HIDUP HARUS BERMAKNA
Aku belajar
menikmati jalan-jalan yang berliku dan berasap. Memang sudah seharusnya sebagai
manusia yang memiliki jiwa pembaharu haruslah rajin mempelajari segala sesuatu di
sekitarnya. Setiap pagi saat aku melangkahkan kuda besi mencari segenggam
permata dengan keringatku sendiri. Saat itulah aku melihat banyak pemandangan
pengendara motor atau mobil yang memiliki tujuan yang berbeda-beda pastinya. Pelajaran-pelajaran
itu sangat menyenangkan dan tentunya ada banyak hal indah untuk dilihat yang
tidak bisa kuceritakan satu-persatu.
Di samping kiri kumengendarakan motor besarku, aku yakin pria
yang kulihat itu adalah ayahnya. Dia juga membawa motor besar, lebih besar dari
motorku, dengan asesoris motor layaknya pembalap, namun membiarkan anaknya yang
mungkin baru berusia tidak lebih dari 3 tahun tertidur pulas di atas tangki
motor seolah si anak sedang merangkul tangki motor. Padahal aku pernah membawa
keponakanku yang masih balita menggunakan motor besar tapi hampir terjatuh
karena tangan kiriku memegangi si anak sehingga aku tidak bisa mengontrol
kopling. Ada juga seorang pemuda yang sedang buru-buru tidak peduli jalan macet
dan sempit, membawa tas besar dipunggung dengan helm butut, kebesaran pula. Aku
yakin dia mahasiswa yang terbangun kesiangan, begitu sampai di kampus ia lupa
membawa tugas kuliahnya. Itulah suka duka di kampus yang tidak mungkin diceritakan semua dalam tulisan ini. Di depanku, ada juga ibu-ibu yang harus mengantar sekolah
anaknya dengan barang dagangan yang penuh di motornya. Aku jadi teringat juga
perjuangan ibuku membesarkan anaknya ketika melihatnya. Ada pula yang sedang membawa
mobil dengan alunan musik yang volumenya sengaja diperkeras, jendelanya dibuka,
kepalanya manggut-manggut, pake kaca mata hitam pula tidak mempedulikan orang
sekitar yang mendengarkan musik menyebalkan itu. Untung saja aku baru punya sepeda motor. Meskipun ini pikiran konyol dan kasar, mungkin kalau aku punya mobil dan kubawa mobilku bisa kutabrakkan mobilku ke
mobilnya. Dari semua pemandangan yang menarik itu, aku banyak belajar dari banyak
pengendara yang memiliki misi berbeda-beda dengan tempat tujuan yang
berbeda-beda pula.
Kenapa kita harus bekerja? Kenapa kita harus belajar? Kenapa
kita harus hidup? Kenapa kita harus bersosial? Dari peristiwa-peristiwa yang
kulihat itulah aku mendapatkan sedikit logika yang menjawab semua pertanyaan
yang mungkin sering kita utarakan pada hati kita namun terkadang kita masih
bingung mendapatkan jawabannya sendiri. Jawaban itu dimulai dari pemahaman dimanapun
kita berada, secara manusiawi akan selalu
ada sosok makhluk yang kita harapkan akan selalu ada dalam aktifitas keseharian
kita. Tidak perlu diharapan kehadiran apapun dan siapapun, sebenarnya telah ada
dan selalu ada Zat Agung yang senantiasa menemani kita dan tidak akan pernah
mengalihkan perhatiannya pada kita. Apapun yang membuat kita sendiri,
sebenarnya hanya akal-akalan fikiran kita yang bergejolak yang merasa hidup
kita tiada artinya, hidup kita sangat sengsara, hidup kita membosankan, atau
karena hidup kita serasa tidak ada yang mengharapkan selepas kita patah hati
misalnya. Pada saat-saat itu kita merasa tidak ada yang memperhatikan kita dan perasaan-perasaan
itulah yang membuat kita jauh dari rasa syukur. Padahal jika kita hitung nikmat
yang telah kita dapatkan semasa di dunia, segala sesuatu yang menyengsarakan di
dunia ini tidak ada artinya.
Saat kita mengilhami dan menikmati rasa syukur, saat itulah kita
akan merasa bahwa hidup kita memberi arti bagi orang lain. Bersyukur bisa
melihat seorang pemuda yang menikmati menjadi ayah, bersyukur bisa iba melihat
seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah dengan barang dagangan penuh
di motornya, bersyukur bisa mendengar alunan musik yang keras meskipun dari
seorang pria yang menjengkelkan. Hal itu dengan sendirinya akan memahamkan kita
kenapa kita wajib bekerja, kenapa kita
harus belajar, kenapa kita harus hidup, kenapa kita harus bersosial. Bayangkan,
berapa banyak hal yang sudah kita pelajari dari mata, telinga dan perasaan. Bayangkan
berapa banyak orang yang bisa kita kenal di sekitar kita. Bayangkan betapa
orang sangat mencintai keluarganya sehingga ia harus bekerja mencari nafkah untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita harus hidup karena hidup kita banyak makna.
Selamat menikmati hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar