SEMANGAT DAN SENYUMAN ADALAH KUNCI
KEBERHASILAN
Selepas aku
memberikan materi di sebuah acara di pedesaan, aku sangat lelah sekali sehingga
menuntutku untuk segera beristirahat. Baju bertumpuk di kursi belakang
membuatku semakin penat memikirkannya. Tapi, ah…sepertinya aku harus menunda
istirahat karena aku melihat pendamping saya sebagai instruktur, mukanya sudah
sangat lusuh dan sering mengeluh ini dan itu sampai-sampai sudah malas untuk
menjalankan tugasnya sebagai pendamping atau asisten, sepertinya aku tidak
pernah bisa lepas darinya karena kemanapun aku pergi dia tau keberadaanku dan
kalau ada kesempatan ikut dia pasti akan ikut, ternyata dia terlihat sangat lapar.
Sepertinya sopirku pun begitu juga keadaannya. Kuputuskan berenti saja dalam
perjalanan pulang itu dan kupustuskan mengunjungi sebuah pondok makan yang
namanya “Pondok Bakar” di pinggir jalan. Kebetulan tempatnya sangat nyaman dan
aku bisa makan lesehan di sana.
Sesampainya di
depan rumah makan itu, kok sepi sekali tempatnya. Para karyawannya hanya
menganggur duduk di pohon berayun, eh…maksudku
duduk diayunan yang di kaitkan disebuah pohon besar. Ada empat orang karyawan
yang berayun-ayun dan memandangi mobil kami yang dating saat itu. Satu orang
nampak dengan wajah memelas namun berubah menjadi wajah yang sumringah melihat
kedatangan kami, yah…akhirnya mereka pun semuanya menjadi sumringah (red :
tersenyum lebar, kegirangan, berbunga-bunga). Mungkin karena seharian itu
mereka tidak mendapatkan pelanggan sama sekali sampai akhirnya kami datang. Tak
ketinggalan pemiliknya pun langsung bangkit dari tempat duduknya menyalami kami
dan menyambut kami dengan senyuman, yah…senyuman yang indah dari seorang
ibu-ibu yang terlihat masih sangat muda dan berwajah chines. Hehe…sepertinya tidak ada senyuman yang lebih indah selain
senyuman seorang pedagang yang didatangi pelanggan.
Dengan semangat
yang aku tidak tau apa motivasinya, mulailah para karyawannya menyodorkan menu
makanan yang lumayan banyak jenis makanannya. Belum pernah kutemukan seseorang yang
pelayanannya sangat baik seperti pelayan rumah makan itu. Mungkin bagi orang
lain biasa-biasa saja, karena mungkin pelayan terbaik di rumahnya adalah
“istrinya”, sedang aku belum punya rumah apalagi istri, hehe… tapi bagiku
pelayan rumah makan itu luar biasa. Gesit dan sigap melihat apa yang dibutuhkan
oleh pelanggannya. Pelayanan mereka itu membuat pelanggan lain berdatangan dan
menambah lebar pada senyuman mereka. Yah…mungkin pelangganlah yang mampu
membuat mereka bersinar dalam senyuman yang mereka tahan selama beberapa detik atau
mungkin senyuman mereka lah yang mengundang para pelanggan lain. Aku tidak akan
membayangkan senyuman mereka kalau pelanggan yang datang tidak pergi dari rumah
makan ini. Mereka bisa senyum-senyum seharian. :D
Sejenak aku mengilhami
diri, betapa semangat dan senyuman yang tulus menentukan keberhasilan kita dan mengundang
kesuksesan. Bagaimana tidak? Senyuman yang tulus berarti keikhlasan telah
terpancar dari hatinya. Senyuman yang tulus akan mengundang orang senantiasa
berfikir positif dan penuh cinta pada kita. Kurasa kita semua sepakat, orang tidak
bisa hidup tanpa cinta, karena cinta senantiasa melukiskan keindahan pada
senyuman kita. Katakan padaku wahai orang-orang yang tidak percaya cinta,
katakan padaku bagaimana cinta tidak menghidupkan senyuman. Siapa orang yang
tidak pernah senyum dalam hidupnya, berarti orang itu sama saja mati, hidup
tanpa cinta.
Cinta jangan
disalahartikan. Cinta yang kumaksudkan bukan cinta yang berujung dengan hawa
nafsu antara sepasang orang yang jatuh cinta. Yah…kurasa aku tidak perlu
menjelaskannya pada tulisanku hari ini. Orang yang penuh cinta dalam hidupnya
akan senantiasa berfikir positif. Fikiran positif akan selalu mengundang segala
sesuatu yang positif datang pada diri kita tanpa halangan. Bayangkan, betapa
luar biasanya jika senyuman yang tulus yang kita miliki kita barengi dengan
semangat yang luar biasa, visi dan misi yang luar biasa, maka tidak ada lagi
orang yang bisa menghentikan orang yang memiliki senyum dan semangat. Semangat
melahirkan kekuatan, senyuman mengundang kebaikan. Sepertinya hanya Allah-lah yang
bisa menghentikan langkahnya. Dari sinilah aku berangkatkan diri untuk
mencintai orang-orang di sekitarku, tersenyum pada mereka dan bersemangat
melakukan segala sesuatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar