CERITA UNTUK KAWAN
Cerita
bersama-teman-teman memang tidak akan pernah habisnya jika kita bicarakan.
Bahan obrolan yang menjadi topik pun bermacam-macam, itu saja baru satu teman
ngobrol yang bicara dengan kita, bagaimana jika obrolan melibatkan lebih dari 3
orang? Mungkin bisa begadangan sampai pagi tanpa tersadar sudah adzan subuh.
Memang terkadang bagi setiap orang bergantung dengan enak tidaknya lawan bicara
mereka, tapi bagiku itu tidak penting, karena yang penting bagiku adalah
bagaimana aku bisa selalu menjadi senter
atau pusat perhatian dalam topik pembicaraan apapun bersama teman-teman dengan
berbagai macam berprofesi. Yah…semua orang tau lah bagaimana rasanya jika kita
bisa menjadi senter dalam pembicaraan
ataupun pergaulan. Rasanya sangat menyenangkan. Terkadang bisa membuat tertawa
terbahak-bahak, terkadang membuat sendu, terkadang membuat tegang, bahkan
meskipun terkadang kita menjadi orang yang menyebalkan karena penuh salah, namun
kita tetap menjadi kawan yang selalu dirindukan.
Di sini aku tidak menceritakan
bagaimana cara bergaul agar bisa menjadi pusat perhatian. Aku hanya ingin
berbagi bagaimana nikmatnya pergaulan di luar dunia maya. Terkadang aku bisa
menjadi seorang penulis, terkadang aku bisa menjadi komikus. Besok aku menjadi
ustadz J hehe, besok lagi aku bisa menjadi preman. Pekan
ini aku menjadi seorang penyabar, lusanya lagi aku bisa menjadi pemarah. Hari ini
aku jual obat sakit kepala, besoknya aku jual nama calon gubernur J (kampanye)
hahaha. Hari ini aku bisa mnghibur orang, lusanya aku bisa membuat orang
menangis. Nah…sangat membingungkan jika karakter dan profesi orang
berubah-berubah, tapi aku tidak membicarakan tentang karakter atau profesi.
Bayangkan…cukup
bayangkan saja jika kita belum bisa menjadi apa yang kita inginkan. Setidaknya
membayangkannya adalah bagian dari mimpi. Mimpi adalah bagian dari kesuksesan.
Bayangkan ketika kita butuh teman yang yang bisa menghibur, kita menemukan
orangnya. Jika kita butuh teman yang bisa membantu dalam hal finansial, kita
menemukan orangnya. Kita sedang membutuhkan teman yang menjadi penasihat
spiritual, kita menemukan orangnya. Saat kita membutuhkan teman yang frontal,
agresif dan suka memukul orang, kita menemukan orangnya (percayalah dalam satu waktu kita membutuhkan
orang macam ini hehe…). Itulah untungnya kita bisa bergaul dengan siapa saja. Banyak
orang yang menyebutnya dengan sebutan inklusif,
dia bisa berbaur dengan siapa
saja dan tidak mau menyia-nyiakan tokoh orang yang dikenalnya. Tapi aku
menyebutnya “tumbak cucu’an”. Ini
istilah jawa yang pernah ku dengar dari ayahku, lupa-lupa ingat. Bisa salah
bisa bener tuh istilah. Entahlah aku tidak begitu tau artinya, mungkin yang tau
artinya bisa memberikan masukan definisi yang tepat untuk istilah itu. Intinya
“tumbak cucu’an” itu adalah kawan
yang senantiasa menemukan kawan yang diinginkannya, selalu menjadi pusat
perhatian teman-temannya dan bisa memahami apa kebutuhan kawan. Orang seperi “tumbak cucu’an” tidak akan mudah
dikalahkan jika dia ternyata menjadi musuh kita, karena dia selalu memahami
karakter dan kelemahan lawan.
Tentunya
kita masih ingat syair lagu “Berita Kepada Kawan” milik Ebiet G. Ade pada bagian lirik ini “banyak cerita yang mestinya kau saksikan…”
Sebenarnya makna lagu itu sangat panjang dan dalam jika liriknya diteruskan
sampai selesai, tapi aku hanya akan mengambil sepenggalnya saja. Betapa
pedulinya seorang “tumbak cucu’an”
itu pada kawan, dia tidak hanya mementingkan dirinya bagaimana ia memuaskan
dirinya dalam pergaulan, namun Ebiet ingin bercerita tentang seseorang yang
selalu ingin berbagi cerita dengan orang lain. Aku sungguh tidak bisa menjalani
kehidupan yang kata orang itu “ga gaul”. Punya teman cuma 4L (lu lagi lu lagi).
Haduh…mungkin serasa hidup di penjara, dia hanya bisa bertemu dengan
orang-orang yang ada dipenjara saja.
Ada
sebuah cerita yang menurutku ini adalah cerita lucu, karena satu bahan cerita
ini bisa ku-share pada semua teman
yang berbeda-beda karakter ternyata mereka tertawa ketika mendengar bahwa aku
tinggal di sebuah kontrakan yang tidak punya jambannya, bahasa kerennya WC.
Hah…aku harus mengatur jadwal ke masjid menjadi jadwal ke jamban, karena saat
itulah WC masjid menjadi satu-satunya syurga ketika aku berada di depan pintu WC.
Syurga berubah menjadi neraka ketika belum selesai hajatku sudah ada yang
mengetuk pintu, dan satu hal yang menjadi neraka jahannam dunia bagiku adalah
ketika tengah malam aku harus pergi ke masjid bukan untuk sholat. Sudah begitu
sesampainya di WC masjid ternyata pintunya telah dikunci, pun begitu juga
beberapa masjid yang lain. Aku kelelahan mencari masjid terdekat sampai-sampai
aku lupa untuk apa aku mencari masjid di tengah malam. Besoknya, ada kawan yang
menawari WC di rumahnya atau dia mau mengantarkanku dengan naik motor kalau
tengah-tengah malam ingin ke masjid lagi. Mereka benar-benar kawan yang
kuinginkan dan itu berarti aku benar-benar mendapatkan kawan yang kuinginkan. Tumbak cucu’an? Mungkin saja sebutan itu
cocok, tapi hanya orang lain yang bisa menilai. Hahaha..aku tertawa sendiri
menceritakanya dalam bentuk tulisan. Jangan tertawa jika membacanya terkesan jorok,
tapi itulah kenyataannya. Aku bisa hidup di kontrakan itu hingga setengah
tahun. Sejak saat itulah aku mengerti betapa pentingnya pergaulan yang luas,
pergaulan yang mengerti, pergaulan yang mau berbagi susah senangnya kawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar