Saya sedang tidak berbicara tentang film "Ada Apa Dengan Cinta". Saya juga tidak sedang berbicara tentang kisah
cinta sinetron kejar tayang yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. Lebih-lebih
saya tidak akan membicarakan tentang kisah cinta Romeo dan Juliet dalam Novel karya
William Shakespeare yang juga sudah digarap menjadi tontonan dalam film layar lebar. Sebagai muslim tentu saya tidak merekomendasikan karya-karya seperti itu. Bukan
berarti tidak boleh, hanya saja bagi orang yang belum bisa memisahkan mana yang bisa jaadi tuntunan atau tidak, maka ini akan menjadi persoalan yang serius. Betapa tidak, tontonan semacam itu banyak mengajarkan berdua-duaan (kholwat) dan bersentuhan dengan seseorang lawan jenis yang bukan muhrimnya. Kita di Indonesia tentu tidak ada
lembaga yang sanggup mem-filter kemudian mengkampanyekan, manakah film yang layak dijadikan tuntunan atau tidak. Kalaupun ada pastilah akan terjadi banyak
pro dan kontra yang mungkin malah akan mengakibatan resiko semakin besar. Maka,
filter itu haruslah ditumbuhan masing-masing pada setiap muslim agar mampu
menyaring, adakah manfaat yang bisa diambil dari film ataupun tontonan
percintaan yang ditayangkan tersebut. Jadi, intinya kembali pada penonton itu
sendiri yang harus bisa bijaksana, adakah manfaat dan kebaikannya dari semua tayangan yang ditonton.
Tentu, judul cinta yang sedang saya bicarakan di sini adalah cinta yang
benar. Jika kita benar mengolah cinta maka hadirlah keindahan. Namun kalau
salah mengolah cinta, maka jangan harap akan hadir keindahan. Kalaupun ada
keindahan, itu adalah keindahan yang semu belaka, fana, yang kemudian hilang
seperti debu dihempas oleh angin tanpa
sisa. Itulah kenapa muncul istilah, “sakit nya tu di sini” (sambil memegang
dada kirinya), ya…karena ia salah mengolah cinta dan salah menempatkan
cintanya. Lalu bagaimana cinta yang benar itu ? Pengertian inilah yang sangat
sulit untuk digambarkan, karena kita sedang bicara tentang apa yang muncul dari
hati, namun sebenarnya bisa dirasakan setiap orang.
Bicara tentang cinta, mari perlahan-lahan kita memahami bagaimana
cinta yang sebenarnya. Tentu semua orang yang hidup di dunia ini memilikinya
karena cinta diciptakan oleh Alloh sepaket dengan hati. Kenapa saya bilang
speaket dengan hati ? Karna keberadaannya tidak bisa di deteksi namun bisa dirasakan
layaknya iman yang ada di dalam hati. Jadi tak akan pernah terlihat wujudnya namun bisa
dirasakan indahnya memiliki iman itu, baik untuk dirinya maupun untuk
orang-orang di sekitarnya. Ya…Sejak dulu begitu pula dengan cinta, indahnya
sungguh tiada akhir. Dari Nabi Adam AS bersama Hawa hingga Nabi penutup Muhammad SAW ada
kisah cinta yang tak akan habis membuat kita terkagum bagaimana mereka
menghidupkan cinta. Bahkan, kisah-kisah cinta itu diteruskan hingga pada para
sahabat sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW.
Sebut saja perang Yarmuk yang terjadi empat tahun setelah
meninggalnya Nabi SAW. Ada tiga orang sahabat Nabi, Al-Harits, Ikrimah dan
Suhail, ketika berada dalam kondisi terluka kritis pada saat perang itu ada
seseorang membawakan minuman kepada mereka namun ternyata mereka bertiga
menolak pemberian air minum yang dibawa untuk mereka. Tentu mereka menolak
bukan karna tidak bersyuur dengan datangnya air itu, namun ketika Ikrimah meminta
air, semoga Alloh meridhoinya, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya,
maka ia berkata “berikan air itu padanya”, dan ketika itu Suhail juga melihat
Al Harits sedang memandangnya, maka ia pun juga berkata “berikan air itu
kepadanya (Al Harits)”. Namun belum sempat air itu sampai pada Al Harits,
ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut. Sungguh kisah
ini bisa mengurai air mata jika kita menjiwai membacanya disertai kisah latar
belakang perang tersebut. Bagi sejarawan siroh sahabat, boleh mengoreksi jika
ada yang salah dari kisah tersebut.
Kenapa sedemikian hebatnya, seseorang rela mengorbankan nyawanya untuk orang lain, dengan kata lain mengorbankan nyawanya untuk kebahagiaan orang lain? Itulah cinta yang rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata namun bisa mudah dijelaskan dengan perbuatan. Nabi SAW bersabda “Demi Dzat Yang Menguasai Jiwaku, kalian tidak dapat masuk surga hingga kalian beriman, kalian belum disebut beriman hingga kalian SALING MENCINTAI.” (HR. Muslim, bab Keutamaan dan Anjuran Mencintai karena Alloh dalam Kitab Riyadusholihin). Saya ingin menggarisbawahi pengertian dari kalimat “hingga kalian saling mencintai”. Kenapa seseorang sedemikian hebatnya bisa mengorbankan nyawanya demi kebahagian orang lain? Karena ia yakin dengan surga Alloh, karena ia yakin dengan jaminan perkataan Nabinya, karena ia yakin cinta Alloh SWT akan jatuh pada orang yang berani mengorbankan dirinya untuk sahabatnya di jalan Alloh…karena itulah tumbuh cinta pada sesama, pada orang lain pada sahabatnya, pada saudaranya, pada keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, cinta yang begitu hebat karena seseorang itu telah yakin dengan janji Alloh SWT dan Nabi-Nya SAW. Dengan cinta itu, seseorang akan senang menebarkan kasih sayang, Afsyussalaam “menebarkan salam”, menebarkan kebaikan dimanapun ia berada, bahkan ia pun menikah karena telah tumbuh cintanya pada Alloh, tidak akan patah hati jika cintanya tak terbalas oleh manusia karena Alloh yang akan membalas cinta yang dimaksudkannya…dan itulah buah dari iman yang ada dalah hati. Sehingga jika benar-benar cinta itu tumbuh karena iman, seseorang tidak akan kecewa dan tidak akan mengucapkan istilah “sakitnya tuh di sini”, karena Alloh tak akan pernah mungkin mengecewakan cinta dari hamba-Nya.
Wallohua’lam, semoga artikel ini bisa mengantarkan kita pada
cinta yang benar, cinta yang sebenarnya, cinta yang mengantarkan kita bisa
berumpul di surga-Nya. Amin.
~>NuansaHati :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar