Seorang ibu pernah bertanya, "tadz, bagaimana caranya mengingatkan
SUAMI yang ga mau sholat? (tentunya agar suaminya mau sholat)". Cetarrr..ini pertanyaan yang berat sekali
buat saya karena posisi saya adalah sebagai suami. Khawatirnya nanti jawabannya akan dianggap bersifat subjektif. Tapi ya sudahlah, tidak lebih penting kita beranggapan seperti itu.
Kewajiban mengingatkan dan saling menasihati dalam rumah tangga memang bukan hanya milik suami saja, tetapi juga milik istri bahkan juga anak-anaknya. Termasuk juga kewajiban bagi kita agar keluarga kita terhindar dari dosa yang mengakibatkan seseorang masuk neraka. Sebagaimana perintah Allooh, "Yaa ayyuhalladzii na aamanuu Quu Anfusakum wa ahliikum naaroo", Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.(QS. At-Tahrim : 6)
Dalam rumah tangga pastilah akan terjadi banyak lika-liku permasalahan. Salah satunya ya permasalahan yang begini ini. Suami ga mau sholat. Teori mah gampang, prakteknya ini harus dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Mudah-mudahan teori ini bisa digunakan dalam berbagai keperluan, tidak hanya dalam permasalahan sholat saja.
Berikut ini tips-tips yang bisa dilakukan.
1-Gunakan pendekatan emosional, perasaan sekaligus akhlaq, bukan pendekatan
lisan. Bisa atau tidak bisa, paham atau tidak paham, lisan itu cara paling terakhir dan sifatnya mendesak dalam hal menasehati orang yang lebih tinggi kehormatannya dari pada kita. Faktanya memang ga gampang menasihati orang yg kita
hormati atau orang yang kita anggap lebih berilmu, tapi ga gampang bukan berarti ga bisa. Kalau kita bisa lakukan bertahap kenapa kita lakukan to the poin dengan lisan. Contoh : awali dengan memberikan keteladanan
akhlaq, mencontohkan kebaikan yang kita ingin suami kita juga
melakukannya.
2-Cari waktu-waktu terbaik suami yang apabila berdialog dengannya, dia tidak akan marah dan terbuka dengan pembicaraan apapun. Seperti waktu suami sedang dalam keadaan santai, bukan dalam keadaan lelah habis bekerja apalagi sedang ada masalah di kantornya.
3-Jika terpaksa atau mendesak harus menasehati dengan lisan, gunakan bahasa yang tidak menggurui.
Contohnya, "Mas/ Aa/kanda (atau apapun panggilannya), kita makan di luar di deket Masjid A yuk, sambil nunggu pesanan makanan siap disajikan, kita sholat dulu di
masjid A. Gimana?". Dengan bahasa dialog seperti itu, suami tidak menyadari kalau sebenernya istrinya ingin sekali suaminya sholat. Cara ini ga saklek, butuh modal besar kalau pake cara ini. InsyaAlloh masih banyak cara lain yang semisal dengan itu. Hehe...
4-Istri harus lebih giat belajar dan lebih banyak beramal sholeh agar kebaikan-kebaikan juga menular di lingkungan keluarga. Hal ini tentu bukan hal yang percuma untuk dilakukan. Semakin banyak kita belajar menjadi istri yang sholihah maka semakin banyak ilmu yang kita dapat. Sehingga kepribadian kita pun akan berubah mengikuti. Lisan dan sikap lebih terjaga dan lebih santun. Suami pun akan lambat laun mengikuti alur karena ia semakin percaya pada istri, bahkan semakin menghormati istri yang membuat harapan istri terpenihi suami karena ia sangat menghormati istrinya.
5-Jangan lupa doakan suaminya di waktu-waktu mustajab seperti 1/3 akhir malam, saat sedang puasa, atau waktu-waktu lainnya agar suami kelak bisa menjadi lebih sholehah dari
istri dan kelak menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya.
Allohua'lam
Salam Nuansa Hati :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar