Kamis, 05 Maret 2015

Nuansa Hati : Kiat-kiat Membersihkan Hati : Artikel

                                                     Kiat-kiat Membersihkan Hati

       Menikmati iman dan indahnya bertemu dengan orang-orang saleh di masjid, dan menikmati indahnya berjamaah dengan orang-orang yang beriman adalah satu hal yang wajib kita syukuri.  Iman memberikan ketenangan, ketenangan membersihkan hati. 

       Allah Maha mendengar, Allah Maha menyaksikan, mudah-mudahan dengan menghadirkannya iman dalam hati dapat membuat kita benar-benar menjadi insan yang bersih, karena ternyata orang yang benar-benar bisa berjumpa dengan Allah dalam setiap ibadahnya dalam setiap aktivitas kehidupannya adalah orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sehebat apapun amal kalau hatinya kotor amalnya tidak diterima. Dia sombong, dia mengharap pujian, dengki, iri, ingin didengar namanya, kesemua itu adalah penyakit hati yang akan menghapus amal.  Begitu juga setinggi apapun ilmu, kalau hatinya penuh penyakit-penyakit tersebut, ilmunya juga akan sia-sia di hadapan Allah. 

          Orang yang berhati bersih adalah orang yang bisa mengucapan kalimat LAAILAHAILLLAH (tiada Tuhan selain Allah). Bahkan nabi SAW bersabda
Sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang dengannya dia berharap wajah Allah.” Tidak hanya ucapan itu terucap oleh lisan tapi juga dengan perbuatan dan hati. Jadi kalau selama ini kita sengsara, itu karena kita menuhankan sesuatu yang lain selain Allah. Ada yang menuhankan harta, pangkat, gelar, jabatan, wanita, penampilan bahkan nafsu. Orang yang punya tuhan-tuhan lain seperti itu pasti hidupnya tidak akan bahagia dan tidak akan pernah mengalami indahnya berjumpa dengan Allah dalam kehidupan dan ibadahnya, karena dia mengabdi pada tuhannya yang lemah dan bisa habis. Justru kebahagiaan itu adalah ketika kita berhasil membersihkan diri kita dari menuhankan hal-hal tersebut.

         Tuhan atau Ilah yang dimaksud bukan hanya sesuatu yang kita sembah, namun hal itu bisa kita maknai dengan sesuatu yang mendominasi diri kita sehingga kita selalu ingat kepadanya, selalu ingin mengabdi padanya, selalu ingin dekat dengannya, selalu ingin berbuat sesuatu untuk menyenangkannya, takut kehilangannya.  Kalau “nya”  di sini adalah selain Allah, niscaya hidup tidak akan bahagia. Ada orang yang mengira harta dan jabatannya adalah sumber kebahagiannya di dunia, maka orang itu sudah menuhankan harta dan jabatannya, padahal harta dan jabatan bukan sumber kebahagiaan yang hakiki namun hal tersebut hanyalah sarana kita untuk mengabdi pada Allah. Oleh karena itu, ada beberapa solusi agar menjaga hati kita tetap bersih, 

  1. Yakini bahwa kita adalah ciptaan Allah Inniikhooliqun bassyarominthin (QS Shood :71),Sesungguhnya Alloh menciptakan manusia dari tanah. Tidak ada manusia yang bukan ciptaan Allah. Orang sunda, lampung, jawa, batak, china, amerika, korea semuanya ciptaann Allah. Manusia tidak bisa menciptakan manusia. Kalau kita melihat segala sesuatu adalah ciptaan Allah, maka hati kita jauh lebih tenang. Seperti kita melihat kue kemudian memakan dan menikmatinya maka kita akan mengingat orang yang membuatnya.  Kalau kita melihat makhluk kemudian kita ingat Allah yang menciptakannya maka kita akan lebih tenang. Kita tidak akan pernah kecewa dengan tubuh kita apa adanya yang diciptakan oleh Alah dan akan selalu menjadi milik Allah ini. 
  2. Kita harus yakin Lillahimaafissamawaatiwamaafilardh (QS Al-Baqoroh : 284), milik Allah adalah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Kita lahir tidak membawa apa-apa matipun tidak akan membawa apa-apa. Dunia ini tetap di sini saja, sekaya apapun bahkan sehebat apapun orang pasti mati tidak akan membawa apa-apa habis di makan tanah kecuali para kekasih Allah salah satunya adalah Muhammad Rosullullah SAW,  belatung tidak mampu memakannya. Oleh karena itu jangan terpesona melihat kekayaan, karena itu hanya titipan sebentar saja. Harta itu ada tiga, dimakan jadi kotoran, dipakai jadi using dan yang di belanjakan di jalan Allah. Harta bisa meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkan harta. Oleh karena itu, melihat dunia ini tidak perlu terpesona, karena itu hanya titipan sebentar saja. Makin merasa kendaraan kita, istri kita, rumah kita itu adalah titipan maka hati  akan makin merasa tenang. Semakin kita merasa memiliki sesuatu maka hati ini makin gelisah.
  3. Yakinilah segala sesuatu pasti diurus oleh Allah Alloohulaailaahaillahuwalhayyulqoyyuum, laata'khuduhuusinatuwwalanauum (QS Al-BAqoroh:255). Alloh, tidak ada Tuhan selain Dia, yang terus-menerus makhluknya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kita tidak tau apa-apa tentang tubuh kita yang di dalamnya ada ribuan, jutaan, bahkan ratusan trillyun sel. Kita puluhan tahun hidup kita tau beres. Kita juga tidak tau apapun tentang Anak, membuat sehelai rambutpun kita tidak sanggup tapi kita tau beres melihat anak-anak kita tumbuh dewasa, itu karena segala sesuatunya telah diurus oleh Allah tanpa kita ketahui.  
  4. Yakinilah bahwa segala takdir itu kuasa Allah, mau kita dibuat sehat, mau dibuat sakit, mau diberi/diambil terserah Kuasa Allah saja. Semua perbuatan Allah bagi orang yang beriman pasti baik karena tidak ada yang lebih menyayangi kita selain Allah pencipta kita. Bagi orang yang beriman apapaun yang Allah berikan pasti baik, yang tidak baik adalah tidak ridho dengan takdir dan salah menyikapinya. Bahkan sabda NAbi SAW “Orang beriman itu diberi nikmat dia bersyukur, syukur jadi kebaikan, diberi ujian dia sabar, sabar jadi kebaikan”. Jadi tidak ada kerugian bagi orang yang yakin kepada Allah. Seorang tua normal tidak mungkin menjerumuskan anaknya ke dalam api karena dia mencintai anaknya, namun Allah lebih mencintai makhluknya, mencintai hamba-Nya, lebih dari orang tua itu mencintai anaknya. Kita menderita bukan karena takdir, tapi kita menderita karena salah menyikapi takdir. Semua rangkaian takdir Allah pasti baik bagi orang yang beriman.
  5.  Yakinilah tidak ada segala sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah. Sesuap nasi pun yang kita miliki kalau Alah tidak mengizinkan kita memakannya, tidak akan sampai nasi itu ke dalam mulut kita. Sepandai apapun orang merencanakan suatu kejahatan, maka sesuatu itu tidak akan pernah terjadi tanpa izin Allah.
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghobun : 11)
Karena itu, jangan pernah bersandar pada segala sesuatu makhluk/benda apapun, karena makhluk tidak akan memberi manfaat tanpa izin Allah, dan jangan pernah kita gentar pada ancaman makhluk karena makhluk tidak mampu menyakiti kita tanpa izin Allah. Semakin kita yakin sesuatu terjadi karena izin Allah, semakin tenang hati kita. Lahaulawalaquwwata illabillah (segala sesuatu tdk ada daya dan upaya tanpa izin Allah).  Semakin hati yakin, pasti Allah cukupi, semakin ragu kepada Allah pasti kita akan goyah. Semakin orang gelisah dan takut pasti sandaran orang tersebut bukanlah Allah. Alaa bidzikrillahitathmainnulquluub (QS Ar-Ro'du : 2) hanya dengan mengingat Allahlah hati akan menjadi tentram.
semakin cepat kita ingat Allah semakin cepat kita kembalikan pada Allah semakin bulat kita yakin pada Allah, itulah yang akan menurunkan ketenangan dalam hati. Huwalladziangzalaasakinatafiiquluubilmukminin (QS Al-Fath : 4) Dialah Allah yang memberikan ketenangan pada hati orang yang beriman. Semakin Allah Allah Allah Allah itulah Laailaahailllah.. itulah ketenangn yang akan menumbuhkankebahagiaan dan kemuliaan. 

Wallohua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar