Minggu, 30 April 2017

NASIHAT : BENARKAH ADA CURHAT YANG BERDOSA ?

       Apa yang biasa kita lakukan ketika ada seseorang yang ingin curhat kepada kita? Tentunya kita akan menjadi pendengar yang baik. Bolehlah kita anggap bahwa seseorang yang ingin “curhat” itu butuh suatu respon yang baik dari orang lain. Berarti, ada peluang dimana kita bisa menebarkan kebaikan untuk orang yang curhat itu. Meskipun terkadang apa yang dibutuhkan itu tidak menyelesaikan masalahnya, setidaknya apa yang dibutuhkannya dari kita, bisa menghiburnya sementara ketika curhatnya itu berupa ending yang menyedihkan. InsyaAlloh itu jadi amal kebaikan dengan kita memberikan saran yang membangun atau nasihat yang meredam kesedihannya. Kalau curhatnya berupa ending yang menyenangkan, setidaknya kita bisa memberikan selamat pada orang yang curhat tersebut. Dengan kita bisa membuatnya senang ataupun memberikannya selamat pada orang yang curhat, insyaAlloh apa yang kita lakukan pada orang tersebut akan menjadi amal baik.

          Umumnya semua orang suka curhat untuk melampiaskan perasaannya, karena memang sangat mudah dilakukan dimanapun dan kapanpun. Lebih-lebih di m3dia sosial. Tidak ada syarat dan rukun yang berlaku juga bagi seseorang dikatakan curhat itu harus bagaimana. Asalkan apa yang diungkapkan itu adalah bentuk penggambaran perasaannya saat itu, hanya bicara “saya lelah” atau “saya bahagia” pun itu sudah bisa dibilang curhat. Bahkan tidak harus perkataan, melalui foto yang di-upload ke media sosial pun kadang bisa berarti curhat juga. 

         Curhat seperti itu sah-sah saja, karena jaman Nabi SAW pun sudah ada curhat. Para sahabat curhat kepada Nabi tentang permasalahan hidup mereka, baik masalah keluarga ataupun masalah hukum-hukum syariah yang tidak mereka ketahui. Nabi pun juga pernah curhat kepada Siti Khodijah r.a, istri pertama beliau, tentang perihal Nabi SAW saat menerima wahyu yang pertama kali sehingga membuatnya menggigil ketakutan.

        Curhat dengan niatan untuk mengurangi beban masalah, itu sudah biasa. Nah, bagaimana kalau ternyata curhat yang disampaikan itu bukan mengurangi beban masalah namun malah menambah beban masalah tanpa disadarinya ? Tentu sebenernya bukan curhatnya yang salah, apa yang menjadi bahan curhat-an itulah yang menjadi masalah. Sehinga tanpa disadari, seseorang itu malah memperbesar dosanya sendiri. 

       Lho kok bisa? Ya jelas saja, lha wong isi curhatannya kepada kita itu ternyata berisi tentang dosa yang pernah dilakukannya. Kalau seperti itu yang terjadi, saya bilang ini persoalan serius yang harus dihindari. Meskipun persoalan yang sebenarnya itu bukan milik kita, setidaknya dengan kita menghindari curhatan semacam itu, kita tidak menjadi jembatan bagi seseorang untuk membesarkan nilai dosanya di hadapan Alloh SWT yang tentunya bisa berakhir dengan tidak diampuni-Nya dosanya itu. Kok bisa begitu? Coba kita simak hadits Nabi SAW, dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Setiap ummatku itu dimaafkan, kecuali orang-orang yang menampak-nampakkan keburukannya sendiri. Di antara perbuatan menampakkan keburukan sendiri adalah melakukan sesuatu perbuatan keburukan di waktu malam, kemudian di pagi harinya Allah telah menutupi keburukannya itu, namun ia berkata : "Hai Fulan, aku tadi malam melakukan demikian, demikian." Di malam harinya Allah telah menutup celanya, tetapi di pagi harinya ia membuka tutup Allah yang diberikan kepadanya itu.” (Muttafaq’alaih, dalam Kitab Riyadus Sholihin Bab 28 hadits ke-2)

        Kebayang ‘kan? Bagaimana seseorang bisa membesarkan dosanya sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang pernah korupsi kemudian dia curhat pada kawan dekatnya dengan senang hati dan tanpa rasa berdosa, sekaligus berbagi bagaimana sih cara korupsi yang profesional. Entah itu korupsi uang negara atau uang perusahaan. Atau mungkin seorang peminum khomr (minuman atau makanan memabukkan), ia curhat dengan bangga di sebuah forum bahwa di dunia ini belum ada minuman keras yang belum dia minum. Atau contoh yang sangat sederhana dan sering kita jumpai di media sosial, dengan senang hati dan bangganya dia up load fotonya yang sedang ber-kholwat (menyepi) berdua-duaan dengan lawan jenis dan bukan mahromnya di banyak media sosial. Hingga fotonya itu hilang dari dunia maya, foto itu belum berhenti mengalirkan dosa meskipun pelakunya sudah tidak di dunia lagi alias meninggal. Tentunya contoh-contoh tersebut di atas tidak banyak disadari oleh setiap orang akan bahaya dosanya. 

           Dalam syaroh Riyadhus Sholihin oleh Dr. Musthafa Dib. Al-Bugho Bab 28 menjelaskan tentang mutiara hadits tersebut, bahwa Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, orang yang memperlihatkan maksiatnya dan menyingkap apa yang telah ditutupi Alloh dengan cara membicarakannya disebut "Mujahir". Lanjutnya, sikap memperlihatkan maksiat pada orang lain seperti itu akan mengundang murka Alloh, sedangkan dengan menutupi aib dengan disertai taubat, akan membuat Alloh menutup aibnya. Sikap memperlihatkan maksiat itu berarti melanggar kehormatan umum, meremehkan agama, bahkan berarti meremehkan hak Alloh dan rosul-Nya yang mengakibatkan dosanya akan menjadi semakin besar. Na’uudzubillaahimindzaalikal amr. 

Maka dari itu, mari kita teliti memilih bahan curhat dan teliti pula mendengarkan curhatan dari orang lain. Kalau menampakkan-nampakkan kebaikan diri (karena riya') saja tidak boleh, apalagi menampakkan-nampakkan keburukan diri yang sudah ditutup oleh Alloh kepada orang lain.

Wallohu a’lam
~>NuansaHati :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar