Selasa, 18 Maret 2014

ARTIKEL TENTANG MAKNA KEHIDUPAN



HIDUP HARUS BERMAKNA


         Aku belajar menikmati jalan-jalan yang berliku dan berasap. Memang sudah seharusnya sebagai manusia yang memiliki jiwa pembaharu haruslah rajin mempelajari segala sesuatu di sekitarnya. Setiap pagi saat aku melangkahkan kuda besi mencari segenggam permata dengan keringatku sendiri. Saat itulah aku melihat banyak pemandangan pengendara motor atau mobil yang memiliki tujuan yang berbeda-beda pastinya. Pelajaran-pelajaran itu sangat menyenangkan dan tentunya ada banyak hal indah untuk dilihat yang tidak bisa kuceritakan satu-persatu. 
 

Di samping kiri kumengendarakan motor besarku, aku yakin pria yang kulihat itu adalah ayahnya. Dia juga membawa motor besar, lebih besar dari motorku, dengan asesoris motor layaknya pembalap, namun membiarkan anaknya yang mungkin baru berusia tidak lebih dari 3 tahun tertidur pulas di atas tangki motor seolah si anak sedang merangkul tangki motor. Padahal aku pernah membawa keponakanku yang masih balita menggunakan motor besar tapi hampir terjatuh karena tangan kiriku memegangi si anak sehingga aku tidak bisa mengontrol kopling. Ada juga seorang pemuda yang sedang buru-buru tidak peduli jalan macet dan sempit, membawa tas besar dipunggung dengan helm butut, kebesaran pula. Aku yakin dia mahasiswa yang terbangun kesiangan, begitu sampai di kampus ia lupa membawa tugas kuliahnya. Itulah suka duka di kampus yang tidak mungkin diceritakan semua dalam tulisan ini. Di depanku, ada juga ibu-ibu yang harus mengantar sekolah anaknya dengan barang dagangan yang penuh di motornya. Aku jadi teringat juga perjuangan ibuku membesarkan anaknya ketika melihatnya. Ada pula yang sedang membawa mobil dengan alunan musik yang volumenya sengaja diperkeras, jendelanya dibuka, kepalanya manggut-manggut, pake kaca mata hitam pula tidak mempedulikan orang sekitar yang mendengarkan musik menyebalkan itu. Untung saja aku baru punya sepeda motor. Meskipun ini pikiran konyol dan kasar, mungkin kalau aku punya mobil dan kubawa mobilku bisa kutabrakkan mobilku ke mobilnya. Dari semua pemandangan yang menarik itu, aku banyak belajar dari banyak pengendara yang memiliki misi berbeda-beda dengan tempat tujuan yang berbeda-beda pula.


Kenapa kita harus bekerja? Kenapa kita harus belajar? Kenapa kita harus hidup? Kenapa kita harus bersosial? Dari peristiwa-peristiwa yang kulihat itulah aku mendapatkan sedikit logika yang menjawab semua pertanyaan yang mungkin sering kita utarakan pada hati kita namun terkadang kita masih bingung mendapatkan jawabannya sendiri. Jawaban itu dimulai dari pemahaman dimanapun kita berada, secara manusiawi  akan selalu ada sosok makhluk yang kita harapkan akan selalu ada dalam aktifitas keseharian kita. Tidak perlu diharapan kehadiran apapun dan siapapun, sebenarnya telah ada dan selalu ada Zat Agung yang senantiasa menemani kita dan tidak akan pernah mengalihkan perhatiannya pada kita. Apapun yang membuat kita sendiri, sebenarnya hanya akal-akalan fikiran kita yang bergejolak yang merasa hidup kita tiada artinya, hidup kita sangat sengsara, hidup kita membosankan, atau karena hidup kita serasa tidak ada yang mengharapkan selepas kita patah hati misalnya. Pada saat-saat itu kita merasa tidak ada yang memperhatikan kita dan perasaan-perasaan itulah yang membuat kita jauh dari rasa syukur. Padahal jika kita hitung nikmat yang telah kita dapatkan semasa di dunia, segala sesuatu yang menyengsarakan di dunia ini tidak ada artinya.


Saat kita mengilhami dan menikmati rasa syukur, saat itulah kita akan merasa bahwa hidup kita memberi arti bagi orang lain. Bersyukur bisa melihat seorang pemuda yang menikmati menjadi ayah, bersyukur bisa iba melihat seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah dengan barang dagangan penuh di motornya, bersyukur bisa mendengar alunan musik yang keras meskipun dari seorang pria yang menjengkelkan. Hal itu dengan sendirinya akan memahamkan kita  kenapa kita wajib bekerja, kenapa kita harus belajar, kenapa kita harus hidup, kenapa kita harus bersosial. Bayangkan, berapa banyak hal yang sudah kita pelajari dari mata, telinga dan perasaan. Bayangkan berapa banyak orang yang bisa kita kenal di sekitar kita. Bayangkan betapa orang sangat mencintai keluarganya sehingga ia harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita harus hidup karena hidup kita banyak makna. Selamat menikmati hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar