Selasa, 14 Juni 2016

NASIHAT : BAHAYA PENYAKIT “BT” SAAT BERPUASA (Lampost, selasa 14/6/2016 hal.13)



           Mungkin di antara kita seringkali banyak yang mengalami keadaan suntuk, saat semuanya sudah sampai pada batasnya. Istilah Wikipedianya BT, tapi bukan Bujur Timur melainkan Boring Time. Kalau  kita devinisikan secara umum bisa berarti “suatu waktu yang di dalamnya hanya ada perasaan bosan terhadap aktivitas yang dijalani”. Kondisi ini bisa menyerang siapapun, baik itu tua atau muda, pria atau pun wanita. Bahkan bisa menyerang seseorang setiap harinya. Bisa kita artikan kalau kondisi seperti ini sebenernya adalah penyakit, karena memang kehadirannya sangat tidak kita inginkan dan mengganggu. Kondisi seperti inilah yang kadang akan memicu seseorang melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat jika BT terus dibiarkan, bahkan mungkin malah membuang-buang waktu tanpa ada pelajaran yang berarti untuk apa waktunya telah digunakan. Salah satu contoh orang yang terserang kondisi BT kalau ditanya mau kemana, mungkin dia akan jawab “kemana aja yang penting jalan” atau jawaban lainnya yang tidak sesuai dengan pertanyaannya. Padahal kita nanti akan diminta pertanggungjawaban terhadap Ashr (waktu) kita, “untuk apa waktu yang telah digunakan selama hidup di dunia?”. Dalam Tafsir Ibnu Katsir surat Al-‘Ashr, ‘Ashr (waktu/masa) berarti waktu yang di dalamnya berbagai aktivitas anak cucu Adam berlangsung, baik itu aktivitas kebaikan ataupun keburukan. Bayangkan, apakah kita siap menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban “yang penting jalan” atau “saya lagi BT” ketika kita ditanya tentang pertanggungjawaban aktivitas yang telah kita lakukan di dunia?

         Lebih-lebih di bulan puasa. Waktu kerja tentu berkurang dan waktu menganggur jadi lebih banyak sehingga pengennya kebanyakan orang selalu tidur untuk menghabiskan waktunya. Atau mencari aktivitas lain yang kemanfaatannya diragukan namun menyenangkan baginya sendiri yang tentunya itu dipicu oleh hadirnya penyakit BT. Apakah kita akan menyia-nyiakan Bulan Romadhon dengan membiarkan penyakit BT menguasai kita yang kemudian berefek pada aktifitas yang tidak bermanfaat? Tentu ini adalah persoalan serius karena kalau tidak segera kita atasi maka bulan Romadhon kita bisa berlalu begitu saja tanpa ada pemaknaan. Betapa tidak, di hari biasa saja Alloh melipatgandakan satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan bahkan hingga tujuh ratus. Apalagi kalau kebaikan itu kita lakukan di bulan Romadhon sebagaimana Hadits  Nabi SAW dalam Shohih Ibnu Majjah dan Shohih Muslim ini : Dari Abu Huroiroh r.a., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai kehendak Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, Aku lah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.' Bagi orang yang berpuasa di beri dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa, dan kegembiraan saat berjumpa Tuhannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi misik.””  Maka salah satu pesan hadits di atas yang bisa kita ambil adalah bahwa pahala orang berpuasa yang ada kebaikan aktifitas di dalamnya akan dilipatgandakan sekehendak Alloh. Mungkin bisa dilipatgandakan seribu, sepuluh ribu, atau bahkan mungkin sejuta wallohua’lam itu hak preogatif Alloh SWT.
         
         Mungkin beratlah bagi sebagian kita untuk berpuasa sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi SAW. Bayangkan, beliau berbuka saja dengan beberapa kurma, kalau ga ada kurma cukuplah dengan beberapa teguk air. Tapi sebenernya amalan itu juga bisa dikerjakan sebelum menyantap makanan pelengkap lainnya. Berat pulalah mungkin bagi sebagian kita untuk berinteraksi dengan Al-Quran dengan memperbaiki bacaannya, membacanya, mengkajinya, menghafalkan dan mengamalkannya. Tapi sebenarnya amalan itu pun mudah dikerjakan bagi orang yang mau mencari tahu betapa pentingnya berinteraksi dengan Al-Quran di bulan Romadhon. Setidaknya, kalau kita belum bisa menyaingi kapasitas amalan orang-orang sholih dalam bulan puasa, kita memahami bahwa “Puasa itu memiliki makna lebih banyak dari sekedar berpantang makanan, minuman dan syahwat. Karena itu, ia mencakup pantangan terhadap semua hal buruk dan menghiasi diri dengan berbagai keutamaan” (Mutiara hadits No. 4 dalam Syaroh Riyadhus Sholihin oleh Dr. Mustafa Dib Al-Bugho dkk. Bab. 217). Jangan sampai, Alloh ga melihat puasa, ga peduli dengan puasa kita karena kelalaian-kelalaian kita dalam menjaga aktivitas lidah, aktivitas tangan, mata, telinga dan aktivitas-aktivitas kita lainnya.    
         
       Jadi sebenarnya, solusi menyembuhan penyakit BT saat kita berpuasa itu sangat sederhana, yaitu  memahami betapa berharganya aktivitas di waktu-waktu kita berpuasa Romadhon. Jangan sampai kita tak mendapat ampunan di bulan Romadhon, padahal ampunan itu dibuka setiap hari oleh Alloh. “Barangsiapa berpuasa pada bulan Romadhon dengan didasari iman dan pengharapan pahala (bermuhasabah), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Hadits Shahih Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Mutafaqq’alaih). Bayangkan, sudah berapa lama kita hidup di dunia. Sudah berapa tahun kita melakukan dosa sejak usia baligh (sampai pada umur diwajibkannya seseorang menjalankan syariat agama)? Namun Alloh siapkan ampunan pada hamba-Nya terhadap dosanya yang didapat dari mulai usia baligh hingga saat hari dimana ia berpuasa. Tentunya bagi orang yang berpuasanya dengan didasari iman. Artinya ada aktivitas iman di dalam puasa, ada amal sholih dan amal kebaikan untuk sesama, karena memang bukti iman adalah amal. Tentunya juga disertai dengan kehati-hatian dalam beraktifitas. Senantiasa ber-muhasabah (instropeksi diri), sampai sejauh mana aktifitas kita hingga bisa disebut ibadah dan jangan sampai aktivitas yang dilakukan saat sedang berpuasa tanpa pengharapan pahala dan ridho Alloh SWT. Wallohua’lam, semoga puasa kita hari ini mengundang ampunan dan keberkahan dari Alloh SWT. Amin.

Indra Mulya
Pengajar Bimbingan Membaca dan Menghafal Al-Quran (Alumni Pondok Pesantren Mahasiswa Darul HIkmah, PPM-DH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar