Kebiasaan saya mengetik ide-ide baru atau cerita-cerita menarik yang
terjadi spontanitas bisa saja dapat diambil pelajarannya. Terkadang
sebagian orang yang membaca akan menganggapnya sebagai sebuah
pencerahan, kadang pula ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah
sindiran, tapi saya pikir bukan waktu yang tepat untuk membicarakan
sindir-menyindir. Jadi, ada sekitar 90-an catatan-catatan penting di
tablet saya buah dari kebiasaan saya suka mengetik yang mungkin bisa
saja jadi buku kalau dipadukan menjadi tiap bab kemudian dibuat satu
tema besar menjadi sebuah judul buku.
And the
fact...Kenyataannya saya masih cukup malas untuk merangkainya menjadi
bab-bab yang padu (malas jangan ditiru hehe). Sebenernya info ini ga
begitu penting sih, hanya sekedar prolog untuk menceritakan salah satu
kisah yang saya ambil dari 90-an catatan saya tadi tentang segelas teh
yang muncul tiba-tiba.
Sebenernya, kisah ini lebih cenderung mirip seperti curahan hati.
Berawal dari kebosanan, saya yakin setiap orang pernah mengalami
kebosanan dalam salah satu aktivitasnya, tak terkecuali saya. Tapi,
bosan bukan untuk dipelihara melainkan dimusnahkan. Katakanlah saya
sempat bosan "sepersekian" detik selesainya saya sholat maghrib di
sebuah masjid karena saya mendengar guyuran hujan yang mulai menerjang
atap kanopi sehingga suaranya terdengar jelas. Itu berarti kode bahwa
saya harus berdiam dulu di dalam masjid menunggu hujan reda. Perasaan
saya saat itu hampir saja membuat saya menjadi orang yang tidak
bersyukur. Saya pun segera bertobat pada Alloh seraya berdoa "Allohumma
Shoyyiban Naafi'a" (Ya Allah, jadikan hujan ini hujan yang membawa
manfaat) yang kemudian doa itu mampu mengalihkan perhatian saya pada
sebuah bacaan. Alhamdulillah saya menguasai rasa bosan saya sehingga
berubah menjadi rasa syukur dengan membaca Al-Quran. Tak lama kemudian
terbesit dalam hati saya, "kok kerasa laper ya" (kata orang jawa mah
"mbatin"). Tak sampai selang 1 menit saya mbatin rasa lapar kok dari
belakang saya tiba-tiba ada orang bilang, "mau teh anget ga mas?" Sempat
saya ragu-ragu menjawab tapi ya langsung aja lah saya bilang "ya boleh,
deh pak", keburu ntar tehnya kabur. Kemudian orang itu pun, yang saya
anggap pengurus masjid, bergegas memberikan segelas tehnya ke hadapan
saya. Saya mbatin lagi, "Eh iya juga ya, teh ini pasti bisa menunda rasa
lapar saya." Meskipun hanya segelas teh penunda lapar ya harus
disyukuri. Ini semacan besitan angan-angan yang terwujud atau apa saya
juga ga tau deh. Allohua'lam, hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.
Dua hal yang saya fahami adalah ketika kita bersyukur maka Alloh akan
menambah nikmat-Nya, “Lainsyakartum La Aziidannakum Walainkarfartum Inna
‘adzaabii Lasyadid” (jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah
ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat
keras (pedih)”Q.S. IBROHIM : 7) dan Alloh pun SENANG dengan Hamba yang bertaubat
MELEBIHI senangnya seorang musafir yang kehilangan semua perbekalannya
hingga habis tak berpunya kemudian ia menemukannya kembali setelah
dirundung keputusasaan (cek dalam Kitab Riyadusholihin Bab Taubat).
Allohua'lam, Semoga bermanfaat
~>NuansaHati :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar