Nabi SAW pun pernah bersedih bahkan menangis. Salah satu contoh peristiwa itu adalah ketika beliau menjenguk Sa'ad bin
Ubadah sehingga membuat beberapa sahabat yang ikut menjenguk bersamanya
juga ikut menangis. Kalau Nabi dan sahabatnya pun bisa menangis terhadap taqdir Alloh, tentunya sedih seperti itu boleh, asal
tidak disertai marah terhadap taqdir Alloh dan berlebih-lebihan
meratapi kesedihan. Kitapun berlindung pada Alloh dari kedukaan dan
kesedihan seraya berdoa "Alloohummaa innii A'uu dzubika minal Hammi wal Hazan"
(Ya Allooh, aku berlindung pada-Mu dari kedukaan dan kesedihan) H.R. Abu Dawud.
Menangis pun tentunya juga tidak dilarang karna itu bukti adanya
kelembutan hati, namun menangis yang terbaik adalah menangis karena
takut pada adzab Alloh SWT. "Laa Yalijunnaar Rojulun bakaa Min Khosyatillaah"
(Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut pada
Allooh). HR. Tarmidzi, Kitab Riyadus Sholihin Bab Keutamaan Menangis.
Namun, sedih dan menangis yang disebabkan karena tersakiti oleh orang
lain belumlah nampak akan menentramkan kecuali sedih dan menangis itu
disertai murahnya "maaf dan Lapang dada" terhadap siapa saja dan apa saja ujian yang menimpa yang mengakibatan rasa sakit itu. "Maaf dan lapang dada" bukan
hanya bicara mengenai kesabaran hati, namun juga upaya seseorang untuk
menyenangkan orang lain di sekitarnya sehingga orang lain merasa TENANG
karenanya. Maka, Alloh pun akan berikan hadiah kemuliaan pada orang yang
gemar lapang dada dan memaafkan ketika sakit di hatinya melanda.
"Tidaklah Alloh Menambahkan pada seseorang karena maafnya kecuali
KEMULIAAN" (HR.Muslim)
Kita minta saja lah ya, hadiah lapang dada
itu langsung pada Alloh yang Maha Adil Memberikan Balasan Kebaikan pada
hamba-Nya. Tentunya, hadiah "kemuliaan" tak mungkin membawa kita ke tempat
yang panas dan menyiksa, pastilah akan membawa kita ke tempat yang "DIMULIAKAN"
pula oleh Alloh.
Wallohua'lam, Jangan pada syedih melulu ya...Have a Nice Day...
~>NuansaHati:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar