Pernahkah anda bertemu dengan orang yang merasa paling apes sedunia?
Merasa paling malang sedunia? Setidaknya orang itu melihat nasib dari
sudut pandangnya sendiri. Saya yakin ada di sekitar anda yang merasa
demikian. Atau malah mungkin anda sendiri yang merasa demikian? Ga perlu
dijawab, jangan merasa tersindir, karna artikel ini untuk “ummat” bukan
untuk seseorang semata. Jadi, cukup renungkan dan baca artikel ini
sampai selesai hingga benar-benar bisa mengambil pelajarannya.
InsyaAlloh…
Kembali ke permasahan “apes”. Saya katakan kondisi
apes atau malang menurut mereka yang merasa malang adalah kondisi yang
terjadi karena seseorang mengalami sebuah peristiwa yang tidak
menyenangkan dan membuat hati terasa sakit. Saking sakitnya, hingga
membuatnya ingin memegang dada kirinya selama mungkin untuk menahannya
lebih lama. “Emangnya ngaruh?” Anda tanyakan saja pada orang yang
membuat istilah “sakitnya tuh di sini” hehe...Dengan kata lain, kondisi
malang adalah kondisi ketiadaan kesenangan atau kebahagiaan dalam diri
seseorang yang terjadi karena melihat kebahagiaan dari sudut pandang
yang salah. Maka, untuk menghilangkan rasa paling malang sedunia adalah
dengan cara melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar, yaitu
menciptakan "kebahagiaan" itu sendiri.
Gimana caranya? Bukankah
Yang Maha Pencipta segala sesuatu itu Alloh Al-Waduud (Alloh Yang Maha
Pencipta)? Itu benar, tapi kita sedang menggunakan istilah “menciptakan”
untuk maksud yang lain, yaitu dimaksudkan untuk mendevinisikan bahwa
datangnya kebahagiaan itu ada penyebabnya. Alloh-lah yang menciptakan
“kebahagiaan” kemudian Alloh mengaruniakan kebahagiaan itu untuk
hamba-Nya karena Alloh juga Al-Wahhaab (Maha Pemberi Karunia).
Kebahagiaan adalah karunia dari Alloh dalam bentuk perasaan senang yang
“tidak datang tiba-tiba”, yang kata orang Jawa mah “ora teko ujug-ujug”.
Untuk memahami proses sebab datangnya kebahagiaan itu sekaligus
membangun suasana yang lebih ringan namun tetap islami, saya katakan
setidaknya di antara sebab ketidakbahagiaan yang sering terjadi pada
seseorang adalah karena seseorang underestimate (meremehkan) terhadap
diri sendiri, ketiadaan motivator diri, tidak sabar dan tidak tawakkal
pada Alloh SWT. “Kaifa yakuuna dzaalik ?” Kok bisa gitu sih?
Kita akan bahas mulai dari Underestimate. Suatu perkataan yang mencela
atau menyudutkan diri sendiri seperti dengan kata “saya ga bisa”, “saya
lemah”, “saya bodoh”, “saya jelek” dan lain semacamnya, itulah
underestimate. Kata-kata itu jelas kata-kata yang dilarang dalam islam
jika diniatkan untuk mencela, apa lagi mencela diri sendiri. Sedangkan
"Alloh itu sesuai dengan prasangka atau keyakinan hamba-Nya". Ini Hadits
Qudsi, Alloh langsung yang bilang (Lihat Syaroh Riyadush Sholihin Bab.
52 hadits pertama). Kalau kita memvonis diri kita dengan perkataan
mencela diri disertai keyakinan, tentu Alloh tidak akan mendatangkan
kebahagiaan itu karena kita sendiri, yang berkata tanpa pemahaman, sudah
membuat “block” atau penghalang kebahagiaan itu untuk bisa datang.
Kenapa? Karena Alloh sesuai dengan prasanga atau keyakinan hamba-Nya.
Apalah jadinya jika seseorang dalam suatu upayanya, apapun itu, selalu
bilang “saya penakut”, “saya pasti ga bisa” atau “saya lemah” ? Maaf,
saya katakan orang seperti ini adalah orang yang kalah sebelum
berperang. Bukan mendatangkan kebahagiaan namun mendatangan kemalangan
diri sendiri karena banyak sekali potensi diri yang lupa disyukurinya.
Kemudian yang kedua adalah ketiadaan motivator. Saya tidak bilang kalau
seseorang yang ingin menciptakan kebahagiaan harus ikut pelatihan ini
dan itu untuk mencari pembicara handal sebagai motivator. Sederhananya
begini, kalau seseorang melihat dengan kaca mata yang tawadhu, rendah
hati, mau menerima nasihat orang lain yang sudah jelas berpengalaman
dalam suatu hal, lebih-lebih teman dekat, maka akan banyak sekali sumber
motivasi (dorongan melakukan kebaikan) yang bisa didapatkan. Jadi tidak
perlu pembicara atau pemikir handal. Namun yang fatal, kebanyakan orang
yang tidak berhasil menciptaan kebahagiaan itu karena ia selalu
menghindar dari nasihat. Cobalah untuk menumbuhkan tawadhu dalam diri
dengan tidak anti sosial, tidak suka menyendiri mengerjakan hobi, tidak
merasa minder karena melihat orang lain serasa lebih beruntung, tidak
selalu mencari jawaban sebagai pembenaran yang mengakibatkan orang lain
tidak peduli lagi dan tidak kebiasaan bertanya “kenapa ini semua terjadi
pada diri saya?” Kalau “To the poin” saya jawab, maka saya katakan,
“segala kebaikan dan keburuan yang terjadi pada diri seseorang itu
adalah hasil dari perbuatannya sendiri”. Terdengar keras menjawabnya
namun itulah kenyataannya yang mau tidak mau harus kita hadapi. Biar
tambah yakin, boleh di cek tafsir surat An-Nisa ayat 79, tafsirnya ya,
bukan sekedar terjemahan yang singkat.
Artinya, kebahagiaan dan
rasa kemalangan atau keapesan seseorang itu akibat perbuatannya sendiri.
Namun kebanyaan orang tidak menyadarinya dan selalu mencari “kambing
hitam” atau sesuatu yang layak untuk disalahkan atas kemalangan yang
terjadi padanya. Nah, orang macam ini, biasanya kalau ada orang sedang
menasihatinya, maunya nasihat itu langsung “berwujud sesuatu” sehingga
bisa langsung menyelesaikan masalahnya alias instan tanpa ikhtiar, tanpa
mengambil pelajaran yang terjadi. Saya katakan ini adalah pemahaman
yang salah. Kalau orang tidak menyambut nasihat dengan baik karena
menganggap hanya sekedar “kata”, dari mana seseorang akan mendapatkan
motivasi untuk hidup bahagia? Tidakkah dia itu sadar bahwa sebenarnya
orang terdekat yang mencoba menasihatinya adalah orang-orang yang
menyayanginya? Orang seperti itu secara tidak langsung sudah menyakiti
perasaan orang-orang terdekatnya. Bahkan juga secara tidak langsung
sedang menutup pintu-pintu peluang kebaikan yang bisa datang kapan saja
tanpa diketahui waktunya. Maaf, saya katakan orang yang tidak punya
motivasi tujuan hidup adalah orang yang pandai mencari alasan namun
tidak pandai mencari solusi. Ini bahaya, “naudzubillaahindzaalik”, kita
berlindung pada Alloh dari hal yang demikian.
Kemudian yang
ketiga adalah tidak sabar, “no patient”. Sabar bukan berarti ketiadaan
tindakan diam menunggu sesuatu. Saya katakan, sabar adalah sebuah proses
tindakan atau amal kebaikan yang harus terus berjalan karena menunggu
datangnya pertolongan dari Alloh. Kalau pertolongan itu datangnya
instan, maka itu bukan cara kerja pertolongan dari Alloh. Pasti akan ada
sebab Alloh menolong hamba-Nya. Jadi mohon maaf, saya katakan orang
yang tidak sabar seperti itu adalah orang yang mudah tenggelam di tengah
laut, tidak mau berenang namun impiannya selalu di tepi pantai. Boleh
jadi, pertolongan Alloh itu datang karena ke-tawadhu-annya sabar
mendengarkan nasihat saudara, datang karena dia sabar sering bertemu
dengan orang-orang yang lebih baik atau lebih sholih sehingga dia pun
ikut “tertular” berkah dari ke-sholih-annya. Boleh jadi pertolongan
Alloh itu datang karena kesabaran dalam men-dawam-kan (meng-ajeg-kan)
atau merutinkan amal kebaikan (sholih). Boleh jadi juga pertolongan
Alloh itu datang ketika semua dosa-dosanya sudah bersih oleh sebab
sabarnya menghadapi kesulitan atau “jatuh bangunnya” berkali-kali dalam
mengarungi samudera kehidupan? Who Knows? Man Ya’lam? Siapa yang tau?
Namanya juga usaha, yang penting kita meyakini bahwa “Innaa
Nashrolloohiqoriiib” sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. Biar
tambah yakin deh, boleh di cek bahwa pertolongan Alloh di tafsir QS.
Al-Baqoroh ayat 214.
Kemudian yang terakhir adalah tidak
tawakkal kepada Alloh. Tawakkal berarti bersandar pada Alloh SWT dalam
upaya mencapai keinginan atau bersandar pada Alloh dalam upaya
menghindari keburukan (Bisa dikoreksi di mutiara hadits pertama dalam
Kitab Syaroh Riyadush Sholihin bab 7 oleh Dr. Dib Al-Bugho dkk). Jadi,
hasilnya itu terserah Alloh saja, tugas kita ber-ikhtiar sepaket dengan
berdoa. Ikhtiar itu tidak selalu hasilnya sesuai dengan apa yang kita
harapkan, karena boleh jadi Alloh Yang Maha Luas Ilmunya punya sesuatu
yang lebih baik dari sekedar apa yang kita harapkan melalui ilmu kita
yang sempit. Ibaratnya begini, namanya dagang ga selalu untungnya sesuai
yang kita harapkan, bisa jadi kurang bisa juga lebih. Di sinilah
kondisi dimana kita harus bertawakal pada Alloh SWT karena Alloh bisa
berehendak lain dengan banyak sekali peristiwa yang bisa terjadi diluar
jangkauan pemahaman ilmu manusia. Maaf, saya katakan orang yang tidak
tawakkal seperti itu adalah orang yang mudah kecewa, mudah menangisi hal
yang ga penting dan mudah patah hati. Alloh-lah yang punya Ilmu Maha
Luas dan punya rencana yang lebih baik. Namun manusialah yang terkadang
“sok pintar” menganggap apa yang direncanakan itu yang terbaik,
menganggap hasil yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.
Wallohua’lam, Alloh yang lebih mengetahui, Alloh yang lebih luas
pemahamannya dan Alloh yang mendatangkan kebenaran dari setiap apa yang
kita sampaikan. Mudah-mudahan kita tergolong orang yang memiliki
kebahagiaan, bukan lantaran keinginan yang selalu terpenuhi, namun
karena pandai melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang benar.
~>NuansaHati :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar