Mungkin
di antara kita seringkali banyak yang mengalami keadaan suntuk, saat semuanya
sudah sampai pada batasnya. Istilah Wikipedianya BT, tapi bukan Bujur Timur
melainkan Boring Time. Kalau kita devinisikan secara umum bisa berarti “suatu
waktu yang di dalamnya hanya ada perasaan bosan terhadap aktivitas yang
dijalani”. Kondisi ini bisa menyerang siapapun, baik itu tua atau muda, pria
atau pun wanita. Bahkan bisa menyerang seseorang setiap harinya. Bisa kita
artikan kalau kondisi seperti ini sebenernya adalah penyakit, karena memang
kehadirannya sangat tidak kita inginkan dan mengganggu. Kondisi seperti inilah yang
kadang akan memicu seseorang melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat jika BT terus
dibiarkan, bahkan mungkin malah membuang-buang waktu tanpa ada pelajaran yang
berarti untuk apa waktunya telah digunakan. Salah satu contoh orang yang
terserang kondisi BT kalau ditanya mau kemana, mungkin dia akan jawab “kemana
aja yang penting jalan” atau jawaban lainnya yang tidak sesuai dengan
pertanyaannya. Padahal kita nanti akan diminta pertanggungjawaban terhadap Ashr (waktu) kita, “untuk apa waktu yang
telah digunakan selama hidup di dunia?”. Dalam Tafsir Ibnu Katsir surat Al-‘Ashr,
‘Ashr (waktu/masa) berarti waktu yang di dalamnya berbagai aktivitas anak
cucu Adam berlangsung, baik itu aktivitas kebaikan ataupun keburukan.
Bayangkan, apakah kita siap menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban “yang
penting jalan” atau “saya lagi BT” ketika kita ditanya tentang pertanggungjawaban
aktivitas yang telah kita lakukan di dunia?
Lebih-lebih
di bulan puasa. Waktu kerja tentu berkurang dan waktu menganggur jadi lebih
banyak sehingga pengennya kebanyakan orang selalu tidur untuk menghabiskan
waktunya. Atau mencari aktivitas lain yang kemanfaatannya diragukan namun
menyenangkan baginya sendiri yang tentunya itu dipicu oleh hadirnya penyakit
BT. Apakah kita akan menyia-nyiakan Bulan Romadhon dengan membiarkan penyakit
BT menguasai kita yang kemudian berefek pada aktifitas yang tidak bermanfaat?
Tentu ini adalah persoalan serius karena kalau tidak segera kita atasi maka
bulan Romadhon kita bisa berlalu begitu saja tanpa ada pemaknaan. Betapa tidak,
di hari biasa saja Alloh melipatgandakan satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan
bahkan hingga tujuh ratus. Apalagi kalau kebaikan itu kita lakukan di bulan
Romadhon sebagaimana Hadits Nabi SAW
dalam Shohih Ibnu Majjah dan Shohih Muslim ini : Dari Abu Huroiroh r.a., dia
berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan,
satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali
lipat sesuai kehendak Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya
puasa itu untuk-Ku, Aku lah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan
makannya karena-Ku.' Bagi orang yang berpuasa di beri dua kegembiraan:
kegembiraan saat berbuka puasa, dan kegembiraan saat berjumpa Tuhannya, sungguh
bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi
misik.”” Maka salah satu pesan hadits
di atas yang bisa kita ambil adalah bahwa pahala orang berpuasa yang ada
kebaikan aktifitas di dalamnya akan dilipatgandakan sekehendak Alloh. Mungkin
bisa dilipatgandakan seribu, sepuluh ribu, atau bahkan mungkin sejuta wallohua’lam itu hak preogatif Alloh
SWT.
Mungkin
beratlah bagi sebagian kita untuk berpuasa sesuai dengan apa yang dilakukan
Nabi SAW. Bayangkan, beliau berbuka saja dengan beberapa kurma, kalau ga ada kurma
cukuplah dengan beberapa teguk air. Tapi sebenernya amalan itu juga bisa dikerjakan
sebelum menyantap makanan pelengkap lainnya. Berat pulalah mungkin bagi
sebagian kita untuk berinteraksi dengan Al-Quran dengan memperbaiki bacaannya,
membacanya, mengkajinya, menghafalkan dan mengamalkannya. Tapi sebenarnya
amalan itu pun mudah dikerjakan bagi orang yang mau mencari tahu betapa
pentingnya berinteraksi dengan Al-Quran di bulan Romadhon. Setidaknya, kalau kita
belum bisa menyaingi kapasitas amalan orang-orang sholih dalam bulan puasa,
kita memahami bahwa “Puasa itu memiliki makna lebih banyak dari sekedar
berpantang makanan, minuman dan syahwat. Karena itu, ia mencakup pantangan
terhadap semua hal buruk dan menghiasi diri dengan berbagai keutamaan” (Mutiara
hadits No. 4 dalam Syaroh Riyadhus Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al-Bugho dkk. Bab.
217). Jangan sampai, Alloh ga melihat puasa, ga peduli dengan puasa kita karena
kelalaian-kelalaian kita dalam menjaga aktivitas lidah, aktivitas tangan, mata,
telinga dan aktivitas-aktivitas kita lainnya.
Jadi sebenarnya,
solusi menyembuhan penyakit BT saat kita berpuasa itu sangat sederhana, yaitu memahami betapa berharganya aktivitas di
waktu-waktu kita berpuasa Romadhon. Jangan sampai kita tak mendapat ampunan di
bulan Romadhon, padahal ampunan itu dibuka setiap hari oleh Alloh. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Romadhon
dengan didasari iman dan pengharapan pahala (bermuhasabah), maka
diampuni dosanya yang telah lalu.” (Hadits Shahih Ibnu Majah, At-Tirmidzi,
Mutafaqq’alaih). Bayangkan, sudah berapa lama kita hidup di dunia. Sudah berapa
tahun kita melakukan dosa sejak usia baligh
(sampai pada umur diwajibkannya seseorang menjalankan syariat agama)? Namun
Alloh siapkan ampunan pada hamba-Nya terhadap dosanya yang didapat dari mulai usia
baligh hingga saat hari dimana ia
berpuasa. Tentunya bagi orang yang berpuasanya dengan didasari iman. Artinya ada
aktivitas iman di dalam puasa, ada amal sholih dan amal kebaikan untuk sesama,
karena memang bukti iman adalah amal. Tentunya juga disertai dengan kehati-hatian
dalam beraktifitas. Senantiasa ber-muhasabah (instropeksi diri), sampai sejauh
mana aktifitas kita hingga bisa disebut ibadah dan jangan sampai aktivitas yang
dilakukan saat sedang berpuasa tanpa pengharapan pahala dan ridho Alloh SWT. Wallohua’lam,
semoga puasa kita hari ini mengundang ampunan dan keberkahan dari Alloh SWT.
Amin.
Indra Mulya
Pengajar Bimbingan Membaca dan Menghafal Al-Quran (Alumni
Pondok Pesantren Mahasiswa Darul HIkmah, PPM-DH)