Siklus Revolusi (Perubahan)
Terkadang terfikir dalam benak kita, untuk apa kita kerja? untuk
apa kita berpartai? untuk apa kita bisnis? untuk apa kita ceramah? untuk apa
kita mengajar? dan pertanyaan lain yang sebenarnya jawabannya sangat sederhana.
Kalau kita bicara duniawi, tentu saja kerja untuk nyari nafkah, partai untuk
berpolitik, bisnis untuk mengembangkan potensi keuangan, dan lain sebagainya.
Namun satu hal yang terkadang lupa bahwa segala sesuatu tidak bisa dipisahkan
dari Alloh sebagai Tuhan Pencipta Segalanya. Alloh memang tidak menciptakan
kerja, namun Alloh memberikan kita jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi tidak ada alasan memisahkan Alloh dengan kita atau memisahkan Alloh
dengan pekerjaan kita apalagi sampai sengaja memisahkan hal demikian dengan
alasan Alloh (ibadah/agama) ya Alloh, kerja ya kerja, orang sekuler sangat
faham cara memisahkannya. Pemikiran sekulerisme inilah yang harus
kita rubah.
Saya menyebutnya Siklus Revolusi (perubahan). Siklus
artinya berputar dengan putaran/aturan yang teratur secara terus-menerus. Revolusi
artinya perubahan yang menyeluruh, tidak setengah-setengah, bahkan perubahan
itu harus secara radikal atau ekstrim. Bukan berarti perubahan ini melukai atau
menyakiti fisik ataupun mental, tapi cara kita merubah itu harus segera jangan
diperlambat, harus dirasakan jangan samar-samar. Jika saya gabungkan kata
siklus dan revolusi kemudian dilibatkan dengan ke-MahaKuasa-an Alloh karena
segala sesuatu tidak terlepas dari Alloh, maka Siklus Revolusi berarti proses
perubahan menjadi lebih baik yang dilakukan secara teratur dan terus-menerus
tanpa henti hingga terjalinlah hubungan kedekatan pada Alloh. Alloh ->Kita ->X ->Alloh ->Kita ->X (X=bisa benda, proses, sifat dan
sebagainya) dan seterusnya tak ada henti hingga benar-benar kita menyadari
tiada satu hal pun di dunia ini yang bisa terpisahkan dari Alloh dan tiada satu
pun perubahan yang terjadi tanpa Kehendak Alloh. Oleh sebab itulah perubahan
yang pasti terjadi dan terjadi berulang-ulang sudah semestinya mendekatkan diri
kita kepada Alloh.
Contoh kasus: X = kerja
Siklus revolusi kerja : Alloh ->Kita -> Kerja -> Alloh ->. Kita cek kata yang bergaris
bawah, yaitu kerja. Kerja adalah sebuah aktivitas yang menguntungkan dan
saya pikir diinginkan oleh semua orang. Jika kita kerja tanpa melibatkan Alloh
saja dan hanya untuk mencari nafkah saja, maka siklus revolusi tidak terjadi
karena ketiadaan Alloh dalam setiap aktivitas kerjanya dan setiap harinya. Sungguh
sangat disayangkan, aktivitas keseharian yang panjang dan seharusnya bernilai
ibadah yang dijalani selama seharian hanya bernilai uang semata. Berkahnya pun
kita tidak mendapatkannya. Bagaimana caranya melibatkan Alloh di dalamnya agar
siklus revolusi (perubahan) terjadi? Jawabannya sekaligus akan menjawab apakah
pekerjaan kita bernilai ibadah atau tidak.
Kita pasti pernah (bagi yang sudah bekerja) melakukan rapat kantor
yang memerlukan waktu tidak sebentar, bisa berjam-jam bahkan setengah hari. Ketika
adzan berkumandang, seringkah rapat kita tunda sejenak untuk menunda rapat
sejenak dengan ucapan pimpinan rapat “kita dengar adzan dulu sejenak”. Setelah
adzan selesai berkumandang ternyata rapat dilanjutkan kembali. Eh maaf bos…ini
adzan, seruan atau panggilan dari Alloh untuk sholat, bukan nyanyian yang harus
didengar atau bukan alarm untuk menandakan jam makan siang “sudah adzan, kita
istirahat makan siang dulu”. Sebagai pemimpin rapat sudah seharusnya
mengendalikan waktu rapatnya, bukan pimpinan rapat yang dikendalikan oleh waktu.
Coba kita koreksi diri kita masing-masing, masihkah kita
kerja (formal-non formal) namun menjauhkan diri kita dari Alloh? Seperti mencuri-curi
waktu untuk membolos kerja, menggunakan barang atau uang yang bukan haknya,
membicarakan keburukan di sela-sela istirahat ataupun kesibukan dan masih banyak
lagi hal yang membuat kerja kita tidak bernilai ibadah dan menjauhkan diri kita
dari Alloh di hari itu. Sebab-sebab seperti itulah yang membuat kerja kita tidak
bernilai ibadah dan tidak berkah. Bagi yang sudah bekerja nih wajib menerapkan
teori siklus revolusi kerja.
Ternyata tidak hanya kerja, siklus revolusi bisa kita padukan
dengan segala sesuatu, misalnya siklus revolusi belanja, siklus revolusi
bergaul, siklus revolusi mengajar, bahkan siklus revolusi mobil, laptop dan
elektronik lainnya. Segala sesuatu yang bisa menjauhkan atau mendekatkan diri
kita pada Alloh bisa kita revolusi. Mobil kalau tidak membantu kita lebih mudah
membantu sesama, tidak memudahkan kita datang ke majelis-majelis ilmu dan
dzikir, malah dengan mobil membuat kita ujub, takabbur dan sholat jadi
tertunda, untuk apa punya mobil? Untuk apa punya laptop kalau karena laptop
kita jadi malas membaca Al-Quran dan jadi rajin menonton film yang melalaikan nilai-nilai
kebaikan? Untuk apa kita punya HP kalau HP kita tidak kita gunakan untuk
menebarkan kebaikan dan mengingatkan kita waktunya sholat, waktunya baca Al-Qur’an,
waktunya sedekah, dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa kita punya pekerjaan,
punya mobil, punya HP, punya laptop, punya rumah, punya kesehatan karena Alloh.
Kita bisa melakukan segala sesuatu bahkan kita bisa menikah juga karena Alloh. Maka
sudah seharusnyalah kita pun menggunakan segala sesuatu itu untuk mendekatkan
diri kita pada Alloh. Apakah kita pernah bertanya, bagaimana kalau segala
sesuatu yang kita miliki ini diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki? Wallohu
a’lam. Mari perbaiki diri dengan membudayakan siklus revolusi.
Indra Mulya
Kepala UPT IP2A Umniyati Lampung
16 Februari 2015
