Minggu, 15 Maret 2015

NUANSA HATI : KESUSAHAN PASTI BERAKHIR : ARTIKEL



KESUSAHAN PASTI BERAKHIR

        Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dan berganti dengan pagi. Segala sesuatu juga akan ada akhirnya. Habis gelap terbitlah terang. Badai pun pasti berlalu.Coba kita telaah ayat Alloh yang menjanjikan kemudahan di bawah ini.

5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 
(QS. Al-Inshiroh:5-6)


 Segala permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi pun pasti ada ujungnya, pasti ada mudahnya, pasti ada akhirnya. Amal soleh kitalah yang akan mempercepat perjalanan tempat usainya permasalahan dan kesusahan yang kita hadapi. Semakin baik amal soleh kita maka semakin cepat permasalahan kita selesai.

      Ada sebuah kisah nyata seorang ibu muda yang dikisahkan oleh Ust. Yusuf  Mansur. Sebut saja fulanah, beliau memproses perceraiannya bertahun-tahun gak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya hanya menyuruhnya bersabar. “Semua ada waktunya”, begitu nasihat ibunya. Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya. Sedekah yang besar. Akhirnya bersedekahlah ia.

      Dua tahunan terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia belum berjilbab, ia lalu berjilbab dan memperbanyak taubat. Ia usahakan sering mendatangi pengajian. Kegiatan-kegiatan pun sosial ia ikuti. Ia melupakan persoalan perceraiannya. Ia segarkan hidupnya dengan Karunia Allah yang lain. Memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari Karunia Allah yang sesungguhnya masih teramat besar. Ketahuilah bahwa kesusahan hidup, ga sebanding dengan Karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.  

Coba kita pikirkan baik-baik. Seberapa sakitnya kita makan ketika kita sedang sariawan? Rasa makanan pun terasa tidak enak. Berapa mahalnya orang yang melakuan operasi jantung? Bisa puluhan bahkan bisa ratusan juta rupiah. Apakah kita mau tangan kanan kita ditukar dengan uang 1 milyar? Hal ini tidak perlu kita jawab namun nampaknya perlu kita renungkan sebagai bentuk rasa syukur kita bahwa kesusahan  kita tidak sebanding dengan nikmat yang kita dapatkan sampai detik ini.

Melanjutkan kisah ibu fulanah tadi, akhirnya waktu yang ia tunggu, tiba. 2 tahun sejak ia bersedekah sesuatu yang besar, ia mendapatkan keputusan cerai. Sepertinya tiba-tiba dan berproses dengan sangat mudah. Beda sekali dengan waktu-waktu sebelumnya pada saat sebelum ia banyak beramal soleh dan bersedekah.

Suatu yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 milyar dari hasil tabungannya pasca bercerai. Uang ini pun bukan harta gono-gini. Mantan suaminya hanya minta diikhlaskan segala kesalahannya. Satu hal yang membuat ibu fulanah ini agak berdebar dengan cara kerja Allah bahwa mantan suaminya ini bercerita, “tabungan yang nyaris 1 milyar tersebut adalah tabungan 2 tahun terakhir”. Masya Allah, suaminya ini “bekerja” yang mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekah dari si fulanah.

       Dalam satu kesempatan, si ibu fulanah ini bercerita, barangkali kalau dulu Allah mengabulkan doanya kemudian ia mendapatkan hak cerai, ia tidak akan mendapatkan uang 1 milyar. Hari gini, uang 1 saja juta masih cukup besar, apalagi 1 milyar. Ya itulah buah dari kesabaran, hasil amal solehnya dan berkah dari sedekahnya. Cara kerja Alloh itu tidak akan sanggup kita pikirkan karena ternyata hal itu di luar dari kemampuan akal kita.

        Benarlah keyakinan orang-orang tua kita dulu, kalau udah waktunya, ya waktunya. Kalau udah rizkinya, ya rizkinya. Kalau udah jodohnya ya jodohnya. Kita harus pahami, kalau kita tidak melakukan banyak hal yang buruk, asal kita perbaiki saja hidup kita, cara kita hidup, dan memaknai ulang hidup kita untuk lebih baik lagi beribadah kepada Allah dan bermanfaat untuk sesama, rasanya hidup kita akan benar dengan sendirinya. Keinginan kita juga pun akan terjawab dengan sendirinya. Masalah pun akan selesai dengan sendirinya.

Kalau dikatakan “tidak melakukan apa-apa atau tidak ikhtiar” tentu saja tidak. Bagi mereka yang bertaubat dan berupaya memperbaiki dirinya itulah bagian dari ikhtiarnya. Coba kita telaah Haditsdi bawah ini.

Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Alloh akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan (kegalauan) yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Alloh akan memberinya   rizki dari arah yang tidak disangka-sangka .” (HR. Abu Daud). 

Kita bisa menyebut ikhtiar bagi mereka yang bermasalah adalah taubat dan memperbanyak amal soleh. Kesempitan, galau, gundah, susah obatnya adalah taubat sesuia dengan pesan Nabi. Ada kemudian sebagian orang yang protes, harus tetap ada dong ikhtiar yang nampak dan dirasakan, misal untuk membayar hutang dia harus mencari uang lebih giat dan rajin mencicilnya. Kita katakan itu sah-sah saja, tapi itu bukan hal yang utama dalam penyelesaian masalah. Sudahlah, pokoknya taubat dulu. Rosul beristighfar tidak kurang dari 70 kali, dalam riwayat lain tidak kurang dari 100 kali sehari. Cara Alloh itu untuk menolong hamba-Nya itu lebih hebat disbanding cara manusia manapun dan tidak akan sanggup untuk dipikirkan akal manusia. Ikhtiar yang terbaik ya itu : taubat dan amal saleh. Berbeda halnya kalau permasalahannya berhubungan dengan manusia, maka harus dijalin komunikasi yang baik terlebih dahulu.   


Kalau kita sudah yakin dengan taubat kita, maka sudah waktunya kita memperbaiki shalat kita dengan memperbanyak sholat berjamaah di masjid bagi yang laki-laki, menambah shalat-shalat sunnah (Tahajjud, Dhuha, sholat rowatib yang Muakkad), rutin membaca Al-Qur’an, sedekah, dan lain-lain. Sebab nyatanya, memang tidak gampang untuk bisa bertaubat dan beramal soleh. Kalau taubat ini belum kita gapai, nah mau melalui apa Alloh membantu menyelesaikan permasalahan dan kesusahan hidup kita.

Lalu bagaimana jika ia sudah taubat kemudian mendekati Allah dengan harapan dan doa agar Allah mau membayarkan hutangnya. Segala kebaikan sudah ia tempuh, namun masih serasa tumpul belum terlihat jalan keluar. Maksudnya, hutangnya tetap ga kebayar-bayar. Sama saja seperti dengan tidak datang kepada Allah. Malah sebaliknya, semakin dekat kita dengan Alloh semakin datang ujian-ujian baru kepadanya setelah sekian bulan mendisiplinkan amal kebaikan. Seakan-akan membenarkan pandangan bahwa kalau mendekatkan diri kepada Allah, ujiannya akan semakin banyak.

Ada jawaban yang tentunya bisa membuat kita istiqomah atau tetap pada pendirian dalam iman dan rutinitas amal soleh. Bisa jadi Alloh sedang berkenan menyegerakan segala akibat buruk, dengan jumlah takaran yang sebenarnya sudah dikurangi jauh dari yang semestinya diterima. Biar bagaimana, akibat buruk harus diterima. Inilah yang dinamakan keadilan Alloh. Jika tidak mau akibat buruk diterima setara dengan keburukan yang harus diterima, maka bertaubat itu tadi adalah jawabannya. Taubat yang sempurna,  taubat nasuha atau sungguh-sungguh dan serius disertai juga amal saleh yang harus rutin. Kalau tidak setara, tetap harus ada yang dibayar untuk mengganti hasil keburukannya yang sudah lalu.
Hal seperti inilah yang sepertinya kurang disadari oleh banyak orang, padahal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, amal buruk ada balasannya, amal baik pun ada balasannya meskipun itu sedikit.  

7.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat  
  (balasan)nya. 
8.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan  
   melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Katakanlah ia pernah mencuri. Harus ada yang dibayar akibat dari perbuatan buruk yang dilakukannya itu. Bisa jadi Alloh akan mencabut nikmat sehatnya, bisa jadi Alloh mencabut keutuhan rumah tangganya atau bisa jadi Alloh mengambil harta yang dititipkan padanya untuk membayar apa yang telah ia lakukan. Namun tetaplah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia hukum hamba-Nya dengan memperhatikan segala kebaikan diri orang itu dan diri orang-orang di sekeliling orang itu. Ada yang Allah ringankan pembayarannya sebab ia punya anak yatim. Ada yang diringankan sebab ia pernah membantu saudaranya. Ada yang diringankan sebab istrinya mendoakan tanpa henti. Ada yang diringankan sebab orang tuanya senantiasa memanjatkan doa untuknya. Ada yang diringankan sebab anaknya sedang menuntut ilmu. Dan banyak lagi pertimbangan Allah yang tidak kita mengerti kecuali hanya dengan jalan husnudzdzan kepada-Nya.

Nikmati saja terlebih dahulu “kedekatan” diri dengan Allah serta pembiasaan amal soleh yang dilakukan. Bisa jadi, kalau Allah mempercepat ia selesai dari masalah, malah nanti ga bisa istiqamah lagi amal soleh atau ibadahnya. Yakin saja dengan janji Alloh yang akan memberikan kemudahan. Bukankah baru beberapa bulan saja, belum beberapa tahun? Atau katakanlah, baru beberapa tahun, belum bertahun-tahun. Sedang kalau kita ingat dosa kita, sudah berapa tahun kita kerjakan? Jangan-jangan sepanjang kita hidup, mulai dari akil baligh sampe sekarang ini, hidup kita banyak sekali bergelimang dosa yang belum sebanding dengan amalan ibadah kita.

Setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Meskipun kita merasa memikul beban yang sangat berat sehingga membuat perjalanan kita cenderung seperti lambat, kita harus tetap berjalan dengan amal soleh. Jangan berhenti dari amal soleh, tak perlu buru-buru mengharapkan datangnya  kebaikan. Bahkan Nabi Zakaria tetap berdoa dan beramal soleh meski doanya selama puluhan Tahun untuk mendapatkan seorang keturunan baru terjawab pada usia 90 Tahun. Kisah ini sangat apik tercatat dalam QS. Zakaria :1-15. Sangat mudah bagi Alloh untuk mengabulkan doa, apalagi doa seorang Nabi, namun maksud kisah yang tercatat dalam Al-Qur’an adalah tidak lain untuk kita ambil ‘ibroh (pelajaran) sebagai modal kita menjadi orang-orang yang sabar dan bersyukur dengan meneladani para Nabi. Kita kejar saja perjalanan menemukan solusi hidup dengan amal soleh, dan tetap berhusnudzan (berprasangka baik) kepada Allah karena Alloh sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Senin, 09 Maret 2015

NUANSA HATI : HALAWATAL IMAN : ARTIKEL



                            HALAWATAL IMAN

Setiap muslim tidak bisa meninggalkan kata-kata “iman”, karena dengan bekal iman inilah seorang muslim bisa membawa dirinya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini tentunya bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya, layaknya aliran listrik yang mengeluarkan sebuah sengatan mematikan namun tidak tampak. Lampu pun akan menyala jika dialiri listrik yang tak tampak. Begitu pula dengan iman, bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya. 

Fenomena yang sering terjadi bahkan mungkin di antara kita, iman hanya berhenti pada pengertian iman semata namun sebenarnya tidak mampu merasakan kehadiran iman di dalam hati. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.  (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS : Al-Anfaal : 2-3)

Firman Allah yang begitu indah ini merupakan sebuah berita untuk kita tentang ciri-ciri orang yang merasakan kehadiran iman dalam dirinya, bahwa mereka mengagungkan nama Allah, merasakan keberadaan Allah di sekitarnya sehingga menimbulkan rasa takut jika berkhianat atau bermaksiat pada Allah, serta menimbulkan kebahagiaan saat melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT. Sering kali kita bertemu orang yang begitu lama bersujud dalam sholatnya, yang terisak-isak menangis saat ia membaca Al-Quran ketika ia menjadi imam, yang meratap penuh harap dan takut ketika berdoa, hal-hal seperti inilah yang mencirikan sifat orang yang beriman. Ibadahnya berkualitas, tampaklah hasilnya dalam sikap, tutur kata dan perilaku. Sehingga pantaslah ia disebut orang soleh karena amalan ibadahnya terjaga. Begitulah orang-orang yang sudah menemukan lezatnya iman, lezatnya beribadah.

