Senin, 16 Februari 2015

Nuansa Hati : Siklus Revolusi (Perubahan) : Artikel :

                                     
                                          
                                          Siklus Revolusi (Perubahan)

Terkadang terfikir dalam benak kita, untuk apa kita kerja? untuk apa kita berpartai? untuk apa kita bisnis? untuk apa kita ceramah? untuk apa kita mengajar? dan pertanyaan lain yang sebenarnya jawabannya sangat sederhana. Kalau kita bicara duniawi, tentu saja kerja untuk nyari nafkah, partai untuk berpolitik, bisnis untuk mengembangkan potensi keuangan, dan lain sebagainya. Namun satu hal yang terkadang lupa bahwa segala sesuatu tidak bisa dipisahkan dari Alloh sebagai Tuhan Pencipta Segalanya. Alloh memang tidak menciptakan kerja, namun Alloh memberikan kita jalan untuk mendapatkan pekerjaan.  Jadi tidak ada alasan  memisahkan Alloh dengan kita atau memisahkan Alloh dengan pekerjaan kita apalagi sampai sengaja memisahkan hal demikian dengan alasan Alloh (ibadah/agama) ya Alloh, kerja ya kerja, orang sekuler sangat faham cara memisahkannya. Pemikiran sekulerisme inilah yang harus kita rubah. 

Saya menyebutnya Siklus Revolusi (perubahan). Siklus artinya berputar dengan putaran/aturan yang teratur secara terus-menerus. Revolusi artinya perubahan yang menyeluruh, tidak setengah-setengah, bahkan perubahan itu harus secara radikal atau ekstrim. Bukan berarti perubahan ini melukai atau menyakiti fisik ataupun mental, tapi cara kita merubah itu harus segera jangan diperlambat, harus dirasakan jangan samar-samar. Jika saya gabungkan kata siklus dan revolusi kemudian dilibatkan dengan ke-MahaKuasa-an Alloh karena segala sesuatu tidak terlepas dari Alloh, maka Siklus Revolusi berarti proses perubahan menjadi lebih baik yang dilakukan secara teratur dan terus-menerus tanpa henti hingga terjalinlah hubungan kedekatan pada Alloh. Alloh ->Kita ->X ->Alloh ->Kita ->X (X=bisa benda, proses, sifat dan sebagainya) dan seterusnya tak ada henti hingga benar-benar kita menyadari tiada satu hal pun di dunia ini yang bisa terpisahkan dari Alloh dan tiada satu pun perubahan yang terjadi tanpa Kehendak Alloh. Oleh sebab itulah perubahan yang pasti terjadi dan terjadi berulang-ulang sudah semestinya mendekatkan diri kita kepada Alloh.

Contoh kasus: X = kerja
Siklus revolusi kerja : Alloh ->Kita -> Kerja -> Alloh ->. Kita cek kata yang bergaris bawah, yaitu kerja. Kerja adalah sebuah aktivitas yang menguntungkan dan saya pikir diinginkan oleh semua orang. Jika kita kerja tanpa melibatkan Alloh saja dan hanya untuk mencari nafkah saja, maka siklus revolusi tidak terjadi karena ketiadaan Alloh dalam setiap aktivitas kerjanya dan setiap harinya. Sungguh sangat disayangkan, aktivitas keseharian yang panjang dan seharusnya bernilai ibadah yang dijalani selama seharian hanya bernilai uang semata. Berkahnya pun kita tidak mendapatkannya. Bagaimana caranya melibatkan Alloh di dalamnya agar siklus revolusi (perubahan) terjadi? Jawabannya sekaligus akan menjawab apakah pekerjaan kita bernilai ibadah atau tidak.

Kita pasti pernah (bagi yang sudah bekerja) melakukan rapat kantor yang memerlukan waktu tidak sebentar, bisa berjam-jam bahkan setengah hari. Ketika adzan berkumandang, seringkah rapat kita tunda sejenak untuk menunda rapat sejenak dengan ucapan pimpinan rapat “kita dengar adzan dulu sejenak”. Setelah adzan selesai berkumandang ternyata rapat dilanjutkan kembali. Eh maaf bos…ini adzan, seruan atau panggilan dari Alloh untuk sholat, bukan nyanyian yang harus didengar atau bukan alarm untuk menandakan jam makan siang “sudah adzan, kita istirahat makan siang dulu”. Sebagai pemimpin rapat sudah seharusnya mengendalikan waktu rapatnya, bukan pimpinan rapat yang dikendalikan oleh waktu.
Coba kita koreksi diri kita masing-masing, masihkah kita kerja (formal-non formal) namun menjauhkan diri kita dari Alloh? Seperti mencuri-curi waktu untuk membolos kerja, menggunakan barang atau uang yang bukan haknya, membicarakan keburukan di sela-sela istirahat ataupun kesibukan dan masih banyak lagi hal yang membuat kerja kita tidak bernilai ibadah dan menjauhkan diri kita dari Alloh di hari itu. Sebab-sebab seperti itulah yang membuat kerja kita tidak bernilai ibadah dan tidak berkah. Bagi yang sudah bekerja nih wajib menerapkan teori siklus revolusi kerja.

Ternyata tidak hanya kerja, siklus revolusi bisa kita padukan dengan segala sesuatu, misalnya siklus revolusi belanja, siklus revolusi bergaul, siklus revolusi mengajar, bahkan siklus revolusi mobil, laptop dan elektronik lainnya. Segala sesuatu yang bisa menjauhkan atau mendekatkan diri kita pada Alloh bisa kita revolusi. Mobil kalau tidak membantu kita lebih mudah membantu sesama, tidak memudahkan kita datang ke majelis-majelis ilmu dan dzikir, malah dengan mobil membuat kita ujub, takabbur dan sholat jadi tertunda, untuk apa punya mobil? Untuk apa punya laptop kalau karena laptop kita jadi malas membaca Al-Quran dan jadi rajin menonton film yang melalaikan nilai-nilai kebaikan? Untuk apa kita punya HP kalau HP kita tidak kita gunakan untuk menebarkan kebaikan dan mengingatkan kita waktunya sholat, waktunya baca Al-Qur’an, waktunya sedekah, dan lain sebagainya. Ingatlah bahwa kita punya pekerjaan, punya mobil, punya HP, punya laptop, punya rumah, punya kesehatan karena Alloh. Kita bisa melakukan segala sesuatu bahkan kita bisa menikah juga karena Alloh. Maka sudah seharusnyalah kita pun menggunakan segala sesuatu itu untuk mendekatkan diri kita pada Alloh. Apakah kita pernah bertanya, bagaimana kalau segala sesuatu yang kita miliki ini diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki? Wallohu a’lam. Mari perbaiki diri dengan membudayakan siklus revolusi.


Indra Mulya
Kepala UPT IP2A Umniyati Lampung

16 Februari 2015