Minggu, 15 Maret 2015

NUANSA HATI : KESUSAHAN PASTI BERAKHIR : ARTIKEL



KESUSAHAN PASTI BERAKHIR

        Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dan berganti dengan pagi. Segala sesuatu juga akan ada akhirnya. Habis gelap terbitlah terang. Badai pun pasti berlalu.Coba kita telaah ayat Alloh yang menjanjikan kemudahan di bawah ini.

5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 
(QS. Al-Inshiroh:5-6)


 Segala permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi pun pasti ada ujungnya, pasti ada mudahnya, pasti ada akhirnya. Amal soleh kitalah yang akan mempercepat perjalanan tempat usainya permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi. Semakin baik amal soleh kita maka semakin cepat permasalahan kita selesai.

      Ada sebuah kisah nyata seorang ibu muda yang dikisahkan oleh Ust. Yusuf  Mansur. Sebut saja fulanah, beliau memproses perceraiannya bertahun-tahun gak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya hanya menyuruhnya bersabar. “Semua ada waktunya”, begitu nasihat ibunya. Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya. Sedekah yang besar. Akhirnya bersedekahlah ia.

      Dua tahunan terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia belum berjilbab, ia lalu berjilbab dan memperbanyak taubat. Ia usahakan sering mendatangi pengajian. Kegiatan-kegiatan pun sosial ia ikuti. Ia melupakan persoalan perceraiannya. Ia segarkan hidupnya dengan Karunia Allah yang lain. Memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari Karunia Allah yang sesungguhnya masih teramat besar. Ketahuilah bahwa kesusahan hidup, ga sebanding dengan Karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.  

Coba kita pikirkan baik-baik. Seberapa sakitnya kita makan ketika kita sedang sariawan? Rasa makanan pun terasa tidak enak. Berapa mahalnya orang yang melakuan operasi jantung? Bisa puluhan bahkan bisa ratusan juta rupiah. Apakah kita mau tangan kanan kita ditukar dengan uang 1 milyar? Hal ini tidak perlu kita jawab namun nampaknya perlu kita renungkan sebagai bentuk rasa syukur kita bahwa kesusahan  kita tidak sebanding dengan nikmat yang kita dapatkan sampai detik ini.

Melanjutkan kisah ibu fulanah tadi, akhirnya waktu yang ia tunggu, tiba. 2 tahun sejak ia bersedekah sesuatu yang besar, ia mendapatkan keputusan cerai. Sepertinya tiba-tiba dan berproses dengan sangat mudah. Beda sekali dengan waktu-waktu sebelumnya pada saat sebelum ia banyak beramal soleh dan bersedekah.

Suatu yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 milyar dari hasil tabungannya pasca bercerai. Uang ini pun bukan harta gono-gini. Mantan suaminya hanya minta diikhlaskan segala kesalahannya. Satu hal yang membuat ibu fulanah ini agak berdebar dengan cara kerja Allah bahwa mantan suaminya ini bercerita, “tabungan yang nyaris 1 milyar tersebut adalah tabungan 2 tahun terakhir”. Masya Allah, suaminya ini “bekerja” yang mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekah dari si fulanah.

       Dalam satu kesempatan, si ibu fulanah ini bercerita, barangkali kalau dulu Allah mengabulkan doanya kemudian ia mendapatkan hak cerai, ia tidak akan mendapatkan uang 1 milyar. Hari gini, uang 1 saja juta masih cukup besar, apalagi 1 milyar. Ya itulah buah dari kesabaran, hasil amal solehnya dan berkah dari sedekahnya. Cara kerja Alloh itu tidak akan sanggup kita pikirkan karena ternyata hal itu di luar dari kemampuan akal kita.

        Benarlah keyakinan orang-orang tua kita dulu, kalau udah waktunya, ya waktunya. Kalau udah rizkinya, ya rizkinya. Kalau udah jodohnya ya jodohnya. Kita harus pahami, kalau kita tidak melakukan banyak hal yang buruk, asal kita perbaiki saja hidup kita, cara kita hidup, dan memaknai ulang hidup kita untuk lebih baik lagi beribadah kepada Allah dan bermanfaat untuk sesama, rasanya hidup kita akan benar dengan sendirinya. Keinginan kita juga pun akan terjawab dengan sendirinya. Masalah pun akan selesai dengan sendirinya.

Kalau dikatakan “tidak melakukan apa-apa atau tidak ikhtiar” tentu saja tidak. Bagi mereka yang bertaubat dan berupaya memperbaiki dirinya itulah bagian dari ikhtiarnya. Coba kita telaah Haditsdi bawah ini.

Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Alloh akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan (kegalauan) yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Alloh akan memberinya   rizki dari arah yang tidak disangka-sangka .” (HR. Abu Daud). 

Kita bisa menyebut ikhtiar bagi mereka yang bermasalah adalah taubat dan memperbanyak amal soleh. Kesempitan, galau, gundah, susah obatnya adalah taubat sesuia dengan pesan Nabi. Ada kemudian sebagian orang yang protes, harus tetap ada dong ikhtiar yang nampak dan dirasakan, misal untuk membayar hutang dia harus mencari uang lebih giat dan rajin mencicilnya. Kita katakan itu sah-sah saja, tapi itu bukan hal yang utama dalam penyelesaian masalah. Sudahlah, pokoknya taubat dulu. Rosul beristighfar tidak kurang dari 70 kali, dalam riwayat lain tidak kurang dari 100 kali sehari. Cara Alloh itu untuk menolong hamba-Nya itu lebih hebat disbanding cara manusia manapun dan tidak akan sanggup untuk dipikirkan akal manusia. Ikhtiar yang terbaik ya itu : taubat dan amal saleh. Berbeda halnya kalau permasalahannya berhubungan dengan manusia, maka harus dijalin komunikasi yang baik terlebih dahulu.   


Kalau kita sudah yakin dengan taubat kita, maka sudah waktunya kita memperbaiki shalat kita dengan memperbanyak sholat berjamaah di masjid bagi yang laki-laki, menambah shalat-shalat sunnah (Tahajjud, Dhuha, sholat rowatib yang Muakkad), rutin membaca Al-Qur’an, sedekah, dan lain-lain. Sebab nyatanya, memang tidak gampang untuk bisa bertaubat dan beramal soleh. Kalau taubat ini belum kita gapai, nah mau melalui apa Alloh membantu menyelesaikan permasalahan dan kesusahan hidup kita.

Lalu bagaimana jika ia sudah taubat kemudian mendekati Allah dengan harapan dan doa agar Allah mau membayarkan hutangnya. Segala kebaikan sudah ia tempuh, namun masih serasa tumpul belum terlihat jalan keluar. Maksudnya, hutangnya tetap ga kebayar-bayar. Sama saja seperti dengan tidak datang kepada Allah. Malah sebaliknya, semakin dekat kita dengan Alloh semakin datang ujian-ujian baru kepadanya setelah sekian bulan mendisiplinkan amal kebaikan. Seakan-akan membenarkan pandangan bahwa kalau mendekatkan diri kepada Allah, ujiannya akan semakin banyak.

Ada jawaban yang tentunya bisa membuat kita istiqomah atau tetap pada pendirian dalam iman dan rutinitas amal soleh. Bisa jadi Alloh sedang berkenan menyegerakan segala akibat buruk, dengan jumlah takaran yang sebenarnya sudah dikurangi jauh dari yang semestinya diterima. Biar bagaimana, akibat buruk harus diterima. Inilah yang dinamakan keadilan Alloh. Jika tidak mau akibat buruk diterima setara dengan keburukan yang harus diterima, maka bertaubat itu tadi adalah jawabannya. Taubat yang sempurna,  taubat nasuha atau sungguh-sungguh dan serius disertai juga amal saleh yang harus rutin. Kalau tidak setara, tetap harus ada yang dibayar untuk mengganti hasil keburukannya yang sudah lalu.
Hal seperti inilah yang sepertinya kurang disadari oleh banyak orang, padahal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, amal buruk ada balasannya, amal baik pun ada balasannya meskipun itu sedikit.  

7.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat  
  (balasan)nya. 
8.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan  
   melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Katakanlah ia pernah mencuri. Harus ada yang dibayar akibat dari perbuatan buruk yang dilakukannya itu. Bisa jadi Alloh akan mencabut nikmat sehatnya, bisa jadi Alloh mencabut keutuhan rumah tangganya atau bisa jadi Alloh mengambil harta yang dititipkan padanya untuk membayar apa yang telah ia lakukan. Namun tetaplah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia hukum hamba-Nya dengan memperhatikan segala kebaikan diri orang itu dan diri orang-orang di sekeliling orang itu. Ada yang Allah ringankan pembayarannya sebab ia punya anak yatim. Ada yang diringankan sebab ia pernah membantu saudaranya. Ada yang diringankan sebab istrinya mendoakan tanpa henti. Ada yang diringankan sebab orang tuanya senantiasa memanjatkan doa untuknya. Ada yang diringankan sebab anaknya sedang menuntut ilmu. Dan banyak lagi pertimbangan Allah yang tidak kita mengerti kecuali hanya dengan jalan husnudzdzan kepada-Nya.

Nikmati saja terlebih dahulu “kedekatan” diri dengan Allah serta pembiasaan amal soleh yang dilakukan. Bisa jadi, kalau Allah mempercepat ia selesai dari masalah, malah nanti ga bisa istiqamah lagi amal soleh atau ibadahnya. Yakin saja dengan janji Alloh yang akan memberikan kemudahan. Bukankah baru beberapa bulan saja, belum beberapa tahun? Atau katakanlah, baru beberapa tahun, belum bertahun-tahun. Sedang kalau kita ingat dosa kita, sudah berapa tahun kita kerjakan? Jangan-jangan sepanjang kita hidup, mulai dari akil baligh sampe sekarang ini, hidup kita banyak sekali bergelimang dosa yang belum sebanding dengan amalan ibadah kita.

Setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Meskipun kita merasa memikul beban yang sangat berat sehingga membuat perjalanan kita cenderung seperti lambat, kita harus tetap berjalan dengan amal soleh. Jangan berhenti dari amal soleh, tak perlu buru-buru mengharapkan datangnya  kebaikan. Bahkan Nabi Zakaria tetap berdoa dan beramal soleh meski doanya selama puluhan Tahun untuk mendapatkan seorang keturunan baru terjawab pada usia 90 Tahun. Kisah ini sangat apik tercatat dalam QS. Zakaria :1-15. Sangat mudah bagi Alloh untuk mengabulkan doa, apalagi doa seorang Nabi, namun maksud kisah yang tercatat dalam Al-Qur’an adalah tidak lain untuk kita ambil ‘ibroh (pelajaran) sebagai modal kita menjadi orang-orang yang sabar dan bersyukur dengan meneladani para Nabi. Kita kejar saja perjalanan menemukan solusi hidup dengan amal soleh, dan tetap berhusnudzan (berprasangka baik) kepada Allah karena Alloh sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar