PETUALANGAN MANUSIA BERBULU EMAS
(Kerajaan Adikuasa)
(Kerajaan Adikuasa)
Langit gelap yang tertutup
awan hitam, angin kencang menyapu atap-atap rumah hingga beterbangan. Sebuah
lubang hitam besar di langit semakin mengecil kemudian menghilang. Suara petir
bersahutan memecah senyap begitu keras mengikuti cahaya yang berkerlip di awan hitam.
Tampakya fenomena alam itu terjadi di seluruh luas langit sejauh mata
memandang. Semua orang di bawahnya berlarian tak tau arah mencari tempat
berlindung ketakutan melihat fenomena itu, fenoma dimana zaman kerajaan akan
hancur.
“Oakh…Ini adalah
kutukan Dewata!” Seru seorang penduduk yang hampir tidak bisa membuka matanya
karena terpaan angin kencang. Ia berpegangan kuat pada sebuah gapura, takut
dirinya terbawa hempasan angin itu. Blangkon yang ia pakai pun terlepas oleh
hempasan angin. Baju dengan dada terbuka dan kain batik yang melilit di
pinggangnya berkibar ingin menerbangkan dirinya. Ia berusaha dengan mata
berkeriyip melihat atap-atap rumah penduduk beterbangan tersapu aleh angin yang
lebih hebat dari badai. Pohon-pohon tumbang dan penduduk lainnya yang berteriak
berterbangan pelan karena hempasan angin kencang itu. “Ini akhir dunia…akhir
kerajaan Gandrayaksa…! Dewata yang Agung, ampuni kerajaan!” Serunya merintih.
Seorang bocah
melayang sehasta tanpa pijakan kakinya yang sudah berhamburan di hamparan bumi.
Tepatnya seorang bocah yang tidak bisa disebut sebagai manusia. Tubuhnya
ditumbuhi bulu-bulu emas di bagian dadanya yang terbuka tak terbungkus kain,
begitu juga di bagian janggut menuju leher dan separuh lengan ke bawah. Puing-puing
dinding bangunan kerajaan memecah berkeping-keping di antara retakan tanah yang
mengelilinginya. Ia buka matanya yang tajam seperti elang sedikit tertutup
dengan rambut yang terkoyak-koyak bergelayutan panjang. Hampir tidak ada ciri-ciri
manusia terlihat dari tubuhnya. Ia meraung menengadahkan kepalanya sehingga
angin yang menghempas semakin kuat. Namun ia tak bergeming sama sekali dengan
hempasan angin itu. Ia meraung semakin keras seperti marah terhadap langit.
Semakin keras ia meraung membuat angin yang bertiup semakin ganas dan
menghancurkan segalanya. Terperanjatlah seseorang dengan
mata terbelalak terperanjat dari mimpinya. “Makhluk itu tidak boleh kembali ke
dunia nyata.” Ucapnya dalam hati.
Sinar matahari
yang masuk melalui sela-sela deaunan pohon maja yang rimbun dan tenang sangat
indah menyinari seseorang berbaju putih di pertapaannya. Pohon yang berkembang biak dengan biji, tingginya dapat mencapai 8-10
hasta, cabangnya berduri, berbau harum bunganya, kulit batangnya mengeluarkan getah berwarna putih jika terluka, dan jika dibiarkan terhempas udara
terbuka, warnanya berubah menjadi kuning jernih seperti batu permata dan kulit
akarnya dapat dijadikan obat telah menjadi
saksi kejayaan sebuah kerajaan pada masa itu. Pemuda itu cukup kekar dan
berotot dengan paras lebar berdagu
tajam, dinding pelipisnya terlihat kokoh melindungi matanya. Dari tubuhnya
mengeluarkan hawa panas yang memancarkan cahaya, menambah kharisma namun tidak mencolok.
Itu adalah pohon Maja
raksasa yang rindang. Ia duduk di bawahnya bersila sangat khitmad pada sebuah tumpukan
batang kayu kering bercampur dengan dedaunan yang menumpuk. Angin meniup-niup
dua jambul rambutnya yang tumbuh memanjang tepat di depan telinganya. Ia tidak
perlu berlama-lama melakukan semedi mengumpulkan energi karena hawa panas dari
tubuhnya semakin kuat saat ia menggeretakkan genggaman tangannya.
Usianya terlihat
masih sangat muda, mungkin sekitar 20 tahun. Terlihat jelas perawakan bijak
saat ia mulai bangkit meluruskan punggungnya mengibaskan jubah pendeknya yang
berwarna putih. Berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi. Jubahnya berkelebat
hingga ke pinggang, dikaitkan dengan baju zirah yang menutupi kedua pundak dan
dadanya namun tidak terlalu menutupi tubuhnya. Hanya sedikit ke tengah menyambung
pinggang dan kedua penutup pundaknya. Pakaiannya mulai terlihat jelas berwarna
serba putih dengan kain menjuntai di
depan dan belakang paha hingga ke daerah lutut menutupi celananya yang
berwarna abu-abu. Ia mengencangkan pengikat kepalanya yang khas dengan sudut
gunung yang menonjol ke bawah pada
bagian kiri kepala. Ia tidak lupa mengencangkan pengikat pergelangan tangannya
yang juga berwarna putih. Beberapa saat ia menengadahkan wajahnya menghirup
udara segar pagi di sekitarnya. Burung-burung berkicauan mengiringi hela
nafasnya.
Ia ambil seruling dari
balik bajunya. Sebuah seruling berwarna jingga yang mampu memanggil angin saat seruling
dialunkan perlahan dan dialunkan dengan merdu, semakin kencang alunan
serulingnya maka semakin kencang angin yang datang. Tidak lama ia meniup
serulingnya, mungkin sekedar menggerakkan kedua bibir dan jari-jarinya.
Seruling itu ia tengadahkan tepat di bawah matahari dengan tangan kanannya yang
menjulur ke atas. Dari seruling itu keluar
sebuah bola energi yang semakin lama semakin bercahaya seperti menyerap sinar
matahari. Tubuhya pun semakin lama semakin memantulkan cahaya berwarna kuning
keemasan dan mungkin terasa semakin panas bila di dekatnya.
Semakin lama,
angin menyelimutinya bersamaan dengan cahaya yang semakin terang dari seruling
dan kulit tubuhnya. Padahal ia sudah tidak meniup serulingnya itu. Sepertinya
kekuatan pemuda itu bersumber dari sinar matahari. Angin yang kencang semakin
mereda dan cahaya dari seruling meredup. Ia memutar-mutarkan serulingnya di
pergelangan tangannya yang kekar, tersenyum tipis pada alam sekitarnya seusai
memainkan serulingnya.
Sepertinya ia tak
tahan berjalan beberapa langkah, menumpu pada satu genggaman tangan dan
lututnya di hamparan beberapa saat kemudian melesat tinggi ke atas mendekati
matahari dengan cepat menerjang angin menikmati sinarnya sejenak sebelum ia
kembali lagi pada pijakan bumi dengan wajah tertunduk, bertumpu pada satu lutut
yang menikung dan satu lutut yang menjadi tumpuan tangannya. Brush….! Debu-debu
perlahan beterbangan karena jubah putih yang mengibasnya. Kemudian ia melaju
kencang seperti angin yang tidak meninggalkan jejak.
“Sepuluh tahun terasa
singkat sejak kematian kakekku, dan lima tahun adalah waktu yang sangat singkat
untuk belajar mengendalikan kekuatan kakek guru dalam tubuhku. Tapi yang paling
penting selama lima tahun aku belajar…aku mengerti bahwa menjadi pendekar
adalah cara terbaik untuk melindungi orang-orang yang kita cintai.” Ucap pemuda
dalam lajunya yang seperti angin.
Sepuluh tahun yang
lalu, salah satu kerajaan besar dan kuat yang telah berhasil ditundukkan oleh
Majapahit, sebut saja kerajaan Gandrayaksa, kerajaan yang
berada di semenanjung pulau Jawa. Kerajaan Adikuasa yang menyaingi kekuatan
tempur dan pasukan Majapahit, rempah-rempah, hasil bumi dan kekayaan alam
lainnya. Wilayahnya terbentang hingga lautan yang luas, pulau-pulau kecil yang bernama
dan tak bernama menghiasinya. Tapi kini, kerajaan itu telah menjadi kekuasaan Majapahit setelah Raja
Gandrayaksa, Narapati Saroja terbunuh oleh patih Majapahit bernama Pranajaya
yang tidak kalah sakti dengan patih Gajah Mada yang mengabdi pada Hayam Wuruk,
raja ke-4 Majapahit.
Dadanya yang lebar
tertusuk dalam sebilah keris. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan wajah terlihat
bengis berkumis dan berjanggut tebal tak mampu menahan rasa sakit tusukan itu. Ia
dudukkan dagunya pada bahu kiri Pranajaya di saat nafas-nafas terakhirnya
sembari membisikan kutukan. “Gandrayaksa adalah kehidupanku, kehidupanku adalah
Gandrayaksa.” Ucapnya berbisik.
Sejak kematian itu,
kerajaan Gandrayaksa hilang dari peta dunia karena kematian Narapati Saroja. Gandrayaksa
pun berdaulat di bawah kekuasaan patih Majapahit yang membunuh Narapati Saroja. Namun
tidak dalam arti yang sebenarnya di bawah kedaulatan Majapahit. Ada
namun tidak ada. Gandrayaksa tidak akan pernah lagi ditemukan oleh manusia dan
tidak akan pernah tercatat dalam sejarah. Kerajaan Gandrayaksa hanya kumpulan
asap tebal dalam hutan belantara yang tak berpenghuni. Kutukannya hanya akan
hilang jika kerajan Gandrayaksa kembali berdaulat di bawah kekuasaan keturunan
raja yang syah. Sejak kutukan itu, manusia yang hidup di Gandrayaksa tidak pernah
lagi melihat dunia luar.
“Bagaimana ayah kembali ke Gandrayaksa jika
ayah pulang ke Majapahit?!” Tanya seseorang menyeru. “Ingatlah, Sakabunggawa! Kau
harus memerintah Gandrayaksa, perang paregreg
bisa menghancurkan Majapahit. Aku harus merebut kepercayaan Prabu Wikramawardhana
untuk melanjutkan perjuangan sumpah palapa yang pernah dikumandangkan Gajah
Mada untuk menyatukan nusantara. Cari pusaka itu dan dapatkan energi naga,
Hasatungga akan membantumu dalam pemerintahan dan olah kanuragan setelah kau
mendapatkan energi naga. Mulai saat ini, Jayapada dan Kalabrang hanya setia
pada kerajaan,..dan kaulah pemilik kerajaan Gandrayaksa saat ini. Waktuku cukup
lima tahun menjadi raja.” Jelas Pranajaya membelakangi seseorang di sebuah hutan
gelap perbatasan Majapahit dan Gandrayaksa, sehingga hanya sedikit jubah
berwarna emas yang menutupi tubuh dan kudanya saja yang terlihat. Ia luruskan
pandangannya dan memberi isyarat pada
kudanya untuk segera melaju. Seketika itu juga ia hilang dalam kumpulan asap
tebal.
Sampailah Pranajaya
dan seluruh pasukan tempur terbaiknya di Majapahit merayakan kemenangan mereka.
“Hidup Majapahit…hidup Majapahit!” Seru prajurit-prajurit itu dari kejauhan
menyambut kedatangan Pranajaya. Tahun 1403 M adalah masa keemasan Kerajaan Majapahit di bawah
kekuasaan Wikramawardhana, Berjaya bersama salah satu patihnya, Pranajaya. Patih yang diyakini oleh sebagian pendekar
Majapahit bahwa dia adalah titisan Gajah Mada yang bertubuh besar dan kuat hingga setara
dengan sembilan orang laki-laki dewasa. Pahatan arca bebatuan hitam menghiasi
taman-taman kerajaan yang dilewatinya saat ia berjalan menuju keraton menghadap
raja.
Bata-bata merah
yang kokoh adalah sebuah simbol bahwa Majapahit tidak mudah diruntuhkan dan
disegani oleh seluruh kerajaan di Tanah Sumatra hingga Papua, Malaka bahkan
hingga kekaisaran Tiongkok. Gapura-gapuranya yang kekar dan menghujam langit
menggambarkan kerajaannya yang Adikuasa
pada masa itu. Kerajaan kecil menjadi kerajaan bawahan Majapahit di bawah kuasa raja ke-5 majapahit. Siapa yang kuat akan hidup dan yang
lemah akan mati, hukum rimba masih sangat berlaku pada masa itu, bahkan mungkin
akan berlaku sampai kapanpun.
Desa Rawaloka, desa paling
pedalaman dari kerajaan Gandrayaksa. Setiap saat memiliki udara sesejuk embun pagi karena banyak
aliran sungainya yang selalu bersih di sana. Gemuruh air yang menerpa
bebatuan-bebatuan besar dan gemericik air yang menerpa bebatuan kecil membuat
penghuni desa sekitar yang datang ke
sungai desa Rawaloka itu untuk mencari ikan, mandi atau mencuci tidak ingin
beranjak dari sana seperti sudah terhipnotis dengan kesegaran dan kebersihan air di sana.
Seorang bocah menangkap
ikan dengan mudahnya berulang kali, ia tangkap ikan yang besar-besar seukuran
betis kakinya di pinggiran sungai itu. Tubuhnya tegap dan terlihat tegar
berbaju putih compang-camping. Ia selalu berwajah ceria dan tidak pernah berputus
asa meskipun hasil tangkapannya terlepas dan hanya seorang diri mengejar ikan
yang terlepas itu. Terduduk sejenak dan terengah mengambil nafas sambil
mengencangkan ikat kepala putihnya di bebatuan karena tak berhasil menangkap
kembali ikannya yang terlepas. Teringat dalam benaknya seorang kakek yang ingin
menutup mata di pelukan bocah itu sembari air mata mengalir dan angin semilir
menarik helai rambut yang memanjang di depan telinganya. Ia tidak tau persis kenapa kakek itu ingin
sekali menutup matanya, mungkin ia hanya menyangka kakek itu hanya ingin tidur
beristirahat. Ia juga tidak mengenali dua orang pendekar di dekatnya yang
membuat kakeknya diam lemas. Mereka mengenakan pakaian yang sepertinya tampak
berbeda dengan pakaian masyarakat di desanya. Wajah mereka juga tak sempat ia
kenali karena air mata mengaburkan pandangannya dan kepedulian yang tinggi pada
kakeknya membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan kakeknya di saat terakhir ia
harus menghembuskan nafas. “Satria, Penuhilah takdirmu sebagai manusia biasa
yang berjiwa ksatria. Seorang ksatria adalah seorang
laki-laki yang hidup di atas pijakan kakinya
sendiri.” Itulah pesan terakhir seorang kakek yang
tak pernah ia lupakan.
Ia terperanjat
tersadar dengan pekerjaannya. Ia pun kembali melompat dari batu yang satu ke batu
yang lain dengan lincahnya dari pinggiran kemudian ke tengah sungai, memutar-mutarkan
serulingnya di atas telapak tangannya kemudian menikmati harumnya seruling
berwarna jingga yang ia genggam. Seekor makhluk air pemangsa ikan di sekitarnya
terlihat sangat besar, lebih besar dari tubuhnya mengendap mendekatinya.
Makhluk itu mirip seekor naga namun ia hanyalah ikan yang berukuran besar saja
dan berkepala mirip naga. Taringnya sangat tajam. Makhluk itu melompat dari
bawah air ke arahnya mencoba untuk memangsanya. Namun si bocah pandai dan cepat
sekali melompat dari pijakan yang satu ke pijakan yang lain, dari batu yang
satu ke batu yang lain. tentu saja makhluk itu tidak mampu menangkapnya. Sudah
berkali-kali makhluk itu mencoba menerjangnya namun meleset.
Saat makhluk itu
terlihat mulai kesal, makhluk itu mengambil jarak lebih jauh dari dalam air. Si
bocah meningkatkan kewaspadaaan dan mengamati gerak air dari dalam tepat di
bawahnya. Brus….ikan itu menerjang kencang dari belakangnya, dengan cepat ia
membalikkan tubuhnya dan mengikuti gerakan ikan itu sehingga ia bisa merangkul
dari dada ikan itu.
Si bocah merangkul
ikan itu kuat-kuat karena terjangan yang sangat kencang itu bisa menjatuhkan
dirinya. Ia mencebur dan melompat ke dalam air bersamaan dengan ikan itu. Ia
balikkan badan sang ikan saat berada di dalam air dan mengambil sebuah pisau
dari balik punggungnya berniat mengeluarkan isi perut makhluk itu. Namun
sebelum ia melakukannya, makhluk itu mengeluarkan suara raungan yang menyedihkan
tepat setelah menyembur keluar dari air.
Makhluk itu
seperti ingin berbicara padanya sambil melirik pisau yang terlihat tajam itu.
Si bocah kemudian membuang pisaunya ke dalam air agar tak menakuti makhluk itu.
Sepertinya bocah itu merasakan kesedihan pada ikan itu. Akhirnya ia melepaskan pegangan tangannya
dari tubuh makhluk itu. Ia tampak gembira dan berterima kasih, berputar-putar
di permukaan air melihat si bocah yang mendaratkan kakinya di sebuah batu besar
setelah melepaskannya. Kemudian ia duduk menyilangkan tangannya di atas kedua
lututnya dan memperhatikan makhluk itu. “Hei, ikan berkepala naga, kenapa kau
ingin memangsaku? Baru hari ini aku melihatmu.” Tanya si bocah. Tentu saja ikan
itu hanya berputar-putar saja tidak menjawab.
Si bocah kemudian
dikejutkan lagi oleh makhluk-makhluk sejenisnya yang mulai terlihat dari bawah
air, sepertinya makhluk itu memanggil bantuan teman-temannya. Namun setelah mereka
muncul di permukaan, ternyata mereka masih kecil-kecil berjumlah empat ekor. Mereka
mirip sekali dengan ikan yang lebih besar itu kemudian mengikuti gerakan ikan
berkepala naga yang sedang berputar-putar. “Ah…jadi begitu ya, kau mencarikan
makanan untuk anak-anakmu. Kau tidak puas menangkap ikan-ikan yang lebih kecil
darimu, kemudian kau mau menangkapku?” Kemudian si bocah masuk lagi ke dalam
air dan mencoba menangkapkan ikan-ikan lagi untuk diberikan kepada ikan
berkepala naga itu. Si bocah sangat pandai dan cepat dalam mencari ikan, entah
bagaimana dia melakukannya hanya dengan menggunakan kedua tangannya.
“Baiklah, ini untuk kalian.
Aku tidak tau dari mana kalian berasal, tapi kelak kalian jangan mengganggu
manusia. Aku juga suka berburu di sungai ini, terkadang aku tangkap dan aku
makan. Terkadang juga aku melepaskannya. Aku tidak ingin kau menjadi salah satu
ikan yang ku tangkap” Jelas si bocah sambil melemparkan tangkapannya. Ikan-ikan
naga itu seperti menyimak apa yang dibicarakan si bocah seolah mengerti apa
yang dikatakannya. “Mulai sekarang aku akan memanggil kalian Darpaga. Jika aku
memanggil kalian, aku pastikan kalian akan kubawakan makanan yang kalian sukai.”
Lanjut si bocah. Anak-anak ikan itu melompat-lompat sehingga air sungai
memercik di wajah si bocah. Sepertinya mereka
kegirangan mendapatkan makanannya sekaligus mendapatkan panggilan dari si
bocah. Mereka berputar-putar kemudian menyelam meninggalkan si bocah dan
sesekali muncul di permukaan. “Tampaknya setelah hari ini bukan hanya aku yang akan
berburu ikan. Dari mana kalian dan makhluk apa kalian sebenarnya?” Ucap si
bocah sambil bersiap-siap berenang kembali.
Gandrayaksa
terlihat sangat luas dan padat penduduknya dari atas bukit yang puncaknya tidak
begitu banyak pepohonan. Seseorang dengan rambut serba putih menungging ke atas
di bagian belakangnya dan kain panjang berkelebat tertiup angin menjuntai
hingga ke betis begitu seksama melihat Gandrayaksa dari atas bukit itu. Wuzh…Angin
berhempas dan bersuara keras sekejap datang dari belakangnya.
“Mereka masih
setia pada Sakabunggawa. Patih Jayapada, ia mampu mengetahui kekuatan lawan dengan mudah dan mampu
memprediksi kemenangan pertarungan. Tidak ada cerita yang mengatakan ia kalah
bertarung. Patih Kalabrang
adalah
seorang patih ahli strategi perang, murid dari salah
satu tim strategi perang Ike Mese saat upaya penundukan kerajaan Singosari oleh
kekaisaran Tingkok yang bersekutu dengan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.”
Jelas suara yang datang bersamaan dengan suara angin itu.
“…dan
penasihatnya?” Tanya orang berambut putih itu. “Hasatungga, hampir semua kebijakan kerajaan berasal
dari ide-idenya. Dia murid Pranajaya yang sengaja dididik untuk
memahami pemerintahan kerajaan. Di Majapahit ia dikenal sebagai pendekar
pembaca pikiran, namun di Gandrayaksa ia menyembunyikan kemampuannya itu dan
hanya Sakabunggawa yang mengetahui kemampuannya. Kurasa ia tidak pandai menyembunyikan
identitas yang sebenarnya. Ketiga orang penting itu membuat kedudukan
Sakabunggawa semakin kuat di Gandrayaksa. Sakabunggawa menjalankan misi dari ayahnya
untuk mengawasi energi-energi naga hitam yang masih berkeliaran di atas bukit ini.”
Jelasnya. “Bukit yang mereka yakini sebagai tempat naga kembar terakhir
melepaskan seluruh energinya. Mungkinkah dia menghimpun kekuatan?” Tanya orang
berambut putih itu memastikan. “Ia menghimpun semua pemilik energi naga hitam untuk
dijadikan pasukan tempur setianya, seperti dua orang pasukan pengamannya yang
mereka sebut Rajen.” Jelas seseorang yang datang bersama angin.
“Meskipun
Sakabunggawa adalah kaum Narakya, ia tidak mudah dikalahkan jika patih terbaik Gandrayaksa
masih setia padanya.” Ucap seseorang berambut putih itu dengan pandangan tajam menatap
kerajaan. “Kita akan segera bertemu kembali.” Seseorang itu pergi sebagaimana
dia datang bersama angin yang tidak berwujud. Bruzh…Seorang yang tua itu dengan
tenang menghempaskan angin dari sela-sela kain disertai petir-petir kecil yang
menyelimutinya sleuruh tubuhnya kemudian mendatangkan petir yang lebih besar di
sekitarnya dan melenyapkan tubuhnya tanpa jejak.
bersambung ke chapter 2...

good job. mampir ke destianiku.blogspot.com ya
BalasHapusok ok....lanjut terus bekarya...
BalasHapus