Minggu, 02 Maret 2014

NOVEL TENTANG KERAJAAN MAJAPAHIT (CHAPTER 1)


 PETUALANGAN MANUSIA BERBULU EMAS
(Kerajaan Adikuasa)

 Langit gelap yang tertutup awan hitam, angin kencang menyapu atap-atap rumah hingga beterbangan. Sebuah lubang hitam besar di langit semakin mengecil kemudian menghilang. Suara petir bersahutan memecah senyap begitu keras mengikuti cahaya yang berkerlip di awan hitam. Tampakya fenomena alam itu terjadi di seluruh luas langit sejauh mata memandang. Semua orang di bawahnya berlarian tak tau arah mencari tempat berlindung ketakutan melihat fenomena itu, fenoma dimana zaman kerajaan akan hancur. 

“Oakh…Ini adalah kutukan Dewata!” Seru seorang penduduk yang hampir tidak bisa membuka matanya karena terpaan angin kencang. Ia berpegangan kuat pada sebuah gapura, takut dirinya terbawa hempasan angin itu. Blangkon yang ia pakai pun terlepas oleh hempasan angin. Baju dengan dada terbuka dan kain batik yang melilit di pinggangnya berkibar ingin menerbangkan dirinya. Ia berusaha dengan mata berkeriyip melihat atap-atap rumah penduduk beterbangan tersapu aleh angin yang lebih hebat dari badai. Pohon-pohon tumbang dan penduduk lainnya yang berteriak berterbangan pelan karena hempasan angin kencang itu. “Ini akhir dunia…akhir kerajaan Gandrayaksa…! Dewata yang Agung, ampuni kerajaan!” Serunya merintih. 

Seorang bocah melayang sehasta tanpa pijakan kakinya yang sudah berhamburan di hamparan bumi. Tepatnya seorang bocah yang tidak bisa disebut sebagai manusia. Tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu emas di bagian dadanya yang terbuka tak terbungkus kain, begitu juga di bagian janggut menuju leher dan separuh lengan ke bawah. Puing-puing dinding bangunan kerajaan memecah berkeping-keping di antara retakan tanah yang mengelilinginya. Ia buka matanya yang tajam seperti elang sedikit tertutup dengan rambut yang terkoyak-koyak bergelayutan panjang. Hampir tidak ada ciri-ciri manusia terlihat dari tubuhnya. Ia meraung menengadahkan kepalanya sehingga angin yang menghempas semakin kuat. Namun ia tak bergeming sama sekali dengan hempasan angin itu. Ia meraung semakin keras seperti marah terhadap langit. Semakin keras ia meraung membuat angin yang bertiup semakin ganas dan menghancurkan segalanya. Terperanjatlah seseorang dengan mata terbelalak terperanjat dari mimpinya. “Makhluk itu tidak boleh kembali ke dunia nyata.” Ucapnya dalam hati. 


Sinar matahari yang masuk melalui sela-sela deaunan pohon maja yang rimbun dan tenang sangat indah menyinari seseorang berbaju putih di pertapaannya. Pohon yang berkembang biak dengan biji, tingginya dapat mencapai 8-10 hasta, cabangnya berduri, berbau harum bunganya, kulit batangnya mengeluarkan getah berwarna putih jika terluka, dan jika dibiarkan terhempas udara terbuka, warnanya berubah menjadi kuning jernih seperti batu permata dan kulit akarnya dapat dijadikan obat telah menjadi saksi kejayaan sebuah kerajaan pada masa itu. Pemuda itu cukup kekar dan berotot dengan  paras lebar berdagu tajam, dinding pelipisnya terlihat kokoh melindungi matanya. Dari tubuhnya mengeluarkan hawa panas yang memancarkan cahaya, menambah kharisma namun  tidak mencolok. 

Itu adalah pohon Maja raksasa yang rindang. Ia duduk di bawahnya bersila sangat khitmad pada sebuah tumpukan batang kayu kering bercampur dengan dedaunan yang menumpuk. Angin meniup-niup dua jambul rambutnya yang tumbuh memanjang tepat di depan telinganya. Ia tidak perlu berlama-lama melakukan semedi mengumpulkan energi karena hawa panas dari tubuhnya semakin kuat saat ia menggeretakkan genggaman tangannya.

Usianya terlihat masih sangat muda, mungkin sekitar 20 tahun. Terlihat jelas perawakan bijak saat ia mulai bangkit meluruskan punggungnya mengibaskan jubah pendeknya yang berwarna putih. Berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi. Jubahnya berkelebat hingga ke pinggang, dikaitkan dengan baju zirah yang menutupi kedua pundak dan dadanya namun tidak terlalu menutupi tubuhnya. Hanya sedikit ke tengah menyambung pinggang dan kedua penutup pundaknya. Pakaiannya mulai terlihat jelas berwarna serba putih dengan kain menjuntai di  depan dan belakang paha hingga ke daerah lutut menutupi celananya yang berwarna abu-abu. Ia mengencangkan pengikat kepalanya yang khas dengan sudut gunung yang  menonjol ke bawah pada bagian kiri kepala. Ia tidak lupa mengencangkan pengikat pergelangan tangannya yang juga berwarna putih. Beberapa saat ia menengadahkan wajahnya menghirup udara segar pagi di sekitarnya. Burung-burung berkicauan mengiringi hela nafasnya. 

Ia ambil seruling dari balik bajunya. Sebuah seruling berwarna jingga yang mampu memanggil angin saat seruling dialunkan perlahan dan dialunkan dengan merdu, semakin kencang alunan serulingnya maka semakin kencang angin yang datang. Tidak lama ia meniup serulingnya, mungkin sekedar menggerakkan kedua bibir dan jari-jarinya. Seruling itu ia tengadahkan tepat di bawah matahari dengan tangan kanannya yang menjulur ke atas. Dari seruling itu  keluar sebuah bola energi yang semakin lama semakin bercahaya seperti menyerap sinar matahari. Tubuhya pun semakin lama semakin memantulkan cahaya berwarna kuning keemasan dan mungkin terasa semakin panas bila di dekatnya. 

Semakin lama, angin menyelimutinya bersamaan dengan cahaya yang semakin terang dari seruling dan kulit tubuhnya. Padahal ia sudah tidak meniup serulingnya itu. Sepertinya kekuatan pemuda itu bersumber dari sinar matahari. Angin yang kencang semakin mereda dan cahaya dari seruling meredup. Ia memutar-mutarkan serulingnya di pergelangan tangannya yang kekar, tersenyum tipis pada alam sekitarnya seusai memainkan serulingnya. 

Sepertinya ia tak tahan berjalan beberapa langkah, menumpu pada satu genggaman tangan dan lututnya di hamparan beberapa saat kemudian melesat tinggi ke atas mendekati matahari dengan cepat menerjang angin menikmati sinarnya sejenak sebelum ia kembali lagi pada pijakan bumi dengan wajah tertunduk, bertumpu pada satu lutut yang menikung dan satu lutut yang menjadi tumpuan tangannya. Brush….! Debu-debu perlahan beterbangan karena jubah putih yang mengibasnya. Kemudian ia melaju kencang seperti angin yang tidak meninggalkan jejak.

“Sepuluh tahun terasa singkat sejak kematian kakekku, dan lima tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk belajar mengendalikan kekuatan kakek guru dalam tubuhku. Tapi yang paling penting selama lima tahun aku belajar…aku mengerti bahwa menjadi pendekar adalah cara terbaik untuk melindungi orang-orang yang kita cintai.” Ucap pemuda dalam lajunya yang seperti angin. 

Sepuluh tahun yang lalu, salah satu kerajaan besar dan kuat yang telah berhasil ditundukkan oleh Majapahit, sebut saja kerajaan Gandrayaksa, kerajaan yang berada di semenanjung pulau Jawa. Kerajaan Adikuasa yang menyaingi kekuatan tempur dan pasukan Majapahit, rempah-rempah, hasil bumi dan kekayaan alam lainnya. Wilayahnya terbentang hingga lautan yang luas, pulau-pulau kecil yang bernama dan tak bernama menghiasinya. Tapi kini, kerajaan itu telah menjadi kekuasaan Majapahit setelah Raja Gandrayaksa, Narapati Saroja terbunuh oleh patih Majapahit bernama Pranajaya yang tidak kalah sakti dengan patih Gajah Mada yang mengabdi pada Hayam Wuruk, raja ke-4 Majapahit. 

Dadanya yang lebar tertusuk dalam sebilah keris. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan wajah terlihat bengis berkumis dan berjanggut tebal tak mampu menahan rasa sakit tusukan itu. Ia dudukkan dagunya pada bahu kiri Pranajaya di saat nafas-nafas terakhirnya sembari membisikan kutukan. “Gandrayaksa adalah kehidupanku, kehidupanku adalah Gandrayaksa.” Ucapnya berbisik. 

Sejak kematian itu, kerajaan Gandrayaksa hilang dari peta dunia karena kematian Narapati Saroja. Gandrayaksa pun berdaulat di bawah kekuasaan patih Majapahit yang membunuh Narapati Saroja. Namun  tidak dalam arti yang sebenarnya di bawah kedaulatan Majapahit. Ada namun tidak ada. Gandrayaksa tidak akan pernah lagi ditemukan oleh manusia dan tidak akan pernah tercatat dalam sejarah. Kerajaan Gandrayaksa hanya kumpulan asap tebal dalam hutan belantara yang tak berpenghuni. Kutukannya hanya akan hilang jika kerajan Gandrayaksa kembali berdaulat di bawah kekuasaan keturunan raja yang syah. Sejak kutukan itu, manusia yang hidup di Gandrayaksa tidak pernah lagi melihat dunia luar. 

 “Bagaimana ayah kembali ke Gandrayaksa jika ayah pulang ke Majapahit?!” Tanya seseorang menyeru. “Ingatlah, Sakabunggawa! Kau harus memerintah Gandrayaksa, perang paregreg bisa menghancurkan Majapahit. Aku harus merebut kepercayaan Prabu Wikramawardhana untuk melanjutkan perjuangan sumpah palapa yang pernah dikumandangkan Gajah Mada untuk menyatukan nusantara. Cari pusaka itu dan dapatkan energi naga, Hasatungga akan membantumu dalam pemerintahan dan olah kanuragan setelah kau mendapatkan energi naga. Mulai saat ini, Jayapada dan Kalabrang hanya setia pada kerajaan,..dan kaulah pemilik kerajaan Gandrayaksa saat ini. Waktuku cukup lima tahun menjadi raja.” Jelas Pranajaya membelakangi seseorang di sebuah hutan gelap perbatasan Majapahit dan Gandrayaksa, sehingga hanya sedikit jubah berwarna emas yang menutupi tubuh dan kudanya saja yang terlihat. Ia luruskan pandangannya dan memberi isyarat  pada kudanya untuk segera melaju. Seketika itu juga ia hilang dalam kumpulan asap tebal. 

Sampailah Pranajaya dan seluruh pasukan tempur terbaiknya di Majapahit merayakan kemenangan mereka. “Hidup Majapahit…hidup Majapahit!” Seru prajurit-prajurit itu dari kejauhan menyambut kedatangan Pranajaya. Tahun 1403 M adalah masa keemasan Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Wikramawardhana, Berjaya bersama salah satu patihnya, Pranajaya.  Patih yang diyakini oleh sebagian pendekar Majapahit bahwa dia adalah titisan Gajah Mada yang bertubuh besar dan kuat hingga setara dengan sembilan orang laki-laki dewasa. Pahatan arca bebatuan hitam menghiasi taman-taman kerajaan yang dilewatinya saat ia berjalan menuju keraton menghadap raja. 

Bata-bata merah yang kokoh adalah sebuah simbol bahwa Majapahit tidak mudah diruntuhkan dan disegani oleh seluruh kerajaan di Tanah Sumatra hingga Papua, Malaka bahkan hingga kekaisaran Tiongkok. Gapura-gapuranya yang kekar dan menghujam langit menggambarkan kerajaannya yang Adikuasa  pada masa itu. Kerajaan kecil menjadi kerajaan bawahan Majapahit di bawah kuasa raja ke-5 majapahit. Siapa yang kuat akan hidup dan yang lemah akan mati, hukum rimba masih sangat berlaku pada masa itu, bahkan mungkin akan berlaku sampai kapanpun.

Desa Rawaloka, desa paling pedalaman dari kerajaan Gandrayaksa. Setiap saat memiliki udara sesejuk embun pagi karena banyak aliran sungainya yang selalu bersih di sana. Gemuruh air yang menerpa bebatuan-bebatuan besar dan gemericik air yang menerpa bebatuan kecil membuat penghuni   desa sekitar yang datang ke sungai desa Rawaloka itu untuk mencari ikan, mandi atau mencuci tidak ingin beranjak dari sana seperti sudah terhipnotis dengan kesegaran dan  kebersihan air di sana. 

Seorang bocah menangkap ikan dengan mudahnya berulang kali, ia tangkap ikan yang besar-besar seukuran betis kakinya di pinggiran sungai itu. Tubuhnya tegap dan terlihat tegar berbaju putih compang-camping. Ia selalu berwajah ceria dan tidak pernah berputus asa meskipun hasil tangkapannya terlepas dan hanya seorang diri mengejar ikan yang terlepas itu. Terduduk sejenak dan terengah mengambil nafas sambil mengencangkan ikat kepala putihnya di bebatuan karena tak berhasil menangkap kembali ikannya yang terlepas. Teringat dalam benaknya seorang kakek yang ingin menutup mata di pelukan bocah itu sembari air mata mengalir dan angin semilir menarik helai rambut yang memanjang di depan telinganya. Ia tidak tau persis kenapa kakek itu ingin sekali menutup matanya, mungkin ia hanya menyangka kakek itu hanya ingin tidur beristirahat. Ia juga tidak mengenali dua orang pendekar di dekatnya yang membuat kakeknya diam lemas. Mereka mengenakan pakaian yang sepertinya tampak berbeda dengan pakaian masyarakat di desanya. Wajah mereka juga tak sempat ia kenali karena air mata mengaburkan pandangannya dan kepedulian yang tinggi pada kakeknya membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan kakeknya di saat terakhir ia harus menghembuskan nafas. Satria, Penuhilah takdirmu sebagai manusia biasa yang berjiwa ksatria. Seorang ksatria adalah seorang laki-laki yang hidup di atas pijakan kakinya sendiri.” Itulah pesan terakhir seorang kakek yang tak pernah ia lupakan. 

Ia terperanjat tersadar dengan pekerjaannya. Ia pun kembali melompat dari batu yang satu ke batu yang lain dengan lincahnya dari pinggiran kemudian ke tengah sungai, memutar-mutarkan serulingnya di atas telapak tangannya kemudian menikmati harumnya seruling berwarna jingga yang ia genggam. Seekor makhluk air pemangsa ikan di sekitarnya terlihat sangat besar, lebih besar dari tubuhnya mengendap mendekatinya. Makhluk itu mirip seekor naga namun ia hanyalah ikan yang berukuran besar saja dan berkepala mirip naga. Taringnya sangat tajam. Makhluk itu melompat dari bawah air ke arahnya mencoba untuk memangsanya. Namun si bocah pandai dan cepat sekali melompat dari pijakan yang satu ke pijakan yang lain, dari batu yang satu ke batu yang lain. tentu saja makhluk itu tidak mampu menangkapnya. Sudah berkali-kali makhluk itu mencoba menerjangnya namun meleset. 

Saat makhluk itu terlihat mulai kesal, makhluk itu mengambil jarak lebih jauh dari dalam air. Si bocah meningkatkan kewaspadaaan dan mengamati gerak air dari dalam tepat di bawahnya. Brus….ikan itu menerjang kencang dari belakangnya, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan mengikuti gerakan ikan itu sehingga ia bisa merangkul dari dada ikan itu. 

Si bocah merangkul ikan itu kuat-kuat karena terjangan yang sangat kencang itu bisa menjatuhkan dirinya. Ia mencebur dan melompat ke dalam air bersamaan dengan ikan itu. Ia balikkan badan sang ikan saat berada di dalam air dan mengambil sebuah pisau dari balik punggungnya berniat mengeluarkan isi perut makhluk itu. Namun sebelum ia melakukannya, makhluk itu mengeluarkan suara raungan yang menyedihkan tepat setelah  menyembur keluar dari air. 

Makhluk itu seperti ingin berbicara padanya sambil melirik pisau yang terlihat tajam itu. Si bocah kemudian membuang pisaunya ke dalam air agar tak menakuti makhluk itu. Sepertinya bocah itu merasakan kesedihan pada ikan itu.  Akhirnya ia melepaskan pegangan tangannya dari tubuh makhluk itu. Ia tampak gembira dan berterima kasih, berputar-putar di permukaan air melihat si bocah yang mendaratkan kakinya di sebuah batu besar setelah melepaskannya. Kemudian ia duduk menyilangkan tangannya di atas kedua lututnya dan memperhatikan makhluk itu. “Hei, ikan berkepala naga, kenapa kau ingin memangsaku? Baru hari ini aku melihatmu.” Tanya si bocah. Tentu saja ikan itu hanya berputar-putar saja tidak menjawab. 

Si bocah kemudian dikejutkan lagi oleh makhluk-makhluk sejenisnya yang mulai terlihat dari bawah air, sepertinya makhluk itu memanggil bantuan teman-temannya. Namun setelah mereka muncul di permukaan, ternyata mereka masih kecil-kecil berjumlah empat ekor. Mereka mirip sekali dengan ikan yang lebih besar itu kemudian mengikuti gerakan ikan berkepala naga yang sedang berputar-putar. “Ah…jadi begitu ya, kau mencarikan makanan untuk anak-anakmu. Kau tidak puas menangkap ikan-ikan yang lebih kecil darimu, kemudian kau mau menangkapku?” Kemudian si bocah masuk lagi ke dalam air dan mencoba menangkapkan ikan-ikan lagi untuk diberikan kepada ikan berkepala naga itu. Si bocah sangat pandai dan cepat dalam mencari ikan, entah bagaimana dia melakukannya hanya dengan menggunakan kedua tangannya. 

“Baiklah, ini untuk kalian. Aku tidak tau dari mana kalian berasal, tapi kelak kalian jangan mengganggu manusia. Aku juga suka berburu di sungai ini, terkadang aku tangkap dan aku makan. Terkadang juga aku melepaskannya. Aku tidak ingin kau menjadi salah satu ikan yang ku tangkap” Jelas si bocah sambil melemparkan tangkapannya. Ikan-ikan naga itu seperti menyimak apa yang dibicarakan si bocah seolah mengerti apa yang dikatakannya. “Mulai sekarang aku akan memanggil kalian Darpaga. Jika aku memanggil kalian, aku pastikan kalian akan kubawakan makanan yang kalian sukai.” Lanjut si bocah. Anak-anak ikan itu melompat-lompat sehingga air sungai memercik di wajah si bocah. Sepertinya mereka kegirangan mendapatkan makanannya sekaligus mendapatkan panggilan dari si bocah. Mereka berputar-putar kemudian menyelam meninggalkan si bocah dan sesekali muncul di permukaan. “Tampaknya setelah hari ini bukan hanya aku yang akan berburu ikan. Dari mana kalian dan makhluk apa kalian sebenarnya?” Ucap si bocah sambil bersiap-siap berenang kembali.

Gandrayaksa terlihat sangat luas dan padat penduduknya dari atas bukit yang puncaknya tidak begitu banyak pepohonan. Seseorang dengan rambut serba putih menungging ke atas di bagian belakangnya dan kain panjang berkelebat tertiup angin menjuntai hingga ke betis begitu seksama melihat Gandrayaksa dari atas bukit itu. Wuzh…Angin berhempas dan bersuara keras sekejap datang dari belakangnya. 

“Mereka masih setia pada Sakabunggawa. Patih Jayapada, ia mampu mengetahui kekuatan lawan dengan mudah dan mampu memprediksi kemenangan pertarungan. Tidak ada cerita yang mengatakan ia kalah bertarung. Patih Kalabrang adalah seorang patih ahli strategi perang, murid dari salah satu tim strategi perang Ike Mese saat upaya penundukan kerajaan Singosari oleh kekaisaran Tingkok yang bersekutu dengan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.” Jelas suara yang datang bersamaan dengan suara angin itu. 

“…dan penasihatnya?” Tanya orang berambut putih itu. “Hasatungga, hampir semua kebijakan kerajaan berasal dari ide-idenya. Dia murid Pranajaya yang sengaja dididik untuk memahami pemerintahan kerajaan. Di Majapahit ia dikenal sebagai pendekar pembaca pikiran, namun di Gandrayaksa ia menyembunyikan kemampuannya itu dan hanya Sakabunggawa yang mengetahui kemampuannya. Kurasa ia tidak pandai menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Ketiga orang penting itu membuat kedudukan Sakabunggawa semakin kuat di Gandrayaksa. Sakabunggawa menjalankan misi dari ayahnya untuk mengawasi energi-energi naga hitam yang masih berkeliaran di atas bukit ini.” Jelasnya. “Bukit yang mereka yakini sebagai tempat naga kembar terakhir melepaskan seluruh energinya. Mungkinkah dia menghimpun kekuatan?” Tanya orang berambut putih itu memastikan. “Ia menghimpun semua pemilik energi naga hitam untuk dijadikan pasukan tempur setianya, seperti dua orang pasukan pengamannya yang mereka sebut Rajen.” Jelas seseorang yang datang bersama angin. 

“Meskipun Sakabunggawa adalah kaum Narakya, ia tidak mudah dikalahkan jika patih terbaik Gandrayaksa masih setia padanya.” Ucap seseorang berambut putih itu dengan pandangan tajam menatap kerajaan. “Kita akan segera bertemu kembali.” Seseorang itu pergi sebagaimana dia datang bersama angin yang tidak berwujud. Bruzh…Seorang yang tua itu dengan tenang menghempaskan angin dari sela-sela kain disertai petir-petir kecil yang menyelimutinya sleuruh tubuhnya kemudian mendatangkan petir yang lebih besar di sekitarnya dan melenyapkan tubuhnya tanpa jejak.




                                                                                           bersambung ke chapter 2...








2 komentar: