Minggu, 02 Maret 2014

CERPEN TENTANG KESETIAAN SEORANG ISTRI

                                                     HAI

          Brum. .ia datang dengan motor merah besar menyunggingkan bibir. Di depannya penuh pejalan kaki yang berdesakan berlomba memasuki gerbang kampus. Di antara para pejalan kaki ada wanita yang terpejam sejenak. Seorang pria yang mengendari motor merah itu menghampiri wanita itu. Wanita itu pun meliriknya dalam kepura-puraan terasa berat mendekati motor besar itu namun tetap ia paksakan untuk mendekatinya.
 

          Pria itu pun membuka kaca helm full face-nya sehingga terlihat deras keringat basahnya diantara pelipisnya, kemudian ia memberanikan melaju dengan dua kakinya Menapak perlahan berharap tak mengganggu pejalan kaki di sekitarnya. Ia membuka helmnya dengan wajah sumringah tergurat menantang sinar matahari. Dengan terengah ia juga beranikan diri mendekati wanita itu seolah khawatir desakan itu bisa melukai diri dan motornya. "Mafkan aku, tentunya aku akan mengantarmu kemanapun tujuanmu." Tuturnya dengan penyesalan. "Tapi suaramu adalah perintahmu, tatapanmu menggema dan menyemangatiku sehingga aku tak berani untuk tidak sabar menghadapimu." Balas wanita itu.

         Wanita berhijab itu pun bersama senyuman menyambut genggaman tangan pria itu. Rona wajah mereka terpancar seperti dua hati yang tak terpisahkan. "Hai! Kalau aku jadi kau, tidak akan kubiarkan istrimu sedari tadi menunggumu!" Seru seorang pejalan kaki seolah tak terdengar suara apapun saat mereka bersama melaju di atas motor besar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar