya. Namun membuang kembali perhiasannya dan hanya membawa kotak perhiasannya saja. Ia pun berhasil kabur dengan cepatnya. Langkahnya seperti sepuluh kali langkah manusia biasa.

Si bocah tidak ragu mengambil sebuah batang kayu yang dikumpulkannya, membidikannya tepat di kaki orang bengis itu. Syut! Terlemparlah batang kayu itu seperti ia melemparkannya pada buah di hutan. Sekalipun orang bengis itu berlari cepat, ia tak dapat menghindari lemparan si bocah meskipun beberapa kali ia berusaha mengelak. Brak! Kepala orang itu terkena batang kayu yang terlempar si bocah dan tersungkur. “Ups…! Ternyata bidikanku kurang tepat.” Jelas si bocah. Seorang paruh baya pun mendekatinya di antara kerumunan orang berlalu-lalang dan melihat apa yang terjadi pada orang berwajah bengis yang di teriaki pencuri itu. “, tuan Santa, kita  harus menyerahkan pencuri ini pada tentara kerajaan untuk dihukum sesuai perbuatannya!” seru seorang warga yang kesal pada orang paruh baya. “Kenapa kau sangat menginginkan kotak ini dan hanya meninggalkan isi di dalamnya?” Tanya tuan Santa sambil menarik baju pencuri bengis itu. “Apakah aku terlihat seperti membutuhkan perhiasan, pecundang?” Ketusnya. Kotak perhiasan itu pun tergeletak begitu saja. “Yah…pecundang yang pengecut tidak akan pernah bisa melindungi keluarganya dalam peperangan!” Lanjut pencuri itu. “Sayang sekali, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan pencuri!” Sahut tuan Santa sambil membangunkan si pencuri dengan menarik baju sekuatnya. “Awas, paman!” Seru si bocah pada tuan Santa. 

 Bret! Baju si pencuri sengaja ia robek dengan pisau di tangannya dan berusaha melarikan diri lagi dengan cepatnya. “Narakya tidak akan pernah menang melawan kaum pundagra, pecundang!” Seru pencuri itu kemudian melambaikan tangannya dan menggunakan sebuah kuda-kuda. Brus! Si pencuri mendorongkan kedua tangannya pada tuan Santa dan mengeluarkan sebuah energi tenaga dalam untuk menjatuhkan tuan Santa dan beberapa orang yang berusaha menangkapnya. “Biarkan dia pergi!” Seru tuan Santa pada beberapa orang yang berusaha mengejarnya, dan pencuri itu pun berhasil kabur.  

Si bocah memperhatikan tuan Santa yang sedang memunguti perhiasan-perhiasannya dan menaruh kembali ke dalam kotaknya. Mungkin dia adalah pemilik kedai yang ada si sebrang tempat ia menjual kayunya itu. Terlihat dari  kalung yang ia gunakan berlambang anak panah, sama dengan papan tanda yang terpasang di atas pintu kedai. “Baiklah, semuanya! Berhati-hatilah menyimpan garang berharga kalian.” Seru tuan Santa, berwajah memikat dan terlihat mudah akrab dengan sapaannya pada semua orang. “Tuan, jangan sampai perhiasan anda mengundang perhatian.” Sapa tuan Santa pada seseorang yang memakai beberapa kalung emas di lehernya. “Aku adalah keluarga pejabat kerajaan.” Sahutnya. “Pencuri tidak peduli status social, tuan.” Jelas tuan Santa menasihati. 

“Hei nak, kau butuh sesuatu!” seru tuan Santa pada si bocah yang sudah menjual semua kayu bakarnya. “Kudengar kau sangat giat bekerja. Mereka bilang kau pandai mencari ikan dan mencari kayu dan butuh pekerjaan tetap. Terima kasih, kau menyelamatkan barang-barang berhargalu.” Ucapnya dengan wajah berseri.  “Tapi sepertinya dia tidak menginginkan barang berharga, paman.” Jelas bocah itu. “Orang-orang di sini memanggilku tuan Santa. Bagaimana jika aku membantu seorang Satria Punggawa mendapatkan harga yang bagus untuk menjual kayu bakarnya setiap hari? Begitu mereka memanggilmu, bukan?” Tanya tuan Santa. “Maksud paman, paman akan memperkerjakanku di kedai paman?” Tanya Satria. “Kau pintar, nak. Aku suka gaya bicaramu. Kau pasti bisa jadi pedagang besar. Baiklah, kau bisa bekerja di tempatku dan bisa tinggal di kedaiku sehingga kau tidak perlu lagi berpindah-pindah dari serambi satu ke serambi yang lain. Kita tidak boleh menyia-nyiakan peluang, bukan?” Lanjut tuan Santa sambil berbisik mendekatkan kepalanya. 

Naluri tuan Santa benar-benar kuat dalam urusan keuntungan dengan wajah berseri-seri seperti memikirkan mendapatkan banyak keuntungan memuncak. “Di kerajaan ini, sejak penundukan Majapahit, kita tidak mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak. Banyak anak-anak terlantar tak ada yang memperhatikan mereka. Para petani, sebagian besar hasil pertaniannya harus di serahkan pada kerajaan dengan bayaran seadanya, atau kita bisa dipenjarakan jika tidak memberikan hasil pertanian mereka. Sejak saat itu aku membuka usaha kedai.” Jelas tuan Santa hingga sampai di depan pintu kedainya. “Inilah rumahku syurgaku, puluhan tahun aku menempatinya, harum lantai kayu cendana sepertinya tidak pernah bisa hilang. Rumahku cukup luas untuk dihuni satu orang lagi, bukan?” Lanjutnya membujuk. “Paman tinggal seorang diri di kedai sebesar ini?” Tanya Satria. “Kedua anakku sedang menginap di rumah bibinya. Mereka tidak ingin menjadi prajurit, dan aku sangat tidak ingin kau menjadi pemuda yang dipaksa menjadi prajurit kerajaan. Mulai sekarang ini adalah rumahmu.” Jelas tuan Santa meyakinkan. “Aku sangat berterima kasih, paman.” Ucap Satria. Ia pun sekarang tinggal di kedai itu membantu tuan Santa menjalankan usaha kedainya. 

“Kau tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk memberontak!” Seru seorang prajurit kerajaan sambil merantai seseorang. “Sepertinya para prajurit tidak habis-habisnya menangkap orang yang diduga sebagai anggota pasukan gandrayaksa baru. Mulai sekarang kau akan terbiasa dengan keributan seperti ini, nak.” Jelas tuan Santa dari balik jendela kedai memperhatikan prajurit itu. “Aku sering menghadapi situasi yang lebih buruk, paman.” Sahut Satria. “Seburuk ituah?” Tanya Tuan Santa. “Baiklah, bagaimana kau bisa hidup seorang diri? Dimana orang tuamu?” Lanjutnya penasaran. “Terima kasih, paman.” Jawabnya sambil menatap tuan Santa seolah baru kali ini ada orang yang memperhatikannya…dan mulailah ia bercerita.

Satria adalah bocah yang sangat gigih dan memiliki pribadi yang berani dan tangguh sejak kematian kakeknya yang kemudian kepribadian itu mempertemukannya dengan tuan Santa. Ia tumbuh seorang diri dan butuh diperhatikan, tapi ia memperhatikan kesulitan orang lain untuk memberikan makan mereka yang kelaparan selepas ia selesai dengan pekerjaannya di kedai. Ia layaknya malaikat bagi mereka. Yatim piatu tanpa  kedua orang tua yang mendidiknya. Sepertinya pribadinya yang agung itu telah dididik oleh Yang Maha Agung saat ia tumbuh remaja seorang diri. 

Pekerjaannya membuat senang tuan Santa, semua pekerjan yang dilakukan seperti mencari kayu, membersihkan kedai setiap pagi, dan menyajikan makanan dengan santun. Yah…tentu saja Satria tidak lupa menggunakan seruling jingga tanpa sepengetahuan orang lain untuk mempermudah pekerjaannya, merapikan meja makan pelanggan dan benda-benda berat lainnya. Beberapa hari ini tuan Santa sangat senang karena pekerjaannya menjadi ringan dan keuntungan kepeng hingga meluberi laci tempat penyimpanannya. Para prajurit kerajaan Gandrayaksa pun nyaman dengan  penyajian Satria dipagi hari sebelum ia sampai di istana kerajaan.

Sepulangnya Satria di kedai dengan kayu-kayu kering dipunggungnya yang ia kumpulkan dari hutan, ia terkejut dari kejauhan melihat dua orang remaja yang pakaiannya tidak asing di dalam kedai. “Oh..Satria, inilah mereka, Dewi Santika dan Sadewa. Mereka tidak pernah bosan menginap di rumah bibi mereka.” Satria terdiam beberapa saat karena ternyata mereka adalah dua orang pemburu kijang di hutan kayu itu. “Kau juga bisa mengajak mereka pergi mencari madu ajaib yang kau ceritakan itu.” Bujuk tuan Santa pada Satria. “Madu apa? Kenapa kami harus ikut dengan orang yang baru saja kami kenal, ayah?” Sela Sadewa. “Ayah sudah mengenalkan kepada kalian seharian ini pada kalian, bukan? Ayah harap dia bisa mengajarkan sesuatu yang menarik pada kalian. Ayah berharap kalian bisa meneruskan usaha ayah dari pada kalian harus menjadi pendekar seperti kakek kalian yang hidup seorang diri.” Jawab tuan Santa. 

“Sebenarnya…aku tidak pandai berbicara dengan orang yang baru kutemui, tapi kuharap aku bisa menunjukkan kalian tempat yang menarik pada kalian.” Jelas satria. “Apa aku terlihat seperti orang yang ingin mengenalmu?” Tanya Sadewa sinis. “Itu ucapan yang sangat sopan, kakang.” Sahut Santika menyindir. “Kalian pernah mendengar madu ajaib?” Tanya Satria. “Kedengaranya cukup bagus.” Sahut Sadewa masih sinis. “Baiklah-baiklah…kembalilah kalian sebelum petang, untuk hari ini biar saja Kembor yang membantu ayah membereskan kedai." Lanjutnya sambil merangkul mereka. “Oh…Sepertinya ayah lebih terlihat sedang mengusir kami dari pada berteman dengan bocah ini.” Pikir Sadewa. “Kau tidak ingin membuat ayah marah, kakang.” Ucap Santika menasihati.  

 Cita-cita kalian menjadi pendekar itu memang sungguh mulia, itu karena kakek kalian pandai menginspirasi. Tapi tidak seharusnya kekesalanmu pada ayah kau limpahkan begitu saja.” Jelas tuan Santa. “Ayah, aku yakin kakek mempunyai cara mengajari kami menjadi pendekar.” Sahut Sadewa meyakinkan. "Aku juga sangat ingin ingin ingin pergi ke rumah kakek Tanca, ayah. Seharusnya biarkan dia yang ikut bersama kami ke bukit naga kembar bertemu kakek." Jelas Santika meyakinkan. “Yah…ayah yakin suatu saat kakek kalian akan menurunkan ilmunya pada kedua cucunya ini jika sudah tiba saatnya.” Lanjut tuan Santa memegang pundak Santika dan Sadewa. “Suatu saat.” Lanjutnya meyakinkan mereka. 

”Kenapa kakek hanya mengabdikan diri untuk melatih anak-anak istimewa keturunan pejabat kerajaan?” Tanya Sadewa mengeluhkan. “Itu karena mereka memiliki energi naga dan setelah itu mereka harus mengabdi pada kerajaan.” Jelas tuan Santa. “Bukankah aku adalah bagian dari anak istimewa itu, ayah?” Tegas Sadewa dengan mengunyah camilannya. “Bukankah kau tidak mau menjadi prajurit? Kita sudah membicarakannya berkali-kali, tunggulah sampai kakekmu yang memutuskan untuk datang mengajrkanmu.” Tegas tuan Santa. “Ayolah, hentikan pembicaraan tentang menjadi pendekar. Bagaimana kabar bibi kalian?” Tanya tuan Santa. “Bibi menitipkan salam untuk ayah. Bibi juga tahu kalau ayah mengizinkan seorang anak untuk tinggal di kedai. Bibi juga yakin cepat atau lambat aku bisa mempelajari jurus-jurus kakek. Setidaknya bibi tetap menyemangati kami, ayah." Jelas Santika pada ayahnya sambil menuangkan air minum dari kendi ke gelas yang terbuat dari bambu. “Dia hanya pandai menghibur kalian.” Sahut tuan Santa.  Ups, Santika menjatuhkan gelas yang lain dari atas meja. Dengan tangkas Sadewa menangkap gelas yang jatuh itu menggunakan tangan kirinya tepat sebelum gelas itu menyentuh lantai. Satria pun kagum melihatnya. “Bagaimana kau bisa melakukannya?” Tanya Satria. “Kau akan menemukan jawabannya saat kau bertemu dengan kakekku.” Jawab Sadewa. “Yap..tapi kita tidak akan menemukan jawabannya hari ini, bukan?” Jelas tuan Santa. “Ayah, tolonglah…” Ucap Santika memohon. “Yang benar saja, kalian baru pulang dari rumah bibi kalian. Hari ini waktunya anak seumuran kalian pergi berpetualang, mencari burung, menangkap kura-kura, atau bermain dakon. Pergilah kalian bersama Satria. Kita keluarga sekarang. Aku percayakan semuanya pada pemuda ini.” Lanjut Tuan Santa sambil memegang pundak Satria yang diam saja melirik tuan Santa. “Memasukkan kerikil ke lubang yang satu ke luabang lainnya, yang terbanyak mengumpulkan kerkil dialah yang menang. Oh yang benar saja, Dakon itu permainan anak perempuan, ayah.” Sela Sadewa.

“Sejak masa pemerintahan raja Narapati Saroja, kerajaan Gandrayaksa diyakini merupakan tempat lahirnya kekuatan para pendekar yang kekuatannya berasal dari sepasang naga kembar penjaga tanah bumi. Orang yang memiliki energi naga itu dalam tubuhnya akan mampu mengembangkan tenaga dalam dengan kekuatan yang menakjubkan karena mengeluarkan cahaya bermacam warna dan berhawa panas melalui olah kanuragan. Ini adalah bagian cerita yang menarik untuk kalian ketahui. Energi naga berasal dari sepasang naga kembar ribuan tahun lalu yang berusaha menyelamatkan tanah bumi dari kehancuran karena datangnya sebuah batu besar hampir berukuran separuh tanah bumi. Sepasang naga kembar yang kelahirannya  tidak pernah tercatat dalam sejarah menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk mengembalikan batu besar ke langit luas sehingga tanah bumi bisa diselamatkan. Tapi salah satu naga kembar itu tidak mampu bertahan karena kehilangan seluruh kekuatannya. Ia tidak mampu lagi melindungi tanah bumi kemudian pergi meninggalkan naga pasangannya ke langit lepas dan kemudian menghilang dari pandangan. Naga yang tinggal di bumi tidak mampu hidup dan bertahan dalam kesendirian tanpa naga pasangannya, ia hanya meraung kehilangan. Akhirnya naga itu mengakhiri tugasnya sebagai penjaga bumi dan melepaskan seluruh kekuatannya menjadi energi-energi yang berterbangan di langit lepas. Energi naga yang berjumlah ribuan dan terus berkembang biak itu merupakan reinkarnasi kekuatannya.” 

“Semakin lama terlepas di langit luas, energi-energi naga tersebut mati tidak mampu bertahan di bumi dan mati. Mereka membutuhkan tuan, mereka yang masih hidup harus mencari tempat berlindung yang tepat untuk mempertahankan hidup mereka. Mereka mencoba berlindung ke dalam tubuh bermacam-macam makhluk hidup seperti pepohonan, binatang air, binatang udara dan binatang darat, namun tidak menemukan kehidupan mereka dan tetap mati di dalam makhluk-makhluk hidup itu. Setelah sekian lama mencari tempat berlindung, mereka menemukan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang bisa mereka jadikan tempat berlindung. Tidak lama setelah seluruh energi naga mendapatkan tempat berlindung yang tepat, manusia menyebutnya sebagai naga putih dan lahirlah pendekar-pendekar yang memiliki energi naga dan dapat mengolah tenaga dalam mereka dengan melatihnya melalui olah kanuragan. Manusia yang memilki energi naga menggunakan ilmu kanuragan mereka untuk membantu kaum yang lemah dan membutuhkan sehingga mereka mendapatkan sebutan pendekar berenergi naga putih atau pendekar berilmu putih.”

“Aku sudah mendengar cerita itu dari kakek, ayah.” Sela Sadewa. “Tapi kau belum tau bagian terpenting dari cerita ini.” Tuan Santa lanjut bercerita. “Tidak disangka, pasangan naga kembar yang menghilang di langit lepas kembali ke bumi. Ia merasa kehilangan dan terkhianati oleh naga pasangannya. Naga itu melakukan hal yang sama seperti naga putih, melepaskan seluruh kekuatannya di langit lepas. Sayangnya energi-energi naga yang terlepas adalah energi naga hitam yang murka karena perasaan terkhianati. Kini mereka menjadi musuh. Manusia menyebutnya energi naga hitam, pemiliknya disebut pendekar berilmu hitam.”

“Muncullah pendekar-pendekar jahat yang merusak dan menindas kaum yang lemah, itulah sifat alami pendekar berilmu hitam. Terjadilah pertarungan antara banyak pendekar berilmu hitam dan pendekar berilmu putih dan akan terus berlanjut selagi masih ada energi naga. Manusia tidak akan pernah tau dimana keberadan energi naga kecuali energi naga sendiri yang memilih sendiri manusia tersebut sebagai tempat berlindung mereka. Hanya sesama pendekar yang bisa  mengetahui keberadaan energi naga ada dalam tubuh seseorang atau tidak.” Cerita tuan Santa. 

“Kisah cinta yang tragis. Itukah bagian pentingnya, ayah?” Sela Sadewa. “Bukan, untuk menjadi pendekar, kalian butuh energi naga itu. Tidak hanya butuh tangan yang kuat ini.” Lanjut tuan Santa sambil menepak tangan kiri Sadewa. “…dan seingat ayah, kakek kalian tidak pernah melihat ada energi naga di  tubuh kalian. Sejak pemerintahan Sakabunggawa, orang-orang tidak bisa masuk di bukit naga kembar dengan mudah untuk mengundang energi naga dan mendapatkannya, kecuali mereka harus tunduk pada Sakabunggawa setelah mendapatkan energi naga.” Jelas ayah mereka dengan mata meyakinkan. Mereka hanya terdiam sejenak terbawa emosi mendengar cerita itu. 

Klotak-klotak, suara kepeng berbenturan. Tuan Santa kembali melanjutkan pekerjaannya menyimpan kepeng ke dalam lacinya. “Kini aku semakin tidak paham apa maksud ayah menceritakan kisah itu.” Jelas Sadewa. “Kakek kalian menolak untuk melatih ayah karena ayah tidak memiliki energi naga. Tapi sayangnya, ibu kalian menemukan takdirnya sebagai pendekar. Itulah  sebabnya kalian kehilangan ibu kalian karena dia menjadi pendekar yang mempertahankan Gandrayaksa dari serangan Majapahit lima belas tahun yang lalu...” Ucapnya menahan haru sambil duduk menikmati minumannya. “…Kemudian, ayah hanya menjadi seorang pemanah, pemanah yang hebat di jajaran prajurit Gandrayaksa. Tapi ayah tidak begitu yakin untuk setia pada raja Sakabunggawa. Tidak lama dari penundukan Gandrayaksa oleh Majapahit, ayah mengakhiri pekerjaan ayah dengan membuka kedai ini. Percayalah, ayah ikut senang jika kalian bisa menjadi pendekar tapi ayah tidak akan senang jika ayah harus kehilangan kalian seperti ayah kehilangan ibu kalian.” Tegas Tuan Santa perlahan.

“Ayah sudah cukup kelelahan untuk kehilangan. Baiklah, ayah tidak akan membiarkan kalian membawa kuda lagi. Terakhir kalian membawanya, kalian menghilangkan salah satu kuda kesayangan ayahnya di hutan!” Lanjut ayahnya menyeru seakan menyembunyikan kesedihannya. “Kurasa itu menjelaskan kenapa kalian harus menunda pergi ke rumah kakek Tanca.” Jelas Satria.  

“Hiya…!!! Seru seorang kakek tua berambut menungging ke atas itu menengadahkan telapak tangan kakannya mencakar langit dan membuat petir-petir kecil menyelimutinya, menyilaukan dan menggempurkan saat petir-petir itu menghanguskan tanah pijakannya, menghancurkan batu-batu kecil di sekitarnya yang melayang. Suara petirnya bergemuruh mengusir burung-burung dari pepohonan. Sesaat ia menghentikan seruannya dan menurunkan telapak tangan yang mencakar itu. Warnanya bercahaya kebiruan dan semakin meredup dipandanginya. “Aku sudah sepenuhnya menguasai jurus ini. Pusaka itu akan segera menjadi milikku…” Ucapnya.  “…dan karena kau gagal menjalankan rencanaku, aku harus mengambil milikku kembali.” Lanjutnya pada pencuri perhiasan itu. Kakek itu melebarkan dan mengarahkan telapak tangannya tepat mengenai tubuh pencuri itu. “Agh…” Si pencuri itu semakin lama semakin pucat dan tubuhnya semakin mengasap. Tidak lama kemudian matanya terbelalak dan tubuhnya ambruk kaku tak akan sadarkan diri lagi.  

Mereka bertiga pergi meninggalkan kedai menjelang sore itu. Sadewa masih saja mengingat pesan tuan Santa dan keras berfikir mencoba untuk mengerti kata-kata ayahnya. “Sepertinya kalian sangat terbawa perasaan dengan cerita ayah kalian.” Jelas Satria tersenyum. “Aku yakin kalian akan menemukan impian kalian suatu saat nanti, aku akan menunjukkan jalannya pada kalian! Meskipun aku bukan pendekar, aku bisa mengalahkan seorang pendekar dengan satu tiupan saja.” Jelas Satria. “Oh benarkah? Energi naga tidak semudah itu tiba-tiba masuk ke dalam tubuhmu, kan? Aku ingin tau apa yang bisa ditunjukkan anak baru ini jika aku menantangmu bertarung sekarang.” Jelas Sadewa dan membuat perjalanan mereka berhenti sejenak. “Ada yang mau menjelaskan padaku kemana arah pembicaraan kalian?” Tanya Santika menghentikan ocehan Sadewa dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka meninggakan Sadewa. “Kau adikku, seharusnya kau membelaku, Santika.” Serunya.  

“Kakekku tidak pernah mengatakan kalau aku punya energi naga, tapi aku akan bertarung jika aku punya alasan untuk  bertarung. Jadi, kenapa kalian ingin sekali menjadi pendekar jika kalian belum memiliki energi naga? Apa kalian punya alasan untu menjadi pendekar? Kalian tau, ketika kalian menjadi pendekar, kalian akan punya banyak musuh dan akan selalu bertemu dengan pertarungan, dan kurasa kita semua tidak akan menyukainya.” Jelas Satria. “Oh..Selain sok tau, kau juga semakin banyak ingin tau rupanya. Sayangnya kau baru tahu kalau sebenarnya aku tidak suka gaya bicaramu dan aku tidak mudah akrab dengan orang yang baru satu jam kukenal.” Jelas Sadewa kesal. 

“Aku hanya ingin melindungi orang lain, bukankah banyak orang yang menjadi pendekar jahat?" Tanya Santika meyakinkan. “Kita bahkan tidak tahu mana yang baik dan mana yang jahat sampai kita benar-benar mengenalnya dengan baik, bukan?” Lanjut Sadewa menyindir. "Ya...tapi di dunia ini juga banyak orang yang baik yang bisa menunjukkan kita tempat yang menarik, bukan?” Sahut Satria meyakinkan. “Aku akan mengalahkan semua pendekar berilmu hitam jika aku telah mendapatkan energi naga itu.” Lanjut sadewa sambil memamerkan kuda-kuda bertarung seolah dia sudah pandai dalam olah kanuragan. 

“Aku mengakuinya. Sekarang, kalian bisa melihat sesuatu yang menarik." Jelas Satria sambil berlari kecil menuju sebuah pohon maja dan melihat apa saja di atasnya. Saking asyiknya Sadewa memperlihatkan gerakan-gerakan bela diri yang dia miliki, ia tidak menyadari kalau Satria dan Santika sudah meninggalkannya. ”Oh baguslah. Sadarkah kalian sudah mengacuhkan aku!...(diam sejenak)…dua kali!” Ucap Sadewa dengan ekspresi kesal sambil mengikuti mereka.

“Sejujurnya aku tidak tau apa istimewanya pohon maja ini?” Tanya Santika penasaran. Sesampainya di sebuah tempat yang dikelilingi pepohonan besar tak berpenghuni, mereka tertegun dengan besarnya pohon-pohon maja yang mengelilinya. “Sepertinya hanya kau yang pernah datang kemari. Mengerikan.” Jelas Sadewa menghampiri. Mereka tertegun memperhatikan sekelilingnya yang gelap dan rindang. “Bukan pohonnya yang istimewa. Lihatlah!” Jelas Satria sambil meneruskan pandangannya pada sarang lebah yang besar dan tergantung pada pohon maja besar itu. Sepertinya para lebah itu sangat tidak bersahabat.

Itu sarang lebah yang sangat besar. Percayalah, aku punya kenangan yang buruk  bersama lebah beracun.” Jelas Sadewa. “…dan aku yakin kakang tidak ingin bernostalgia dengan sengatan lebah beracun yang membuat kakang selalu di ranjang tidur beberapa hari dan tidak membantu pekerjaan ayah sama sekali.” Jelas Santika menyindir. “Hei…!” Sela Sadewa. “Mereka pastilah sangat berbahaya! Lihat sarangnya yang begitu besar dan mengerikan! Aku yakin sengatannya bisa membunuh kita. Jangan buat aku menyesal mengikutimu, anak baru! Dan aku mulai khawatir kalau macan-macan itu akan mendapatkan makan malamnya!” Seru Sadewa meyakinkan. “Tenanglah, aku sudah menyiapkan persembunyian yang aman, kalian akan melihat pertunjukan yang menarik…dan aku tidak akan memberimu kenangan yang buruk bersama macan-macan itu.” Jelas Satria sambil mengambil dahan pohon kering di sekitarnya.

“Tapi…jujur saja aku pernah menangani macan-macan itu dan membuat mereka menyerah.” Jelas Sadewa. “Lebih tepatnya kami berhasil kabur.” Tambah Santika. “Terserah!” Tegas Sadewa. “Kau gila!? Mau kau apakan kayu yang kau pegang itu?” Seru Sadewa melihat Satria bersiap melempar sarang lebah dengan kayu yang dipegangnya. “Aku tidak ikut campur jika terjadi apa-apa denganmu! Sembunyi, Santika! Sembunyi!...Perempuan duluan.” Jelas Sadewa sambil melihat parit yang cukup dalam. “Kenapa aku?” Tanya Santika meliriknya. Terlihat sifat kesal alamiah kakak beradik sebelum mereka melompat ke parit itu. “Oh…Parit ini mengingatkanku pada kematian.” Jelas Sadewa khawatir melihat dalamnya parit setelah Santika masuk ke dalamnya.

Satria berhasil melempar tepat sarang lebah itu. Sebuah kain terbang yang dipasang pada ranting pohon dengan tarikan jeratan tali melesat jauh tinggi setelah Satria memotong talinya. Lebah pun mengikuti baju itu karena bentuknya menyerupai manusia. Tentu saja ia juga menggunakan serulingnya untuk menerbangkan baju itu hingga terbang jauh dan mengelabui kawanan lebah itu. Angin semilir yang menyejukkan berputar di sekitar mereka karena suara seruling  merdu yang dimainkan Satria. Semilir itu hanya terjadi beberapa saat saja. Madu yang berwarna kuning keemasan dan segera menguap jika menyentuh tanah menetes deras. Satria bergegas mengambil dedaunan kelor untuk menampung madu yang menetes itu.
 
“Bagaimana dia melakukannya?” Tanya Sadewa penasaran melihat kain terbang yang dikejar oleh kawanan lebah. “Cobalah! Kalian harus meminumnya sedikit saja. madu lebah raja ini bisa melindungi kita dari segala macam racun. Tubuh kalian juga akan semakin kuat. Ayolah, pendekar hebat harus minum madu ini!” Jelas Satria bergegas mendekati mereka dengan madu yang sudah tertampung di daunnya. “Kau tau cerita menyedihkan tentang pohon Maja ini, bukan?” Tanya Santika sambil menapaki perlahan dinding parit dan keluar dari parit dibantu Sadewa yang sudah lebih dulu keluar. “Aku pernah mendengar ceritanya. Ratusan tahun yang lalu tiga orang pendekar hebat telah memperebutkan sarang lebah raja itu, mereka bertarung satu sama lain saling mengalahkan. Mereka sama-sama kuat, jadi tidak ada yang terkalahkan satu sama lain. Lambat laun mereka menyadari pertarungan mereka tidak ada gunanya dan mereka sepakat menghentikan persaingan dan meminum madu itu bersama-sama. Selanjutnya mereka menjadi sahabat dan sering bertemu kembali di tempat ini.” Jelas Satria setelah  minum madu dari daun yang dipegangnya. 

“Hingga pada suatu hari ada seorang penyihir gila mengacau tempat ini dan memiliki kutukan yang menakutkan. Ia bisa membuat pohon-pohon kecil di sekitar pohon maja raksasa ini berjalan menjadi monster. Tapi mereka tidak cukup kuat menghadapi ketiga pendekar itu…” Satria terdiam sejenak memandangi sarang lebah. “Lebah-lebah yang sangat tua. Tidak banyak orang yang berani mendekatinya selama ratusan tahun ini.” Lanjutnya. “Ratusan tahun? Aku punya cerita yang lebih menarik dari ceritamu.” Sentak Sadewa tidak percaya. “Itu cerita kakekku. Penyihir gila itu membawa sebuah pusaka sakti berbentuk besi panjang tidak beraturan tapi mampu memporak-porandakan seisi hutan. Untunglah para lebah masih tetap di tempatnya. Kau mau mencobanya?” Tanya Satria. “Apa hebatnya madu ini?” Tanya Sadewa ragu meskipun ia tetap mengambil madu itu dan mencicipinya sedikit. “Santika! Ceritakan sejarah madu ini pada anak yang sok tau ini!” Tegas Sadewa sambil mengenyam madu itu.

Kau yakin dengan ceritamu itu?” Tanya Santika penasaran. “Aku tidak yakin, tapi ini adalah cerita kakekku. Di bawah pohon maja raksasa inilah tempat bertemunya seorang pendekar dengan kekasihnya yang ingin dilindunginya dari penyihir jahat yang mengejarnya.” Tambah Santika. “A..ha… mungkin ceritamu yang paling benar, tapi yang paling benar adalah khasiat madu ini. Cobalah…” Jelas Satria. Sadewa menikmati lagi madu itu hingga ia tidak menyadari ia sudah terlalu banyak meminumnya. “Ehm…lumayan!” Ucap Sadewa merasa malu meminumnya. Ia masih saja mengenyam-enyam enaknya madu itu.

Santika juga meminum madu itu namun terkejut karena madu yang akan ia minum terlalu sedikit untuk bisa dikatakan minum. “Oh, benarkah...kakang tidak menyisakan madu untuk ayah.” Jelas Santika mengeluhkan daun yang dipegangnya tersisa madu sangat sedikit. “Manisnya seperti tidak pernah habis. Madu lebah tua ini rasanya sangat lezat. Baiklah, aku percaya padamu untuk yang satu ini.” Jelas Sadewa. “Kau minum terlalu banyak!” Satria terkejut karena madunya habis. “Em…memangnya kenapa jika aku minum terlalu banyak?” Tanya Sadewa yang masih hanyut dalam kelezatan madu itu. “Ah tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang sebelum kawanan lebah itu kembali.” Saran Satria sambil mendengar dengungan sayap lebah yang semakin mendekat.

“Terus awasi bukit naga kembar. Kita harus segera menemukan cara mendapatkan energi naga dari batu itu, bagaimanapun caranya. Jika kotak hitam dan batu naga bisa kita dapatkan, tidak ada lagi yang bisa mengalahkan keturunan Raja Gandrayaksa keturunan bangsa Majapahit.” Jelas Sakabunggawa sambil membelakangi seseorang yang tetap bersoja tanpa berani menegakkan kepalanya. “Baik Gusti Prabu, hamba akan mengirim Rajen untuk mengawasi bukit naga kembar. Seorang pendekar bernama Tanca yang cukup disegani sesepuh kerajaan tidak semudah itu bekerja sama untuk mendapatkan batu naga.” Jelas orang yang bersoja itu. “Akankah kita mengirim Jayapada padanya, Hasatungga?” Tanya Sakabunggawa. “Hamba rasa ada waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka, Gusti...dan mungkin kita akan melupakan sejenak dimana kotak hitam itu berada, karena saat ini kita sudah dekat dengan batu naga, Gusti.” Jelas Hasatungga.  

“Baguslah, kita tidak menyisakan madu untuk ayah.” Jelas Santika. Satria tidak mempedulikan perkataan Sadewa kemudian berhenti sejenak membeli sebungkus nasi di sebuah kedai kecil dalam perjalanan mereka pulang. “Oh…baguslah, hari sudah petang, kenapa kita berhenti di sini? Bahkan kau hanya membeli satu bungkus nasi.” Jelas Sadewa kesal sambil kembali melanjutkan perjalanan mereka. ”Bukankah lebih hemat kita makan di rumah saja? Maksudku, untuk menghemat pengeluaranmu.” Jelas Santika membujuk. 

Satria tidak menghiraukan lagi kata-kata mereka. Untuk apakah sebungkus nasi yang dibelinya beberapa kepeng itu membuat mere penasaran hingga  tibalah mereka di rumah kumuh seseorang. Rumah yang banyak sepertinya sudah tak layak huni. “Kita akan makan malam di rumah.” Jelas Satria sambil menunjukkan nasi bungkusnya. “Hentikan aku jika tiba-tiba aku ingin memukul wajahnya.” Tegas Sadewa pada Santika. “Jangan lakukan itu. Sudah kuingatkan!” Sahut Santika. 

Tok..tok..Satria mengetuk pintu rumah seseorang itu perlahan. “Siapa itu?” Suara seorang nenek ringkih. Satria mengetuk kembali, “Siapa itu?” Nenek itu bertanya lagi sampai tiga kali. “Dasar orang-orang Majapahit yang tidak punya tata krama terhadap orang tua.” Ucap kesal nenek itu. Satria mendengar langkah nenek itu lalu bersembunyi di balik dinding rumah kayu nenek itu. Sadewa dan Santika pun ikut bersembunyi. Nenek itu mendongokkan kepalanya keluar dari dalam pintu rumah. “Oh…Beraninya mereka meninggalkan sisa makanan untuk kucing di tempat ini.” Jelas nenek itu geram. Tetapi si nenek tua itu senang sekali begitu menyadari setelah membuka bungkusan makanan yang masih hangat itu. Ia melihat ke atas ke kanan dan ke kiri. Mungkin ia mengira makanan itu turun dari langit. Nenek itu tidak akan pernah tahu kalau yang memberi makanan itu adalah seorang bocah yang sedang bersembunyi di sebelah dinding rumahnya bersama Santika dan Sadewa. “Tuhan memberkatiku dan memberkati orang yang meninggalkan makanan ini, rupanya orang-orang Majapahit telah banyak berubah.” Ucap nenek itu kemudian menyembunyikan kepalanya dan menutup pintu rumahnya yang seok. 

“Syukurlah aku terlahir di Gandrayaksa.” Ucap Sadewa. “Nenek itu kehilangan anak-anak dan cucunya saat perang Gandrayaksa dan Majapahit terjadi.” Jelas Satria. “Ternyata ada orang yang lebih kehilangan dari pada hanya kehilangan seorang ibu.” Jelas Santika. “Kakekku sering bercerita tentang banyak kebaikan. Kalau kita berbuat banyak kebaikan, maka akan banyak kebaikan yang terjadi pada kita. Itu sudah menjadi hukum alam yang pasti terjadi.” Jelas Satria meyakinkan. “Yah, itu sedikit menjelaskan kalau kau adalah keturunannya karena kudengar orang tuamu…” Ucap Sadewa tak terselesaikan. “Kau selalu makan madu dan pergi ke rumah nenek itu?” Tanya Santika penasaran sambil sengaja memotong perkataan Sadewa. Sambil melanjutkan perjalanan, Satria mengambil sebuah ranting kayu dan melemparkannya pada beberapa buah yang masih di pohon. “Wah…lumayan ada beberapa buah yang matang. Tangkaplah!” Satria membagi dan melemparkan buah yang ia tangkap pada Santika dan Sadewa, bentuknya seperti buah jambu biji namun berukuran sebesar buah mangga. 

“aku memang tidak pernah bertemu dengan orang tuaku, kau tidak perlu ragu menanyakannya. Nenek itu mengajariku tentang rasa dari kebaikan orang tua terhadap anak-anaknya yang tidak pernah tergantikan. Aku tidak pernah merasakan kebaikan dari mereka. Setiap hari nenek itu menyebut nama anak-anaknya untuk mengingatkan kalau sarapan sudah siap. Kemudian dia menangis begitu dia menyadari kehidupan keluarga mereka setiap pagi hanyalah mimpi.” Cerita Satria. …”dan aku tidak makan madu itu setiap hari, satu sendok madu itu hasiatnya cukup untuk satu minggu, dan apabila kita minum lebih dari satu sendok sebelum khasiatnya habis.., oh ya aku baru ingat, madu itu bisa menguras perut kita selama satu malam.” Jelas Satria sambil memakan buah jambu bijinya. 

Mendengar peringatan Satria, Sadewa berhenti mengunyah dan hanya hanya memegang jambunya mencoba mengingat sesuatu. “Kakang Sadewa, kira-kira kau minum seberapa banyak?” Tanya Santika berbisik. “Oh…baguslah, mungkin setara sepuluh sendok.” Jawab Sadewa balik berbisik sambil meremas-remas perutnya seperti menahan sesuatu. “Kurasa kita harus cepat pulang! Sebelum celana Sadewa basah.” Saran Satria. Sepertinya mereka menemukan kesenangan di hari pertama mereka berpetualang, terlebih lagi saat Satria melihat tawa Santika yang tertahan melihat Sadewa yang semakin tak bisa menahan perutnya. 

“Kau mau berlomba lari denganku? Bukankah ada yang bilang kita bisa bermimpi indah jika pulang ke rumah sebelum matahari tenggelam.” Jelas Satria berbunga. “Kau banyak percaya tahayul.” Sahut Santika. Sadewa berlari kecil dengan kedua tangannya memegang perutnya. Namun Santika dan Satria berlari lebih kencang darinya. “Oh…benarkah, kini mereka benar-benar menghiraukan aku.” Jelas Sadewa kesal melihat mereka semakin cepat meninggalkannya. 

Tuan Santa terhanyut melihat kegembiraan mereka dari balik jendela kedainya. Sadewa terburu-buru mendobrak pintu masuk ke dalam kedai. “Sepertinya aku beruntung dia menjadi keluarga baru di rumah ini. Sudah lama aku tidak melihat mereka tertawa seperti itu, tapi kenapa sepertinya mereka tidak membawa apa-apa.” Ucap tuan Santa lirih melihat keceriaan Satria yang terlihat sedang berbincang senang dengan Santika. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. 

“Aku bersyukur hari ini aku merasakan nikmatnya memiliki teman setelah sekian lama aku hanya hidup bersama seruling jingga ini.” Jelas Satria dalam hati sambil memegang serulingnya di luar pintu kedai. “Kau tidak akan melewatkan makan malammu, kan?” Ajak Santika dari depan pintu kedai membalikkan badannya melihat Satria yang hanya menjawabnya dengan senyuman. Satria  menghentikan sejenak langkah kakinya menatap langit petang di atas kedai. Sepertinya ia tidak tahan untuk tidak meniup serulingnya. “Kuharap angin keberuntungan ini senantiasa tercium selamanya. Aku tidak suka hakikat hukum alam,”pelangi tidak akan selalu muncul, siang akan berganti malam, angin tenang akan menjadi badai”. Aku hanya bisa bersyukur bisa tinggal bersama orang-orang yang menganggapku sebagai keluarga, meskipun aku tidak akan pernah sanggup memimpikan sebuah keluarga.” Ucap Satria dalam hati dan terpancar senyuman dari wajahnya.

Seseorang yang tidak tampak wajahnya tergugah dari pertapaannya mendengar alunan seruling Satria. Saat ia bangkit jubahnya terjuntai panjang dari kepala hingga kakinya berwarna putih kusam keabuan. Jubah yang sangat tua itu hampir menutupi seluruh tubuhnya, hanya mata dengan bercahaya putih yang masih bisa terlihat dari relung gelap kerudung yang menutupi wajahnya. Pendekar itu pun segera melangkah perlahan keluar dari gua tempatnya bertapa melawan kegelapan malam dengan sedikit cahaya rembulan.


                                                             bersambung ke chapter 3....