Minggu, 12 Juni 2016

NASIHAT : ADA APA DENGAN CINTA ?



          Saya sedang tidak berbicara tentang film "Ada Apa Dengan Cinta". Saya juga tidak sedang berbicara tentang kisah cinta sinetron kejar tayang yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. Lebih-lebih saya tidak akan membicarakan tentang kisah cinta Romeo dan Juliet dalam Novel karya William Shakespeare yang juga sudah digarap menjadi tontonan dalam film layar lebar.  Sebagai muslim tentu saya tidak merekomendasikan karya-karya seperti itu. Bukan berarti tidak boleh, hanya saja bagi orang yang belum bisa memisahkan mana yang bisa jaadi tuntunan atau tidak, maka ini akan menjadi persoalan yang serius. Betapa tidak, tontonan semacam itu banyak mengajarkan berdua-duaan (kholwat) dan bersentuhan dengan seseorang lawan jenis yang bukan muhrimnya. Kita di Indonesia tentu tidak ada lembaga yang sanggup mem-filter kemudian mengkampanyekan, manakah film yang layak dijadikan tuntunan atau tidak. Kalaupun ada pastilah akan terjadi banyak pro dan kontra yang mungkin malah akan mengakibatan resiko semakin besar. Maka, filter itu haruslah ditumbuhan masing-masing pada setiap muslim agar mampu menyaring, adakah manfaat yang bisa diambil dari film ataupun tontonan percintaan yang ditayangkan tersebut. Jadi, intinya kembali pada penonton itu sendiri yang harus bisa bijaksana, adakah manfaat dan kebaikannya dari semua tayangan yang ditonton. 

           Tentu, judul cinta yang sedang saya bicarakan di sini adalah cinta yang benar. Jika kita benar mengolah cinta maka hadirlah keindahan. Namun kalau salah mengolah cinta, maka jangan harap akan hadir keindahan. Kalaupun ada keindahan, itu adalah keindahan yang semu belaka, fana, yang kemudian hilang seperti  debu dihempas oleh angin tanpa sisa. Itulah kenapa muncul istilah, “sakit nya tu di sini” (sambil memegang dada kirinya), ya…karena ia salah mengolah cinta dan salah menempatkan cintanya. Lalu bagaimana cinta yang benar itu ? Pengertian inilah yang sangat sulit untuk digambarkan, karena kita sedang bicara tentang apa yang muncul dari hati, namun sebenarnya bisa dirasakan setiap orang.

        Bicara tentang cinta, mari perlahan-lahan kita memahami bagaimana cinta yang sebenarnya. Tentu semua orang yang hidup di dunia ini memilikinya karena cinta diciptakan oleh Alloh sepaket dengan hati. Kenapa saya bilang speaket dengan hati ? Karna keberadaannya tidak bisa di deteksi namun bisa dirasakan layaknya iman yang ada di dalam hati. Jadi tak akan pernah terlihat wujudnya namun bisa dirasakan indahnya memiliki iman itu, baik untuk dirinya maupun untuk orang-orang di sekitarnya. Ya…Sejak dulu begitu pula dengan cinta, indahnya sungguh tiada akhir. Dari Nabi Adam AS bersama Hawa hingga Nabi penutup Muhammad SAW ada kisah cinta yang tak akan habis membuat kita terkagum bagaimana mereka menghidupkan cinta. Bahkan, kisah-kisah cinta itu diteruskan hingga pada para sahabat sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW.

       Sebut saja perang Yarmuk yang terjadi empat tahun setelah meninggalnya Nabi SAW. Ada tiga orang sahabat Nabi, Al-Harits, Ikrimah dan Suhail, ketika berada dalam kondisi terluka kritis pada saat perang itu ada seseorang membawakan minuman kepada mereka namun ternyata mereka bertiga menolak pemberian air minum yang dibawa untuk mereka. Tentu mereka menolak bukan karna tidak bersyuur dengan datangnya air itu, namun ketika Ikrimah meminta air, semoga Alloh meridhoinya, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka ia berkata “berikan air itu padanya”, dan ketika itu Suhail juga melihat Al Harits sedang memandangnya, maka ia pun juga berkata “berikan air itu kepadanya (Al Harits)”. Namun belum sempat air itu sampai pada Al Harits, ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut. Sungguh kisah ini bisa mengurai air mata jika kita menjiwai membacanya disertai kisah latar belakang perang tersebut. Bagi sejarawan siroh sahabat, boleh mengoreksi jika ada yang salah dari kisah tersebut.

         Kenapa sedemikian hebatnya, seseorang rela mengorbankan nyawanya  untuk orang lain, dengan kata lain mengorbankan nyawanya untuk kebahagiaan orang lain? Itulah cinta yang rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata namun bisa mudah dijelaskan dengan perbuatan. Nabi SAW bersabda “Demi Dzat Yang Menguasai Jiwaku, kalian tidak dapat masuk surga hingga kalian beriman, kalian belum disebut beriman hingga kalian SALING MENCINTAI.” (HR. Muslim, bab Keutamaan dan Anjuran Mencintai karena Alloh dalam Kitab Riyadusholihin). Saya ingin menggarisbawahi pengertian dari kalimat “hingga kalian saling mencintai”. Kenapa seseorang sedemikian hebatnya bisa mengorbankan nyawanya demi kebahagian orang lain? Karena ia yakin dengan surga Alloh, karena ia yakin dengan jaminan perkataan Nabinya, karena ia yakin cinta Alloh SWT akan jatuh pada orang yang berani mengorbankan dirinya untuk sahabatnya di jalan Alloh…karena itulah tumbuh cinta pada sesama, pada orang lain pada sahabatnya, pada saudaranya, pada keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, cinta yang begitu hebat karena seseorang itu telah yakin dengan janji Alloh SWT dan Nabi-Nya SAW. Dengan cinta itu, seseorang akan senang menebarkan kasih sayang, Afsyussalaam “menebarkan salam”, menebarkan kebaikan dimanapun ia berada, bahkan ia pun menikah karena telah tumbuh cintanya pada Alloh, tidak akan patah hati jika cintanya tak terbalas oleh manusia karena Alloh yang akan membalas cinta yang dimaksudkannya…dan itulah buah dari iman yang ada dalah hati. Sehingga jika benar-benar cinta itu tumbuh karena iman, seseorang tidak akan kecewa dan tidak akan mengucapkan istilah “sakitnya tuh di sini”, karena Alloh tak akan pernah mungkin mengecewakan cinta dari hamba-Nya.

        Wallohua’lam, semoga artikel ini bisa mengantarkan kita pada cinta yang benar, cinta yang sebenarnya, cinta yang mengantarkan kita bisa berumpul di surga-Nya. Amin.

~>NuansaHati :)        


Tidak ada komentar:

Posting Komentar