Lezatnya iman mungkin tidak semua muslim bisa merasakannya karena berhenti pada pengertian semata. Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memiliki ungkapan indah yang ditiggalkan untuk membantu kita merasakan nikmatnya iman dalam diri seorang muslim, Beliau bersabda:
Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan (Halawatal Iman): Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam api.” (H.R.Bukhari Muslim)

Imam Nawawi, ketika mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman adalah :

1. Merasakan Nikmatnya Melakukan Ketaatan

Seorang hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban, larangan Allah untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Baginya sangat ringan untuk membaca Al-Quran dan melaksanakan Sholat Dhuha disela-sela kesibukannya, mudah bangkit dari tidurnya untuk sholat Tahajud dalam dinginnya malam, mudah melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat fardhu 5 waktu dan ringan tangannya untuk selalu bersedekah.

2. Rela Memikul Beban

Orang beriman itu senang hati memikul beban dan kesulitan seberat apapun, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan. Rasulullah dan para Sahabat Beliau yang mulia adalah tauladan kita semua dalam hal ini. Ingatkah kita, bagaimana pada suatu ketika, di saat pengaruh Islam semakin melebar luas, datanglah kepada Rasulullah beberapa orang pembesar kaum musyrikin Mekkah menawarkan beliau kedudukan, harta dan wanita. Namun, semua tawaran itu dengan tegas Beliau tolak. Ridha Allah lebih beliau pilih daripada ridho manusia, amanah dan risalah/misi/tugas Rosulullah lebih besar dan berharga bagi beliau dari semua tawaran-tawaran duniawi yang menggiurkan tersebut. Akankah sama halnya kita jika seandainya kita mendapat tawaran kesenangan yang serupa? Akankah kita akan tegar di jalan Allah ketika sudah diberikan kemewahan dan kesenangan dunia? Manusia, ketika sulit, kebanyakan kuat imannya, namun ketika diberi kesenangan, banyak yang lupa diri. Na'udzubillah.

3. Mencintai Allah dan Rosul-Nya dalam Ketaatan

Ketaatan adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya dalam aturan. Segala perintah dan larangan Alloh dan Rosul-Nya tidak mungkin membawa kesengsaraan pada manusia. Bahkan perintah itu sesuai dengan kesanggupan manusia. Berhaji tidak dikenakan kewajiban bagi yang tidak mampu secara fisik maupun materi. Sholat boleh tidak dikerjakan berdiri ketika dalam keadaan sakit. Sungguh murah Alloh memberikan perintah.  

Rasulullah SAW mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika iman kita bermasalah/iman kita sedang tidak sehat.

Manisnya iman terlihat di dalam keluasan dan kelapangan dada, baik di dalam senang maupun susah. Ia akan tampak dalam bentuk kekuatan menanggung beban dan menghadapi kesulitan. Seseorang yang mendapatkan manisnya iman akan selalu merasakan kedekatan dengan Allah, selalu yakin akan janji-Nya, ridha akan ketentuan-Nya, dan berpasrah diri di hadapan-Nya. Orang itu akan memiliki pedoman hidup yang jelas berdasarkan keimanan, dia akan menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, walau bertentangan dengan keinginannya dan kehendaknya. Ia juga akan menjaga dan mempererat hubungannya dengan Allah, dengan manusia, dan semua yang berada di alam ini. Allah merupakan solusi pertama sebagai jalan keluar permasalahan dalam hidupnya.

Manisnya iman akan melahirkan keridhaan akan segala ketentuan Allah. Betapa tidak, iman yang menghunjam di dalam dada memberikannya keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas ketentuan-Nya, dan ketentuan-Nya itulah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu dalam diri adalah milik Allah dan kita hanya dititipi? Maka ketika Allah mengambilnya, yang muncul adalah rasa sabar, dan jika Allah menambahkannya yang muncul adalah kesyukuran. Rasulullah saw bersabda:
Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya.”
(HR.Muslim)

Manisnya iman itu harus di cari, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman adalah pandai merahasiakan amal ibadah. Cukup kita dan Allah saja yang tahu, rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kita sekalipun, walau terhadap orang tua, saudara, bahkan istri/suami. Perbanyaklah kita memohon nikmatnya iman agar hadir dalam diri kita. Renungkan dalam doa kita dengan penuh harapan bahwa amalan kita mengantarkan kita kepada kecintaan kepada Allah, sehingga kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap diri kita dan dunia seisinya, dan bila kecintaan itu sudah terlahir dalam diri kita, issyaallah Halawatal Iman dapat kita rasakan hadir dalam hati kita.

Wallohua'lam

Kamis, 05 Maret 2015

Nuansa Hati : Kiat-kiat Membersihkan Hati : Artikel

                                                     Kiat-kiat Membersihkan Hati

       Menikmati iman dan indahnya bertemu dengan orang-orang saleh di masjid, dan menikmati indahnya berjamaah dengan orang-orang yang beriman adalah satu hal yang wajib kita syukuri.  Iman memberikan ketenangan, ketenangan membersihkan hati. 

       Allah Maha mendengar, Allah Maha menyaksikan, mudah-mudahan dengan menghadirkannya iman dalam hati dapat membuat kita benar-benar menjadi insan yang bersih, karena ternyata orang yang benar-benar bisa berjumpa dengan Allah dalam setiap ibadahnya dalam setiap aktivitas kehidupannya adalah orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sehebat apapun amal kalau hatinya kotor amalnya tidak diterima. Dia sombong, dia mengharap pujian, dengki, iri, ingin didengar namanya, kesemua itu adalah penyakit hati yang akan menghapus amal.  Begitu juga setinggi apapun ilmu, kalau hatinya penuh penyakit-penyakit tersebut, ilmunya juga akan sia-sia di hadapan Allah. 

          Orang yang berhati bersih adalah orang yang bisa mengucapan kalimat LAAILAHAILLLAH (tiada Tuhan selain Allah). Bahkan nabi SAW bersabda
Sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang dengannya dia berharap wajah Allah.” Tidak hanya ucapan itu terucap oleh lisan tapi juga dengan perbuatan dan hati. Jadi kalau selama ini kita sengsara, itu karena kita menuhankan sesuatu yang lain selain Allah. Ada yang menuhankan harta, pangkat, gelar, jabatan, wanita, penampilan bahkan nafsu. Orang yang punya tuhan-tuhan lain seperti itu pasti hidupnya tidak akan bahagia dan tidak akan pernah mengalami indahnya berjumpa dengan Allah dalam kehidupan dan ibadahnya, karena dia mengabdi pada tuhannya yang lemah dan bisa habis. Justru kebahagiaan itu adalah ketika kita berhasil membersihkan diri kita dari menuhankan hal-hal tersebut.

         Tuhan atau Ilah yang dimaksud bukan hanya sesuatu yang kita sembah, namun hal itu bisa kita maknai dengan sesuatu yang mendominasi diri kita sehingga kita selalu ingat kepadanya, selalu ingin mengabdi padanya, selalu ingin dekat dengannya, selalu ingin berbuat sesuatu untuk menyenangkannya, takut kehilangannya.  Kalau “nya”  di sini adalah selain Allah, niscaya hidup tidak akan bahagia. Ada orang yang mengira harta dan jabatannya adalah sumber kebahagiannya di dunia, maka orang itu sudah menuhankan harta dan jabatannya, padahal harta dan jabatan bukan sumber kebahagiaan yang hakiki namun hal tersebut hanyalah sarana kita untuk mengabdi pada Allah. Oleh karena itu, ada beberapa solusi agar menjaga hati kita tetap bersih, 

  1. Yakini bahwa kita adalah ciptaan Allah Inniikhooliqun bassyarominthin (QS Shood :71),Sesungguhnya Alloh menciptakan manusia dari tanah. Tidak ada manusia yang bukan ciptaan Allah. Orang sunda, lampung, jawa, batak, china, amerika, korea semuanya ciptaann Allah. Manusia tidak bisa menciptakan manusia. Kalau kita melihat segala sesuatu adalah ciptaan Allah, maka hati kita jauh lebih tenang. Seperti kita melihat kue kemudian memakan dan menikmatinya maka kita akan mengingat orang yang membuatnya.  Kalau kita melihat makhluk kemudian kita ingat Allah yang menciptakannya maka kita akan lebih tenang. Kita tidak akan pernah kecewa dengan tubuh kita apa adanya yang diciptakan oleh Alah dan akan selalu menjadi milik Allah ini. 
  2. Kita harus yakin Lillahimaafissamawaatiwamaafilardh (QS Al-Baqoroh : 284), milik Allah adalah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Kita lahir tidak membawa apa-apa matipun tidak akan membawa apa-apa. Dunia ini tetap di sini saja, sekaya apapun bahkan sehebat apapun orang pasti mati tidak akan membawa apa-apa habis di makan tanah kecuali para kekasih Allah salah satunya adalah Muhammad Rosullullah SAW,  belatung tidak mampu memakannya. Oleh karena itu jangan terpesona melihat kekayaan, karena itu hanya titipan sebentar saja. Harta itu ada tiga, dimakan jadi kotoran, dipakai jadi using dan yang di belanjakan di jalan Allah. Harta bisa meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkan harta. Oleh karena itu, melihat dunia ini tidak perlu terpesona, karena itu hanya titipan sebentar saja. Makin merasa kendaraan kita, istri kita, rumah kita itu adalah titipan maka hati  akan makin merasa tenang. Semakin kita merasa memiliki sesuatu maka hati ini makin gelisah.
  3. Yakinilah segala sesuatu pasti diurus oleh Allah Alloohulaailaahaillahuwalhayyulqoyyuum, laata'khuduhuusinatuwwalanauum (QS Al-BAqoroh:255). Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia, yang terus-menerus makhluknya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kita tidak tau apa-apa tentang tubuh kita yang di dalamnya ada ribuan, jutaan, bahkan ratusan trillyun sel. Kita puluhan tahun hidup kita tau beres. Kita juga tidak tau apapun tentang Anak, membuat sehelai rambutpun kita tidak sanggup tapi kita tau beres melihat anak-anak kita tumbuh dewasa, itu karena segala sesuatunya telah diurus oleh Allah tanpa kita ketahui.  
  4. Yakinilah bahwa segala takdir itu kuasa Allah, mau kita dibuat sehat, mau dibuat sakit, mau diberi/diambil terserah Kuasa Allah saja. Semua perbuatan Allah bagi orang yang beriman pasti baik karena tidak ada yang lebih menyayangi kita selain Allah pencipta kita. Bagi orang yang beriman apapaun yang Allah berikan pasti baik, yang tidak baik adalah tidak ridho dengan takdir dan salah menyikapinya. Bahkan sabda NAbi SAW “Orang beriman itu diberi nikmat dia bersyukur, syukur jadi kebaikan, diberi ujian dia sabar, sabar jadi kebaikan”. Jadi tidak ada kerugian bagi orang yang yakin kepada Allah. Seorang tua normal tidak mungkin menjerumuskan anaknya ke dalam api karena dia mencintai anaknya, namun Allah lebih mencintai makhluknya, mencintai hamba-Nya, lebih dari orang tua itu mencintai anaknya. Kita menderita bukan karena takdir, tapi kita menderita karena salah menyikapi takdir. Semua rangkaian takdir Allah pasti baik bagi orang yang beriman.
  5.  Yakinilah tidak ada segala sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah. Sesuap nasi pun yang kita miliki kalau Alah tidak mengizinkan kita memakannya, tidak akan sampai nasi itu ke dalam mulut kita. Sepandai apapun orang merencanakan suatu kejahatan, maka sesuatu itu tidak akan pernah terjadi tanpa izin Allah.
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghobun : 11)
Karena itu, jangan pernah bersandar pada segala sesuatu makhluk/benda apapun, karena makhluk tidak akan memberi manfaat tanpa izin Allah, dan jangan pernah kita gentar pada ancaman makhluk karena makhluk tidak mampu menyakiti kita tanpa izin Allah. Semakin kita yakin sesuatu terjadi karena izin Allah, semakin tenang hati kita. Lahaulawalaquwwata illabillah (segala sesuatu tdk ada daya dan upaya tanpa izin Allah).  Semakin hati yakin, pasti Allah cukupi, semakin ragu kepada Allah pasti kita akan goyah. Semakin orang gelisah dan takut pasti sandaran orang tersebut bukanlah Allah. Alaa bidzikrillahitathmainnulquluub (QS Ar-Ro'du : 2) hanya dengan mengingat Allahlah hati akan menjadi tentram.
semakin cepat kita ingat Allah semakin cepat kita kembalikan pada Allah semakin bulat kita yakin pada Allah, itulah yang akan menurunkan ketenangan dalam hati. Huwalladziangzalaasakinatafiiquluubilmukminin (QS Al-Fath : 4) Dialah Allah yang memberikan ketenangan pada hati orang yang beriman. Semakin Allah Allah Allah Allah itulah Laailaahailllah.. itulah ketenangn yang akan menumbuhkankebahagiaan dan kemuliaan. 

Wallohua'lam