Rabu, 14 Juni 2017

NASIHAT : KENAPA HARUS MENCARI “MALAM KEMULIAAN” (LAILATUL QODAR) ?

          Sebenarnya, puncak rutinitas tahunan yang ditunggu-tunggu oleh banyak ummat Muslim di Bulan Romadhon adalah _i’tikaf_, berdiam di masjid dalam rangka totalitas beribadah kepada Alloh, di sepuluh hari terakhirnya. Bukan malah totalitas dalam bekerja atau totalitas berbondong-bondong belanja dan berebut diskon belanja untuk persiapan lebaran. Fenomena ini rasanya setiap tahun terjadi selama kita berpuasa di bulan Romadhon. Padahal hal semacam ini bisalah disiasati jauh-jauh hari, bahkan sebelum Bulan Romadhon.

         Memang tidak bisa dipungkiri, kita yang hidup di zaman serba modern dan berkembang ini, banyak yang belum bisa melakukan ibadah secara totalitas di sepuluh hari terakhir Romadhon. Kenapa? Selain memang tidak banyak orang yang tau keutamaannya, juga contoh sederhananya saja bisa kita temukan di perkantoran yang waktu libur kerjanya bisa jadi malah hari ke-28 atau ke-29 Romadhon. Karena kantornya adalah bukanlah milik sendiri, sudah tentu jadwal kantor tidak bisa kita atur semau kita dan mau tidak mau kita tetap bekerja. Sehingga kita tidak bisa _i’tikaf_ full day sepuluh hari terakhir itu. Jadi untuk totalitas ibadah di sepuluh hari terakhir itu kemungkinannya sangat kecil. Kalaupun bisa sepuluh hari full hanya menggunakan waktu malamnya saja untuk ber-i’tikaf. Orang bilang sih _“ngalong”_ , seperti kalong, itupun dengan energi sisa yang rasanya berat untuk membuka mata. Saking beratnya mata yang sudutnya tinggal 10 derajat lagi, masjid seperti jadi tempat tujuan untuk tidur. Yah, dapetlah 2 atau 3 lembar membaca Al-Qur’an, dari pada kagak _i’tikaf_ sama sekali. Sayang sekali rasanya rutinitas berharga yang hanya setahun sekali dilewatkan begitu saja.

        Kenapa rutinitas tahunan, _i’tikaf_ di sepuluh hari terakhir ini sangat penting ? Karena ‘Aisyah r.a. pernah berkata bahwa _“Rosululloh SAW selalu ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Romadhon”_ (Muttafaq’alaih). Lebih hebat lagi, di antara sepuluh malam itu ada satu malam yang dikabarkan dalam Al-Quran bahwa beribadah di malam itu maka nilainya lebih baik dari ibadah 1000 bulan, yaitu Malam Kemuliaan atau disebut Lailatur Qodar. Itulah kenapa Nabi SAW bersungguh- sungguh beribadah pada malam-malam itu berdasarkan berita dari ‘Aisyah ra, bahwa ia berkata : _Rosululloh SAW ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir Bulan Romadhon, beliau mengencangkan kainnya (meninggalkan istrinya untuk dicampuri), menghidupkan malamnya (bersungguh-sungguh dan totalitas dalam beribadah kepada Alloh dengan sholat, dzikir, membaca Al-Quran dll) serta membangunkan keluarganya (mengajak seluruh keluarganya untuk sama-sama menghidupkan sepuluh malam terakhir)”_ (Muttafaq’alaih). Nabi saja yang surganya sudah dijaminkan untuk beliau masih sungguh-sungguh beribadah. Lalu bagaimana dengan kita yang surganya belum jelas?

       Kita akan singgung secara singkat bahasan tentang Lailatul Qodar yang akan banyak diburu oleh banyak ummat Muslim, baik muslimin ataupun muslimat, di seluruh dunia. Kalau ingin lebih jelas tentang keistimewaan itu bisa dibaca lebih lengkap dalam banyak kitab, salah satunya Kitab Tafsir Ibnu katsir Surat Al-Qodar. Namun di antara keistimewaannya adalah, ibadah pada satu malam itu bernilai lebih baik dari 1000 bulan, sekitar 83 tahun. Boleh jadi nilai ibadah kita bernilai 2000 atau 3000 bulan, _walloohua’lam_, yang jelas lebih baik dari 1000 bulan. Kemudian para malaikat yang jumlahnya tak terhingga beserta malaikat Jibril turun pada malam itu untuk menebar keberkahan dan membuka peluang sebesar-besarnya untuk membantu menyelesaikan berbagai macam persoalan setiap orang dengan kehendak Alloh SWT.  Mereka, para malaikat itu juga akan mengamini semua doa-doa kita. Malam itu, Alloh menjamin keselamatan setiap hamba yang beribadah pada malam itu hingga akhir malam atau terbit fajar.

       Karena itulah, mengingat pentingnya Lailatul Qodar, Nabi SAW berpesan dengan perintah, _“Carilah (dengan sungguh-sungguh) Lailatul Qodar pada mlaam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Romadhon.”_ (HR. Bukhori). Sebagian ulama menafsirkan bahwa Lailatul Qodar letaknya bisa berpindah-pindah setiap tahun di antara malam-malam ganjil itu berdasarkan banyak sumber hadits yang ada. Jadi, malam ke berapa terjadinya malam itu adalah dirahasiakan oleh Alloh. Bahkan kita juga tidak tau, jam berapa tepat terjadinya malam itu yang terjadi di antara waktu setelah isya’ hingga terbit fajar. Sudah seharusnya malam itu kita kejar sekuat tenaga, kita deteksi keberadaannya, dengan menghidupkan 10 malam terakhir, mengingat malam itu sangat dirahasiakan kapan terjadinya, agar jangan sampai malam itu berlalu begitu saja karena kita sedang terlelap. Siapa yang sanggup beribadah selama 83 tahun ? Umur kita saja rata-rata tidak sampai 83 tahun. Tapi dengan malam itu, ternyata ibadah yang lebih baik dari ibadah selama 83 tahun itu bisa kita ganti dengan beribadah pada Malam Kemuliaan itu. Siapa yang tidak mau semua hajatnya terkabul, urusannya semua diselesaikan oleh Alloh dan keselamatan hidupnya dijamin ? Pastilah mereka yang membiarkan malam itu berlalu begitu saja tanpa ada nilai ibadah, banyak lalai bahkan banyak bercanda yang tidak ada manfaatnya.

Wallohua’lam
~>NuansaHati😊
19 Romadhon 1438 H

Minggu, 11 Juni 2017

NASIHAT : MAHAR UNTUK MEMINANGNYA

    
        Sepanjang tahun lalu dan kini, apakah ayat-ayat yang kita pernah baca telah mampu bersemayam di dalam hati dan menyejukkannya ? Sehingga raga ini tidak akan bergerak kecuali karena wujud dari kesejukan itu. Sampai sejauh mana kira-kira kita sanggup berjalan bersama ayat-ayat-Nya? Mungkin pernah kita membulatkan sebuah keputusan, menjadi seorang *hafidz/hafidzoh*. Namun dengan kepolosan, penuh harap, keraguan dan kita penuh tanya, 
_“Apakah kita sanggup memulai kemudian menyelesaikannya? Bisakah kita luangkan diri dari kesibukan dunia untuk membuktikan keteguhan dan kesungguhan kita?_

       Sebenarnya sungguh kitalah yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga Alloh tutup jalan kita untuk beramal solih. Padahal amal-amal itu sendiri adalah bentuk keteguhan ikhtiar dalam menghafalkannya.

       Kita akan jujurkan diri ini menghafkannya karena Allah. Sebenarnya sungguh kita ingin jujur namun mungkin lidah ini terlalu kelu  mengucapkannya. Sebenarnya kita juga tau, sibuknya dunia tidak pernah habis, hari ini, esok, lusa dan lusanya lagi kita akan terus sibuk tiada henti. Padahal ternyata, dengan menyibukkan diri dengan AlQuran, Alloh yang akan tunjuki berbagai solusi, Alloh jadikan urusan dunia kita menjadi lapang dan Alloh ringankan pula hati kita ketika melihat urusan dunia.

        Saudaraku, kita tidak tau sudah berapa banyak ayat yang terus-terusan disalahkan oleh guru kita. Kita tidak tau berapa ayat yang bisa kita hafalkan. Kita tidak tau mana yang bisa kita pahami dari ajaran guru kita. Kita tidak tau mana yang sungguh-sungguh bisa kita amalkan. Kita tidak tau mana yang sanggup kita ajarkan. Namun, teruslah bersamai ketidaktauan itu dengan ikhtiar, karena Alloh lah yang mengkhendaki apakah seseorang itu sanggup sampai ke garis finish ataupun tidak, karena Alloh pula yang mengkhendaki kemuliaan itu layak untuk kita sandang atau tidak.

        Pastilah akan ada banyak hal yang patut kita _muhasabahi_ (koreksi). Banyak pula duri-duri kecil yang membuat langkah ikhtiar kita terhenti sejenak. Namun selama kita masih bersama, insyaAlloh langkah itu akan berjalan setapak demi setapak bahkan sanggup bersama-sama berlaju dengan kencang.

_“Fa idza ‘azzamta fa tawakkal 'alallah_ "maka apabila kamu sudah berazam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah pada Alloh." 
QS. 3 :159

        Berat, tentu saja, apalagi ketika kita sendiri menghafalkannya, apalagi jika menghafal mengandalkan _mood_ yang tak pasti. Namun tak ada yang mustahil bagi Allah, jika Allah sudah berkehendak memilih seseorang menjadi keluarga-Nya di bumi.

       Ayo bangkit, selagi mata belum lelap, selagi rambut masih hitam, selagi suara masih lantang, selagi langkah masih berjejak, selagi tangan masih sanggup membuka mushaf (lembaran quran). Ambil tindakan sekarang. Betapa banyak *MAHAR* yang sudah kita hadiahkan untuk meminang dunia, sekarang saatnya kita mengumpulkan *MAHAR* untuk meminang surganya Allah.

      Mari kita amin-kan dalam Romadhon yang mulia ini karena Allah meng'ijabahi doa orang yang berpuasa, 
*Alloohummarhamnaa bilQuraan* 

_"Ya Alloh, jadikan kami termasuk bagian dari keluarga-Mu di bumi ini lantaran ikhtiar-ikhtiar kami. Sayangi kami karena Al-Quran yang baru sedikit kami baca, sedikit kami hafal, sedikit kami kaji, sedikit kami ajarkan dan sedikit kami amalkan. Pertemukan kami dengan teman-teman yang bisa saling meneguhkan iman di hati kami. Pertemukan kami dengan guru yang selalu sabar membimbing kami meski kami lambat dalam belajar. Pertemukan kami dengan guru yang selalu sabar mengingatkan kami yang sering datang terlambat, guru yang mau memaafkan kami yang khilaf (tak datang) di waktu belajar. Kumpulkan kami semua yang belajar ini dalam istana surgamu yang indah, Ya Allooh. Berikan kami semua kekuatan dan hidayah-Mu dalam ikhtiar kami mengumpulkan *MAHAR* untuk meminang surga-Mu."_
Amiin Ya Arhamarroohimiin

17 Romadhon 1438 H
~>NuansaHati 😊

Jumat, 09 Juni 2017

NASIHAT : COBA PERIKSA DULU

          Apakah kita merasa bosan bersahabat dengan AlQuran yang bisa menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan akhirat ? 
Apakah kita tidak bahagia mengucapkan tiap huruf dari setiap ayat AlQuran yang bisa menyembuhkan luka ringan maupun berat di hati ? Coba periksa dulu ke dalam hati yg paling dalam, barangkali ada kerak dosa yg tebal mengerudungi hati. Lihatlah Ummu Aiman yang senantiasa bahagia karena AlQuran dan menangis ketika wahyu sudah tidak lagi turun lantaran perantara wahyu, Nabi SAW, telah wafat.

          Apakah kita merasa lebih mulia dari guru kita sehingga nasihatnya terasa hambar di telinga lantas nasihatnya pun tidak kita sambut dengan sikap mulia?
Apakah kita merasa sanggup menjadi perantara keberkahan ilmu sehingga nada bicara kita lebih tinggi dari guru kita?
Coba periksa dulu ke dalam hati yang paling dalam, barangkali Alloh sudah menutup jalan petunjuk di dalam hati, "Man yahdihillaahufalaa mudhillalah, waman yudhlilfalaa haadiyalah" (Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada siapapun yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah disesatkan oleh Alloh maka tidak ada siapapun yang bisa menunjukinya) 

         Apakah kita merasa sudah kaya ilmu sehingga kita menolak untuk menjalankan kewajiban mencari ilmu ? 
Apakah kita merasa perkataan kita paling benar dari pada orang yg lebih muda sehingga kita enggan untuk sekedar menyambut tutur bicaranya ? 
Coba periksa dulu ke dalam hati yg paling dalam, barangkali ada secuil kesombongan yang berbahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat. Takutlah rasanya sekiranya tidak ada tempat untuk kita di surga, "Laayad khulul jannata mankaana fii qolbihi mitsqooladzarrotin min kibrin-HR Muslim-" (tidak masuk surga barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarroh-sesuatu yg paling kecil di dunia).
Walloohua'lam

~>NuansaHati 😊

Selasa, 30 Mei 2017

NASIHAT : PUKUL BERAPAKAH WAKTU TERBAIK UNTUK MAKAN SAHUR ?



      Dari Anas r.a., ia berkata : _"Rasulullah SAW bersabda: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahannya."_ (HR. Muttafaq 'alaih)

         Sahur dalam aktivitas ibadah puasa berarti perbuatan menyantap makanan di waktu sahur. Selain untuk menguatkan tubuh saat kita tidak makan dan minum seharian, sahur juga membawa keberkahan. Dalam pengertian ulama, berkah berarti bertambahnya kebaikan, manfaat ataupun pahala di dalamnya.

     Pertanyaannya adalah kapan waktu terbaik kita untuk makan sahur ? Apakah pada saat bangun tidur sebangun-bangunnya kapanpun kita langsung makan ? Tidak harus begitu, kalau kita bangun pukul 02.00 apakah kita akan langsung makan juga ? Tentu tidak demikian. Kalau kita menemukan ada petunjuk dari Alloh SWT ataupun Nabi SAW tentang sesuatu, maka tidak perlu kita mencari-cari petunjuk lain dari siapa-siapa lagi, kecuali kalau petunjuk itu membutuhkan tafsir yang lebih mendalam. Maka kita membutuhkan pendapat ulama untuk memahami petunjuk tersebut.

       Mari kita tengok dulu Hadits Nabi SAW terkait dengan pertanyaan itu. Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata : _"Rasulullah SAW itu mempunyai dua orang muadzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasululloh SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada waktu masih malam, maka makan dan minumlah kalian (untuk bersahur) hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.’_ (HR. Muttafaq 'alaih). Dalam Syaroh Kitab Riyadush Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al Bugho, dijelaskan pada bab *“Keutamaan Sahur dan Mengakhirkannya Selama Tidak Khawatir Terbitnya Fajar”* bahwa dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur selama tidak khawatir terbitnya fajar shadiq. Ini pula yang kemudian menjadikan dalil disunnahkannya ada dua kali adzan dan dua orang muadzin, baik dalam bulan Romadhon maupun di bulan lain. Adzan yang pertama itulah yang mengisyaratkan waktu yang baik untuk mulainya makan sahur hingga adzan yang kedua untuk sholat subuh berkumandang. Harusnya praktek dua kali adzan ini ada di sekitar kita. Tentunya lebih baik adzan dari pada menghidupkan sirine ataupun bersahutan “Sahur sahur” antara masjid yang satu dengan lainnya. Namun, kalau sunnah ini kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita, mungkin akan menjadi sebuah kejadian yang luar biasa karena orang pada umumnya akan beranggapan si muadzin salah melihat jam. Padahal adzan pertama adalah sunnah yang dianjurkan. Nah, kalau kita jadi pengurus masjid nih, sampaikan pada ummat dan pengurus yang lain bahwa adzan subuh itu sunnahnya dua kali. Kalau bisa sih, jangan di mekkah saja yang adzan-nya dua kali. Bagi orang yang sudah pergi ke Mekkah, tentunya sudah tahu berapa lama jarak antara kedua adzan tersebut. Atau siapa yang punya TV Channel Mekkah coba dicari siaran yang memperdengarkan adzan dua kali tersebut dan silahkan hitung waktunya.

     Indikator yang lain terkait dengan pertanyaan kapan waktu terbaik kita untuk makan sahur, mari kita tengok hadits lain yang masih dalam Bab Keutamaan Sahur, yaitu hadits dari Zaid bin Tsabit r.a., ia berkata : _"Kami sahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami berdiri untuk melakukan shalat (yakni shalat Subuh).” Ada seseorang bertanya (kepada Nabi SAW) : ‘Berapa jarak waktu antara keduanya itu (sahur dan sholat) ?’ Beliau menjawab : “Seukuran bacaan lima puluh ayat"._ (HR. Muttafaq 'alaih).
Dari keterangan hadits itulah kemudian Dr. Mustafa Din Al Bugho menjelaskan bahwa jarak antara akhir sahur dan permulaan adzan untuk sholat subuh itu seukuran bacaan lima puluh ayat yang sedang, tidak panjang dan tidak pendek, tidak cepat dan tidak lambat. Nah, untuk menerjemahkan berapa lama waktunya, berapa menitkah atau berapa jamkah, tentunya akan banyak pendapat yang berbeda- beda. Mengingat Nabi tidak mengisyaratkan surat apakah yang dibaca dari 50 ayat tersebut. Kalau kita mendengar bacaan sedang Al-Quran Syeikh Mishary Alafasi pada Surat Al Mulk yang berujmlah 30 ayat, waktu yang kita butuhkan untuk mendengarkannya adalah sekitar 7,sekian menit. Itupun panjang ayatnya bervariasi, ada yang sedang dan ada yang pendek. Kalau kita mendengar syeikh yang lain lagi tentunya akan bermacam-macam pula panjang durasi wakutnya. Maka untuk mengambil rata-rata waktu terbaik makan sahur adalah sepanjang 7,sekian menit x 2, yaitu rata-rata 15 menit sebelum masuk waktu subuh atau bisa juga sekitar 20 menit kalau ayatnya rata-rata semuanya sedang.

     Tentunya waktu terbaik tersebut tidaklah saklek atau kaku, mengingat tidak ada ketentuan surat apa yang dibaca dari 50 ayat tersebut. Ada tipe orang yang makannya cepat, ada juga tipe orang yang makannya lambat. Artinya pandai-pandailah kita melihat waktu terbaik saat akan makan sahur. Jangan terlalu panjang dan jangan terlalu dekat jarak antara makan sahur dengan adzan subuh. Sesuaikan saja dengan rata-rata waktu yang kita pahami dari petunjuk Nabi SAW. Semoga dengan meneladani cara makan sahur yang diajarkan oleh Nabi SAW ini kita selalu dilimpahi keberkahan dan kekuatan dalam menalankan ibadah puasa. Amin.

_Wallohua’lam_

~>NuansaHati ☺

Jumat, 19 Mei 2017

NASIHAT :SIAP-SIAP DENGAN KEDATANGAN BULAN ROMADHON, PENTING GA SIH ?

      Kira-kira apakah masih ada orang-orang yang membuat mainan dentuman dari bambu kemudian diisi dengan minyak tanah dan dinyalakan menggunakan api seperti layaknya meriam? Orang di kampung saya sering menyebutnya dengan long-long-an. Pemandangan seperti itu masih sering saya lihat sekitar 15-20 tahun yang lalu pada saat bulan Romadhon, terutama di kampung-kampung. Anak-anak jaman itu menyambutnya dengan gembira sambil bermain menggunakan long-long-an ataupun dengan petasan-petasan kecil secara bergantian menyalakannya. Meskipun sebenarnya mereka ga tau apa maksud puasa yang mereka jalani dengan gembira saat itu dan bahayanya mainan tersebut, yang penting mereka gembira. Tapi itu ‘kan jaman dulu, jangan sampai seumuran sekarang, yang sudah melewati masa-masa itu sekitar 20 tahunan, masih juga tidak mengerti apa pentingnya puasa di bulan Romadhon itu.

        Sebagaimana layaknya tamu yang datang ke rumah kita, Bulan Romadhon pun yang kurang lebih tinggal seminggu lagi datang patut kita sambut kedatangannya dengan sambutan yang terbaik. Kenapa ? Karena bulan inilah bulan yang memiliki keutamaan terbaik dibanding bulan lainnya. Bulan inilah di waktu siang dan malamnya Alloh berikan kesempatan ampunan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Bulan inilah Alloh bukakan pintu surga seluas-luasnya dan menutup rapat neraka serapat-rapatnya. Sebagaimana kabar dari Rosululloh SAW bahwa, “jika malam pertama malam bulan Romadon tiba, maka para syetan dan pemuka jin dibelenggu, pintu-pintu neraka dikunci, tidak akan dibuka satu pintu darinya, dan dibukalah semua pintu surga, tidak satupun ditutup darinya.” (HR. Ibnu Majah)

        Sungguh rugi seseorang jika bertemu Bulan Romadhon dengan tidak memiliki persiapan yang baik, layaknya seseorang yang rugi karena tidak punya persiapan yang baik saat tamu penting datang ke rumahnya. Sudah semestinya seseorang sudah menyiapkan fisik yang sehat dan kuat dengan melatih fisiknya terlebih dahulu untuk puasa sunnah sebelum bertemu dengan Bulan Romadhon yang di dalamnya terdapat kewajiban puasa, tentunya tidak makan dan minum seharian. Bahkan memberi tubuh dengan asupan dan gizi yang cukup pun juga penting. Soalnya, kalau fisik bermasalah saat sedang berpuasa karena tidak adanya persiapan yang baik, tentu masalah itu akan berdampak mengurangi kualitas ibadah kita. Sedangkan Nabi SAW pernah bersabda bahwa, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. Ibnu Majjah). Sangat rugi, bukan? Seharusnya kita bisa beramal lebih banyak seperti orang-orang sholih pada umumnya namun kita tidak bisa menyaingi mereka lantaran karena ada masalah dengan fisik kita.

       Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bulan Romadhon juga bulan sedekah karena Nabi SAW orang yang paling pemurah, terutama di bulan Romadhon. Saking pemurahnya di bulan ini, hingga oleh Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa “Sungguh bila Rosululloh SAW bertemu dengan Jibril, maka beliau lebih pemurah lagi dibanding angin kencang” (HR. Muttafaq’alaih). Sehingga Imam Asy Syafi’i pun berkata bahwa, “Aku menganjurkan orang yang berpuasa untuk meningkatkan sifat pemurahnya di Bulan Romadhon, demi meneladani Rosululloh SAW. Juga, karena pada bulan ini orang-orang memerlukan maslahat, dan karena banyak orang sibuk beribadah sehingga mengurangi waktu untuk bekerja”. Maka dari itu tidak heran jika di bulan ini banyak orang yang mendadak jadi dermawan dan berlomba-lomba menjadi orang yang paling banyak sedekahnya. Tentu kita tidak ingin hanya meletakkan tangan di bawah saja, kan? Sungguh rugi kalau kita tidak memanfaatkan harta kita untuk disisihkan atau dipersiapkan sejak dini untuk persiapan sedekah terbaik kita di Bulan Romadhon. Meskipun harta atau uang yang disedekahkan tidak banyak, Nabi SAW bersabda, “Jagalah dirimu dari api neraka meski hanya dengan sepotong kurma” (HR. Bukhori no. 1417 dalam kitab Fathul Baari). Meskipun hanya sebutir kurma atau segelas air atau hanya gorengan saja, hal itu tentu “maa fii musykillah” (tidak menjadi soal), karena penilaian Alloh bukan pada seberapa banyak jumlah hartanya yang disedekahkan, melainkan seberapa besar perbandingan sedekahnya dengan harta yang dimilikinya. Sesuai pula dengan Sabda Nabi SAW “hendaklah kamu mengeluarkan harta sesuai kesanggupanmu” (HR Bukhori no. 1434 dalam Fathul Baari). Sungguh rugi, bukan? Jika kita kedatangan bulan itu ternyata keadaan iman kita sedang tidak lapang sehingga menjadi sempit untuk bersedekah dan beramal sholih lainnya.

       Termasuk juga nih berinteraksi dengan Al-Quran karena di bulan inilah Al-Quran diturunkan. “Syahru Romadhoonalladzii unzilaafiihil Qur’aan...(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran...” (QS. 2: 185). Berinteraksi dengan Al Qur’an berarti kita mempelajari kaidah bacaannya dengan baik dan benar atau kaidah itu sering disebut dengan ilmu tajwid. Kemudian membacanya, menghafalkannya, mengkajinya, bahkan mengajarkan dan mengamalkannya. Jadi ternyata tugas kita bukan hanya memperbanyak membaca saja untuk sekedar meng-khatam-kannya. Maka dari itu perlulah kita memulai interaksi itu dari sekarang dimulai dari mempelajarinya kembali cara membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwidnya. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya dan hanya kitalah yang menentukan kapan waktu memulainya. Ya memang ga salah sih, bulan Romadhon banyak-banyakan membaca atau meng-khatam-kan Al Quran saja, tapi rasanya interaksi itu ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang terlupakan.

        Jangan sampai terlupakan pula kebersihan tempat dan lingkungan kita. Kenapa? Karena kata Nabi “Alloh itu Maha Indah dan mencintai keindahan” (HR Muslim). Bukankah kebersihan adalah bagian penting dari keindahan? Jadi, seseorang terlihat siap dengan hati lapang akan menjalankan segala macam bentuk ibadah di Bulan romadhon karena memang kesungguhannya dalam menjaga iman, dalam hal ini menampakkan keindahan diri dan lingkungan sebaik-baiknya di hadapan Alloh SWT. Lebih-lebih penjagaan iman itu dilakukan untuk menyambut Bulan Romadhon. Untuk anak kost-an, ya buru-buru lah beresin kost-annya biar hati lebih adem karena melihat pemandangan kost-an yang indah, Alloh pun suka. Kalau lihat rumah ada sarang laba-laba ya segera dibersihkan, halaman yang tumbuh banyak rumput ya segera dipangkas rumputnya. Kalau rumah itu sehat, ibadah pun jadi nyaman.
         Terakhir, jangan sampai kita miskin pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa (fiqih puasa). Banyak keistimewaan bulan Romadhon yang tentunya belum kita ketahui, atau sebenarnya sudah kita ketahui namun terlupakan. Bukalah kembali buku-buku fiqih puasa atau bertanya dan datangilah orang sholih yang bisa membimbing. Ketidaktahuan kita pada fiqih puasa pun bisa berakibat fatal. Bahkan resikonya kalau ada amalan kita yang salah bisa menyebabkan amal ibadah puasa kita tertolak. Lebih celaka lagi, kita tidak mendapatkan ampunan dari Alloh SWT dari sekian hari selama satu bulan lamanya waktu yang disediakan oleh Alloh untuk setiap hamba-Nya siang dan malam memohon ampun, memohon pahala, ridho dan surga-Nya. Kita tengok dulu hadits Nabi SAW dari Abu Huroiroh ini,”Barangsiapa tidak mau meninggalkan perkataan yang tidak benar (keji) dan perbuatan itu, maka Alloh tidak butuh dengan upayanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhori). Dalam syaroh Riyadush Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al Bugho dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan ancaman gugurnya pahala puasa bagi orang yang berpuasa namun tidak meninggalkan perkataan bohong. Kebayangkan? Kita salah sikap dan kata saja, Alloh tidak peduli dengan puasa kita, tidak peduli dengan lapar dan haus kita, apalagi melakukan kesalahan yang lebih besar dari itu. Na’dzubillaahimindzaalik (Kami berlindung kepada Alloh dari hal yang demikian), semoga Alloh izinkan kita menikmati ibadah di Bulan Romadhon di tahun 1438 H ini dan semoga menjadi kelak menadi ibadah terbaik sepanjang umur kita. Amin.

Wallohua’lam
~>NuansaHati☺

Minggu, 30 April 2017

NASIHAT : BENARKAH ADA CURHAT YANG BERDOSA ?

       Apa yang biasa kita lakukan ketika ada seseorang yang ingin curhat kepada kita? Tentunya kita akan menjadi pendengar yang baik. Bolehlah kita anggap bahwa seseorang yang ingin “curhat” itu butuh suatu respon yang baik dari orang lain. Berarti, ada peluang dimana kita bisa menebarkan kebaikan untuk orang yang curhat itu. Meskipun terkadang apa yang dibutuhkan itu tidak menyelesaikan masalahnya, setidaknya apa yang dibutuhkannya dari kita, bisa menghiburnya sementara ketika curhatnya itu berupa ending yang menyedihkan. InsyaAlloh itu jadi amal kebaikan dengan kita memberikan saran yang membangun atau nasihat yang meredam kesedihannya. Kalau curhatnya berupa ending yang menyenangkan, setidaknya kita bisa memberikan selamat pada orang yang curhat tersebut. Dengan kita bisa membuatnya senang ataupun memberikannya selamat pada orang yang curhat, insyaAlloh apa yang kita lakukan pada orang tersebut akan menjadi amal baik.

          Umumnya semua orang suka curhat untuk melampiaskan perasaannya, karena memang sangat mudah dilakukan dimanapun dan kapanpun. Lebih-lebih di m3dia sosial. Tidak ada syarat dan rukun yang berlaku juga bagi seseorang dikatakan curhat itu harus bagaimana. Asalkan apa yang diungkapkan itu adalah bentuk penggambaran perasaannya saat itu, hanya bicara “saya lelah” atau “saya bahagia” pun itu sudah bisa dibilang curhat. Bahkan tidak harus perkataan, melalui foto yang di-upload ke media sosial pun kadang bisa berarti curhat juga. 

         Curhat seperti itu sah-sah saja, karena jaman Nabi SAW pun sudah ada curhat. Para sahabat curhat kepada Nabi tentang permasalahan hidup mereka, baik masalah keluarga ataupun masalah hukum-hukum syariah yang tidak mereka ketahui. Nabi pun juga pernah curhat kepada Siti Khodijah r.a, istri pertama beliau, tentang perihal Nabi SAW saat menerima wahyu yang pertama kali sehingga membuatnya menggigil ketakutan.

        Curhat dengan niatan untuk mengurangi beban masalah, itu sudah biasa. Nah, bagaimana kalau ternyata curhat yang disampaikan itu bukan mengurangi beban masalah namun malah menambah beban masalah tanpa disadarinya ? Tentu sebenernya bukan curhatnya yang salah, apa yang menjadi bahan curhat-an itulah yang menjadi masalah. Sehinga tanpa disadari, seseorang itu malah memperbesar dosanya sendiri. 

       Lho kok bisa? Ya jelas saja, lha wong isi curhatannya kepada kita itu ternyata berisi tentang dosa yang pernah dilakukannya. Kalau seperti itu yang terjadi, saya bilang ini persoalan serius yang harus dihindari. Meskipun persoalan yang sebenarnya itu bukan milik kita, setidaknya dengan kita menghindari curhatan semacam itu, kita tidak menjadi jembatan bagi seseorang untuk membesarkan nilai dosanya di hadapan Alloh SWT yang tentunya bisa berakhir dengan tidak diampuni-Nya dosanya itu. Kok bisa begitu? Coba kita simak hadits Nabi SAW, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Setiap ummatku itu dimaafkan, kecuali orang-orang yang menampak-nampakkan keburukannya sendiri. Di antara perbuatan menampakkan keburukan sendiri adalah melakukan sesuatu perbuatan keburukan di waktu malam, kemudian di pagi harinya Allah telah menutupi keburukannya itu, namun ia berkata : "Hai Fulan, aku tadi malam melakukan demikian, demikian." Di malam harinya Allah telah menutup celanya, tetapi di pagi harinya ia membuka tutup Allah yang diberikan kepadanya itu.” (Muttafaq’alaih, dalam Kitab Riyadus Sholihin Bab 28 hadits ke-2)

        Kebayang ‘kan? Bagaimana seseorang bisa membesarkan dosanya sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang pernah korupsi kemudian dia curhat pada kawan dekatnya dengan senang hati dan tanpa rasa berdosa, sekaligus berbagi bagaimana sih cara korupsi yang profesional. Entah itu korupsi uang negara atau uang perusahaan. Atau mungkin seorang peminum khomr (minuman atau makanan memabukkan), ia curhat dengan bangga di sebuah forum bahwa di dunia ini belum ada minuman keras yang belum dia minum. Atau contoh yang sangat sederhana dan sering kita jumpai di media sosial, dengan senang hati dan bangganya dia up load fotonya yang sedang ber-kholwat (menyepi) berdua-duaan dengan lawan jenis dan bukan mahromnya di banyak media sosial. Hingga fotonya itu hilang dari dunia maya, foto itu belum berhenti mengalirkan dosa meskipun pelakunya sudah tidak di dunia lagi alias meninggal. Tentunya contoh-contoh tersebut di atas tidak banyak disadari oleh setiap orang akan bahaya dosanya. 

           Dalam syaroh Riyadhus Sholihin oleh Dr. Musthafa Dib. Al-Bugho Bab 28 menjelaskan tentang mutiara hadits tersebut, bahwa Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, orang yang memperlihatkan maksiatnya dan menyingkap apa yang telah ditutupi Alloh dengan cara membicarakannya disebut "Mujahir". Lanjutnya, sikap memperlihatkan maksiat pada orang lain seperti itu akan mengundang murka Alloh, sedangkan dengan menutupi aib dengan disertai taubat, akan membuat Alloh menutup aibnya. Sikap memperlihatkan maksiat itu berarti melanggar kehormatan umum, meremehkan agama, bahkan berarti meremehkan hak Alloh dan rosul-Nya yang mengakibatkan dosanya akan menjadi semakin besar. Na’uudzubillaahimindzaalikal amr. 

Maka dari itu, mari kita teliti memilih bahan curhat dan teliti pula mendengarkan curhatan dari orang lain. Kalau menampakkan-nampakkan kebaikan diri (karena riya') saja tidak boleh, apalagi menampakkan-nampakkan keburukan diri yang sudah ditutup oleh Alloh kepada orang lain.

Wallohu a’lam
~>NuansaHati :)