Senin, 09 Maret 2015

NUANSA HATI : HALAWATAL IMAN : ARTIKEL



                            HALAWATAL IMAN

Setiap muslim tidak bisa meninggalkan kata-kata “iman”, karena dengan bekal iman inilah seorang muslim bisa membawa dirinya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini tentunya bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya, layaknya aliran listrik yang mengeluarkan sebuah sengatan mematikan namun tidak tampak. Lampu pun akan menyala jika dialiri listrik yang tak tampak. Begitu pula dengan iman, bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya. 

Fenomena yang sering terjadi bahkan mungkin di antara kita, iman hanya berhenti pada pengertian iman semata namun sebenarnya tidak mampu merasakan kehadiran iman di dalam hati. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.  (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS : Al-Anfaal : 2-3)

Firman Allah yang begitu indah ini merupakan sebuah berita untuk kita tentang ciri-ciri orang yang merasakan kehadiran iman dalam dirinya, bahwa mereka mengagungkan nama Allah, merasakan keberadaan Allah di sekitarnya sehingga menimbulkan rasa takut jika berkhianat atau bermaksiat pada Allah, serta menimbulkan kebahagiaan saat melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT. Sering kali kita bertemu orang yang begitu lama bersujud dalam sholatnya, yang terisak-isak menangis saat ia membaca Al-Quran ketika ia menjadi imam, yang meratap penuh harap dan takut ketika berdoa, hal-hal seperti inilah yang mencirikan sifat orang yang beriman. Ibadahnya berkualitas, tampaklah hasilnya dalam sikap, tutur kata dan perilaku. Sehingga pantaslah ia disebut orang soleh karena amalan ibadahnya terjaga. Begitulah orang-orang yang sudah menemukan lezatnya iman, lezatnya beribadah.

Lezatnya iman mungkin tidak semua muslim bisa merasakannya karena berhenti pada pengertian semata. Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memiliki ungkapan indah yang ditiggalkan untuk membantu kita merasakan nikmatnya iman dalam diri seorang muslim, Beliau bersabda:
Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan (Halawatal Iman): Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau dilemparkan ke dalam api.” (H.R.Bukhari Muslim)

Imam Nawawi, ketika mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman adalah :

1. Merasakan Nikmatnya Melakukan Ketaatan

Seorang hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban, larangan Allah untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Baginya sangat ringan untuk membaca Al-Quran dan melaksanakan Sholat Dhuha disela-sela kesibukannya, mudah bangkit dari tidurnya untuk sholat Tahajud dalam dinginnya malam, mudah melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat fardhu 5 waktu dan ringan tangannya untuk selalu bersedekah.

2. Rela Memikul Beban

Orang beriman itu senang hati memikul beban dan kesulitan seberat apapun, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan. Rasulullah dan para Sahabat Beliau yang mulia adalah tauladan kita semua dalam hal ini. Ingatkah kita, bagaimana pada suatu ketika, di saat pengaruh Islam semakin melebar luas, datanglah kepada Rasulullah beberapa orang pembesar kaum musyrikin Mekkah menawarkan beliau kedudukan, harta dan wanita. Namun, semua tawaran itu dengan tegas Beliau tolak. Ridha Allah lebih beliau pilih daripada ridho manusia, amanah dan risalah/misi/tugas Rosulullah lebih besar dan berharga bagi beliau dari semua tawaran-tawaran duniawi yang menggiurkan tersebut. Akankah sama halnya kita jika seandainya kita mendapat tawaran kesenangan yang serupa? Akankah kita akan tegar di jalan Allah ketika sudah diberikan kemewahan dan kesenangan dunia? Manusia, ketika sulit, kebanyakan kuat imannya, namun ketika diberi kesenangan, banyak yang lupa diri. Na'udzubillah.

3. Mencintai Allah dan Rosul-Nya dalam Ketaatan

Ketaatan adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya dalam aturan. Segala perintah dan larangan Alloh dan Rosul-Nya tidak mungkin membawa kesengsaraan pada manusia. Bahkan perintah itu sesuai dengan kesanggupan manusia. Berhaji tidak dikenakan kewajiban bagi yang tidak mampu secara fisik maupun materi. Sholat boleh tidak dikerjakan berdiri ketika dalam keadaan sakit. Sungguh murah Alloh memberikan perintah.  

Rasulullah SAW mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika iman kita bermasalah/iman kita sedang tidak sehat.

Manisnya iman terlihat di dalam keluasan dan kelapangan dada, baik di dalam senang maupun susah. Ia akan tampak dalam bentuk kekuatan menanggung beban dan menghadapi kesulitan. Seseorang yang mendapatkan manisnya iman akan selalu merasakan kedekatan dengan Allah, selalu yakin akan janji-Nya, ridha akan ketentuan-Nya, dan berpasrah diri di hadapan-Nya. Orang itu akan memiliki pedoman hidup yang jelas berdasarkan keimanan, dia akan menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, walau bertentangan dengan keinginannya dan kehendaknya. Ia juga akan menjaga dan mempererat hubungannya dengan Allah, dengan manusia, dan semua yang berada di alam ini. Allah merupakan solusi pertama sebagai jalan keluar permasalahan dalam hidupnya.

Manisnya iman akan melahirkan keridhaan akan segala ketentuan Allah. Betapa tidak, iman yang menghunjam di dalam dada memberikannya keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas ketentuan-Nya, dan ketentuan-Nya itulah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu dalam diri adalah milik Allah dan kita hanya dititipi? Maka ketika Allah mengambilnya, yang muncul adalah rasa sabar, dan jika Allah menambahkannya yang muncul adalah kesyukuran. Rasulullah saw bersabda:
Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya.”
(HR.Muslim)

Manisnya iman itu harus di cari, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman adalah pandai merahasiakan amal ibadah. Cukup kita dan Allah saja yang tahu, rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kita sekalipun, walau terhadap orang tua, saudara, bahkan istri/suami. Perbanyaklah kita memohon nikmatnya iman agar hadir dalam diri kita. Renungkan dalam doa kita dengan penuh harapan bahwa amalan kita mengantarkan kita kepada kecintaan kepada Allah, sehingga kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap diri kita dan dunia seisinya, dan bila kecintaan itu sudah terlahir dalam diri kita, issyaallah Halawatal Iman dapat kita rasakan hadir dalam hati kita.

Wallohua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar