HALAWATAL IMAN
Setiap
muslim tidak bisa meninggalkan kata-kata “iman”, karena dengan bekal iman
inilah seorang muslim bisa membawa dirinya kepada kebahagiaan dunia dan
akhirat. Kebahagiaan ini tentunya bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya,
layaknya aliran listrik yang mengeluarkan sebuah sengatan mematikan namun tidak
tampak. Lampu pun akan menyala jika dialiri listrik yang tak tampak. Begitu
pula dengan iman, bisa dirasakan namun tidak tampak wujudnya.
Fenomena
yang sering terjadi bahkan mungkin di antara kita, iman hanya berhenti pada
pengertian iman semata namun sebenarnya tidak mampu merasakan kehadiran iman di
dalam hati. “Sesungguhnya orang-orang
yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,
dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian
dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS : Al-Anfaal : 2-3)
Firman
Allah yang begitu indah ini merupakan sebuah berita untuk kita tentang
ciri-ciri orang yang merasakan kehadiran iman dalam dirinya, bahwa mereka
mengagungkan nama Allah, merasakan keberadaan Allah di sekitarnya sehingga
menimbulkan rasa takut jika berkhianat atau bermaksiat pada Allah, serta menimbulkan
kebahagiaan saat melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT. Sering
kali kita bertemu orang yang begitu lama bersujud dalam sholatnya, yang
terisak-isak menangis saat ia membaca Al-Quran ketika ia menjadi imam, yang
meratap penuh harap dan takut ketika berdoa, hal-hal seperti inilah yang
mencirikan sifat orang yang beriman. Ibadahnya berkualitas, tampaklah hasilnya
dalam sikap, tutur kata dan perilaku. Sehingga pantaslah ia disebut orang soleh
karena amalan ibadahnya terjaga. Begitulah orang-orang yang sudah menemukan lezatnya
iman, lezatnya beribadah.
Lezatnya
iman mungkin tidak semua muslim bisa merasakannya karena berhenti pada
pengertian semata. Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memiliki ungkapan
indah yang ditiggalkan untuk membantu kita merasakan nikmatnya iman dalam diri
seorang muslim, Beliau bersabda:
“Tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa merasakan manisnya keimanan (Halawatal
Iman): Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain, mencintai seseorang
karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau
dilemparkan ke dalam api.” (H.R.Bukhari Muslim)
Imam Nawawi, ketika
mengomentari hadits ini di dalam Syarh Muslim menerangkan, makna halawatul Iman
adalah :
1. Merasakan Nikmatnya Melakukan Ketaatan
Seorang
hamba yang sudah mendapatkan manisnya iman akan merasa nikmat dalam melakukan
ketaatan. Segala perintah Allah akan terasa ringan baginya. Semua larangan Allah
akan dengan mudah ditinggalkannya. Ketaatan baginya bukanlah beban, larangan Allah
untuknya bukanlah pembatasan kebebasan, atau pengekangan, tapi akan ia rasakan sebagai
suatu bentuk kasih sayang Allah agar ia selamat, baik di dunia maupun di
akhirat. Baginya sangat ringan untuk membaca Al-Quran dan melaksanakan Sholat
Dhuha disela-sela kesibukannya, mudah bangkit dari tidurnya untuk sholat
Tahajud dalam dinginnya malam, mudah melangkahkan kaki ke masjid untuk
menunaikan sholat fardhu 5 waktu dan ringan tangannya untuk selalu bersedekah.
2. Rela Memikul Beban
Orang beriman itu senang hati memikul beban dan
kesulitan seberat apapun, demi mengharap ridha Allah dan Rasul-Nya, dan lebih
memilih ridha Allah dan Rasul-Nya ketimbang tawaran keduniaan. Rasulullah dan para Sahabat Beliau yang mulia adalah
tauladan kita semua dalam hal ini. Ingatkah kita, bagaimana pada suatu ketika,
di saat pengaruh Islam semakin melebar luas, datanglah kepada Rasulullah
beberapa orang pembesar kaum musyrikin Mekkah menawarkan beliau kedudukan,
harta dan wanita. Namun, semua tawaran itu dengan tegas Beliau tolak. Ridha
Allah lebih beliau pilih daripada ridho manusia, amanah dan risalah/misi/tugas Rosulullah
lebih besar dan berharga bagi beliau dari semua tawaran-tawaran duniawi yang
menggiurkan tersebut. Akankah sama halnya kita jika seandainya kita mendapat tawaran
kesenangan yang serupa? Akankah kita akan tegar di jalan Allah ketika sudah diberikan
kemewahan dan kesenangan dunia? Manusia, ketika sulit, kebanyakan kuat imannya,
namun ketika diberi kesenangan, banyak yang lupa diri. Na'udzubillah.
3. Mencintai Allah dan Rosul-Nya dalam
Ketaatan
Ketaatan adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya
dalam aturan. Segala perintah dan larangan Alloh dan Rosul-Nya tidak mungkin membawa
kesengsaraan pada manusia. Bahkan perintah itu sesuai dengan kesanggupan
manusia. Berhaji tidak dikenakan kewajiban bagi yang tidak mampu secara fisik maupun
materi. Sholat boleh tidak dikerjakan berdiri ketika dalam keadaan sakit. Sungguh
murah Alloh memberikan perintah.
Rasulullah
SAW mensifati keimanan di sini sebagai sesuatu yang manis. Manisnya makanan dapat
terasa di lidah jika kondisi badan sedang sehat, bilamana badan tak sehat rasa
manis itu pun hilang. Begitu juga halnya iman, manisnya tidak akan dirasa jika
iman kita bermasalah/iman kita sedang tidak sehat.
Manisnya
iman terlihat di dalam keluasan dan kelapangan dada, baik di dalam senang maupun
susah. Ia akan tampak dalam bentuk kekuatan menanggung beban dan menghadapi
kesulitan. Seseorang yang mendapatkan manisnya iman akan selalu merasakan kedekatan
dengan Allah, selalu yakin akan janji-Nya, ridha akan ketentuan-Nya, dan berpasrah
diri di hadapan-Nya. Orang itu akan memiliki pedoman hidup yang jelas berdasarkan
keimanan, dia akan menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, walau
bertentangan dengan keinginannya dan kehendaknya. Ia juga akan menjaga dan mempererat
hubungannya dengan Allah, dengan manusia, dan semua yang berada di alam ini.
Allah merupakan solusi pertama sebagai jalan keluar permasalahan dalam
hidupnya.
Manisnya
iman akan melahirkan keridhaan akan segala ketentuan Allah. Betapa tidak, iman yang
menghunjam di dalam dada memberikannya keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas
ketentuan-Nya, dan ketentuan-Nya itulah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu
dalam diri adalah milik Allah dan kita hanya dititipi? Maka ketika Allah
mengambilnya, yang muncul adalah rasa sabar, dan jika Allah menambahkannya yang
muncul adalah kesyukuran. Rasulullah saw bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, segala perkara baik
baginya dan itu tidak terjadi kepada selain orang mukmin. Jika ia diberi
kesenangan ia bersyukur, dan itu adalah terbaik baginya. Dan jika ia ditimpa
kesulitan ia bersabardan itu adalah terbaik baginya.”
(HR.Muslim)
Manisnya
iman itu harus di cari, salah satu tips agar kita merasakan manisnya iman
adalah pandai merahasiakan amal ibadah. Cukup kita dan Allah saja yang tahu,
rahasiakan amalan itu walau kepada orang terdekat kita sekalipun, walau
terhadap orang tua, saudara, bahkan istri/suami. Perbanyaklah kita memohon
nikmatnya iman agar hadir dalam diri kita. Renungkan dalam doa kita dengan
penuh harapan bahwa amalan kita mengantarkan kita kepada kecintaan kepada
Allah, sehingga kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap diri kita
dan dunia seisinya, dan bila kecintaan itu sudah terlahir dalam diri kita,
issyaallah Halawatal Iman dapat kita rasakan hadir dalam hati kita.
Wallohua'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar