Rabu, 23 Maret 2016

NASIHAT : TEH PENUNDA LAPAR (HIKMAH BERSYUKUR)

         Kebiasaan saya mengetik ide-ide baru atau cerita-cerita menarik yang terjadi spontanitas bisa saja dapat diambil pelajarannya. Terkadang sebagian orang yang membaca akan menganggapnya sebagai sebuah pencerahan, kadang pula ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah sindiran, tapi saya pikir bukan waktu yang tepat untuk membicarakan sindir-menyindir. Jadi, ada sekitar 90-an catatan-catatan penting di tablet saya buah dari kebiasaan saya suka mengetik yang mungkin bisa saja jadi buku kalau dipadukan menjadi tiap bab kemudian dibuat satu tema besar menjadi sebuah judul buku. 

          And the fact...Kenyataannya saya masih cukup malas untuk merangkainya menjadi bab-bab yang padu (malas jangan ditiru hehe). Sebenernya info ini ga begitu penting sih, hanya sekedar prolog untuk menceritakan salah satu kisah yang saya ambil dari 90-an catatan saya tadi tentang segelas teh yang muncul tiba-tiba. 

         Sebenernya, kisah ini lebih cenderung mirip seperti curahan hati.
Berawal dari kebosanan, saya yakin setiap orang pernah mengalami kebosanan dalam salah satu aktivitasnya, tak terkecuali saya. Tapi, bosan bukan untuk dipelihara melainkan dimusnahkan. Katakanlah saya sempat bosan "sepersekian" detik selesainya saya sholat maghrib di sebuah masjid karena saya mendengar guyuran hujan yang mulai menerjang atap kanopi sehingga suaranya terdengar jelas. Itu berarti kode bahwa saya harus berdiam dulu di dalam masjid menunggu hujan reda. Perasaan saya saat itu hampir saja membuat saya menjadi orang yang tidak bersyukur. Saya pun segera bertobat pada Alloh seraya berdoa "Allohumma Shoyyiban Naafi'a" (Ya Allah, jadikan hujan ini hujan yang membawa manfaat) yang kemudian doa itu mampu mengalihkan perhatian saya pada sebuah bacaan. Alhamdulillah saya menguasai rasa bosan saya sehingga berubah menjadi rasa syukur dengan membaca Al-Quran. Tak lama kemudian terbesit dalam hati saya, "kok kerasa laper ya" (kata orang jawa mah "mbatin"). Tak sampai selang 1 menit saya mbatin rasa lapar kok dari belakang saya tiba-tiba ada orang bilang, "mau teh anget ga mas?" Sempat saya ragu-ragu menjawab tapi ya langsung aja lah saya bilang "ya boleh, deh pak", keburu ntar tehnya kabur. Kemudian orang itu pun, yang saya anggap pengurus masjid, bergegas memberikan segelas tehnya ke hadapan saya. Saya mbatin lagi, "Eh iya juga ya, teh ini pasti bisa menunda rasa lapar saya." Meskipun hanya segelas teh penunda lapar ya harus disyukuri. Ini semacan besitan angan-angan yang terwujud atau apa saya juga ga tau deh. Allohua'lam, hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.

Dua hal yang saya fahami adalah ketika kita bersyukur maka Alloh akan menambah nikmat-Nya, “Lainsyakartum La Aziidannakum Walainkarfartum Inna ‘adzaabii Lasyadid” (jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat keras (pedih)”Q.S. IBROHIM : 7) dan Alloh pun SENANG dengan Hamba yang bertaubat MELEBIHI senangnya seorang musafir yang kehilangan semua perbekalannya hingga habis tak berpunya kemudian ia menemukannya kembali setelah dirundung keputusasaan (cek dalam Kitab Riyadusholihin Bab Taubat).
Allohua'lam, Semoga bermanfaat


~>NuansaHati :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar