Rabu, 14 Desember 2016

NASIHAT : MEMENANGKAN HATI ORANG YANG DICINTA

          "Kenapa cintaku tak terbalas padahal aku sudah berupaya membuktikannya semampuku? Aku pergi pagi pulang petang pinggang pegal-pegal semua buat kamu, apa kamu ga ngerti?" Begitulah kira-kira kisah klasik kegalauan melankolis dan dramatis sebagian orang dari kita yang mengeluh bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Yang satu mau A yang satu mau B. Yang satu maunya begini yang satu maunya begitu. Kalau tidak ada yang mengawali mengalah, lapang dada dan ikhlas menjaga hubungan karna mengharapkan balasan kebaikan dari Alloh semata, maka cinta dalam keluarga yang dinaungi atap kesholihan tak akan pernah bisa terbangun.
Kalau cinta itu berhubungan dengan Alloh, insyaAlloh deh rumusnya sederhana, hanya "liya'buduun"...hanya beribadah saja pada Alloh, ga ada yg lain (Boleh lihat tafsir surat Adz-Dzariyat : 56). Hanya saja kadar cinta seorang hamba pd Alloh yang berbeda-beda. Baik itu hamba dari golongan jin ataupun manusia, pastilah ada yang derajat cintanya tinggi dan ada pula yang derajat cintanya biasa-biasa saja yang belum ada apa-apanya dibandingkan kadar cinta Nabi SAW kepada Alloh SWT.

          Nah, urusannya jadi sedikit rumit menguras pikiran, kalau urusan cinta itu sudah berhubungan dengan orang lain, apalagi berhubungan dengan keluarga. Tak mudah ditafsirkan, tak mudah ditebak, tak mudah pula diwujudkan dari satu orang kepada orang yang lain. Soalnya ini adalah masalah hati yang sifatnya bisa berbolah-balik dan wujudnya pun tak nampak seperti iman. Ibaratnya begini, kelihatannya sholih namun hatinya tak pernah ada niat bahwa ibadahnya itu ditujukan pada Alloh lantaran hanya karna ingin dilihat sholih atau ingin dianggap sholih. Na'udzubillaahimindzaalik (kami berlindung pd Alloh dr hal yang demikian), Alloh ga butuh model ibadah yang beginian, urusan dalam hati hanya Alloh yang tau.

         Maka kalau kita sudah ketemu cinta yang berhubungan dengan orang lain, kitalah yang harus memahami lebih dulu bagaimana agar orang lain bisa mencintai kita. Bukan kita yang seenak hati mau membuktikan cinta dengan segala daya upaya jiwa dan raga bahkan materi diberikan kepada orang yang dicintai. Boleh jadi orang yang kita cintai itu ga butuh itu semua, ga butuh pengorbanan itu semua. Kelihatannya mah cinta, ngasih ini dan itu, berkorban ini dan itu, padahal boleh jadi bukan itu yang dibutuhkan orang yang dicintai. Sebaliknya, kelihatannya mah ga cinta, raut wajah, perkataan dan sikapnya pun tak menunjukkan cinta, padahal di balik hatinya ia ingin mengungkapkan cinta yang tak pernah dia tau bagaimana cara mengungkapkan dan mewujudkannya.

         Maka dari itu, ada yang harus kita rubah dari cara berkorban kita sehingga pengorbanan kita ga sia-sia dan mendatangkan cintanya dengan salah satu caranya adalah mengadakan sebuah dialog yang santun antara orang-orang yang saling mencintai agar kita saling mengerti apa yang dibutuhkan. Boleh jadi orang yang kita cintai ini hanya butuh sesuatu yang sangat sederhana, tidak mahal dan tidak menguras tenaga kita. Bahkan mungkin dia hanya butuh kita merubah sifat, itu saja, tak lebih yang diinginkan dari kita.
 

          Nah, semoga dengan upaya kita yang sederhana itu kita bisa memenangkan hati orang-orang yang kita cinta, sehingga cinta kita pun tak hanya bertepuk sebelah tangan, terbangunlah cinta yang berjalan bersama ketenangan bahkan menumbuhkan kasih sayang, mudahlah cinta terbangun beratapkan kesholihan. Amin...

        Ada satu pesan Nabi SAW dalam hadits riwayat Imam Muslim yang kalau diamalkan bukan hanya bisa mengundang cinta dari orang lain tapi juga mengundang cinta dari Alloh SWT yang Punya Segala Urusan, yang Punya Dunia dan Seisinya, "Innallooha Jamilun Yuhibbul Jamaal". Dalam Syaroh Kitab Riyadusholihin oleh Dr. Musthofa Dib Al Bugho, beliau menjelaskan tentang maksud "Innallooha Jamiilun" adalah "Alloh itu Maha Indah", setiap perkara-Nya itu indah, artinya segala sesuatu yang berasal dari-Nya pastilah indah. Sedangkan maksud "Yuhibbul Jamaal" adalah "Alloh mencintai keindahan", Alloh ridho dan memberi balasan kepada orang yang indah perkara dan perbuatannya. Termasuk nih kalau kita lihat orang berpenampilan baik, bersih dan rapi pun bagian dari keindahan yang tidak hanya nantinya menjadi sebab datangnya cinta dari orang yang melihatnya namun juga tentunya mendatangkan cinta dan ridho Alloh SWT. 
        
        Rasanya sih memang terdengar urusan pribadi, hak setiap individu dong mau berpenampilan seperti apa, "ini kan badan-badan saya, baju-baju saya, rumah-rumah saya, dari dulu memang saya sudah begini, ya terserah saya dong mau diapain". Hak setiap individu itu memang benar, tapi juga kita harus ingat bahwa mata setiap orang juga punya hak melihat keindahan, hidung punya hak mencium aroma yang baik. Hak setiap orang pula ingin merasa nyaman dengan kehadiran kita yang berpenampilan indah, bertutur indah, berprasangka indah dan bersikap indah. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang indah,..amiin. Wallohua'lam

~>NuansaHati

Jumat, 16 September 2016

NASIHAT : BENARKAH ORANG TUA AKAN BANGGA DENGAN HARTA, PANGKAT DAN JABATAN KITA ?

         Ada sebuah kisah nyata yang cukup melankolis, mirip seperti drama korea, namun pesan di dalamnya bukan pesan percintaan biasa antara dua sejoli, namun pesan cinta pada orang tua dan pesan cinta pada Al-Quran yang menggetarkan hati. Sebut saja ada seorang anak SD namanya Umar, ia disekolahkan di sekolah terbaik, bahkan standar internasional. Siapalah diantara kita yang tidak mau menyekolahkan anak di sekolah yang bagus dan terbaik? Ayah umar yang berumur 50 tahunan memang menyekolahkan semua anak-anaknya di sekolah yang terbaik, dengan biaya yang tentu fantastis tidak sedikit, bahkan salah seorang anaknya yang paling tua nilainya cum laud. Ayah Umar termasuk pekerja keras, benar-benar pekerja keras, sehingga waktunya untuk berkumpul dengan keluarga hampir tidak ada.

        Suatu hari, istrinya bilang “pa, hari sabtu ada fatrhers day di sekolahnya Umar, awas ya kalau ga dating”. Ayahnya mendengar kabar itu langsung lemes, sambil bergumam dia bilang “waduhh…paling acaranya juga begitu. Anak saya sudah 4, yang tertua sudah kuliah, masa masih harus hadir acara begitu?”. Tapi karna istrinya mengancam maka sang ayah terpaksa harus datang melupakan gengsi dan kesibukannya bekerja.
Waktu dia, ayah Umar, datang ke sekolah, ia tau isinya fatrhers day itu seperti apa. Nanti anak-anak disuruh tampil satu per satu, tampil ini dan tampil itu. Ada yang nyanyi, ada yang baca puisi, ada yang pidato dan lain sebagainya menampilan kebolehan-kebolehan mereka. Nanti setelah tampil ayahnya dipanggil satu per satu memeluk dan mencium menunjukan kasih sayangnya pada anaknya yang terlihat seperti pura-pura.


       Para ayah yang yang umur 30an tahun sangat semangat duduk di depan. Karna ayah Umar umurnya 50an, maka dia duduk di belakang. Waktu acara dimulai oleh pembawa acara, persis sepeti apa yang dibayangkan oleh sang ayah. Ada yang baca puisi, nyanyi pidato dan lain-lain. Begitu tiba giliran Umar, Umar dipanggil oleh pembawa acara, “ayo Umar bin fulan”. Ayahnya Umar di belakang sambil mengeluarkan Smart Phone atau BB-nya pada saat itu kemudian bergumam, “paling juga dia mau nyanyi doang”. Maka begitu tampil, kemudian Umar ditanya oleh pembawa acara, “kamu mau menampilkan apa, nak?” Dijawab oleh umar, “boleh saya panggil Ustadz Arif?” Jawab pembawa acara “oh, boleh silahkan”. Kemudian pembawa acara mempersilahkan dan mengenalkan Ustadz Arif bahwa beliau adalah guru ekstrakulikuler, guru baca Al-Quran. Maka kemudain Ustadz Arif bertanya, “kamu mau tampilkan apa?” Jawab Umar, “Ustadz, boleh buka surat 78 surat Annaba?” Dijawab lagi oleh Ustadz Arif , “oh boleh”. Kemudian dibukalah surat An-Naba, “silahkan”, kata Ustadz Arif sambil mau memberikan Al-Quran-nya. “Tidak Ustadz, Ustadz aja yang pegang, aku akan membacanya”. Tanya ustadz arif kaget, “O, jadi kamu hafal?” Jawab Umar, “ya hafal” Begitu dia mau membaca surat An-Naba, maka semua ayah yang tadi bangga terhadap anak-anaknya lantas semua pqra ayah jadi terkejut.

        Ini sekolah internasional, bukan pesantren, bukan majlis taklim. Anak ini membacakan dengan merdunya surat An-Naba dan ternyata dia juga hafal. MasyaAlloh..,Pada saat Umar membacakannya, mulai dari ayat pertama, "Ammma yatasaa Aluun" mata para ayah yang hadir pada acara tersebut, lambat laun mulai meleleh mendengar lantunan surat tersebut. Tadinya mereka, para ayah, bangga pada anak-anak mereka yang menampilkan segala kemampuan duniawi mereka, saat itu tiba-tiba mereka berkeinginan punya anak seperti Umar. Begitu umar sampai pada ayat terakhir..Innaa Andzarnaakum Adzaabanqoriibaa, Yaumayandzurul Mar’u maa Qoddamatyadaahu Wayaquulul kaafiruyaa laitaniii Kuntuturoobaa, Ayahnya Umar belum dipanggil tiba-tiba berdiri kemudian dari belakang berlari menghampiri anaknya, dia peluk anaknya, dia cium anaknya, maka kemudian terjadilah drama yang cukup mengharukan dalam acara tersebut.
Ketahuilah saudara-saudaraku semuanya...Al-Quran itu membanggakan, ke-sholih-an itu sangat membanggakan. Maka, usai mereka berpelukan dan menangis, kemudian pembawa acara bertanya pada umar “Umar, apa yang membuatmu ingin membacakan surat An-Naba di hadapan kami semua?” Jawab Umar dengan polosnya “Ustadz Arif bilang “jangan malas mengaji, Umar. Rajin-rajinlah membaca dan menghafalkannya karena Al-Quran akan membuat bangga orang tuamu”. Jadi aku ingin membuat bahagia orang tuaku nanti, aku akan membuat mereka bangga di akhirat nanti”.

       Innawa'dalloohiHaq (Sesungguhnya janji Allooh itu benar). Alloh akan menjamin kebahagiaan orang tua berupa pahala kebaikan, manfaat dari kesholihan anaknya, ketika anaknya di dunia menjadi anak yang bertaqwa, anak yang sholih, termasuk juga anak yang pandai membaca Al-Quran. Sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Apabila anak Adam - yakni manusia - meninggal dunia, maka putuslah amalannya - yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi, melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang sholih yang suka mendoakan untuknya (orang tuanya) (HR. Muslim)

         Membanggakan orang tua atau membahagiakan orang tua, adalah kewajiban balas budi kepada orang tua bagi seorang anak. Namun sering kali kebanggaan yang diberikan sebagai balas budi itu berhenti di dunia saja. Umumnya orang tua akan dipandang baik oleh masyarakat, dipandang baik oleh tetangganya, dipandang baik oleh penduduk kampungnya, jika anaknya sukses, punya pangkat dan jabatan yang terhormat. Tapi ternyata tidak sedikit yang melupakan sisi yang dipandang oleh Alloh yang seharusnya menjadi rencana jangka panjang kebahagiaan orang tua di dunia maupun di akhirat, yaitu kesholihan seorang anak. Tidak salah sepenuhnya memang, membahagiakan orang tua dengan prestasi kita, harta kita, jabatan kita atau pangkat kita. Tapi itu masih kurang, kurang banget, karena kebanggaan atau kebahagiaan orang tua seperti itu HANYA BERHENTI DI DUNIA saja. Tambahin lah dengan amal sholih, bahagiakan orang tua, buat orang tua kita bangga (bukan berarti ujub), dengan kesholihan yang efeknya berpengaruh hingga akhirat, kehidupan yang abadi.

        Kejarlah dunia dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada Alloh. Kejar semua prestasi, harta, pangkat dan jabatan itu asalkan semua itu membuat kita makin cinta dengan Al-Quran, cinta sedekah, cinta sholat Tahajjud, cinta Sholat dhuha, tapi kalau dengan mengejar dunia malah menjauhkan diri kita dari Alloh, maka Alloh tidak butuh pekerjaan-pekerjaan kita. Siapa yang memberi kita pekerjaan, siapa yang memberi kita bisnis, siapa yang memberi kita penghasilan, siapa yang memberi kita jabatan, siapa yang memudahkan kita mendapatkan pangkat kalau bukan Alloh? Tapi kalau dengan semua nikmat-nikmat dan pekerjaan itu kemudian membuat kita makin jauh dari Alloh, maka sekali lagi, Alloh tidak butuh semua pekerjaan-pekerjaan itu. Betapa mudahnya bagi Alloh mengambil nikmat itu sekejap mata. Wallohua'lam. Semoga Alloh mudahkan kita membuat orang tua bahagia di dunia hingga di akhirat. Amin

~>NuansaHati :)

Kamis, 01 September 2016

NASIHAT : BENARKAH KEBAHAGIAAN ITU HANYA PERKARA SUDUT PANDANG ?

        Pernahkah anda bertemu dengan orang yang merasa paling apes sedunia? Merasa paling malang sedunia? Setidaknya orang itu melihat nasib dari sudut pandangnya sendiri. Saya yakin ada di sekitar anda yang merasa demikian. Atau malah mungkin anda sendiri yang merasa demikian? Ga perlu dijawab, jangan merasa tersindir, karna artikel ini untuk “ummat” bukan untuk seseorang semata. Jadi, cukup renungkan dan baca artikel ini sampai selesai hingga benar-benar bisa mengambil pelajarannya. InsyaAlloh…

        Kembali ke permasahan “apes”. Saya katakan kondisi apes atau malang menurut mereka yang merasa malang adalah kondisi yang terjadi karena seseorang mengalami sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan dan membuat hati terasa sakit. Saking sakitnya, hingga membuatnya ingin memegang dada kirinya selama mungkin untuk menahannya lebih lama. “Emangnya ngaruh?” Anda tanyakan saja pada orang yang membuat istilah “sakitnya tuh di sini” hehe...Dengan kata lain, kondisi malang adalah kondisi ketiadaan kesenangan atau kebahagiaan dalam diri seseorang yang terjadi karena melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang salah. Maka, untuk menghilangkan rasa paling malang sedunia adalah dengan cara melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar, yaitu menciptakan "kebahagiaan" itu sendiri.

         Gimana caranya? Bukankah Yang Maha Pencipta segala sesuatu itu Alloh Al-Waduud (Alloh Yang Maha Pencipta)? Itu benar, tapi kita sedang menggunakan istilah “menciptakan” untuk maksud yang lain, yaitu dimaksudkan untuk mendevinisikan bahwa datangnya kebahagiaan itu ada penyebabnya. Alloh-lah yang menciptakan “kebahagiaan” kemudian Alloh mengaruniakan kebahagiaan itu untuk hamba-Nya karena Alloh juga Al-Wahhaab (Maha Pemberi Karunia). Kebahagiaan adalah karunia dari Alloh dalam bentuk perasaan senang yang “tidak datang tiba-tiba”, yang kata orang Jawa mah “ora teko ujug-ujug”.

        Untuk memahami proses sebab datangnya kebahagiaan itu sekaligus membangun suasana yang lebih ringan namun tetap islami, saya katakan setidaknya di antara sebab ketidakbahagiaan yang sering terjadi pada seseorang adalah karena seseorang underestimate (meremehkan) terhadap diri sendiri, ketiadaan motivator diri, tidak sabar dan tidak tawakkal pada Alloh SWT. “Kaifa yakuuna dzaalik ?” Kok bisa gitu sih?

         Kita akan bahas mulai dari Underestimate. Suatu perkataan yang mencela atau menyudutkan diri sendiri seperti dengan kata “saya ga bisa”, “saya lemah”, “saya bodoh”, “saya jelek” dan lain semacamnya, itulah underestimate. Kata-kata itu jelas kata-kata yang dilarang dalam islam jika diniatkan untuk mencela, apa lagi mencela diri sendiri. Sedangkan "Alloh itu sesuai dengan prasangka atau keyakinan hamba-Nya". Ini Hadits Qudsi, Alloh langsung yang bilang (Lihat Syaroh Riyadush Sholihin Bab. 52 hadits pertama). Kalau kita memvonis diri kita dengan perkataan mencela diri disertai keyakinan, tentu Alloh tidak akan mendatangkan kebahagiaan itu karena kita sendiri, yang berkata tanpa pemahaman, sudah membuat “block” atau penghalang kebahagiaan itu untuk bisa datang. Kenapa? Karena Alloh sesuai dengan prasanga atau keyakinan hamba-Nya. Apalah jadinya jika seseorang dalam suatu upayanya, apapun itu, selalu bilang “saya penakut”, “saya pasti ga bisa” atau “saya lemah” ? Maaf, saya katakan orang seperti ini adalah orang yang kalah sebelum berperang. Bukan mendatangkan kebahagiaan namun mendatangan kemalangan diri sendiri karena banyak sekali potensi diri yang lupa disyukurinya.

         Kemudian yang kedua adalah ketiadaan motivator. Saya tidak bilang kalau seseorang yang ingin menciptakan kebahagiaan harus ikut pelatihan ini dan itu untuk mencari pembicara handal sebagai motivator. Sederhananya begini, kalau seseorang melihat dengan kaca mata yang tawadhu, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain yang sudah jelas berpengalaman dalam suatu hal, lebih-lebih teman dekat, maka akan banyak sekali sumber motivasi (dorongan melakukan kebaikan) yang bisa didapatkan. Jadi tidak perlu pembicara atau pemikir handal. Namun yang fatal, kebanyakan orang yang tidak berhasil menciptaan kebahagiaan itu karena ia selalu menghindar dari nasihat. Cobalah untuk menumbuhkan tawadhu dalam diri dengan tidak anti sosial, tidak suka menyendiri mengerjakan hobi, tidak merasa minder karena melihat orang lain serasa lebih beruntung, tidak selalu mencari jawaban sebagai pembenaran yang mengakibatkan orang lain tidak peduli lagi dan tidak kebiasaan bertanya “kenapa ini semua terjadi pada diri saya?” Kalau “To the poin” saya jawab, maka saya katakan, “segala kebaikan dan keburuan yang terjadi pada diri seseorang itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri”. Terdengar keras menjawabnya namun itulah kenyataannya yang mau tidak mau harus kita hadapi. Biar tambah yakin, boleh di cek tafsir surat An-Nisa ayat 79, tafsirnya ya, bukan sekedar terjemahan yang singkat.

         Artinya, kebahagiaan dan rasa kemalangan atau keapesan seseorang itu akibat perbuatannya sendiri. Namun kebanyaan orang tidak menyadarinya dan selalu mencari “kambing hitam” atau sesuatu yang layak untuk disalahkan atas kemalangan yang terjadi padanya. Nah, orang macam ini, biasanya kalau ada orang sedang menasihatinya, maunya nasihat itu langsung “berwujud sesuatu” sehingga bisa langsung menyelesaikan masalahnya alias instan tanpa ikhtiar, tanpa mengambil pelajaran yang terjadi. Saya katakan ini adalah pemahaman yang salah. Kalau orang tidak menyambut nasihat dengan baik karena menganggap hanya sekedar “kata”, dari mana seseorang akan mendapatkan motivasi untuk hidup bahagia? Tidakkah dia itu sadar bahwa sebenarnya orang terdekat yang mencoba menasihatinya adalah orang-orang yang menyayanginya? Orang seperti itu secara tidak langsung sudah menyakiti perasaan orang-orang terdekatnya. Bahkan juga secara tidak langsung sedang menutup pintu-pintu peluang kebaikan yang bisa datang kapan saja tanpa diketahui waktunya. Maaf, saya katakan orang yang tidak punya motivasi tujuan hidup adalah orang yang pandai mencari alasan namun tidak pandai mencari solusi. Ini bahaya, “naudzubillaahindzaalik”, kita berlindung pada Alloh dari hal yang demikian.

        Kemudian yang ketiga adalah tidak sabar, “no patient”. Sabar bukan berarti ketiadaan tindakan diam menunggu sesuatu. Saya katakan, sabar adalah sebuah proses tindakan atau amal kebaikan yang harus terus berjalan karena menunggu datangnya pertolongan dari Alloh. Kalau pertolongan itu datangnya instan, maka itu bukan cara kerja pertolongan dari Alloh. Pasti akan ada sebab Alloh menolong hamba-Nya. Jadi mohon maaf, saya katakan orang yang tidak sabar seperti itu adalah orang yang mudah tenggelam di tengah laut, tidak mau berenang namun impiannya selalu di tepi pantai. Boleh jadi, pertolongan Alloh itu datang karena ke-tawadhu-annya sabar mendengarkan nasihat saudara, datang karena dia sabar sering bertemu dengan orang-orang yang lebih baik atau lebih sholih sehingga dia pun ikut “tertular” berkah dari ke-sholih-annya. Boleh jadi pertolongan Alloh itu datang karena kesabaran dalam men-dawam-kan (meng-ajeg-kan) atau merutinkan amal kebaikan (sholih). Boleh jadi juga pertolongan Alloh itu datang ketika semua dosa-dosanya sudah bersih oleh sebab sabarnya menghadapi kesulitan atau “jatuh bangunnya” berkali-kali dalam mengarungi samudera kehidupan? Who Knows? Man Ya’lam? Siapa yang tau? Namanya juga usaha, yang penting kita meyakini bahwa “Innaa Nashrolloohiqoriiib” sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. Biar tambah yakin deh, boleh di cek bahwa pertolongan Alloh di tafsir QS. Al-Baqoroh ayat 214.

        Kemudian yang terakhir adalah tidak tawakkal kepada Alloh. Tawakkal berarti bersandar pada Alloh SWT dalam upaya mencapai keinginan atau bersandar pada Alloh dalam upaya menghindari keburukan (Bisa dikoreksi di mutiara hadits pertama dalam Kitab Syaroh Riyadush Sholihin bab 7 oleh Dr. Dib Al-Bugho dkk). Jadi, hasilnya itu terserah Alloh saja, tugas kita ber-ikhtiar sepaket dengan berdoa. Ikhtiar itu tidak selalu hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena boleh jadi Alloh Yang Maha Luas Ilmunya punya sesuatu yang lebih baik dari sekedar apa yang kita harapkan melalui ilmu kita yang sempit. Ibaratnya begini, namanya dagang ga selalu untungnya sesuai yang kita harapkan, bisa jadi kurang bisa juga lebih. Di sinilah kondisi dimana kita harus bertawakal pada Alloh SWT karena Alloh bisa berehendak lain dengan banyak sekali peristiwa yang bisa terjadi diluar jangkauan pemahaman ilmu manusia. Maaf, saya katakan orang yang tidak tawakkal seperti itu adalah orang yang mudah kecewa, mudah menangisi hal yang ga penting dan mudah patah hati. Alloh-lah yang punya Ilmu Maha Luas dan punya rencana yang lebih baik. Namun manusialah yang terkadang “sok pintar” menganggap apa yang direncanakan itu yang terbaik, menganggap hasil yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.

         Wallohua’lam, Alloh yang lebih mengetahui, Alloh yang lebih luas pemahamannya dan Alloh yang mendatangkan kebenaran dari setiap apa yang kita sampaikan. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang memiliki kebahagiaan, bukan lantaran keinginan yang selalu terpenuhi, namun karena pandai melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar.
~>NuansaHati :)

Senin, 22 Agustus 2016

NASIHAT : APA YANG MEMBUATMU MEMILIKI KEKAYAAN ?


          Dari Abu Huroiroh, Rosululloh SAW bersabda: _*"Sedekah* itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang *memberi maaf* kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang *tawadhu'* (merendahkan diri) karena Alloh, melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya."_ *(HR.Muslim)*

           Kita tidak akan menemukan contoh ke_tawadhu_ an yang sempurna kecuali dari ke_tawadhu_an Nabi SAW. Tentu kita sering mendengar kata _"tawadhu"_.Ya, merendahkan diri karena ﷲ, lawan dari sifat _takabur_ atau meninggikan diri (sombong). Tawadhu, kecenderungan mengalah atau tidak berbangga diri adalah sebuah sifat terpuji yang wajib dimiliki seorang mukmin dihadapan Alloh, Rosul-Nya, ulama, dan individu-individu manusia lainnya yang diniatkan untuk mencari Ridho Alloh semata. _(Mutiara Hadits dalam Kitab Syaroh Riyadus Sholihin Bab 71 oleh Dr. Mustafa Dib al-Bugho)_.

        Tawadhu adalah kekayaan, karna sifat itu mampu menanggalkan harta sebanyak apapun demi derajat yang tinggi di hadapan Alloh SWT. Tawadhu-nya seseorang yang mengetahui sesuatu, ia tidak berbangga diri dan tidak dzolim terhadap orang yang tidak memahami sesuatu. Tawadhu-nya seorang dermawan, ia tidak mengharap orang lain mengetahui jumlah kekayaan yang dimilikinya. Tawadhu-nya seseorang yang sudah dewasa, ia tidak merasa rendah menyapa dan menghormati yang lebih muda atau anak-anak di sekitarnya. Tawadhu-nya seorang pemimpin, ia mampu mengakui kelemahan dan kesalahannya di hadapan para pengikutnya. Tawadhu-nya seorang suami, ia tidak segan-segan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dalam keluarganya. Tawadhu-nya seorang yang berilmu, ia segera menjawab perkara penting dari orang yang bertanya meminta petunjuk darinya. Tawadhu-nya seorang yang dipandang terhormat, ia tidak keberatan bekerja sebagai penggembala kambing di tengah lapang. Tawadhu-nya orang yang punya kendaraan bagus, ia rela berjalan kaki dan meminjamkannya pada orang lain yang sedang membutuhkan. Tentunya, masih banyak contoh ke-tawadhu-an yang bisa kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Semoga kita diberi taufiq dan hidaya-Nya untuk menjadi hamba-hamba Alloh yang _tawadhu_. *(Sumber inspirasi : Syaroh Hadits Kitab Riyadus Sholihin bab 71 oleh Dr. Mustafa Dib al-Bugho )*

👉NuansaHati😊

Jumat, 19 Agustus 2016

NASIHAT : SAKING GEMBIRANYA, ORANG ITU SALAH UCAP "ENGKAU HAMBAKU DAN AKU TUHAN-MU"


           Seringkali respon orang itu spontanitas ketika orang itu mendapatkan sebuah kabar yang menggembirakan. Ada yang saking gembiranya dia teriak histeris, ada yang lompat-lompat, ada yang salah ucap atau salah tingkah, ada yang memeluk teman di sebelahnya. Bahkan ada yang “memukul sayang” pada temannya, ada pula yang langsung sujud syukur, sampai-sampai sesuatu yang menyenangkan itu kadang kala membuat orang ga bisa tidur dan besoknya langsung *tasyakuran*. Saya yakin semua dari kita pun pernah mengalami hal yang menggembiraan hati karena terpenuhinya sebuah harapan. Boleh jadi kalau harapan yang terpenuhi itu berasal dari orang lain, ia akan membalas orang itu dengan pemberian yang lebih baik karena kegembiraan yang dirasakan. 

          Ada sebuah kisah apik tentang gembiranya Alloh terhadap hamba-Nya yang melebihi gembiranya manusia pada umumnya seperti respon-respon kegembiraan spontanitas yang tersebut di atas. Kebayang ya, manusia saja kalau sedang gembira biasanya dia akan menebarkan pemberian dan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya meski tidak diminta. Apalagi ini Alloh yang gembira, yang Punya Segalanya di langit dan di bumi. 
Kisah apik ini dikutip dari kitab Riyadus Sholihin bab 2 yang tentunya akan sangat apik jika dibaca sampai selesai beserta kandungan hikmahnya. Kisah ini dari Abu Hamzah, yaitu Anas bin Malik Al-Anshari r.a., pelayan Rasulullah SAW, katanya: Rasulullah SAW bersabda : *"Niscaya, Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya dibandingkan dengan gembiranya seseorang dari kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas, kemudian kendaraannya itu kabur dari dirinya, sedangkan di situ ada makanan dan minumannya sehingga orang tadi lalu putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya, sedang hatinya sudah berputus asa untuk mendapatkan kembali kendaraannya tersebut. Tiba-tiba saat ia dalam keadaan demikian itu, kendaraannya itu nampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil tali ikatannya. Oleh sebab sangat gembiranya maka ia berkata: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu". Ia menjadi salah ucap karena amat gembiranya."* (HR. Muslim)

         Mari kita bayangkan, bagaimana kalau Alloh yang gembira pada hamba-Nya? Bahkan melebihi gembiranya orang yang menemukan kembali kendaraan dan seisinya. Boleh jadi Alloh pun akan memberikan respon spontanitas yang ga pernah kebayang oleh hamba-Nya berupa pemberian-Nya yang terbaik. Oleh sebab itulah, taubat itu sangatlah *berperang* penting dalam menentukan kebahagiaan seseorang karena  memang setiap kita, *manusia* biasa pastilah punya dosa. Jangan pernah kita ngaku ga punya dosa, bahaya. Namun, cukup kita dan Alloh saja yang tau dimana dosa kita, tak perlu ceritakan dosa diri pada orang lain karna malah akan menambah dosa semakin besar.

         Taubat, berarti kembali pada jalan Alloh dari segala kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, sekecil atau sebesar apapun dosa. Nabi saja bertaubat, mohon ampun pada Alloh, beristighfar tidak kurang dari 70 kali sehari. Dalam riwayat lain dikisahkan 100 kali sehari, nah apalagi kita yang jelas-jelas banyak salah dan tidak punya KJS, kartu jaminan surga, dari Nabi SAW. Jangan dikira kita ga perlu taubat, padahal banyak yang musti, harus, kudu kita taubati. Taubat dari malas beribadah, taubat dari su’udzon (prasangka buruk) pada Alloh dan makhluq-Nya, taubat dari sering ber-ghibah, mengumbar aib orang lain sehingga orang lain itu tidak suka jika mendengarnya, taubat dari ga pernah sedekah, taubat dari datang ke kantor terlambat, taubat dari ber-kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom) baik secara fisik maupun hati, taubat dari kesalahan (dosa) baik pada Alloh maupun pada manusia, dan lain sebagainya. Sekali lagi, cukup hanya kita dan Alloh saja yang tau dimana dosa kita. Maka, langkah awal kita untuk taubat adalah memahami bagaimana cara taubat itu sendiri. 
         
          Para ulama membagi syarat taubat itu setidaknya menjadi tiga, yaitu menghentikan perbuatan buruk (dosa), menyesalinya, kemudian bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Kalau kesalahan atau keburukan itu berhubungan dengan orang lain maka syarat ke empatnya adalah harus menyelesaikan urusannya dengan orang tersebut hingga orang lain tersebut benar-benar ridho atau memaafkan segala kesalahan orang yg bersalah. Kalau ada salah satu syarat saja tidak terpenuhi maka berdasarkan syarat-syarat tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa taubatnya tentu tidak diterima oleh Alloh SWT. 
Mudah-mudahan lah ya, kita diberi kesempatan yang luas untuk selalu bertaubat setiap hari setiap kesempatan, karena mendapat ampunan dari taubat itu sendiri adalah sebuah *kebahagiaan*.

Walloohua'lam
~>NuansaHati 😊

Selasa, 14 Juni 2016

NASIHAT : BAHAYA PENYAKIT “BT” SAAT BERPUASA (Lampost, selasa 14/6/2016 hal.13)



           Mungkin di antara kita seringkali banyak yang mengalami keadaan suntuk, saat semuanya sudah sampai pada batasnya. Istilah Wikipedianya BT, tapi bukan Bujur Timur melainkan Boring Time. Kalau  kita devinisikan secara umum bisa berarti “suatu waktu yang di dalamnya hanya ada perasaan bosan terhadap aktivitas yang dijalani”. Kondisi ini bisa menyerang siapapun, baik itu tua atau muda, pria atau pun wanita. Bahkan bisa menyerang seseorang setiap harinya. Bisa kita artikan kalau kondisi seperti ini sebenernya adalah penyakit, karena memang kehadirannya sangat tidak kita inginkan dan mengganggu. Kondisi seperti inilah yang kadang akan memicu seseorang melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat jika BT terus dibiarkan, bahkan mungkin malah membuang-buang waktu tanpa ada pelajaran yang berarti untuk apa waktunya telah digunakan. Salah satu contoh orang yang terserang kondisi BT kalau ditanya mau kemana, mungkin dia akan jawab “kemana aja yang penting jalan” atau jawaban lainnya yang tidak sesuai dengan pertanyaannya. Padahal kita nanti akan diminta pertanggungjawaban terhadap Ashr (waktu) kita, “untuk apa waktu yang telah digunakan selama hidup di dunia?”. Dalam Tafsir Ibnu Katsir surat Al-‘Ashr, ‘Ashr (waktu/masa) berarti waktu yang di dalamnya berbagai aktivitas anak cucu Adam berlangsung, baik itu aktivitas kebaikan ataupun keburukan. Bayangkan, apakah kita siap menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban “yang penting jalan” atau “saya lagi BT” ketika kita ditanya tentang pertanggungjawaban aktivitas yang telah kita lakukan di dunia?

         Lebih-lebih di bulan puasa. Waktu kerja tentu berkurang dan waktu menganggur jadi lebih banyak sehingga pengennya kebanyakan orang selalu tidur untuk menghabiskan waktunya. Atau mencari aktivitas lain yang kemanfaatannya diragukan namun menyenangkan baginya sendiri yang tentunya itu dipicu oleh hadirnya penyakit BT. Apakah kita akan menyia-nyiakan Bulan Romadhon dengan membiarkan penyakit BT menguasai kita yang kemudian berefek pada aktifitas yang tidak bermanfaat? Tentu ini adalah persoalan serius karena kalau tidak segera kita atasi maka bulan Romadhon kita bisa berlalu begitu saja tanpa ada pemaknaan. Betapa tidak, di hari biasa saja Alloh melipatgandakan satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan bahkan hingga tujuh ratus. Apalagi kalau kebaikan itu kita lakukan di bulan Romadhon sebagaimana Hadits  Nabi SAW dalam Shohih Ibnu Majjah dan Shohih Muslim ini : Dari Abu Huroiroh r.a., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai kehendak Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, Aku lah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.' Bagi orang yang berpuasa di beri dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa, dan kegembiraan saat berjumpa Tuhannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi misik.””  Maka salah satu pesan hadits di atas yang bisa kita ambil adalah bahwa pahala orang berpuasa yang ada kebaikan aktifitas di dalamnya akan dilipatgandakan sekehendak Alloh. Mungkin bisa dilipatgandakan seribu, sepuluh ribu, atau bahkan mungkin sejuta wallohua’lam itu hak preogatif Alloh SWT.
         
         Mungkin beratlah bagi sebagian kita untuk berpuasa sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi SAW. Bayangkan, beliau berbuka saja dengan beberapa kurma, kalau ga ada kurma cukuplah dengan beberapa teguk air. Tapi sebenernya amalan itu juga bisa dikerjakan sebelum menyantap makanan pelengkap lainnya. Berat pulalah mungkin bagi sebagian kita untuk berinteraksi dengan Al-Quran dengan memperbaiki bacaannya, membacanya, mengkajinya, menghafalkan dan mengamalkannya. Tapi sebenarnya amalan itu pun mudah dikerjakan bagi orang yang mau mencari tahu betapa pentingnya berinteraksi dengan Al-Quran di bulan Romadhon. Setidaknya, kalau kita belum bisa menyaingi kapasitas amalan orang-orang sholih dalam bulan puasa, kita memahami bahwa “Puasa itu memiliki makna lebih banyak dari sekedar berpantang makanan, minuman dan syahwat. Karena itu, ia mencakup pantangan terhadap semua hal buruk dan menghiasi diri dengan berbagai keutamaan” (Mutiara hadits No. 4 dalam Syaroh Riyadhus Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al-Bugho dkk. Bab. 217). Jangan sampai, Alloh ga melihat puasa, ga peduli dengan puasa kita karena kelalaian-kelalaian kita dalam menjaga aktivitas lidah, aktivitas tangan, mata, telinga dan aktivitas-aktivitas kita lainnya.    
         
       Jadi sebenarnya, solusi menyembuhan penyakit BT saat kita berpuasa itu sangat sederhana, yaitu  memahami betapa berharganya aktivitas di waktu-waktu kita berpuasa Romadhon. Jangan sampai kita tak mendapat ampunan di bulan Romadhon, padahal ampunan itu dibuka setiap hari oleh Alloh. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Romadhon dengan didasari iman dan pengharapan pahala (bermuhasabah), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Hadits Shahih Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Mutafaqq’alaih). Bayangkan, sudah berapa lama kita hidup di dunia. Sudah berapa tahun kita melakukan dosa sejak usia baligh (sampai pada umur diwajibkannya seseorang menjalankan syariat agama)? Namun Alloh siapkan ampunan pada hamba-Nya terhadap dosanya yang didapat dari mulai usia baligh hingga saat hari dimana ia berpuasa. Tentunya bagi orang yang berpuasanya dengan didasari iman. Artinya ada aktivitas iman di dalam puasa, ada amal sholih dan amal kebaikan untuk sesama, karena memang bukti iman adalah amal. Tentunya juga disertai dengan kehati-hatian dalam beraktifitas. Senantiasa ber-muhasabah (instropeksi diri), sampai sejauh mana aktifitas kita hingga bisa disebut ibadah dan jangan sampai aktivitas yang dilakukan saat sedang berpuasa tanpa pengharapan pahala dan ridho Alloh SWT. Wallohua’lam, semoga puasa kita hari ini mengundang ampunan dan keberkahan dari Alloh SWT. Amin.

Indra Mulya
Pengajar Bimbingan Membaca dan Menghafal Al-Quran (Alumni Pondok Pesantren Mahasiswa Darul HIkmah, PPM-DH)

Minggu, 12 Juni 2016

NASIHAT : ADA APA DENGAN CINTA ?



          Saya sedang tidak berbicara tentang film "Ada Apa Dengan Cinta". Saya juga tidak sedang berbicara tentang kisah cinta sinetron kejar tayang yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. Lebih-lebih saya tidak akan membicarakan tentang kisah cinta Romeo dan Juliet dalam Novel karya William Shakespeare yang juga sudah digarap menjadi tontonan dalam film layar lebar.  Sebagai muslim tentu saya tidak merekomendasikan karya-karya seperti itu. Bukan berarti tidak boleh, hanya saja bagi orang yang belum bisa memisahkan mana yang bisa jaadi tuntunan atau tidak, maka ini akan menjadi persoalan yang serius. Betapa tidak, tontonan semacam itu banyak mengajarkan berdua-duaan (kholwat) dan bersentuhan dengan seseorang lawan jenis yang bukan muhrimnya. Kita di Indonesia tentu tidak ada lembaga yang sanggup mem-filter kemudian mengkampanyekan, manakah film yang layak dijadikan tuntunan atau tidak. Kalaupun ada pastilah akan terjadi banyak pro dan kontra yang mungkin malah akan mengakibatan resiko semakin besar. Maka, filter itu haruslah ditumbuhan masing-masing pada setiap muslim agar mampu menyaring, adakah manfaat yang bisa diambil dari film ataupun tontonan percintaan yang ditayangkan tersebut. Jadi, intinya kembali pada penonton itu sendiri yang harus bisa bijaksana, adakah manfaat dan kebaikannya dari semua tayangan yang ditonton. 

           Tentu, judul cinta yang sedang saya bicarakan di sini adalah cinta yang benar. Jika kita benar mengolah cinta maka hadirlah keindahan. Namun kalau salah mengolah cinta, maka jangan harap akan hadir keindahan. Kalaupun ada keindahan, itu adalah keindahan yang semu belaka, fana, yang kemudian hilang seperti  debu dihempas oleh angin tanpa sisa. Itulah kenapa muncul istilah, “sakit nya tu di sini” (sambil memegang dada kirinya), ya…karena ia salah mengolah cinta dan salah menempatkan cintanya. Lalu bagaimana cinta yang benar itu ? Pengertian inilah yang sangat sulit untuk digambarkan, karena kita sedang bicara tentang apa yang muncul dari hati, namun sebenarnya bisa dirasakan setiap orang.

        Bicara tentang cinta, mari perlahan-lahan kita memahami bagaimana cinta yang sebenarnya. Tentu semua orang yang hidup di dunia ini memilikinya karena cinta diciptakan oleh Alloh sepaket dengan hati. Kenapa saya bilang speaket dengan hati ? Karna keberadaannya tidak bisa di deteksi namun bisa dirasakan layaknya iman yang ada di dalam hati. Jadi tak akan pernah terlihat wujudnya namun bisa dirasakan indahnya memiliki iman itu, baik untuk dirinya maupun untuk orang-orang di sekitarnya. Ya…Sejak dulu begitu pula dengan cinta, indahnya sungguh tiada akhir. Dari Nabi Adam AS bersama Hawa hingga Nabi penutup Muhammad SAW ada kisah cinta yang tak akan habis membuat kita terkagum bagaimana mereka menghidupkan cinta. Bahkan, kisah-kisah cinta itu diteruskan hingga pada para sahabat sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW.

       Sebut saja perang Yarmuk yang terjadi empat tahun setelah meninggalnya Nabi SAW. Ada tiga orang sahabat Nabi, Al-Harits, Ikrimah dan Suhail, ketika berada dalam kondisi terluka kritis pada saat perang itu ada seseorang membawakan minuman kepada mereka namun ternyata mereka bertiga menolak pemberian air minum yang dibawa untuk mereka. Tentu mereka menolak bukan karna tidak bersyuur dengan datangnya air itu, namun ketika Ikrimah meminta air, semoga Alloh meridhoinya, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka ia berkata “berikan air itu padanya”, dan ketika itu Suhail juga melihat Al Harits sedang memandangnya, maka ia pun juga berkata “berikan air itu kepadanya (Al Harits)”. Namun belum sempat air itu sampai pada Al Harits, ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut. Sungguh kisah ini bisa mengurai air mata jika kita menjiwai membacanya disertai kisah latar belakang perang tersebut. Bagi sejarawan siroh sahabat, boleh mengoreksi jika ada yang salah dari kisah tersebut.

         Kenapa sedemikian hebatnya, seseorang rela mengorbankan nyawanya  untuk orang lain, dengan kata lain mengorbankan nyawanya untuk kebahagiaan orang lain? Itulah cinta yang rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata namun bisa mudah dijelaskan dengan perbuatan. Nabi SAW bersabda “Demi Dzat Yang Menguasai Jiwaku, kalian tidak dapat masuk surga hingga kalian beriman, kalian belum disebut beriman hingga kalian SALING MENCINTAI.” (HR. Muslim, bab Keutamaan dan Anjuran Mencintai karena Alloh dalam Kitab Riyadusholihin). Saya ingin menggarisbawahi pengertian dari kalimat “hingga kalian saling mencintai”. Kenapa seseorang sedemikian hebatnya bisa mengorbankan nyawanya demi kebahagian orang lain? Karena ia yakin dengan surga Alloh, karena ia yakin dengan jaminan perkataan Nabinya, karena ia yakin cinta Alloh SWT akan jatuh pada orang yang berani mengorbankan dirinya untuk sahabatnya di jalan Alloh…karena itulah tumbuh cinta pada sesama, pada orang lain pada sahabatnya, pada saudaranya, pada keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, cinta yang begitu hebat karena seseorang itu telah yakin dengan janji Alloh SWT dan Nabi-Nya SAW. Dengan cinta itu, seseorang akan senang menebarkan kasih sayang, Afsyussalaam “menebarkan salam”, menebarkan kebaikan dimanapun ia berada, bahkan ia pun menikah karena telah tumbuh cintanya pada Alloh, tidak akan patah hati jika cintanya tak terbalas oleh manusia karena Alloh yang akan membalas cinta yang dimaksudkannya…dan itulah buah dari iman yang ada dalah hati. Sehingga jika benar-benar cinta itu tumbuh karena iman, seseorang tidak akan kecewa dan tidak akan mengucapkan istilah “sakitnya tuh di sini”, karena Alloh tak akan pernah mungkin mengecewakan cinta dari hamba-Nya.

        Wallohua’lam, semoga artikel ini bisa mengantarkan kita pada cinta yang benar, cinta yang sebenarnya, cinta yang mengantarkan kita bisa berumpul di surga-Nya. Amin.

~>NuansaHati :)        


Sabtu, 11 Juni 2016

NASIHAT : ADA APA DENGAN SEDIH?

            Nabi SAW pun pernah bersedih bahkan menangis. Salah satu contoh peristiwa itu adalah ketika beliau menjenguk Sa'ad bin Ubadah sehingga membuat beberapa sahabat yang ikut menjenguk bersamanya juga ikut  menangis. Kalau Nabi dan sahabatnya pun bisa menangis terhadap taqdir Alloh, tentunya sedih seperti itu boleh, asal tidak disertai marah terhadap taqdir Alloh dan berlebih-lebihan meratapi kesedihan. Kitapun berlindung pada Alloh dari kedukaan dan kesedihan seraya berdoa "Alloohummaa innii A'uu dzubika minal Hammi wal Hazan" (Ya Allooh, aku berlindung pada-Mu dari kedukaan dan kesedihan) H.R. Abu Dawud. Menangis pun tentunya juga tidak dilarang karna itu bukti adanya kelembutan hati, namun menangis yang terbaik adalah menangis karena takut pada adzab Alloh SWT. "Laa Yalijunnaar Rojulun bakaa Min Khosyatillaah" (Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut pada Allooh). HR. Tarmidzi, Kitab Riyadus Sholihin Bab Keutamaan Menangis.

        Namun, sedih dan menangis yang disebabkan karena tersakiti oleh orang lain belumlah nampak akan menentramkan kecuali sedih dan menangis itu disertai murahnya "maaf dan Lapang dada" terhadap siapa saja dan apa saja ujian yang menimpa yang mengakibatan rasa sakit itu. "Maaf dan lapang dada" bukan hanya bicara mengenai kesabaran hati, namun juga upaya seseorang untuk menyenangkan orang lain di sekitarnya sehingga orang lain merasa TENANG karenanya. Maka, Alloh pun akan berikan hadiah kemuliaan pada orang yang gemar lapang dada dan memaafkan ketika sakit di hatinya melanda. "Tidaklah Alloh Menambahkan pada seseorang karena maafnya kecuali KEMULIAAN" (HR.Muslim)
 

        Kita minta saja lah ya, hadiah lapang dada itu langsung pada Alloh yang Maha Adil Memberikan Balasan Kebaikan pada hamba-Nya. Tentunya, hadiah "kemuliaan" tak mungkin membawa kita ke tempat yang panas dan menyiksa, pastilah akan membawa kita ke tempat yang "DIMULIAKAN" pula oleh Alloh.
 

Wallohua'lam, Jangan pada syedih melulu ya...Have a Nice Day...
~>NuansaHati:)

Jumat, 10 Juni 2016

NASIHAT : BENARKAH BANYAK AMAL SHOLIH CEPAT MASUK SURGA?

           Kita mungkin sering melihat di komputer ada tampilan banyak aplikasi-aplikasi yang sudah di instal sampai penuh tuh aplikasi menutupi layar monitor. Tentunya tampilan-tampilan itu untuk mempermudah dan mempercepat kita menggunakan aplikasi yang ada melalui jalan pintas atau sering disebut dengan shortcut. Kita akan langsung bisa masuk ke program atau aplikasi dan bisa menikmati apa yang kita ingin mainkan, baik itu game atau aplikasi windows lainnya. Bahkan kita pun akan menemukan shortcut digunakan dalam semua aspek kehidupan karena memang digandrungi banyak orang. Misalnya saja Shortcut cepet kaya, shortcut cepet nikah, shortcut cepet lulus kuliah, macem-macem lah pokoknya, asal ga melanggar syariat mah boleh-boleh saja. Termasuk nih shortcut ke surga, jalan pintas atau jalan cepat masuk surga. Ada ga sih? Gimana caranya? Kepikiran aja mungkin kita belum pernah.

         Keumuman orang berfikir, bahwa yang namanya masuk surga ya bawa amal sholih sebanyak-banyaknya. Itu memang benar, ga salah, tapi mungkin ada juga sebagian dari kita yang mencoba mencari gaya masuk surga dengan cara yang berbeda. Banyak orang minder duluan kalau liat orang sudah pake gamis putih-putih, keningnya hitam, pake sorban, rajin ke mesjid, rajin ibadah lah pokoknya, kayaknya nih sudah punya kaplingin di surga. Bahkan kayaknya merek di bajunya sepertinya sudah kliatan ada stempel "surga”, sehingga orang yang nampaknya biasa-biasa saja jadi minder dan bertanya dalam hati, "Bener ga sih kita bisa masuk surga tanpa penampakan sholih seperti itu?"  Benarkah surga hanya untuk orang-orang yang amal sholihnya banyak saja? Seperti apakah gaya yang berbeda agar bisa masuk surga  jalan pintas masuk ke surga sehingga bisa masuk surga seperti orang-orang yang banyak beramal sholih?

          Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya pengen buat perbandingan begini. Katakanlah si fulan dia ini ahli ibadah, sholat 5 waktu ga ketinggalan, rukun islam yang lain dilaksanakan, tahajjud kenceng, sedekah ga putus, baca Al-Quran tiap hari. Kalau dihitung-hitung pahalanya, taroklah nilainya 1000, ini misal ukuran jumlah pahala yang udah gede. Setelah dia yakin dengan hitung-hitungan amal sholihnya banyak, dia yakin siap menghadap Alloh, nah kemudian beneran nih si fulan akhirnya meninggal. Tapi ternyata setelah dia meninggal, dia lupa bahwa dia juga punya amal maksiyat yang belum di-taubat-i dan belum menyelesaikan kesalahan-kesalahan dengan orang lain selama di dunia sehingga memberi dia nilai dosa sebesar 2000. Kasusnya sih hampir sama seperti cerita Nabi SAW dalam hadits Sahih Muslim yang kurang lebih seperti ini : Rosululloh bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangrut (Muflis) itu?” Sahabat menjawab, “orang yang bangkrut adalah orang yang tak punya dirham dan harta benda”. Sabda Nabi SAW, orang yang bangkrut dari ummatku di hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat dan sungguh ia juga mencaci orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini (dengan cara tak halal), membunuh orang ini, dan melukai orang ini. Maka kepada orang tempat dia bersalah itu, diberikan amal baiknya dan kepada orang ini diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya telah habis sebelum semuanya terbayar, maka diambil kesalahan orang yang tersebut itu tadi lalu dilemparkan kepadanya. Sesudah itu dia dilemparkan ke neraka.” Sungguh kita berlindung pada Alloh dari hal demikian. Kalau itung-itungan matematika, si fulan jelas rugi. Amal sholih yang ia kumpulkan susah payah selama di dunia ternyata berkurang, habis bahkan bisa minus untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Timbangan amal buruknya menjadi lebih berat dari pada amal sholihnya. Nah, terus gimana dong kalau udah begini? Ya tentunya si fulan masuk neraka, meskipun nantinya juga masuk surga tapi kan ya nyicip juga api neraka, tapi entah berapa tahun lamanya hanya Alloh yang Tau.

          Kemudian ada pula seseorang yang lain ya amalan sholihnya biasa saja. Solat lima waktu, sedekah jarang, tahajjud ga pernah, puasa setahun sekali, baca quran juga kalau ada yang nyuruh. Kalau dihitung-hitung ya mungkin nilai amal sholihnya cuma 200. Tapi di sisi lain ternyata dia rajin taubat pada Alloh dan minta maaf pada orang yang dia dzolimi, sehingga nilai amal buruknya itu cuma 150. Nah, kalau seperti ini kebayang kan kita, mau masuk mana orang ini dengan melihat amal sholihnya yang sedikit tapi amal buruknya juga lebih sedikit. Tentu dia akan masuk surga tanpa mampir dulu ke neraka.

         Jadi, terjawablah sudah. Amal sholih saja ternyata ga cukup membawa kita ke surga. Kalau ada yang tanya, mending mana, amal sholihnya 1000 tapi amal buruknya 2000 dengan amal sholihnya hanya 200 tapi amal buruknya 150? Tentu kalau saya yang ditanya akan lebih memilih amal sholih 1000 dan amal buruk 0, alias ga ada amal buruk. Banyak amal sholih dosanya ga ada alias sudah diampuni. InsyaAlloh mudah-mudahan kita diberi hidayah oleh Alloh sehingga bisa beramal seperti itu. Sungguh kita pun berlindung pula pada Alloh dari hal yang sebaliknya dari itu, sementara ada banyak orang sibuk nyari jalan cepat ke surga, eh ada pula orang yang bikin jalan cepat ke neraka dengan cara maksiat iya, amal sholih kagak. Sehingga amal sholihnya 0 amal buruknya 1000.

        Perbandingan yang sudah kita bahas ini bukan berarti meremehkan banyaknya amal sholih kemudian memuji yang amalnya biasa saja. Ga begitu juga. Ini hanya perumpamaan saja. Kalau seseorang ga bisa menyaingi amal sholih orang lain, setidaknya dia meninggalkan perbuatan maksiat, meninggalkan tempat yang membuatnya bermaksiat dan banyak bertaubat. Sebaliknya, orang yang banyak amal sholih juga jangan terlalu terlena dengan banyaknya amalan sholihnya, jangan lupa untuk rajin hitung-hitung juga amal buruk yang harus di tinggalkan dan harus di-taubat-i. Lebih-lebih kalau berhubungan dengan manusia, maka harus segera diselesaikan urusannya agar saling ridho satu sama lain. Dengan begitu insyaAlloh kejawab pula, bagaimana kita menggunakan gaya lain dengan mencari jalan cepat ke surga, banyak amal sholih, banyak minta maaf serta banyak taubat. Tentunya Alloh-lah Yang Maha Adil dalam menghitung-hitung amal manusia dan semua upaya kita di dunia, termasuk jalan yang kita anggap cepat, akan senantiasa membutuhkan ridho Alloh SWT.

Wallohua’lam, semoga Alloh ridho dengan semua amal kita, berkenan mengampuni semua dosa kita dan memasukkan kita semua ke surga Alloh SWT tanpa mampir dulu ke neraka. Amin

~>NuansaHati:)

NASIHAT : MENGAJAR DENGAN CONTOH


           Seorang bertanya masalah waktu pertemuan : "Ustadz, gimana nih? Ibu A maunya hari ini ibu B maunya hari itu?" Sebenernya bisa saja ketika orang bertanya kemudian kita tau jawabannya dengan berbagai pertimbangan, langsung saja kita jawab ga perlu berlama-lama untuk mengambil keputusan. Tapi karena keputusan itu ga mendesak jadi saya bilang "Nanti ya, saya cari jawabannya di 1/3 malam dan besok paginya mudah-mudahan ada keputusan yang terbaik".

          Sebenernya saya mengajarkan pada diri saya pribadi dan saya masih belajar untuk selalu berDIALOG dengan Alloh melalui perantara sholat malam apapun masalah dan keputusan yang harus diambil. Nabi SAW pun telah mengajarkan kita untuk senantiasa memohon pertolongan-Nya di watu lapang ataupun sempit, karena pada dasarnya doa adalah sarana kita mendekatkan diri kita pada Alloh. Maka seseorang yang mendekatan diri pada Alloh memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatan pertolongan dari Alloh atau sekedar mendapatan jawaban dari permasalahan-permasalahan hidupnya. Sesuai dengan perintah Alloh "Yaa ayyuhalladzii na aamanusta'iinu bisshobri wassholaah..(QS. Al-Baqoroh : 153)." Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah dengan sabar dan sholat. InsyaAlloh, ketika kita melibatkan Alloh dalam mengambil setiap keputusan, kemudian kita sabar serta bersiap dengan segala eputusan yang akan terjadi dan dalam sholat kita memehon petunjuk dan ber-munajat pada-Nya, itulah keputusan yang terbaik karena Alloh langsung yang membimbing hati kita.
 

         Nah, Orang yang bertanya nih sudah faham apa makna kata-kata 1/3 malam dan apa yang dicari di 1/3 malam itu, tinggal MODIFIKASI pelaksanaan ibadahnya saja yang perlu kreatif agar orang lain juga semangat membangun ibadah SUNNAH. Secara tidak langsung pun kita sudah mengajarkan sesuatu pada orang yang bertanya tanpa kita MENGGURUInya, karena kita mengajar terkadang harus dengan memberikan contoh yang NYATA. Singkat cerita, keesokan harinya mendapatkan jawaban hari yang lebih baik.

         Semoga Alloh meridhoi amal ibadah-ibadah kita dan mendapatkan kecintaan yang lebih dari Alloh dibandingkan upaya kita menuju Alloh. Kita simak Hadits Kudsi nan indah yang berkaitan dengan perkara sunnah dan mirip sesuai dengan contoh kasus tersebut di HADITS ARBA'IN No. 38.
"...Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya, yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang digunakanbuntuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, kakinya yang ia gunakan untuk berjalan... (H.R. Bukhori)


Wallohua'lam
~>NuansaHati:)

NASIHAT : BENARKAH PASANG STATUS “IBADAH” BISA MENGHAPUS AMAL?

          Sepertinya dunia ini sudah tak asing lagi dengan teknologi berbentuk alat komunikasi. Lebih-lebih di dalamnya terdapat bermacam-macam kegunaan yang mendukung dengan bantuan semacam software yang bisa di instal atau disebut aplikasi. Salah satu aplikasi pendukung alat komunikasi yang sering orang sebut dengan “smartphone” ini adalah aplikasi media sosial. Seperti facebook, twitter, path dan lain sebagainya yang tentunya hampir tidak mungkin pengguna smartphone tidak memiliki akun media sosial. Aplikasi-aplikasi media sosial tersebut tentulah banyak kegunaan yang bisa di share (bagi) melalui pembaharuan informasinya yang sering orang sebut dengan “Up Date Status”. Antara lain untuk media silaturahmi ataupun perkenalan, ataupun promosi barang dagangannya yang bisa dipromosikan secara gratis ke seluruh temannya bahkan ke seluruh dunia. Bahkan saya yakin masih ada lagi kegunaan media sosial yang tidak mungkin kita bahas di sini. 

          Saking banyaknya fungsi media sosial yang bisa di Up Date, habis makan dia up date, habis olah raga up date, mau tidur hingga bangun tidur up date, habis kerja pun up date status, sampai-sampai entah sengaja atau tidak, seseorang senang dengan Up Date Status ibadah yang mau dikerjakannya, sedang dikerjakannya atau bahkan setelah mengerjakannya. Baik itu di up date melalui foto atau tulisan. Mau puasa up date, setelah tarawih up date, lagi baca Qur’an juga masih sempet up date “lagi baca Qur’an” dengan bermacam-macam kondisi dan redaksional status. Nah, pertanyaan yang sering muncul adalah “boleh ga sih up date status setelah ibadah?” Untuk mengambil kesimpulan apakah boleh secara syariah atau tidak kita coba kaji dari hadits Nabi SAW dari Umar bin Khotob ini, “Segala perbuatan bergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya…” (Muttafaq’alaih).
Para ulama sepakat bahwa niat itu menjadi suatu keharusan dalam sebuah amal, agar mendapatkan pahala ketika amal itu dikerjakannya. Lanjutnya, para ulama juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi sahnya sebuah amal (Mutiara-mutiara hadits no. 1 Bab. 1 Syaroh Riyadus Sholihin Oleh Dr. Mustofa Dib Al bugho dkk) Tentunya, niat tempatnya ada di dalam hati dan hanya Alloh yang tau isi hati manusia, “Katakanlah, jika kamu sembunyikan di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Alloh pasti mengetahuinya..”(QS. Ali Imron : 29).

            Terkadang, seseorang melakukan kebaikan namun niatnya buruk. Sebaliknya juga melakukan sesuatu yang nampaknya buruk namun maksudnya baik. Seseorang yang terlihat gagah berani membela agamanya dan terlihat syahid di medan perang belum tentu dalam hatinya ia berperang karena Alloh. Bukankah kelihatannya keberaniannya merupakan sebuah kebaikan? Tetapi kalau ternyata ia berperang hanya ingin disebut pemberani, maka kata Nabi SAW “Alloh memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke dalam neraka”. Begitu juga dengan seorang kaya yang banyak sedekah namun ingin disebut dermawan dan seorang yang pandai Al-Quran namun ingin disebut sebagai Qori’. Na’udzubillaahimindzaalik (kita berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian). Jadi tak perlu foto atau up date status yang di share ke medida sosial, hanya sekedar niat yang salah saja seseorang bukan hanya amalnya menjadi sia-sia, tetapi juga bisa terjerumus ke tempat yang terburuk.

          Namun, kalau ternyata kondisinya berbeda seperti ini misalnya, seorang yang profesinya adalah guru kemudian ia up date status atau up date foto tentang ibadah yang sedang dilakukannya dengan niat agar menjadi inspirasi murid-muridnya, meskipun sumber inspirasi yang terbaik adalah Al-Quran dan Sunnah tetapi kalau dalam hatinya berniat melakukan itu semua karena Alloh, maka tidak bisa juga kita melihat up date status itu kemudian bilang kalau ibadahnya itu perbuatan yang riya’ (amalan yang ditampakkan bukan Karena Alloh). Kita ketahui dalam siroh sahabat Nabi SAW bahwa sebelum adzan, Bilal r.a. punya amalan wudhu dan sholat sukur wudhu yang terjaga, bahkan wudhu dan sholat itu dijaga pula diluar adzan. Abu Bakar r.a. dengan 1/3 sedekahnya yang saat itu hartanya sebanyak 40.000 dinar/600an milyar, bahkan ada riwayat lain yang menyebutkan jumlah sedekahnya dengan separuh hartanya. Umar Bin Khotob r.a. yang pemberani bahkan syetan pun takut kepadanya itupun dikisahkan dalam siroh-siroh atau sejarah-sejarah kemuliaan akhlaq sahabat Nabi SAW. Masih banyak pula kisah sahabat lainnya, namun apakah hal demikian disebut riya’? Tentu tidak, karena mereka dikabarkan masuk surga.

          Dengan begitu pertanyaan kita pun terjawab. Seseorang beramal ibadah itu bergantung pada posisi niatnya masing-masing. Posisi itu yang tahu hanya Alloh SWT dan pelakunya sendiri. Seseorang yang setelah puasa atau tarawih atau umroh dan lain sebagainya kemudian dia up date status tentang ibadahnya belum tentu dia riya’. Malahan kalau kita mengira dia riya’ kita sudah su’udzon (berburuk sangka) pada pelakunya jika ternyata dalam hatinya ada rencana yang tidak kita ketahui dan itu dilakukan ikhlas untuk Alloh. Sebaliknya juga, bagi siapapun harus berhati-hati saat up date status atau foto, baik ibadah ataupun bukan, karena syetan paling pintar menggoda, bahkan lebih pintar dari manusia jenius manapun karena bisa menggoda orang yang niat amal ibadahnya tadinya karena Alloh kemudian selang berapa lama kemudian niatnya berubah menjadi bukan untuk Alloh SWT. Ini masalah serius karena "ngeri", hubungannya dengan neraka. Maka, kehati-hatian dalam menjaga niat ibadah agar tetap ikhlas karena Alloh itu sangat penting. Setidaknya kita harus menjaganya di tiga waktu, saat sebelum melakukan, saat sedang melakukan dan setelah melakukan yang tentunya ini waktunya tidak terbatas sampai ajal menjemput.
 

Wallohua’lam
~>NuansaHati:)