Senin, 10 Maret 2014

CERPEN TENTANG KAWAN




CERITA UNTUK KAWAN
 
Cerita bersama-teman-teman memang tidak akan pernah habisnya jika kita bicarakan. Bahan obrolan yang menjadi topik pun bermacam-macam, itu saja baru satu teman ngobrol yang bicara dengan kita, bagaimana jika obrolan melibatkan lebih dari 3 orang? Mungkin bisa begadangan sampai pagi tanpa tersadar sudah adzan subuh. Memang terkadang bagi setiap orang bergantung dengan enak tidaknya lawan bicara mereka, tapi bagiku itu tidak penting, karena yang penting bagiku adalah bagaimana aku bisa selalu menjadi senter atau pusat perhatian dalam topik pembicaraan apapun bersama teman-teman dengan berbagai macam berprofesi. Yah…semua orang tau lah bagaimana rasanya jika kita bisa menjadi senter dalam pembicaraan ataupun pergaulan. Rasanya sangat menyenangkan. Terkadang bisa membuat tertawa terbahak-bahak, terkadang membuat sendu, terkadang membuat tegang, bahkan meskipun terkadang kita menjadi orang yang menyebalkan karena penuh salah, namun kita tetap menjadi kawan yang selalu dirindukan.

                Di sini aku tidak menceritakan bagaimana cara bergaul agar bisa menjadi pusat perhatian. Aku hanya ingin berbagi bagaimana nikmatnya pergaulan di luar dunia maya. Terkadang aku bisa menjadi seorang penulis, terkadang aku bisa menjadi komikus. Besok aku menjadi ustadz J  hehe, besok lagi aku bisa menjadi preman. Pekan ini aku menjadi seorang penyabar, lusanya lagi aku bisa menjadi pemarah. Hari ini aku jual obat sakit kepala, besoknya aku jual nama calon gubernur J (kampanye) hahaha. Hari ini aku bisa mnghibur orang, lusanya aku bisa membuat orang menangis. Nah…sangat membingungkan jika karakter dan profesi orang berubah-berubah, tapi aku tidak membicarakan tentang karakter atau profesi. 

                Bayangkan…cukup bayangkan saja jika kita belum bisa menjadi apa yang kita inginkan. Setidaknya membayangkannya adalah bagian dari mimpi. Mimpi adalah bagian dari kesuksesan. Bayangkan ketika kita butuh teman yang yang bisa menghibur, kita menemukan orangnya. Jika kita butuh teman yang bisa membantu dalam hal finansial, kita menemukan orangnya. Kita sedang membutuhkan teman yang menjadi penasihat spiritual, kita menemukan orangnya. Saat kita membutuhkan teman yang frontal, agresif dan suka memukul orang, kita menemukan orangnya  (percayalah dalam satu waktu kita membutuhkan orang macam ini hehe…). Itulah untungnya kita bisa bergaul dengan siapa saja. Banyak orang yang menyebutnya dengan sebutan inklusif, dia bisa berbaur dengan siapa saja dan tidak mau menyia-nyiakan tokoh orang yang dikenalnya. Tapi aku menyebutnya “tumbak cucu’an”. Ini istilah jawa yang pernah ku dengar dari ayahku, lupa-lupa ingat. Bisa salah bisa bener tuh istilah. Entahlah aku tidak begitu tau artinya, mungkin yang tau artinya bisa memberikan masukan definisi yang tepat untuk istilah itu. Intinya “tumbak cucu’an” itu adalah kawan yang senantiasa menemukan kawan yang diinginkannya, selalu menjadi pusat perhatian teman-temannya dan bisa memahami apa kebutuhan kawan. Orang seperi “tumbak cucu’an” tidak akan mudah dikalahkan jika dia ternyata menjadi musuh kita, karena dia selalu memahami karakter dan kelemahan lawan. 

                Tentunya kita masih ingat syair lagu “Berita Kepada Kawan” milik Ebiet G. Ade pada bagian lirik ini “banyak cerita yang mestinya kau saksikan…” Sebenarnya makna lagu itu sangat panjang dan dalam jika liriknya diteruskan sampai selesai, tapi aku hanya akan mengambil sepenggalnya saja. Betapa pedulinya seorang “tumbak cucu’an” itu pada kawan, dia tidak hanya mementingkan dirinya bagaimana ia memuaskan dirinya dalam pergaulan, namun Ebiet ingin bercerita tentang seseorang yang selalu ingin berbagi cerita dengan orang lain. Aku sungguh tidak bisa menjalani kehidupan yang kata orang itu “ga gaul”. Punya teman cuma 4L (lu lagi lu lagi). Haduh…mungkin serasa hidup di penjara, dia hanya bisa bertemu dengan orang-orang yang ada dipenjara saja. 

                Ada sebuah cerita yang menurutku ini adalah cerita lucu, karena satu bahan cerita ini bisa ku-share pada semua teman yang berbeda-beda karakter ternyata mereka tertawa ketika mendengar bahwa aku tinggal di sebuah kontrakan yang tidak punya jambannya, bahasa kerennya WC. Hah…aku harus mengatur jadwal ke masjid menjadi jadwal ke jamban, karena saat itulah WC masjid menjadi satu-satunya syurga ketika aku berada di depan pintu WC. Syurga berubah menjadi neraka ketika belum selesai hajatku sudah ada yang mengetuk pintu, dan satu hal yang menjadi neraka jahannam dunia bagiku adalah ketika tengah malam aku harus pergi ke masjid bukan untuk sholat. Sudah begitu sesampainya di WC masjid ternyata pintunya telah dikunci, pun begitu juga beberapa masjid yang lain. Aku kelelahan mencari masjid terdekat sampai-sampai aku lupa untuk apa aku mencari masjid di tengah malam. Besoknya, ada kawan yang menawari WC di rumahnya atau dia mau mengantarkanku dengan naik motor kalau tengah-tengah malam ingin ke masjid lagi. Mereka benar-benar kawan yang kuinginkan dan itu berarti aku benar-benar mendapatkan kawan yang kuinginkan. Tumbak cucu’an? Mungkin saja sebutan itu cocok, tapi hanya orang lain yang bisa menilai. Hahaha..aku tertawa sendiri menceritakanya dalam bentuk tulisan. Jangan tertawa jika membacanya terkesan jorok, tapi itulah kenyataannya. Aku bisa hidup di kontrakan itu hingga setengah tahun. Sejak saat itulah aku mengerti betapa pentingnya pergaulan yang luas, pergaulan yang mengerti, pergaulan yang mau berbagi susah senangnya kawan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar