Rabu, 30 Desember 2015

Kesulitan itu Berkah atau Musibah

           Semoga semua dalam keadaan selalu kuat iman dan sehat jasmani rohani. Amin. Sholawat serta salam senantiasa mengiringi aktifitas kita dan kita haturkan pada Nabi Muhammad SAW agar aktifitas kita pun penuh rahmat.
Singkat saja,dalam tausyah ini saya awali dengan pertanyaan : "Kesulitan itu Berkah atau Musibah?". Cukup jawab dalam hati, mari kita bahas..
Mungkin kita kadang atau bahkan sering mengeluh saat merasa sakit, susah dan lelah. Padahal boleh jadi itulah saat-saat Alloh rindu pada kita hamba-Nya. Rindu pada kita yg senang tilawah, rindu pada kita yang senang beristighfar senang taubat senang dengan kita yang selalu menebar kebaikan. Karena saking sayangnya saking rindunya Alloh pada hamba-Nya Alloh gugurkan dosa kita setara dengan kesakitan, kesusahan dan kelelahan yang kita alami.

Kita tengok hadits indah dari Nabi SAW :
"Tidaklah menimpa seorang mukmin kelelahan, sakit, keresahan, kesedian dan penderitaan sampai ada duri yang melukai kulitnya, kecuali semua itu Allah mengampuni dosa orang tersebut karena penderitaannya tadi" (HR. BUKHORI MUSLIM)
            Alloohuakbar...begitu besar cinta Alloh pada hamba-Nya namun kadang kita balas dengan keluhan, termasuk mungkin saya sendiri. Artinya, tausyah ini pun menjadi Tadzkiroh (reminder) atau pengingat untuk diri saya pribadi. Coba kita renungkan sebuah kasus yang meyakinkan kita bahwa kesulitan adalah berkah bukan musibah bagi orang beriman. Cukup bayangkan ketika kita berada di Yaumil Hisab (hari penghitungan amal) dan kemudian ditunjukkanlah amal-amal baik kita yang sedikit atau bahkan mungkin malah lebih banyak amal-amal buruk kita, namun di saat yang sama Alloh menampakkan amal-amal sabar dan taat kita pada Alloh ketika kita sedang tertimpa kesulitan yang tentunya amal sabar dan taat itu lebih besar nilainya dibandingkan dengan amal-amal lainnya. Saat itulah kita baru menyadari bahwa kegalauan, kesulitan, kesedihan kita di dunia namun tetap taat dan sabar pada Alloh membawa ampunan dan balasan kebaikan yang begitu besar.
Namun, coba kita lihat sekarang orang-orang yang hidupnya penuh dengan kesenangan tanpa galau tanpa susah tanpa keluhan tanpa kekurangan dan semua yang diinginkan ada namun tak ada sedikitpun ingat Alloh Yang Memberi Kesenangan, maka boleh jadi Alloh tunda kesusahannya di akhirat. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditunda kesusahannya diakhirat.
Sekarang barulah kita menyadari bahwa kesulitan boleh jadi berkah bagi orang2 yang beriman, boleh jadi musibah bagi orang-orang yang tidak mengenal Alloh
Allohua'lam,
Mudah-mudahan kita senantiasa diberikan kekuatan iman di saat kesulitan melanda sehingga tetap istiqomah dalam taat pada Alloh Subhanahuwata'aala. AMIN


By Indra Mulya,
Rabu, 31 Desember 2015

IKLAN : Pembuat Busur Panah (olah raga memanah)

Salah satu olah raga yang melibatkan banyak otot (lengan, jari, dada, perut bahkan kaki) adalah memanah. Dalam islam, olah raga ini pun jadi salah satu jenis olahraga yang sangat dianjurkan sehingga bisa menjadi suatu ibadah. Kami sediakan barang dan jasa untuk pembuatan Busur Panah jenis Recurve (172 cm).
Rincian :
Stang bahan kayu + Limb bahan fiber (sesuai dengan panahan standar recurve. Bentuk, ukuran dan kekuatan bisa menyesuaikan pesanan, termasuk ukuran panah untuk belajar (pemula) dan anak-anak.
Harga :
-Busur Recurve Rp 750.000 (bonus 3 anak panah bahan alumunium)
-anak panah bahan alumunium mata besi ukuran 8mm selusin Rp 400.000
-bantalan target bahan spon ketebalan 4 cm Rp 150.000
CP HP/WA : 081278375216
alamat : jalan Blora gg. Bahagia no. 36/53 segalamider, Kec. Tanjung Karang Barat. Bandarlampung 

Senin, 19 Oktober 2015

NASIHAT : TIDUR ADALAH MINIATUR KEMATIAN

        Ketika kita tidur, mungkin kebanyakan kita sebelum tidur mempersiapkan diri senyaman mungkin sebelumnya. Pintu dan jendela rumah dipastikan dulu sudah terkunci rapat, kompor sudah dimatikan, baju sudah bersih, badan sudah wudhu, masakan yang bisa basi sudah dimasukkan ke dalam kulkas atau dihangatkan dulu, televisi dan peralatan elektronik lainnya sudah dimatikan dan lain sebagainya yang kemudian membuat kita yakin bahwa esok hari kita akan bangun lagi dengan fikiran yang segar dan siap beraktivitas karena segala sesuatunya sudah dipersiapkan sebelum tidur.

      Coba deh kita bayangin gimana kalau kita tidur tidak mempersiapkan diri dengan apa-apa. Ketika kita bangun kita akan bangun dalam keadaan kotor, kamar berantakan, masakan basi, rumah dimasuki maling, kompor masih menyala sampai pagi sehingga menghabiskan gas. Jika tak ada persiapan, pastilah segala aktivitas kita akan mengalami banyak masalah di hari ketika kita bangun itu.
      

     Nah, Ketahuilah saudaraku semuanya bahwa tidur kita sebenarya itu adalah miniatur kematian. Apa yang akan terjadi ketika kita yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian (tidur) namun kita tidak mempersiapkan apa-apa sebelum kita tidur? Kita ga pernah baca Al-Qur’an apalagi menghafal, kita jarang sholat tahajjud, kita kesiangan sholat subuh, kita sering lalai dari panggilan adzan dengan alasan nanggung masih rapat nanggung masih ngajar nanggung masih lama qomat-nya, sedekah kita uang yang paling kucel dan paling kecil nominalnya di dalam dompet, kita masih sering merasa paling benar dan sering menyalahkan orang lain, dan kita masih suka ber-suudzon dan menggunjing. Apa yang terjadi jika kita tidak punya persiapan apa-apa untuk menghadapi hari esok saat kita bangun dari tidur (kematian) kita bisa menjawabnya masing-masing.

       Mari bekali diri dengan persiapan yang matang untuk menghadapi hari esok yang lebih baik. Sekiranya hari esok tak kita temui lagi, maka persiapan kita sebelum istirahat sudah menenangkan kita bahwa kita sudah siap dan pasrah untuk tidak bangun lagi. Tak ada yang bisa menjamin pula ketika kita tidur atau istirahat ternyata ruh kita tidak kembali dan kemudian membawa kita ke alam lain setelah dunia.
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar : 42)
 

Wallohua’lam
Ini sekilas materi taklim pagi ini sebelum belajar Al-Qur’an, semoga Alloh selalu mudahkan jalan kita untuk menebar kebaikan untuk bekal di kehidupan setelah dunia. Jamaah taklimnya sih ga banyak, tapi jumlah itu nomor sekian. Bagi saya, yang terpenting adalah totalitas dalam membina agar membina menjadi sarana mendekatkan diri pada Alloh.
~>NuansaHati :)

Selasa, 13 Oktober 2015

NASIHAT : MENDENGARKANNYA SAJA MENENANGKAN

         Mendengar suara anak-anak diajarin Ngaji ibunya rasanya adeeeem banget di hati. Inilah keajaiban Al-Quran. Bikin adem hati para pembaca dan pendengar yang menyimak dengan khusuk. Hati adem (tenang) itu ga bisa dibeli, ga bisa dihargai dengan uang sebanyak apapun.
Bayangin ya, israel itu paling takut sama anak-anak palestina yang sudah hafal Quran. Kecilnya saja hafal Quran, nah bagaimana dia dewasa kelak, apa yang bisa dia mereka lakukan?

          Nah, masa kecil kita ngapain? Kita beristighfar pada Alloh jika terlalu lama melalaikan Quran. Itulah penyebab masalah-masalah dalam hidup kita ga kelar-kelar. Kenapa? karena kita melalaikan Quran terlalu lama. Paling tidak kita tobat untuk tidak melalaikan Quran lagi di usia kita sekarang ini. Apalagi bagi orang yang sudah sadar bacaannya masih kurang sempurna, harus Bener-bener tobat, karena nyatanya Taubat itu ga gampang, butuh kesungguhan dan pengorbanan kesenangan duniawi. Kita mulai lempengin baca Quran, kalau udah mulai lempeng tambahin hapalan Quran.
          

         Udahlah, jangan mikirin yang lain dulu, nawaitu (niat) benerin Bacaan Quran baru mikirin ilmu-ilmu yang lain. Biidznillah Alloh akan memberikan pemberian-Nya yang terbaik bagi orang yang menyibukkan diri dengan Al-Quran, Alloh akan muliakan orang yang memuliakan Al-Quran.
 

Allohua'lam,
Mari bertaubat dan mulai merapat diri pada Al-Quran.

~>Nuansa Hati :) 

Senin, 14 September 2015

NASIHAT : PINTU KELUAR MASALAH

           Semoga kita diberikan mata hati yang baik oleh Alloh agar peka terhadap maksud dan tujuan dari diberikannya masalah pada kita. Kadang kita keliru memaknai masalah (orang sering sebut : ujian), seharusnya disikapi dengan TAUBAT namun malah disikapi dengan SABAR. Sikapi masalah dengan sikap yang tepat adalah pintu pertama keluar dari masalah. Hanya kita dan Alloh yang tau jawabannya, apakah harus sabar ataukah harus taubat. Sebagai contoh sederhananya begini : 

        Ada seorang suami bekerja di perusahaan A, dalam pekerjaannya ia mendapat banyak bonus insentif dari perusahaannya sehingga ia sanggup membeli berupa mobil dari insentif yang ia dapatkan selama ini. Setelah ditelusuri bonusnya yang besar itu ternyata tidaklah didapatkan dari penjualan yg sehat. Barang-barang yg terjual secara transaksi dia katakan kepada pembeli bahwa barang yang dijualnya adalah barang yang layak pakai dengan kualitas tinggi, namun kenyataannya barang yang kualitas tinggi hanya separuh dari penjualan, separuhnya adalah kualitas rendah dan ini tidak diketahui oleh pembeli karena barang kualitas rendahnya tertutupi. Baru setelah sekian lama pembeli menyadari bahwa barangnya tidak semua berkualitas tinggi. Nah suami ini menipu, menipu adalah dosa, berarti bermaksiat. Dalam perjalan pekerjaan suami itu mungkin aman-aman saja, namun Alloh tidak diam saja, ada saja kecelakaan kecil yang mengakibatkan mobil masuk bengkel. Tak bisa dihindari pula istrinya juga menikmati hasil kerja suaminya sehingga istri juga berada dalam mobil yang sering kecelakaan sehingga memgakibatkan istri masuk rumah sakit. Orang-orang di sekelilingnya akan bilang pada mereka : "kalian yang sabar ya, ini ujian". Apakah itu benar-benar ujian? Mungkin saja bukan, kalau sang suami itu jeli dengan masalahnya, maka ia tau bahwa dirinya tidak seharusnya bersabar, namun bertaubat dari perbuatan yang menyebabkan dosa dan dampaknya buan hanya untuk dirinya namun juga berdampak pada orang lain. Ya..tidak dipungkiri, mobil itu hasil bonus dari penjualan yang tidak halal. 
          Coba kita simak firman Alloh SWT : "Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka Aku akan berikan penghidupan yg sempit" (Q.S. Thoha :124) Sungguh Alloh tidak diam saja, Alloh senantiasa melihat dan setiap perbuatan baik atau buruk selalu memiliki konsekuensi. Solusi terbaik si suami sudah jelas dia harus taubat dan mengembalikan seluruh insentif penjualan tidak sehat kemudian berlaku adil dalam transaksi dan meminta ridho dari orang-orang yang telah ia tipu. Wallohua'lam, semoga Alloh membukakan kepekaan iman kita agar dimudahkan untuk bertaubat.
           Jadi, ujian seperti apa yg harus disikapi dengan sabar? Praktis saja, jelas ujian yang benar-benar dialami oleh orang-orang sholeh. Jika masalah yang timbul untuk seseorang tidak ada riwayat sebab dosa maka sabarlah sikap yang terbaik. Sekali lagi, hanya kita dan Alloh saja yang tau apakah kita harus sabar apakah kita harus taubat.
Wallohua'lam
, semoga Alloh tuntun iman kita menjadi hamba yang sabar.

Kamis, 27 Agustus 2015

NASIHAT : MENDIDIK DUA ANAK PEREMPUAN

        Sebenarnya ini beberapa hari yang lalu, cuma baru sempet nulis di blog sekarang hehe. .Saya punya satu kelompok murid, 4 murid diantaranya adalah perempuan yang umurnya variatif, ada yang 9 tahun, 13 tahun, 15 tahun, terakhir sekitar 24 tahun (masih gadis tapi sering tidak mengikuti hehe). 

        Nah, dari keempat murid tersebut, tiga perempuan yang termuda diantaranya banyak tanya dan banyak bercanda saat mengaji. Saya bilang ke mereka, "untuk Mawar (umur 15) dan Melati (13 tahun) mulai besok boleh tidak salaman sama Ustadz, untuk Anggrek (9 tahun) masih boleh salaman tapi kalau udah SMP udah ga boleh lagi." Melati bertanya "kenapa ustadz, bukan muhrim ya?". Saya bilang, "Betul, kalian berdua udah gede jadi ga boleh lagi bersentuhan dengan laki-laki yang bukan keluarga kandungnya". Lanjut Melati, "Nah, itu tu kak Mawar salaman terus ma pacarnya, udah tujuh kali punya mantan, ustadz." Katanya sambil menggoda kakaknya. Saya bilang lagi, "pacaran ga boleh, bisa bahaya"...
 

        Dialog di atas sebenernya masih berlanjut, tapi saya ambil intinya saja. Coba tengok hadits Nabi ini..
"Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya” . (H.R. Muslim)
Anak-anak kita adalah aset penting yang harus kita jaga, apalagi kalau mereka perempuan. Janji surga dari Rosul itu sudah pasti. Nah, Pergaulan mereka dengan pergaulan kita semasa sekolah sangatlah jauh berbeda. Ditambah lagi lingkungan tempat mereka tinggal tidak terlepas dari televisi, tayangan sinetron yang isinya pacaran dan berdua-duaan sangat gampang sekali ditiru oleh mereka yang belum punya dasar spiritual yang kuat. 


        Ditambah lagi faktor media sosial yang juga tidak bisa terlepas dari kehidupan mereka. Di sinilah pentingnya peran orang tua memelihara anak-anaknya dengan memperhatikan pendidikannya, memperhatikan tontonannya dan memperhatikan pergaulannya agar mereka bisa mengambil mana yang baik dan meninggalkan mana yang buruk. Jangan sampai nih aset terbesar dalam hidup kita yang seharusnya bisa mengantarkan kita ke surga jadi gagal karena kita tidak mampu memperhatikan kehidupan di sekitar mereka dengan baik. Luangkan waktu untuk bergaul dengan kepribadian mereka, ajak dialog mereka agar kita bisa menyelami kehidupan mereka tanpa mereka tau kalau kita sedang mendidik mereka.Mudah-mudahan dengan upaya itu mereka bisa menjadi anak-anak yang solihah sehingga mengantarkan orang tua mereka ke surga.
Allohua'lam, semoga bermanfaat.
NuansaHati:)

Minggu, 16 Agustus 2015

NASIHAT : ANTARA IKHTIAR DAN TAUHID

                                    ANTARA IKHTIAR DAN TAUHID

           BAB ikhtiar dah lewat kan? yang penting mah jangan letakkan ikhtiar di awal. Lanjut hari ini kita bahas BAB tentang Tauhid ya, karena apapun yang kita ikhtiarkan nih bisa sia-sia saja kalau kita ga yakin dengan Alloh Yang Memberi Keputusan.
"Maka barangsiapa yang menghendaki KEBAIKAN bagi dirinya, tentulah ia mengambil jalan menuju Tuhannya" (Q.S AL-Mursalat:29)
Nah, banyak orang nih yang mengagungkan ikhtiar. Ikhtiar, ikhtiar dan ikhtiarnya harus kelihatan dong...akhirnya yang terjadi ikhtiar terusssss sampai lupa dengan Alloh yang memberi keputusan. Inilah pentingnya memahami makna pengamalan tauhid, bahwa segala sesuatu tanpa Alloh akan sia-sia saja. Ada pula yang ikhtiar terus kemudian kepentok ga bisa ngapa-ngapain baru deh inget Alloh, tapi ya masih alhamdulillah deh masih inget Alloh.
 

         Pernyataan "ikhtiar dong..." itu ga salah, tapi bentuk ikhtiar si A dan ikhtiar si B itu ga bisa disamakan. Contoh kasus begini, Si A seorang sarjana yang ga punya pekerjaan, maka dia berikhtiar untuk mencari pekerjaan dengan memasukkan lamaran-lamaran ke kantor-kantor yang diinginkannya. Si B juga ga punya pekerjaan hanya saja ia bukan sarjana, bukan orang yang berpendidikan namun dia tetap berikhtiar dengan segenap kemampuannya ia memperbaiki hubungan dirinya di hadapan Alloh dengan beramal sholeh, memperbaiki hubungannya dengan keluarganya termasuk orang tuanya, memperbaiki hubungannya dengan masyarakat dan menyambung silaturahim agar ia banyak relasi dan selanjutnya menjalani hidupnya secara teratur sebagaimana makhluk sosial pada umumnya. 

         Kita tidak bisa memaksakan pemahaman bahwa si A seharusnya berikhtiar sebagaimana si B, sebaliknya juga kita tidak bisa memaksakan si B untuk berikhtiar sebagaimana si A. Satu hal pemahaman yang benar adalah bahwa ikhtiar tanpa memperbaiki keadaan diri di hadapan Alloh SWT maka ikhtiar bisa sia-sia saja. Boleh lah ikhtiar terusssss kemudian dia berhasil, tapi endingnya juga dia ga bisa menikmati hasilnya, atau mungkin bisa menikmati hasilnya namun masalah yang sudah selesai dikonversi kembali oleh Alloh dalam bentuk yang lain, artinya ada masalah baru. Intinya sama saja, ga bisa menikmati hasil ikhtiarnya dengan tenang.
 

         Allohua'lam, semoga Alloh memperindah kehidupan kita karena kita memperindah jalan-jalan menuju Alloh Yang Maha Indah
 

~>NuansaHati:)

Rabu, 12 Agustus 2015

NASIHAT : MENJADI PEMBICARA YANG BAIK

        Amat penting bagi kita memiliki keterampilan berbicara yang baik. Selain merupakan cerminan dari pemikiran kita, berbicara merupakan faktor penting dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Jangan sampai ketika kita berbicara dengan maksud bercanda malah si pendengar menjadi marah, atau niat kita ingin menghibur malah si pendengar tersinggung. nah, hal-hal tersebut tentunya sering kita temukan karena ketidakterampilan dalam berbicara dan ketidakterampilan memilih materi sesuai kondisi. 

       Di sinilah perlunya kita belajar mejadi pembicara yang baik pada siapapun.Faktanya memang sangat penting pesan-pesan kebaikan kita itu sampai di hati pendengar dengan metode penyampaian materi yang tepat, meskipun nantinya pendengar kita hanya di lingkungan keluarga saja.

        Ada sedikit solusi untuk kita semua berkaitan dengan menjadi pembicara yang baik.Sebelum menasehati atau memberi materi yang sifatnya panggilan, perintah atau larangan yang berat, para pembicara haruslah bisa mengambil hati pendengar dengan cara mengawali pembicaraan dengan memberikan kabar-kabar gembira atau informasi menyenangkan, sehingga terbentuklah akhlaq yang baik terlebih dahulu dan pendengar juga terdorong untuk melakukan kebaikan. Sama halnya ayat-ayat Qur'an yang diturunkan secara berangsur dari langit dunia pada Nabi Muhammad. Umatnya telah siap menerima ayat-ayat panggilan, perintah dan larangan yang berat yang diturunkan di Madinah setelah sebelumnya selama 13 tahun banyak ayat yang turun di Mekah untuk memberi kabar gembira, memperbaiki akhlaq serta mengokohkan iman umatnya.
Allohua'lam, semoga bermanfaat.


~>NuansaHati:)

Minggu, 09 Agustus 2015

NASIHAT : BAGAIMANAKAH CARA ISTRI MENASIHATI SUAMI ?

     Seorang ibu pernah bertanya, "tadz, bagaimana caranya mengingatkan SUAMI yang ga mau sholat? (tentunya agar suaminya mau sholat)". Cetarrr..ini pertanyaan yang berat sekali buat saya karena posisi saya adalah sebagai suami. Khawatirnya nanti jawabannya akan dianggap bersifat subjektif. Tapi ya sudahlah, tidak lebih penting kita beranggapan seperti itu. 

      Kewajiban mengingatkan dan saling menasihati dalam rumah tangga memang bukan hanya milik suami saja, tetapi juga milik istri bahkan juga anak-anaknya. Termasuk juga kewajiban bagi kita agar keluarga kita terhindar dari dosa yang mengakibatkan seseorang masuk neraka. Sebagaimana perintah Allooh, "Yaa ayyuhalladzii na aamanuu Quu Anfusakum wa ahliikum naaroo", Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.(QS. At-Tahrim : 6)

       Dalam rumah tangga pastilah akan terjadi banyak lika-liku permasalahan. Salah satunya ya permasalahan yang begini ini. Suami ga mau sholat. Teori mah gampang, prakteknya ini harus dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mudah-mudahan teori ini bisa digunakan dalam berbagai keperluan, tidak hanya dalam permasalahan sholat saja. 
Berikut ini tips-tips yang bisa dilakukan.

1-Gunakan pendekatan emosional, perasaan sekaligus akhlaq, bukan pendekatan lisan. Bisa atau tidak bisa, paham atau tidak paham, lisan itu cara paling terakhir dan sifatnya mendesak dalam hal menasehati orang yang lebih tinggi kehormatannya dari pada kita.
Faktanya memang ga gampang menasihati orang yg kita hormati atau orang yang kita anggap lebih berilmu, tapi ga gampang bukan berarti ga bisa. Kalau kita bisa lakukan bertahap kenapa kita lakukan to the poin dengan lisan. Contoh : awali dengan memberikan keteladanan akhlaq, mencontohkan kebaikan yang kita ingin suami kita juga melakukannya.

2-Cari waktu-waktu terbaik suami yang apabila berdialog dengannya, dia tidak akan marah dan terbuka dengan pembicaraan apapun. Seperti waktu suami sedang dalam keadaan santai, bukan dalam keadaan lelah habis bekerja apalagi sedang ada masalah di kantornya.


3-Jika terpaksa atau mendesak harus menasehati dengan lisan, gunakan bahasa yang tidak menggurui. Contohnya, "Mas/ Aa/kanda (atau apapun panggilannya), kita makan di luar di deket Masjid A yuk, sambil nunggu pesanan makanan siap disajikan, kita sholat dulu di masjid A. Gimana?". Dengan bahasa dialog seperti itu, suami tidak menyadari kalau sebenernya istrinya ingin sekali suaminya sholat. Cara ini ga saklek, butuh modal besar kalau pake cara ini. InsyaAlloh masih banyak cara lain yang semisal dengan itu. Hehe...


4-Istri harus lebih giat belajar dan lebih banyak beramal sholeh agar kebaikan-kebaikan juga menular di lingkungan keluarga. Hal ini tentu bukan hal yang percuma untuk dilakukan. Semakin banyak kita belajar menjadi istri yang sholihah maka semakin banyak ilmu yang kita dapat. Sehingga kepribadian kita pun akan berubah mengikuti. Lisan dan sikap lebih terjaga dan lebih santun. Suami pun akan lambat laun mengikuti alur karena ia semakin percaya pada istri, bahkan semakin menghormati istri yang membuat harapan istri terpenihi suami karena ia sangat menghormati istrinya.


5-Jangan lupa doakan suaminya di waktu-waktu mustajab seperti 1/3 akhir malam, saat sedang puasa, atau waktu-waktu lainnya agar suami kelak bisa menjadi lebih sholehah dari istri dan kelak menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya.


Allohua'lam
Salam Nuansa Hati :)

Sabtu, 06 Juni 2015

NASIHAT : RUMUS MENUJU SURGA PLUS HARAPAN DUNIA TERKABULKAN

     Bagi temen-temen soleh yang KEPINGIN masuk surga (tentu saja orang soleh pengen masuk surga ya), harapannya dikabulkan, dilindungi oleh para malaikat, yuk kita amalkan Surat Fushilat ayat 30-32 + BACA tafsirnya Ibnu Katsir ya...-> NuansaHAti :)





Minggu, 15 Maret 2015

NUANSA HATI : KESUSAHAN PASTI BERAKHIR : ARTIKEL



KESUSAHAN PASTI BERAKHIR

        Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dan berganti dengan pagi. Segala sesuatu juga akan ada akhirnya. Habis gelap terbitlah terang. Badai pun pasti berlalu.Coba kita telaah ayat Alloh yang menjanjikan kemudahan di bawah ini.

5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 
(QS. Al-Inshiroh:5-6)


 Segala permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi pun pasti ada ujungnya, pasti ada mudahnya, pasti ada akhirnya. Amal soleh kitalah yang akan mempercepat perjalanan tempat usainya permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi. Semakin baik amal soleh kita maka semakin cepat permasalahan kita selesai.

      Ada sebuah kisah nyata seorang ibu muda yang dikisahkan oleh Ust. Yusuf  Mansur. Sebut saja fulanah, beliau memproses perceraiannya bertahun-tahun gak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya hanya menyuruhnya bersabar. “Semua ada waktunya”, begitu nasihat ibunya. Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya. Sedekah yang besar. Akhirnya bersedekahlah ia.

      Dua tahunan terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia belum berjilbab, ia lalu berjilbab dan memperbanyak taubat. Ia usahakan sering mendatangi pengajian. Kegiatan-kegiatan pun sosial ia ikuti. Ia melupakan persoalan perceraiannya. Ia segarkan hidupnya dengan Karunia Allah yang lain. Memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari Karunia Allah yang sesungguhnya masih teramat besar. Ketahuilah bahwa kesusahan hidup, ga sebanding dengan Karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.  

Coba kita pikirkan baik-baik. Seberapa sakitnya kita makan ketika kita sedang sariawan? Rasa makanan pun terasa tidak enak. Berapa mahalnya orang yang melakuan operasi jantung? Bisa puluhan bahkan bisa ratusan juta rupiah. Apakah kita mau tangan kanan kita ditukar dengan uang 1 milyar? Hal ini tidak perlu kita jawab namun nampaknya perlu kita renungkan sebagai bentuk rasa syukur kita bahwa kesusahan  kita tidak sebanding dengan nikmat yang kita dapatkan sampai detik ini.

Melanjutkan kisah ibu fulanah tadi, akhirnya waktu yang ia tunggu, tiba. 2 tahun sejak ia bersedekah sesuatu yang besar, ia mendapatkan keputusan cerai. Sepertinya tiba-tiba dan berproses dengan sangat mudah. Beda sekali dengan waktu-waktu sebelumnya pada saat sebelum ia banyak beramal soleh dan bersedekah.

Suatu yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 milyar dari hasil tabungannya pasca bercerai. Uang ini pun bukan harta gono-gini. Mantan suaminya hanya minta diikhlaskan segala kesalahannya. Satu hal yang membuat ibu fulanah ini agak berdebar dengan cara kerja Allah bahwa mantan suaminya ini bercerita, “tabungan yang nyaris 1 milyar tersebut adalah tabungan 2 tahun terakhir”. Masya Allah, suaminya ini “bekerja” yang mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekah dari si fulanah.

       Dalam satu kesempatan, si ibu fulanah ini bercerita, barangkali kalau dulu Allah mengabulkan doanya kemudian ia mendapatkan hak cerai, ia tidak akan mendapatkan uang 1 milyar. Hari gini, uang 1 saja juta masih cukup besar, apalagi 1 milyar. Ya itulah buah dari kesabaran, hasil amal solehnya dan berkah dari sedekahnya. Cara kerja Alloh itu tidak akan sanggup kita pikirkan karena ternyata hal itu di luar dari kemampuan akal kita.

        Benarlah keyakinan orang-orang tua kita dulu, kalau udah waktunya, ya waktunya. Kalau udah rizkinya, ya rizkinya. Kalau udah jodohnya ya jodohnya. Kita harus pahami, kalau kita tidak melakukan banyak hal yang buruk, asal kita perbaiki saja hidup kita, cara kita hidup, dan memaknai ulang hidup kita untuk lebih baik lagi beribadah kepada Allah dan bermanfaat untuk sesama, rasanya hidup kita akan benar dengan sendirinya. Keinginan kita juga pun akan terjawab dengan sendirinya. Masalah pun akan selesai dengan sendirinya.

Kalau dikatakan “tidak melakukan apa-apa atau tidak ikhtiar” tentu saja tidak. Bagi mereka yang bertaubat dan berupaya memperbaiki dirinya itulah bagian dari ikhtiarnya. Coba kita telaah Haditsdi bawah ini.

Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Alloh akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan (kegalauan) yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Alloh akan memberinya   rizki dari arah yang tidak disangka-sangka .” (HR. Abu Daud). 

Kita bisa menyebut ikhtiar bagi mereka yang bermasalah adalah taubat dan memperbanyak amal soleh. Kesempitan, galau, gundah, susah obatnya adalah taubat sesuia dengan pesan Nabi. Ada kemudian sebagian orang yang protes, harus tetap ada dong ikhtiar yang nampak dan dirasakan, misal untuk membayar hutang dia harus mencari uang lebih giat dan rajin mencicilnya. Kita katakan itu sah-sah saja, tapi itu bukan hal yang utama dalam penyelesaian masalah. Sudahlah, pokoknya taubat dulu. Rosul beristighfar tidak kurang dari 70 kali, dalam riwayat lain tidak kurang dari 100 kali sehari. Cara Alloh itu untuk menolong hamba-Nya itu lebih hebat disbanding cara manusia manapun dan tidak akan sanggup untuk dipikirkan akal manusia. Ikhtiar yang terbaik ya itu : taubat dan amal saleh. Berbeda halnya kalau permasalahannya berhubungan dengan manusia, maka harus dijalin komunikasi yang baik terlebih dahulu.   


Kalau kita sudah yakin dengan taubat kita, maka sudah waktunya kita memperbaiki shalat kita dengan memperbanyak sholat berjamaah di masjid bagi yang laki-laki, menambah shalat-shalat sunnah (Tahajjud, Dhuha, sholat rowatib yang Muakkad), rutin membaca Al-Qur’an, sedekah, dan lain-lain. Sebab nyatanya, memang tidak gampang untuk bisa bertaubat dan beramal soleh. Kalau taubat ini belum kita gapai, nah mau melalui apa Alloh membantu menyelesaikan permasalahan dan kesusahan hidup kita.

Lalu bagaimana jika ia sudah taubat kemudian mendekati Allah dengan harapan dan doa agar Allah mau membayarkan hutangnya. Segala kebaikan sudah ia tempuh, namun masih serasa tumpul belum terlihat jalan keluar. Maksudnya, hutangnya tetap ga kebayar-bayar. Sama saja seperti dengan tidak datang kepada Allah. Malah sebaliknya, semakin dekat kita dengan Alloh semakin datang ujian-ujian baru kepadanya setelah sekian bulan mendisiplinkan amal kebaikan. Seakan-akan membenarkan pandangan bahwa kalau mendekatkan diri kepada Allah, ujiannya akan semakin banyak.

Ada jawaban yang tentunya bisa membuat kita istiqomah atau tetap pada pendirian dalam iman dan rutinitas amal soleh. Bisa jadi Alloh sedang berkenan menyegerakan segala akibat buruk, dengan jumlah takaran yang sebenarnya sudah dikurangi jauh dari yang semestinya diterima. Biar bagaimana, akibat buruk harus diterima. Inilah yang dinamakan keadilan Alloh. Jika tidak mau akibat buruk diterima setara dengan keburukan yang harus diterima, maka bertaubat itu tadi adalah jawabannya. Taubat yang sempurna,  taubat nasuha atau sungguh-sungguh dan serius disertai juga amal saleh yang harus rutin. Kalau tidak setara, tetap harus ada yang dibayar untuk mengganti hasil keburukannya yang sudah lalu.
Hal seperti inilah yang sepertinya kurang disadari oleh banyak orang, padahal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, amal buruk ada balasannya, amal baik pun ada balasannya meskipun itu sedikit.  

7.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat  
  (balasan)nya. 
8.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan  
   melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Katakanlah ia pernah mencuri. Harus ada yang dibayar akibat dari perbuatan buruk yang dilakukannya itu. Bisa jadi Alloh akan mencabut nikmat sehatnya, bisa jadi Alloh mencabut keutuhan rumah tangganya atau bisa jadi Alloh mengambil harta yang dititipkan padanya untuk membayar apa yang telah ia lakukan. Namun tetaplah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia hukum hamba-Nya dengan memperhatikan segala kebaikan diri orang itu dan diri orang-orang di sekeliling orang itu. Ada yang Allah ringankan pembayarannya sebab ia punya anak yatim. Ada yang diringankan sebab ia pernah membantu saudaranya. Ada yang diringankan sebab istrinya mendoakan tanpa henti. Ada yang diringankan sebab orang tuanya senantiasa memanjatkan doa untuknya. Ada yang diringankan sebab anaknya sedang menuntut ilmu. Dan banyak lagi pertimbangan Allah yang tidak kita mengerti kecuali hanya dengan jalan husnudzdzan kepada-Nya.

Nikmati saja terlebih dahulu “kedekatan” diri dengan Allah serta pembiasaan amal soleh yang dilakukan. Bisa jadi, kalau Allah mempercepat ia selesai dari masalah, malah nanti ga bisa istiqamah lagi amal soleh atau ibadahnya. Yakin saja dengan janji Alloh yang akan memberikan kemudahan. Bukankah baru beberapa bulan saja, belum beberapa tahun? Atau katakanlah, baru beberapa tahun, belum bertahun-tahun. Sedang kalau kita ingat dosa kita, sudah berapa tahun kita kerjakan? Jangan-jangan sepanjang kita hidup, mulai dari akil baligh sampe sekarang ini, hidup kita banyak sekali bergelimang dosa yang belum sebanding dengan amalan ibadah kita.

Setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Meskipun kita merasa memikul beban yang sangat berat sehingga membuat perjalanan kita cenderung seperti lambat, kita harus tetap berjalan dengan amal soleh. Jangan berhenti dari amal soleh, tak perlu buru-buru mengharapkan datangnya  kebaikan. Bahkan Nabi Zakaria tetap berdoa dan beramal soleh meski doanya selama puluhan Tahun untuk mendapatkan seorang keturunan baru terjawab pada usia 90 Tahun. Kisah ini sangat apik tercatat dalam QS. Zakaria :1-15. Sangat mudah bagi Alloh untuk mengabulkan doa, apalagi doa seorang Nabi, namun maksud kisah yang tercatat dalam Al-Qur’an adalah tidak lain untuk kita ambil ‘ibroh (pelajaran) sebagai modal kita menjadi orang-orang yang sabar dan bersyukur dengan meneladani para Nabi. Kita kejar saja perjalanan menemukan solusi hidup dengan amal soleh, dan tetap berhusnudzan (berprasangka baik) kepada Allah karena Alloh sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Senin, 09 Maret 2015

NUANSA HATI : HALAWATAL IMAN : ARTIKEL



                            HALAWATAL IMAN

Setiap muslim tidak bisa meninggalkan kata-kata “iman”, karena dengan bekal iman inilah seorang muslim bisa membawa dirinya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini tentunya bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya, layaknya aliran listrik yang mengeluarkan sebuah sengatan mematikan namun tidak tampak. Lampu pun akan menyala jika dialiri listrik yang tak tampak. Begitu pula dengan iman, bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya. 

Fenomena yang sering terjadi bahkan mungkin di antara kita, iman hanya berhenti pada pengertian iman semata namun sebenarnya tidak mampu merasakan kehadiran iman di dalam hati. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.  (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS : Al-Anfaal : 2-3)

Firman Allah yang begitu indah ini merupakan sebuah berita untuk kita tentang ciri-ciri orang yang merasakan kehadiran iman dalam dirinya, bahwa mereka mengagungkan nama Allah, merasakan keberadaan Allah di sekitarnya sehingga menimbulkan rasa takut jika berkhianat atau bermaksiat pada Allah, serta menimbulkan kebahagiaan saat melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT. Sering kali kita bertemu orang yang begitu lama bersujud dalam sholatnya, yang terisak-isak menangis saat ia membaca Al-Quran ketika ia menjadi imam, yang meratap penuh harap dan takut ketika berdoa, hal-hal seperti inilah yang mencirikan sifat orang yang beriman. Ibadahnya berkualitas, tampaklah hasilnya dalam sikap, tutur kata dan perilaku. Sehingga pantaslah ia disebut orang soleh karena amalan ibadahnya terjaga. Begitulah orang-orang yang sudah menemukan lezatnya iman, lezatnya beribadah.

Lezatnya iman mungkin tidak semua muslim bisa merasakannya karena berhenti pada pengertian semata. Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memiliki ungkapan indah yang ditiggalkan untuk membantu kita merasakan nikmatnya iman dalam diri seorang muslim, Beliau bersabda:
Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan (Halawatal Iman): Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam api.” (H.R.Bukhari Muslim)

Imam Nawawi, ketika mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman adalah :

1. Merasakan Nikmatnya Melakukan Ketaatan

Seorang hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban, larangan Allah untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Baginya sangat ringan untuk membaca Al-Quran dan melaksanakan Sholat Dhuha disela-sela kesibukannya, mudah bangkit dari tidurnya untuk sholat Tahajud dalam dinginnya malam, mudah melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat fardhu 5 waktu dan ringan tangannya untuk selalu bersedekah.

2. Rela Memikul Beban

Orang beriman itu senang hati memikul beban dan kesulitan seberat apapun, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan. Rasulullah dan para Sahabat Beliau yang mulia adalah tauladan kita semua dalam hal ini. Ingatkah kita, bagaimana pada suatu ketika, di saat pengaruh Islam semakin melebar luas, datanglah kepada Rasulullah beberapa orang pembesar kaum musyrikin Mekkah menawarkan beliau kedudukan, harta dan wanita. Namun, semua tawaran itu dengan tegas Beliau tolak. Ridha Allah lebih beliau pilih daripada ridho manusia, amanah dan risalah/misi/tugas Rosulullah lebih besar dan berharga bagi beliau dari semua tawaran-tawaran duniawi yang menggiurkan tersebut. Akankah sama halnya kita jika seandainya kita mendapat tawaran kesenangan yang serupa? Akankah kita akan tegar di jalan Allah ketika sudah diberikan kemewahan dan kesenangan dunia? Manusia, ketika sulit, kebanyakan kuat imannya, namun ketika diberi kesenangan, banyak yang lupa diri. Na'udzubillah.

3. Mencintai Allah dan Rosul-Nya dalam Ketaatan

Ketaatan adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya dalam aturan. Segala perintah dan larangan Alloh dan Rosul-Nya tidak mungkin membawa kesengsaraan pada manusia. Bahkan perintah itu sesuai dengan kesanggupan manusia. Berhaji tidak dikenakan kewajiban bagi yang tidak mampu secara fisik maupun materi. Sholat boleh tidak dikerjakan berdiri ketika dalam keadaan sakit. Sungguh murah Alloh memberikan perintah.  

Rasulullah SAW mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika iman kita bermasalah/iman kita sedang tidak sehat.

Manisnya iman terlihat di dalam keluasan dan kelapangan dada, baik di dalam senang maupun susah. Ia akan tampak dalam bentuk kekuatan menanggung beban dan menghadapi kesulitan. Seseorang yang mendapatkan manisnya iman akan selalu merasakan kedekatan dengan Allah, selalu yakin akan janji-Nya, ridha akan ketentuan-Nya, dan berpasrah diri di hadapan-Nya. Orang itu akan memiliki pedoman hidup yang jelas berdasarkan keimanan, dia akan menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, walau bertentangan dengan keinginannya dan kehendaknya. Ia juga akan menjaga dan mempererat hubungannya dengan Allah, dengan manusia, dan semua yang berada di alam ini. Allah merupakan solusi pertama sebagai jalan keluar permasalahan dalam hidupnya.

Manisnya iman akan melahirkan keridhaan akan segala ketentuan Allah. Betapa tidak, iman yang menghunjam di dalam dada memberikannya keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas ketentuan-Nya, dan ketentuan-Nya itulah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu dalam diri adalah milik Allah dan kita hanya dititipi? Maka ketika Allah mengambilnya, yang muncul adalah rasa sabar, dan jika Allah menambahkannya yang muncul adalah kesyukuran. Rasulullah saw bersabda:
Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya.”
(HR.Muslim)

Manisnya iman itu harus di cari, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman adalah pandai merahasiakan amal ibadah. Cukup kita dan Allah saja yang tahu, rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kita sekalipun, walau terhadap orang tua, saudara, bahkan istri/suami. Perbanyaklah kita memohon nikmatnya iman agar hadir dalam diri kita. Renungkan dalam doa kita dengan penuh harapan bahwa amalan kita mengantarkan kita kepada kecintaan kepada Allah, sehingga kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap diri kita dan dunia seisinya, dan bila kecintaan itu sudah terlahir dalam diri kita, issyaallah Halawatal Iman dapat kita rasakan hadir dalam hati kita.

Wallohua'lam